Part 6

Lintang menatap bosan Vanka yang sedari tadi sedang memilih-milih novel yang ada di rak buku. Sekarang mereka sedang berada di toko buku. Vanka meminta Lintang untuk menemaninya ke toko buku. Meskipun, Lintang sedang kesal dengan gadis itu mengingat kejadian di kantin antara Dean dan Vanka, namun ia tetap menuruti permintaan Vanka. Karena ia sudah berjanji akan menemani gadis itu.

"Tang, kira-kira gue beli novel yang mana ya?" tanya Vanka pada Lintang sembari menunjukkan dua novel yang ada di tangannya pada Lintang.

"Beli aja yang lo suka," jawab Lintang singkat.

"Tapi gue suka dua-duanya."

"Ya udah, beli dua-duanya aja."

"Tapi, uang gue gak cukup kalau beli dua-duanya. Gimana dong?"

"Ck! Buruan! Gue gak punya banyak waktu buat nunggu lo di sini. Lo pikir gue gak ada kerjaan lain apa?" ketus Lintang.

Ia sudah sangat bosan menunggu Vanka di sini. Karena sudah hampir dua jam mereka berada di toko buku. Salah satu alasan Lintang malas menemani Vank ke toko buku adalah karena jika sudah berada di toko buku, maka Vanka akan lupa diri. Ia bisa betah berlama-lama di toko buku. Sedangkan, Lintang sama sekali tidak betah di tempat ini.

Vanka mencebikan bibirnya kesal. Kenapa Lintang harus marah padanya? Padahal, ia jarang meminta Lintang menemaninya ke toko buku, karena cowok itu selalu menolaknya.

Ia langsung menyimpan kedua novel tersebut dan melengos pergi begitu saja.

"Eh, Vanka! Gak jadi beli novelnya?" tanya Lintang.

Vanka terus berjalan tanpa menoleh pada Lintang. Saat ini, ia sangat kesal pada Lintang.

Lintang mengambil dua buah novel yang tadi sempat ingin dibeli oleh Vanka. Ia berjalan ke kasir dan membayarnya. Setelahnya, ia langsung meyusul Vanka keluar.

"Van," panggil Lintang sembari menahan lengan Vanka. Gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Lintang.

"Apa?" tanya Vanka ketus.

"Nih, novelnya," ucap Lintang menyodorkan kantung plastik berisi dua novel yang ingin dibeli oleh Vanka.

Vanka sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Lintang akan membelikan kedua novel itu sekaligus untuknya.

"Gue gak butuh. Gue bisa beli sendiri," tolak Vanka membuang muka ke arah jalanan. Saat ini, ia masih marah pada Lintang. Walaupun, ia tergiur dengan dua buah novel itu, tapi ia harus menahannya. Ia tidak boleh langsung memaafkan Lintang.

"Yakin gak mau? Ya udah gue kasih ke Lisa aja," ucap Lintang. 

Mendengar nama Lisa, ia langsung menatap Lintang dan mengambil kantung plastik tersebut dari Lintang.

"Ngapain kasih ke Lisa? Lo kan beli novelnya buat gue," ucap Vanka tidak suka.

Lintang tersenyum kecil sembari mengacak-acak rambut Vanka.

"Kan tadi lo bilang gak mau, makanya mau gue kasih ke Lisa."

"Ya gue mau lah," ucap Vanka dengan wajah yang sedikit malu karena sempat menolak pemberian Lintang.

Hal itu membuat Lintang terkekeh pelan. Wajah Vanka saat ini sangat menggemaskan. Hingga tangannya langsung bergerak untuk mencubit kedua pipi Vanka.

"Ih Lintang! Lepasin! Sakit tahu!" kesal Vanka.

Lintang tertawa kemudian melepaskan cubitannya.

"Makanya jangan masang wajah gitu lagi. Ayo pulang, ini udah jam berapa coba? Nunggu lo aja lama banget."

"Iya."

Vanka memakai helm yang diberikan oleh Lintang kemudian naik ke motor cowok itu.

Setelahnya mereka pun pergi dari sana.

*****

Vanka berteriak kegirangan di kamarnya. Ia masih tidak menyangka Lintang akan membelikannya dua buah novel yang sedang diincarnya.

"Gila. Setelah sekian lama nunggu uang gue terkumpul, akhirnya tercapai juga. Malah, gue dapat dua-duanya lagi," girang Vanka.

"Eh, tapi gue gak enak deh sama Lintang. Gue telfon aja deh nanya harganya. Biar besok gue ganti uangnya."

