Hana yang Terlalu Percaya Diri

Kalau saja Hana tadi melihat Nicholas begitu memerhatikannya. Apakah dia akan cemburu padanya?

Melihat Nicholas memasakkan makanan untuknya. Dan memberikan pijatan pada lehernya ketika dia merasakan mual pada perutnya. Apakah dia akan cemburu?

Mungkin saja cemburu, tapi mungkin saja dia membiarkannya saja.

Amanda masih belum mengerti bagaimana perasaan Hana untuk Nicholas sebenarnya.

Dia menikah dengan Nicholas karena cinta, atau hanya karena Nicholas adalah seorang pengusaha yang sukses.

“Amanda, aku mau keluar lagi hari ini,” kata Hana pada Amanda ketika mantan kekasih Nicholas itu sedang bersantai di ruang keluarga.

“Mungkin aku akan pulang malam lagi,” lanjutnya dengan senyum yang melebar.

Katanya dia selalu di rumah, tapi ternyata dia adalah istri yang sangat hobi menghabiskan uang suaminya.

“Mau ke mana, kalau boleh tahu?” tanya Amanda. Tak berharap juga dia akan diberikan jawaban dari Hana.

“Fitnes, main golf, belanja. Kumpul dengan temanku dan—“

“Tunggu dulu,” potong Amanda.

“Kenapa? Apa ada yang salah?”

“Itu—bukankah kamu mengatakan pada teman-temanmu kalau kamu sedang hamil muda. Jadi, kupikir fitnes akan berbahaya untuk bayimu, jika kamu masih melanjutkan berpura-pura hamil.”

Wajah Hana terkejut. Bodohnya dia kemarin malah fitness. Jangan-jangan teman-temannya membicarakannya di belakang setelah itu?

“Oh—oke.” Hana tergagap.

“Lalu apalagi yang tak boleh kulakukan?”

Amanda menatap Hana penuh, yang kini sedang berdiri di depannya. Ia sangat berharap jawaban Amanda tidak mengurangi kesenangannya.

“Jangan minum alkohol, jauhi orang-orang yang merokok. Dan—berpura-puralah untuk sering mual,” jawab Amanda.

Hana mengangguk mengerti. “Ternyata banyak juga pantangannya, tak salah juga kalau aku tak pernah mau hamil.”

Amanda menelan ludahnya sendiri. Ia kini sudah didesak rasa penasarannya pada perasaan Hana untuk Nicholas.

“Itu—apa kamu mencintai suamimu? Mengapa kamu tak mau hamil anaknya?”

Hana tertawa lebar, ia sampai menutupi mulutnya karena tidak tahan dengan pertanyaan dari Amanda.

“Kamu tahu, Amanda? Mencintai bukan berarti aku harus hamil anaknya. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Makanya aku melakukan hal ini agar terus menjaga mata Nicholas untuk tidak tertarik pada wanita di luaran sana.”

Tetapi kamu tak bisa menjaga hati Nicholas.

Hana kini malah duduk di depan Amanda. Ia sepertinya ingin pamer tentang hubungannya atau mungkin usaha yang ia lakukan selama ini.

“Lelaki menyukai istri yang cantik dan bisa menjaga penampilannya, kamu tahu kan?”

Amanda mengangguk.

“Makanya aku ingin membuat tubuhku tetap seksi di depan Nicholas.”

Amanda tersenyum tipis.

“Dan kalau kamu bertanya, apakah aku mencintainya atau tidak. Aku akan menjawabnya sekali lagi.” Hana menarik napasnya. “Aku mencintainya, sampai dulu aku melakukan hal kotor untuk mendapatkan lelaki itu,” bisiknya.

“Hanya kamu yang tahu, jadi aku harap kamu jangan mengatakan hal ini pada orang lain.” Hana tersenyum seakan tak merasa bersalah karena pernah merebut kekasih orang lain.

“Maksud kamu?”

“Yah—aku merebutnya dari kekasihnya. Dengan cara mudah aku langsung bisa menikahinya,” jawabnya dengan bangga.

Ia tidak tahu saja kalau di hadapannya ada seseorang yang sedang menahan rasa sakit itu.

Amanda yang sudah berburuk sangka pada Nicholas selama ini, akhirnya menemukan jawaban dari wanita yang sudah merebut kekasihnya.

“Jadi—kamu tau kalau dia sudah memiliki kekasih?”

“Tentu saja, tapi aku pura-pura tidak percaya.”

“Dan kamu tidak merasa bersalah dengan kekasih Nicholas?”

“Hei, Amanda. Biar aku jelaskan satu hal padamu. Jika dia belum menikah dan hanya memiliki seorang kekasih, dan akhirnya Nicholas bersamaku itu namanya seleksi. Tapi jika dia sudah menikah dan ada wanita lain di antara kami, itu namanya selingkuh. Jadi untuk apa aku merasa bersalah?”

“Kamu tidak takut dengan karma?”

Hana tergelak mendengar pertanyaan dari Amanda lagi. Ia pikir pertanyaan Amanda itu sangat lucu.

Ekspresinya berubah serius satu detik kemudian. “Sayangnya, aku tak percaya dengan karma,” desisnya.

