Share

Obsesi Terlarang
Obsesi Terlarang
Author: Camaraderie

1. Prolog

“Siapa yang kamu sedang dekati, Andro?” Suara bass sang Ayah menginterupsi pria muda yang tengah memasuki rumah itu.

Dia memandang sang ayah yang terlihat begitu mengintimidasi saat ini. Bukan karena apa-apa, namun pria itu tak mau melihat sosok yang paling dibencinya itu. Baru kali ini, pria yang berstatus ayahnya itu mempertanyakan keadaannya.

“Memangnya kenapa? Anda tak pernah peduli kepada saya sebelumnya,” sanggah pria itu sambil menatap tajam sang ayah yang terbilang memiliki duplikasi wajah seperti dirinya.

Dia membenci jika harus melihat wajah yang sayangnya dia tak bisa mengubah bentuk wajah yang terkutuk itu. Dia memilih untuk melewati sang Ayah tanpa harus bersikap sopan, dia sudah terbiasa melakukannya.

“Kamu boleh mendekati gadis mana pun, mau itu ningrat atau pelacur sekali pun. Namun, jangan kamu lanjutkan hubunganmu dengan gadis itu, Kejora.”

Deg!

Pria itu berbalik menatap tajam, sekilas menampilkan mata pisau tajam yang siap menebas siapa pun yang tersentuh dengan bilahnya.

Tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya sudah mengepal kencang. Sudut-sudut bibirnya tertarik, membentuk garis bibir datar nan tipis. Matanya berkabut dengan segala rasa marah yang menumpuk.

“Bukan urusan anda saya tengah bersama siapa! Anda pun dari dulu tak pernah memperhatikan saya!” teriak pria itu lantang dan penuh dendam yang membara.

“Dia adalah adikmu, Andromeda!!” Pria dengan gurat-gurat wajah yang menunjukkan usia menua itu membalas dengan bentakan kepada putranya.

DEG!

***

Grep!

“Hah!!! Hah!!!” Napas seorang gadis yang baru saja terbangun dari mimpi buruknya itu begitu kencang menghempas partikel udara lainnya.

Tubuhnya terguncang seiring dengan kucuran keringat yang mengalir deras, terproduksi dari permukaan sel-sel kulitnya saat ini. AC semakin menghembuskan udara dingin ke arahnya, namun tetap saja tak menghilangkan getaran ketakutan yang ada di tubuhnya.

Drrttt ... drrt ...

Ponsel miliknya sudah bergetar di atas nakas, menampilkan nyala cahaya latar yang berkedip-kedip. Lantas gadis itu menyisipkan jarinya ke dalam helaian rambut tebal miliknya. Menarik dan menyisirnya sebentar, lantas mengambil ponsel miliknya.

Terlihat satu nama kontak yang tertampilkan. Mama.

Ibu jarinya bergerak ke kanan, menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.

“Halo, Ma ... ada apa?” tanyanya sambil bangkit dari pembaringannya.

Sreeekkk!

Dibukanya gorden yang menghalangi cahaya untuk masuk ke dalam ruangannya itu saat ini.

“Kamu di mana? Jadi mau ke Indonesia, Jora?” tanya sang Ibu yang memiliki suara menenangkan itu.

Panggilan yang disematkan sang Ibu selalu disebut oleh wanita itu sendiri.

“Iya, Ma ... Jora jadi dong ke Bandungnya, Mama jangan suruh Jora untuk stay di sini ....”

Sejenak suasana menjadi hening. Kejora atau yang biasa dipanggil Jora oleh sang ibu itu bersedekap, berdiri mengahadap keluar jendela dan menatap sinar matahari yang lembut saat ini. Dia selalu mengagumi matahari yang tengah menampakkan dirinya di balik awan-awan putih musim salju saat ini.

“Ya sudah, Mama tak bisa juga menahan kamu di sini. Asal kamu baik-baik di sana ya?” pesan sang ibu yang mengkhawatirkan anak gadis satu-satunya itu.

Sedikit banyaknya mereka saling bertukar pesan sebelum berpisah.

Kejora sendiri sudah mengakhiri panggilannya dengan sang ibu. Dia sudah merapikan seluruh pakaian dan keperluannya untuk pindah ke Indonesia kembali. Terlahir dari keturunan Nusantara namun tinggal di Belanda selama masa hidupnya. Beberapa kali mengunjungi negara asalnya, dia memutuskan untuk tinggal di sana.

