Share

5. Aplikasi Dating

“Yeay ... akhirnya cuti juga kita,” pekik Kania yang sudah kembali merangkul lengan milik Kejora.

Gadis dengan rambut panjang yang bercat violet itu ikut tersenyum saja dan memaklumi tingkah dari sahabatnya itu. Sudah satu tahun dirinya bekerja di Nanotechnology Central Corp, milik keluarga Tanuwijaya itu.

“Iya ya? Di sini bekerja rasanya tak mendapat hari libur, padahal di Belanda aku bisa cuti dua bulan loh ...,” seloroh Kejora yang menimpali ucapan Kania saat ini.

Kania, wanita dengan rambut yang tergerai dan seragam yang mencolok menurut Kejora itu menyambar penuh bersemangat dengan suara melengkingnya, “kamu tuh aneh tau nggak sih, Jora?! Di sana udah enak kamu kerja nggak sesusah di sini, malah pindah ... apa yang lagi kamu cari coba?” Kania menggeleng-gelengkan kepalanya saja saat ini.

Kejora sedikit banyaknya menghindari matanya pada bagian tertentu yang menatap tepat di selangka Kania yang tersibak. Dia memerah juga merasa seperti anak gadis yang ketahuan mengintip pangeran pujaannya.

Kejora meringis sebentar, kepalanya diarahkan sedikit ke samping dan berbisik, “kamu ... semalam menginap dengan Mas Adam ya?”

Kania menoleh, matanya membulat dan bibirnya terbuka, ingin bersuara namun jadinya malah kelabakan. “Kok tahu?” tanyanya.

“Lain kali, kissmark-nya di tempat tertutup, jangan pas kesibak kemejanya itu merah-merah kelihatan dong,” balas Kejora dengan nada dramatis.

Deg!

Shock!

Wajah Kania memerah, tangannya segera menarik kemejanya sendiri saat ini sambil mendumal. “Ish! Mas Adam tuh kebiasaan, ganas mainnya! Sudah kubilang juga,” gerutunya terus menerus.

Kejora terkekeh mendengarnya, padahal kalau di Belanda, mau orang melakukan hal senonoh di tempat umum saja sudah terbiasa disaksikannya, kalau di sini? Ketahuan ada kissmark akan digoda habis-habisan.

“Kan kamu juga yang setuju berkencan dengan Mas Adam usai bertemu ketiga kalinya?”

“Iya sih, tapi nggak gini dong! Mas Adam tuh ganas, asli deh ... kalau keluar di dalem sih bunting aku!” cerocos Kania dengan sumbarnya.

“Heump ... heump ....” Tangan Kejora sudah membekap mulut sahabatnya itu, dia merasa malu juga kalau orang lain ikut dengar.

“Itu. Sudah dijemput tuh sama pacar online-mu, ayo!” pekik Kejora mengalihkan perhatian Kania.

Mereka segera menyongsong kehadiran pria bertubuh tinggi dengan kulit hitam manis khas pria jawa yang tengah berdiri di samping mobilnya sambil menatap kedua wanita yang berlari penuh semangat ke arahnya.

“Halo Kejora ...,” sapa pria berambut klimis dengan pakaian kantornya yang terbilang formal, menyapa terlebih dahulu pada Kejora yang berdiri di samping Kania.

“Halo Mas Adam,” balas Kejora dengan senyum sopannya.

Kania sendiri berdecak kesal. “Ck! Mas Adam kok sapa Jora duluan sih?! Yang jadi pacarnya siapa coba?!” protes Kania namun tangannya tak urung menggaet lengan kekar milik Adam.

Kejora sendiri memperhatikan bagaimana Adam memperlakukan Kejora dengan penuh kelembutan. Sedikit banyaknya dia meringis juga saat ini. dia ... jomblo, begitu sebutan yang diberikan oleh Kania kepadanya.

“Jora sudah seperti adik Mas loh ... nggak usah cemburu gitu, tetap kamu yang ada di hati Mas, nomor satu ...,” rayu Adam yang membukakan pintu untuk Kania dan juga Kejora.

“Yah, aku jadi orang ketiga lagi deh ini,” ejek Kejora sembari mengusili temannya.

Adam sendiri tergelak mendengarnya, cara bicara Kejora yang masih formal menggunakan bahasa indonesia terdengar begitu polos.

