Share

Negosiasi

Rekaman telepon itu sudah dimatikan namun Nacita masih tetap bungkam. Ia tampak menimbang-nimbang dan menganalisis apakah kata-kata Stevia benar.

"Direspon kek. Ini malah diam aja."

Nacita menoleh ke arah Jovian lalu tersenyum.

"Dijawab woi bukan disuruh senyum!"

"Berisik amat sih! Apa benar gitu ya, Ojon?"

"Kenapa? Ragu? Kayaknya Stevia benar deh ini ulah Leonard."

"Tapi kenapa dia gitu ya?"

"Naksir kali sama Stevia. Kamu nggak dengar tadi di rekaman itu dia bilang mereka sering komunikasi lewat media sosial?"

"Naksir kok nggak bilang langsung ya? Aneh! Biasanya cewek yang susah dimengerti. Ini malah kebalikannya."

"Mungkin dia berjiwa cewek. Hahaha ... "

Nacita ikut tertawa mendengar ucapan Jovian. Tiba-tiba dua botol minuman dingin diletakkan di dekat kursi mereka. 

"Minum dulu, jangan ngobrol-ngobrol aja!"

"Hai Stev! Mantap banget nih, mumpung lagi panas kayaknya sore nanti ujan. Makasih ya!" Jovian langsung meneguk minuman itu setelah mengocok-ngocok botolnya.

"Lagian kalian ngobrol tanpa cemilan apa-apa."

"Kami lagi menghemat sekaligus diet."

"Ngeledek aku nih ceritanya?" selidik Stevia. Kemudian ia menambahkan, "Nona satu ini kok diam aja? Masih marah ya? Padahal udah minta maaf juga walaupun lewat Jovian."

Ia tidak tahu kalau ternyata Jovian merekam percakapan mereka kemarin malam.

"Udah kudengar rekamannya." jawab Nacita. Kedua tangannya sibuk membuka tutup botol. "Makasih minumannya!"

Stevia mengangguk. Tapi dia jadi penasaran, "rekaman apa nih?"

"Rekaman telepon kita kemarinlah. Maaf ya aku nggak bilang. Sengaja kurekam biar ibu satu ini percaya. Semoga aja begitu karena dari tadi dia nggak kasih respon setelah aku putar rekamannya."

"Gerak cepat juga kamu ya Jo. Mantap!"

Stevia dan Jovian langsung bertos ria. Nacita tersenyum melihat tingkah mereka. Saat matanya melihat ke koridor kelas Stevia, ia teringat sesuatu. 

"Itu cowok yang tinggi terus kemeja sekolah dikeluarin, Leonard bukan Stev?"

Stevia melihat ke arah yang Nacita tunjukkan disusul Jovian yang melakukan hal serupa.

"Ya betul. Emangnya kenapa?"

"Biar nggak salah orang aja. Dia yang kasih laporan palsu kemarin waktu istirahat."

"Aku nggak ngerti kenapa dia jadi aneh begitu. Apa faedahnya coba?"

"Cemburu kali karena kamu milih dibonceng sama Jovian sabtu lalu."

Stevia melirik ke arah Nacita yang merasa kata-katanya tidak perlu dijelaskan. Giliran Stevia yang jadi bingung.

***

Jovian menunggu Nacita di depan lokernya. Ia kadang-kadang meninggalkan buku paket jika tidak ada PR. Menurutnya itu lebih praktis ketimbang membawanya pulang. Beberapa siswi lewat di sekitarnya, pada umumnya mereka bersikap ramah pada Jovian. Ada yang tersenyum, berbasa-basi, kadang ia juga digodain oleh cewek-cewek itu. 

Aneh saja rasanya, tidak mengenakkan bahkan ia cenderung malu. Kata Nacita itu akibat wajahnya yang rupawan. Ia sadar itu tapi menjadi bahan gombalan anak-anak perempuan sungguh bukan sesuatu yang patut disyukuri kecuali dia seorang playboy. Hal yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Baginya itu suatu tindakan yang buruk, mempermainkan perasaan orang lain.

Tanpa ia sadari ada seseorang sedang berdiri di belakangnya. Saat ia mundur mencoba mencari kunci lokernya, tubuhnya menyenggol gadis di belakangnya itu. Terdengar suara meringis yang membuatnya kaget.

"Aduh ..."

"Eh Stevia. Kok kamu ada di sini? Sakit ya?"

"Enggak kok. Aku mau nyapa kamu ternyata kamu mundur. Aku lupa geser ke samping."

Stevia merasa mungkin saja wajahnya kini berwarna merah karena ia merasa panas di sekitaran mukanya. Tentu saja karena kejadian barusan.

"Syukurlah nggak apa-apa! Aku tadi mau buka lokerku. Nggak tahu kamu ada di belakangku. Tumben belum pulang?"