Dia menatap satu skripsinya yang sangat dia banggakan. Bagaimana dia berjuang untuk mendapatkan gelar sarjana yang tak mudah di negara Eropa ini. tangannya mengusap sampul skripsi miliknya, menatap lamat-lamat judulnya dan segera memasukkannya ke dalam koper.

Suara musik mengalun merdu memenuhi ruangan flat kecil miliknya. Lagu dari band terkenal legendaris Simple Plan yang menyanyikan Welcome to My Life, yang menggambarkan suasana hatinya.

Bahkan dia ikut bernyanyi sambil terus packing sebelum benar-benar pergi dari tempat yang nyaman ini.

Semuanya akan berubah setelah ini. Mungkin dia tak akan merasakan musim dingin setiap harinya.

Jendela yang terbuka menampilkan pemandangan jalanan yang dipenuhi hamparan butiran putih menakjubkan, butiran halus, mengkristal dan sangat dingin jika bersentuhan dengan permukaan telapak tangannya.

Dihirupnya oksigen yang begitu penuh di sekelilingnya. Dingin namun ....

Kejora menggerek koper miliknya keluar dari flat miliknya saat ini. Dia lantas berbalik, menutup pintunya dan menguncinya.

“Vaarwel schat ....”1

Selamat tinggal, Sayang. (1)

Tangannya bergerak menggeret koper miliknya keluar bangunan dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil miliknya.

***

“Kamu nggak mau makan dulu Ra?” tawar Rina sambil merangkul hangat sang putrinya itu.

“Kan tadi aku sudah makan Mam ...,” kilah Kejora saat ini.

Rina hanya bisa menghela napasnya saat ini. Dia memang sudah lama tak tinggal bersama putrinya sejak putrinya itu menduduki bangku SMA. Apalagi Kejora yang tak dekat ayah tirinya yang baru dinikahi saat usia putrinya 16 tahun atau di saat Kejora duduk di bangku SMA.

“Als je daar hulp nodig hebt, vertel het dan aan papa?”2 pinta pria yang menjadi suami Rina yang berdarah Belanda itu.

Kalau ada apa-apa di sana, beritahu Ayah ya? (2)

Kejora terkekeh mendengarnya. Dia memang tak akrab dengan ayah tirinya, namun ayah tirinya itu menjadi pria yang berdiri paling depan untuknya, menolongnya dan membelanya tentu saja.

Kejora memeluk Marje, ayahnya dengan erat. Suara jenaka sang ayah selalu terdengar riang.

“Aku sayang kalian semua ... aku pergi ya?” pamitnya sambil mengecup pipi kedua orangtuanya bergantian.

Rina hanya bisa memandangi kepergian putrinya yang sudah memasuki bandara Amsterdam saat ini. Dia melepaskan kepergian Kejora dengan penuh rasa sedih.

“Tak apa-apa, nanti kita menjenguknya,” hibur Marje kepada sang istri.

***

Kejora memasuki pesawat yang bertujuan Jakarta. Akan memakan waktu 14 jam lamanya. Dia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya dengan penuh ketenangan. Sebentar lagi, hidupnya akan berubah.

‘Tot ziens Nederlands,’3 ucap batinnya saat matanya memandang negara dimana sang ibu tinggal.

Selamat tinggal Belanda. (3)

Kehidupan Kejora terlalu biasa dan mengikuti didikan sang ibu yang berbudaya ketimuran. Dia sudah mengubur masa lalunya seiring dengan pesawat yang lepas landas. Hati dan tubuhnya akan berada di tempat baru dan membuka kenangan baru.

***

“Ini rumahnya Non ...,” ucap si sopir taksi yang mengantarnya.

“Terima kasih ya Pak?” timpal Kejora sambil memberikan ongkos kepada sopir itu.

Dia beranjak dan memasuki rumah mungil yang dibelikan oleh sang ayah. Kejora harus mengucapkan terima kasih kepada Marje, pria yang selalu baik kepadanya meski dia masih menjaga jarak saat ini. usai delapan tahun pernikahan kedua ibunya.

Segera saja Kejora mencari tempat tidur. Jetlag yang dirasakannya membuat kepalanya terasa berputar-putar dan dia memilih untuk tidur saja. Bagaimana pun juga, transportasi udara memang sangat membuat tak nyaman, saat mulai memainkan ketinggian dan tekanan.

Camaraderie

Halo, jangan lupa untuk tinggalkan komen, vote dan tambahkan ke rak buku kalian yaaa ... ssst ... baca terus babnya, jangan setengah-setengah, biar gak kepo hihi, bye bye

| 4
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ney Yaney
Menarik kak jln ceritanya...jd kepo dan pingin lanjut baca. Semangat nulisnya kak ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status