Nona Boss Istriku
Nona Boss Istriku
Author: Nur Adilah Rangkuti
Menyesal

Berita Tisya yang sedang mengandung sampai ke telinga Maura. Maura benar-benar kesal sekali. Ia telah gagal mendidik Tisya. Maura memegang Poto sang suami yang sudah lama meninggal dunia. Bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipi yang sudah menunjukkan keriput.

"Mami, maafkan aku. Aku menyesali apa yang telah aku lakukan." Tisya bersimpuh di kaki ibunya. Memohon ampunan atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. 

Maura tetap bungkam, aura dingin terlihat di wajahnya. Sedangkan pipinya terus basah akibat genangan air yang terus meluncur dari pelupuk mata.

"Kumohon!" Tisya juga mengeluarkan air mata yang begitu deras. Ia tak tahu harus berbuat apa agar sang ibu mau memaafkannya.

"Kau tahu sudah berapa kali mami melarangmu untuk berpacaran dengan Ronald." Maura menarik nafas dalam. Rasa sesak masih terdengar jelas ketika ia sedang bernafas. Kekecewaan jelas terlihat dari wajahnya.yang tua.

"Kau tahu mami sangat tidak menyukai Ronald," suara Maura terdengar pelan tapi terdengar jelas penekanan pada kalimat tidak menyukai. 

Tisya hanya bisa menunduk dan menangis sendu. Ia benar-benar bersalah. Rasa sakit mulai menjalari ke dalam lubuk hatinya. Jantung seakan ingin berhenti berdetak.

"Cari Ronald, suruh dia bertanggung jawab!" Maura membuang muka, ia berjalan dengan langkah cepat tak peduli lagi dengan putrinya yang sudah mengecewakan. Tisya terlihat menyedihkan. 

Tisya menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia berdiri dengan penuh keberanian. Meminta pertanggungjawaban dari Ronald mantan kekasihnya. Tisya menghubungi Ronald. Mereka mengatur waktu untuk bertemu. Ronald sepakat untuk menemui Tisya sang mantan kekasih di sebuah cafe yang cukup terkenal.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Nada suara Ronald tak selembut dulu ketika ia masih menjadi kekasih Tisya.

"Aku...," Tisya tampak ragu untuk membicarakan masalahnya. Ia takut Ronald akan marah padanya.

"Cepat katakan!" Ronald mendesak. Sesekali pandangannya teralihkan dengan jam mahal miliknya yang dilapisi berlian. Waktu adalah uang baginya.

"Aku hamil,"

Mata Ronald melotot tajam. Ia melihat kearah perut Tisya. Lalu ia menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya.

"Itu pasti bukan anakku," katanya tegas. Ronald masih mengingat dengan jelas ketika ia masih menjadi kekasih Tisya. Tak ada kontak fisik diantara mereka. Namun mengapa  Tisya bisa hamil?

"Ini anak kamu!" Tisya menunjuk perutnya yang masih datar. Bulir-bulir bening kembali jatuh di pipinya yang mungil.

"Kau bercanda? Ini pasti lelucon. Tisya lelucon ini sama sekali tidak lucu." Ronald tergagap. Ia tak yakin atas apa yang dikatakan Tisya padanya.

Tisya mengeluarkan surat yang menjadi bukti bahwa ia benar-benar hamil. Ronald mengambil surat dengan tangan yang gemetaran. Keringat bercucuran di wajahnya yang tegas.

Ronald menelan ludahnya kembali setelah membaca surat kemudian ia melihat Tisya.

"Aku bukan ayah dari anakmu. Aku bersumpah!" Ronald dengan berani mengucapkan sumpah. 

"Kau pengecut! Tidak berani bertanggung jawab. Kau tidak ingat waktu itu kita ke sebuah bar dan minum bersama kemudian terjadi sesuatu di antara kita."

"Bohong!" Ronald memukul meja. Pandangan orang-orang di sekitar cafe mengarah kepada Ronald dan Tisya. Namun, lama kelamaan tatapan orang sekitar beralih pada makanan dan minuman mereka masing-masing.

"Aku tidak berbohongan."Bahkan air mata tak lagi sanggup untuk keluar akibat terlalu banyak air mata yang telah ditumpahkan.

"Aku yakin kau telah berhubungan dengan orang lain dan memfitnahku. Kau keterlaluan!" Geram Ronald. Ia  mengatupkan mulutnya dengan keras dan tatapan sinis yang menakutkan mengarah pada Tisya.

"Urus anak tidak sahmu itu dan jangan melibatkan aku. Aku tidak mencintaimu." Ronald membisikkan di telinga Tisya lalu ia pergi entah kemana.

Tisya merasakan pedih akibat ucapan itu. Terlebih, ucapan itu datangnya dari Ronald orang yang paling Tisya sayangi.

Menangis sudah tiada arti. Kini yang bisa Tisya lakukan adalah menguatkan dirinya dan lebih bersabar. Tisya bertekad akan tetap mengandung anaknya walaupun ibunya memberikan usul untuk melakukan aborsi.

"Tisya, kau sudah melihat belang dari mantan kekasihmu, bukan?" tanya Maura mendesak. Agar sang anak sadar dan tidak terus dibutakan oleh cinta palsu yang selama ini mendiami rongga hatinya.

"Seandainya aku mendengarkan Mami dari dulu." Penyesalan sudah tiada arti lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin Tisya kembali ke dirinya yang dulu. 

"Gugurkan saja kandunganmu!"

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
menarik sih ceritanya.. mau follow akun sosmed nya dong kalo boleh?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status