“Makanya cari pacar dong, kita kan mau liburan ke Bali, masa kamu nggak ada gandengan? Nggak mau nanti kami pacaran terus kamu ganggu,” sela Kania sambil membalas mengejek Kejora.

“Aish!” Kejora hanya bisa mengumpat saja karenanya.

“Buat aja di Badiuu, kan lumayan kalau bisa gaet satu dua cowok yang bisa bayarin makanan?”

Lihat kan?

Kejora memutar bola matanya merasa jengah, karena kesekian kalinya Kania memintanya untuk membuat akun di aplikasi dating seperti ini.

“Lagian nggak ada salahnya juga kali, Ra. Kamu kan jomblo? Sah-sah aja tuh, emang kamu mau selamanya hidup sendirian? Kalau ada apa-apa gimana, kalau kami lagi nggak sama kamu?” seloroh Kania dengan entengnya.

Kejora kembali memutar bola matanya, tangannya bersedekap di depan dada. Wajahnya sudah terlanjur menampilkan rasa kesalnya.

“Kamu mendoakan aku celaka ya?” balasnya.

“Ya nggak gitu juga sih, Ra ....” Kali ini Kania diam, merasa tak enak hati.

“Hahaha! Makanya kamu jangan asbun dong, Yang ... Kania emang kalau ngomong nggak disaring dulu Ra ... tapi, memang kami khawatir loh sama kamu, sendirian di rumah itu, kalau ada apa-apa Mas Adam juga kan nggak setiap hari bisa tau kabarmu,” timpal Adam yang ikut mendukung pernyataan Kania saat ini.

Kejora merasa terharu dengan kedua orang itu, dari pertama berkenalan mereka yang sedikit banyaknya membantu dirinya.

Terkadang dia juga iri melihat kemesraan Adam dan Kania. Sangat berbeda jauh dengan pasangan-pasangan di Belanda yang pernah dia temui dan juga mantannya yang pernah dia pacari. Seolah-olah mereka merasa dibutuhkan saat ini, dan begitu menghargai wanitanya.

“Ya nanti aku coba buat.” Akhirnya Kejora membuatkan pernyataan yang semakin membuat Kania senang.

“Aku aja yang buatin, kamu cukup duduk anteng aja, mana hapenya?!”

Lihat kan? Kenapa Kania yang menjadi paling bersemangat saat ini?

“Ini yang ngebet kamu apa Kejora sih Yang sebenarnya?” Adam pun ikut mencurigai kekasihnya sendiri.

Kejora masih mendorong trolley yang ada di tangannya. Mereka tengah berbelanja kebutuhan bulanan. Memang setiap bulannya mereka berbelanja bersama dengan satu bodyguard yang menemani mereka, Adam tentu saja.

“Mas Adam, bisa tolong ambilkan yang itu?” tunjuk Kejora pada produk kalengan yang berada di rak teratas itu.

Keuntungan yang didapatkan ketika Adam ikut dengan mereka.

Dank je well,” ucap Kejora sambil memasukkan barang yang ada di tangan Adam ke trolley yang didorongnya.

(Terima kasih,)

“Hahaha ... liat deh, Ra, ini kaya loh ....” Kesekian kalinya, Kania menunjukkan profil para pria yang dibilangnya bagus.

“Kaya gimana? Itu mah barangkali Cuma numpang foto aja, jangan percaya sama cowok-cowok begitu, Ra,” timpal Adam yang masih menyetir mobilnya.

Kejora hanya tersenyum-senyum geli mendengarnya.

“Eh, ada yang chat nih, balas gih!” Kali ini Kania memberikan ponsel milik Kejora ke pemiliknya sendiri.

Mike Gilbert

[Hi, how was your day?]

Dan dia bule.

Kejora berharap mendapatkan pria lokal kenapa jadi pria bule yang menyapanya di pesan singkat ini.

Dari profilnya, terlihat bahwa si bule menyukai pantai. Pria berdiri dengan papan selancarnya.

Kejora Senjakala

[Halo, my day was so nice,]

Percakapan yang terbilang biasa namun Kania merasa heboh juga. “Oh em ji! Bule dong! aduhhh, ganteng begini lagi, fiks kamu harus pacaran sama dia!” Kania bersemangat sekali mendukungnya untuk berpacaran dengan bule.

"Kok jadi kamu yang semangat Yang?"

Mau tak mau Kejora tertawa melihat pasangan itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status