Walaupun ia adalah pacar Lintang, tapi ia tidak mau Lintang membelikan apa pun untuknya. Ia merasa itu bukan kewajiban Lintang.

Ia mencari nomor kontak Lintang dan menghubunginya.

"Halo Lintang," ucapnya setelah panggilannya dijawab.

"Halo Vanka." Vanka mengernyitkan keningnya. Ia merasa suara di seberang sana bukanlah milik Lintang. Karena suara tersebut seperti suara cewek.

"Ini siapa?" tanya Vanka.

"Ini gue, Lisa."

"Lintang di mana? Kok lo yang jawab sih?" tanya Vanka tidak suka.

"Lintang lagi ke toilet. Gue sama Lintang lagi di cafe."

"Cafe? Jangan bohong lo. Lintang udah pulang ke rumahnya. Dia tadi bilang ke gue kalau dia langsung pulang karena dia mau istirahat."

"Hahaha." Terdengar tawa Lisa yang cukup kencang membuat Vanka semakin bingung dan juga kesal.

"Terserah lo kalau gak mau percaya. Intinya gue lagi sama Lintang di cafe. Yang pasti kita lagi makan berdua. Lo tahu Lintang itu romantis banget tahu gak. Walaupun dia udah capek, tapi waktu gue ngajak dia ke cafe dia mau gitu aja. Udah jelas kan Lintang lebih peduli sama gue dibanding lo."

Vanka langsung mematikan sambungan teleponnya. Sudah cukup ia mendengar ocehan Lisa yang hanya bisa membuat gendang telinganya pecah karena terbakar amarah.

"Jadi, Lintang bohong sama gue? Dia bilang dia mau langsung pulang, tapi dia malah nemenin Lisa ke cafe. Dasar tukang bohong," kesal Vanka. Ia membuang asal kedua novel yang tadi dibeli oleh Lintang ke lantai.

*****

Lintang mengambil ponselnya dari Lisa dengan wajah kesal. 

"Kenapa lo ambil hp gue?" tanya Lintang tidak suka. Ia paling tidak suka jika ada orang yang menyentuh ponselnya tanpa ijin.

"So... Sorry, Tang. Tadi Vanka telfon, karena lo masih di toilet makanya gue jawab," jawab Lisa sedikit ketakutan.

Lintang menatap ponselnya yang menyala menandakan pesan masuk. Ia langsung membukanya.

|Vanka|

|Tang?

|Berapa harga novelnya? Biar besok gue bawa uang buat ganti uang lo.

|Lain kali jangan bohong sama orang lain!

Lintang menatap Lisa yang sedang meminum jus alpukatnya.

"Lo ngomong apa sama Vanka?"

"Gue gak ada ngomong apa-apa."

"Kalau lo gak ngomong macam-macam sama Vanka kenapa dia marah sama gue?" tanya Lintang yang sudah kesal.

"Mana gue tahu. Mungkin dia cemburu kali karena lo nemenin gue ke cafe," jawab Lisa.

"Jadi, lo kasih tahu dia kalau lo lagi sama gue ke cafe?" tanya Lintang yang dibalas anggukan oleh Lisa.

"Ck! Kenapa lo kasih tahu? Pantes aja dia marah."

"Ya gue kan gak tahu kalau lo gak ngasih tahu dia. Udah lah gak usah peduliin dia. Lagian, lo kan gak cinta sama dia, buat apa juga lo mikirin dia."

"Tapi, tetap aja lo gak boleh kayak gitu. Gue gak mau ya lo jawab telfon gue kayak tadi lagi. Gue gak mau Vanka salah paham sama gue."

"Vanka aja terus yang lo pikirin. Lo udah suka ya sama dia?"

"Gue gak suka sama dia. Udah deh gak usah nanya itu terus."

Lisa berdecak pelan. Ia tidak akan membiarkan Lintang jatuh cinta pada Vanka. Sampai kapanpun ia tidak akan rela Lintang jatuh ke pelukan cewek lain.

"Lo tahu Tang, gue sayang sama lo," ucap Lisa sambil tersenyum.

Lintang hanya tersenyum tipis, tanpa membalas ucapan Lisa. 

"Lo juga sayang kan sama gue?" tanya Lisa.

"Em, iya."

Lintang memang menyukai Lisa. Ia sangat menyukai gadis yang ada di hadapannya ini. Tapi, ia tidak tahu apa dia akan tetap menyukai Lisa atau tidak.

**********

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status