"Ya nih. Mobil jemputanku belum datang. Kamu sendiri kenapa belum pulang?"

"Nungguin Nacita lagi nyapu di kelas. Hari ini jadwal dia piket."

Jovian kini membuka lokernya yang tadi sempat tertunda. Tiba-tiba dari dalam keluar beberapa surat yang terjatuh ke lantai.

"Surat apa tuh?" tanya Stevia penasaran.

"Salah kirim kayaknya dipikir lokerku kotak surat."

Loker di sekolah mereka memang disediakan lubang kecil tempat memasukkan surat. Bagi Jovian ini bukan kali pertama dia mendapat surat-surat sejenis itu. Stevia sigap mengambil sebuah surat yang terjatuh dari loker Jovian beramplop biru muda dan membaca sampulnya.

"Kepada pangeran tampan, Jovian Tarendra. Dari penggemar rahasiamu. Wuih banyak fans ya? Aku baru tahu lho!"

"..."

"Nulis surat masih musim ya di zaman sekarang ini? Memangnya mereka nggak bisa DM kamu di instagram atau twitter? Setidaknya di facebook."

"Pesan-pesan mereka nggak pernah kubaca. Aku juga malas buka sosial media."

"Oh pantas saja. Lokermu udah kayak kotak pos. Ada yang ditaksir nggak di antara yang ngirim surat?"

"Aku nggak baca suratnya. Tapi kukumpulin sih. Kalau udah banyak nanti aku jual ke tukang loak."

"Hahaha ... Sadis amat. Berarti aku beruntung dong bisa ngobrol sama kamu ya? Nggak akan ada yang nyambit aku nih?"

"Mungkin mereka lagi menyiapkan strategi. Hahaha ... Mereka mana berani ganggu putri salah satu pemegang saham sekolah ini."

Jawaban Jovian sepertinya ada benarnya. Kadang ia merasa hidupnya tidak menarik karena kelihatan terlalu mulus. Tidak ada tantangan, orang-orang hanya bersikap ramah padanya. Itu sebabnya ia tertarik mengenal dan dekat dengan Nacita.

"Asyik banget nih ngobrolnya. Ngomongin apa sih?"

Nacita sudah berdiri di samping mereka berdua yang tidak sadar ternyata gadis itu sudah ada di sana sejak beberapa detik yang lalu.

"Ngomongin fansnya Jovian." sahut Stevia. 

"Oh itu. Entah kenapa mereka masih aja suka ngirimin surat. Padahal si penerima cueknya minta ampun. Tapi kayaknya mereka tambah suka. Orang-orang aneh yang suka sama cowok aneh."

"Dan kamu juga aneh karena berteman dengan cowok aneh." jawab Jovian tak mau kalah.

Nacita mencibir sedangkan Stevia tertawa mendengar perdebatan mereka.

"Jadi masalah kita udah selesai kan?" tanya Nacita setelah jeda beberapa menit.

"Kalau untuk kita bertiga aja udah selesai sih. Tapi mamaku kan belum kasih izin kita bisa bareng lagi." Kali ini Stevia menjawab dengan lemas.

Mereka bertiga hanya saling tatap satu sama lain.

***

Jovian memandang pagar rumah milik temannya itu dengan takjub. Ia pernah berada di tempat yang sama, hanya saja ia tidak pernah masuk. Kali ini ia berharap urusannya bisa berjalan lancar. Kebetulan di sisi pagar sebelah luar ada pos satpam. Kelihatan sekali betapa megahnya rumah di dalam sana sehingga harus punya penjaga di depannya.

Syukurlah setelah berbincang sebentar dengan satpam rumah mewah ini, Jovian diizinkan masuk. Tentu saja pak satpam terlebih dahulu bertanya pada sang empunya rumah. Jovian memarkirkan sepeda motornya di garasi khusus untuk para tamu. Pintu rumah itu masih tertutup, Jovian lalu memencet bel. Seorang asisten rumah tangga menyapa Jovian dan menyuruhnya masuk.

Di sebuah kursi di ruang tamu yang luas dan indah itu, duduk seorang wanita yang kini tersenyum pada Jovian. Ia tahu inilah saat perjuangannya dimulai. Jovian duduk setelah dipersilakan oleh sang tuan rumah.

"Jadi kamu temannya Stevia?"

"Betul, tante. Nama saya Jovian."

"Oh jadi Jovian itu kamu. Stevia sering cerita tentang kamu dan Nacita. Ganteng sekali ternyata."

Jovian hanya tersenyum sambil memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.

"Sayang sekali Stevia sedang pergi kursus matematika."

"Tidak apa-apa tante. Saya cuma mau berbincang dengan tante sebentar. Tante sedang tidak ke butik ya?" tanya Jovian berbasa-basi.