Amanda menaikkan satu alisnya. Dia tersenyum mendengar penjelasan dan pengakuan dari Hana.

Secara tak langsung dia seperti sudah menyombongkan apa yang sudah direbutnya selama ini. Dan percaya pada Nicholas jika dia tak akan pernah melirik wanita lain, sebab Hana percaya pada dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa mengalahkan kelasnya. Kelas yang paling tinggi menjadi istri yang masih cantik meskipun tak lagi muda.

Hana kemudian berdiri, ia mengambil tasnya yang tadi ia letakkan di atas sofa.

“Bagaimana kalau suamimu, tertarik padaku?” Pertanyaan yang terlalu berani. Tetapi Amanda ingin bertaruh dengan pertanyaannya itu.

“Tertarik padamu?” Hana menatap Amanda dengan tatapan jijik. Terulas senyum licik dari bibir Hana.

“Aku percaya pada Nicholas, jika dia tak akan tertarik pada wanita sepertimu. Aku tahu kamu seorang janda beranak satu, yang ditinggal selingkuh oleh suamimu.”

Hana terkekeh. “Jika suamimu saja meninggalkanmu, jadi untuk apa Nicholas tertarik padamu?”

“Makanya aku selalu mengatakan padamu, agar selalu merawat tubuhmu,” desisnya.

Amanda tidak sakit hati mendengar ucapan dari Hana. Tidak—dia bahkan tersenyum karena seakan diberikan izin oleh Hana untuk merebut Nicholas agar kembali padanya.

Hanya membutuhkan sedikit usaha, mungkin Nicholas bisa kembali ke pelukannya. Lagipula Amanda tahu kalau lelaki itu masih mencintainya.

Semuanya lebih mudah ketika Hana sama sekali tidak memiliki rasa cemburu terhadap Amanda.

Ketika dia pulang dari rumah sakit semalam berdua? Lalu sudah dua hari ini Amanda dan Nicholas sarapan pagi di meja makan, dan Hana tidak pernah cemburu padanya.

Jadi—sepertinya Hana sangat percaya pada dirinya sendiri. 

Mungkin terdengar bagus karena dia memiliki rasa kepercayaan yang tinggi, tapi dia mungkin akan syok jika suatu saat menghadapi jika suaminya pergi untuk wanita lain.

**

Hana masuk ke dalam sebuah kafe, di mana teman-temannya sudah berkumpul di sana.

Dengan senyum yang menawan dan pakaian mahal yang menempel di seluruh tubuhnya, seperti biasa Hana duduk dengan penuh kebanggaan.

“Jadi kehamilanmu bagaimana? Kudengar kamu kemarin fitness, apa kamu tidak tahu kalau itu berbahaya?”

Hana tersenyum canggung. “Iya, aku baru tahu, dan suamiku sangat marah padaku. Malamnya aku diantar ke rumah sakit oleh suamiku, tapi untung saja kandunganku tidak apa-apa.”

“Wah enak sekali, suamimu masih perhatian padamu, padahal sudah lima tahun menikah,” puji teman Hana.

“Benar, mungkin Nicholas sangat melindungi istrinya karena dia selama ini sangat menginginkan seorang anak, kan?”

“Ya, begitulah.” Hana meminum jusnya. Dalam hati dia kesal juga karena pada kenyataannya, Nicholas tidak seperti itu padanya.

Ketika di toilet, teman-teman yang memuji Hana tadi membicarakannya di belakang.

“Sepertinya dia sangat bodoh, sudah tahu hamil tapi malah fitness dan bermain golf.”

“Yah, mau bagaimana lagi. Dia sepertinya tidak mengerti sama sekali tentang kehamilan,” timpal seorang lagi.

“Kalau tak mengerti dia bisa bertanya pada dokter, atau mungkin melihat internet. Tapi sepertinya dia lebih mementingkan penampilannya, daripada kandungannya.”

“Kalian sedang membicarakan siapa?” tanya Hana yang sudah berdiri di belakang teman yang mengatainya barusan.

“Oh—“

“Jangan memberikanku alasan, lebih baik berkaca dan berhenti mengeluh mengapa suami kalian suka pulang malam dan ada bau parfum wanita di bajunya.”

Teman Hana yang bernama Cindy tak terima langsung berdiri. Dia sejak tadi diam karena malas berdebat dengan Hana.

Namun dia sudah terlalu sering dihina lantaran setelah melahirkan berat badannya naik drastis.

“Kamu tahu, Amanda? Seorang suami bukan hanya selingkuh karena tidak puas dengan penampilan istrinya! Tapi bisa juga dia akan selingkuh karena perempuan sepertimu!”

“Apa kamu bilang? Perempuan sepertiku?! Memangnya perempuan apa aku ini!”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Hana!” sentak Cindy tapi ditengahi oleh temannya.

"Sudah Cindy, dia tak akan mengerti perasaan kita," cegah temannya yang lain.

"Lihat saja, aku akan tertawa kalau Nicholas sampai selingkuh!" tandas Cindy seakan mendoakaan hal buruk untuk Hana.

Hana diam dan pergi dari kafe setelah membuat keributan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status