"Kamu tahu tante punya butik?"

"Tahu, tante. Tante eh ... Mama saya suka beli dress dari butik tante."

"Oh ya? Nama mama kamu siapa?"

"Tan ... Maksud saya Mama saya namanya Clara, tante."

"Wow. Berarti kamu anaknya Pak Faisal pengusaha mebel itu ya? Perabotan yang diproduksi oleh pekerja papa kamu bagus dan berkualitas. Kami sering pesan dari beliau."

"Simbiosis mutualisme ya, tan." seloroh Jovian. Ia merasa percakapan mereka barusan seperti iklan.

"Saya baru tahu ternyata putri saya berteman dengan putra Pak Faisal."

"Ya tante. Kadang dunia ini sepertinya hanya selebar daun kelor." Jovian berseloroh lagi. Semoga saja Tante Audita, mamanya Stevia tidak muak mendengar leluconnya. Namun jika Nacita ada di sini, sudah pasti ia akan kena serangan cubitan maut milik gadis itu karena mendengar kata-katanya yang jayus.

Wanita di depan Jovian itu tertawa. Percakapan mereka terjeda karena pelayan rumah ini baru saja meletakkan dua gelas minuma di meja.

"Silakan diminum, Nak Jovian."

Jovian mengangguk. Saat ini detak jantungnya semakin kencang. Ia tidak yakin akan perkataan yang akan ia ucapkan.

"Begini tante saya datang ke sini untuk meminta izin tante."

"Kamu naksir Stevia?"

"Eh? Bukan tante. Bukan izin untuk itu."

Jovian jadi lupa ingin berkata apa karena jawaban Tante Audita yang di luar dugaan. Jovian menarik napas panjang berharap itu bisa membuatnya menyampaikan kata-kata yang meyakinkan. 

"Hahaha ... Tante hanya bercanda."

Kini Jovian menarik napas lega. Tuan rumah ini ternyata punya selera humor yang sama sepertinya, jayus alias tidak lucu. Jovian sadar mungkin begitulah yang dirasakan Nacita setelah mendengar leluconnya yang garing.

"Saya dengar dari Stevia, tante tidak suka kalau kami berteman. Kalau boleh saya tahu kenapa ya tan?"

"Oh soal itu. Kemarin ada anak SMA, tante rasa kalian seumuran datang ke butik tante dan cerita soal kamu dan Nacita. Katanya kalian bukan teman yang baik. Nacita menurut dia bisa kasih pengaruh buruk pada Stevia. Buktinya Stevia sering pulang terlambat setelah bergaul dengan kalian.

Dia juga bilang kalau kalian kaum muda yang tidak disukai di sekolah khususnya Nacita karena dia jutek walaupun pintar. Kata dia, Stevia bisa saja akan dibenci orang juga jika berteman dengan kalian."

"Begitu ya tante? Saya paham kenapa tante jadi berkata seperti itu pada Stevia. Tapi kalau menurut tante apakah saya kelihatannya seperti itu?"

"Tante lupa tanya pendapat Stevia dan membuktikan sendiri apa kata-kata pemuda itu benar. Setelah saya tahu kamu ternyata anaknya Pak Faisal dan kamu sangat sopan saat bertamu kemari. Beda dengan pemuda yang datang ke butik kemarin. Sepertinya penilaian tante salah."

"Jadi kami bisa bersahabat dengan Stevia kan tan? Maaf saya nggak bisa ajak Nacita ke sini karena dia harus membuat donat untuk jualan dia besok."

"Oh begitu ya? Rajin sekali dia. Ya sepertinya tante berubah pikiran. Nanti tante akan sampaikan pada Stevia kalau dia bisa bergaul dengan kalian asal kalian bisa kasih pengaruh baik padanya."

"Terima kasih, tante. Kami usahakan akan bantu Stevia jadi lebih baik. Mungkin buat dia punya keterampilan yang berguna." Sesungguhnya Jovian tidak yakin dengan ucapannya barusan. 

"Keterampilan ya? Bisa ajarin dia main piano?"

Jovian kaget dengan ucapan Mama Stevia. Mereka berdua tidak bisa main piano. Tertawa saja mereka fals.

"Nggak harus piano kan tan? Itu mesti kursus kayaknya. Hehe ... Yang lain mungkin tante."

"Tadi kamu bilang temanmu mahir membuat donat. Bagaimana kalau Stevia diajarin memasak. Dia tidak tahu memasak. Meski tante ragu apa dia mau atau tidak."

Kini Jovian kaget lagi mengetahui fakta itu. Ternyata wajah cantik tidak menjadi jaminan dia mahir melakukan pekerjaan yang sepertinya adalah suatu hal yang harus dipelajari setiap wanita walau pria juga sangat dianjurkan untuk bisa memasak juga.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status