Selir Adipati
Selir Adipati
Author: Esi Apresia
LAMARAN ADIPATI

Ayu Sekar bunga desa dengan kecantikannya yang paripurna. Dia akan menjalani seleksi pemilihan selir Adipati di istana. Ayu resah dengan surat yang mengharuskan dia datang ke pondok wanita utama kerajaan. Dia duduk di depan meja makan sambil mengamati ibunya yang sedang mengaduk kopi buat bapaknya. Dia berjalan pelan berdiri di belakang ibunya.

“Bu, apa aku harus menikahi Adipati Wiryo. Aku ini akan jadi istri keberapa, Bu? selirnya banyak dan bagaimana nanti aku akan menjalani pernikahan itu?”

“Kamu tinggal nikah aja. Adipati itu kan orang paling berkuasa. Kamu itu seharusnya bersyukur di pilih menjadi calon istrinya Adipati.”

“Tapi Bu, aku masih sangat muda dan baru lulus sekolah. Apa aku harus langsung menikah?”

Ibu Ayu masih saja menambah gula. Bapaknya suka sekali dengan kopi manis. Ibunya berjalan meletakkan kopi itu di atas meja persis di hadapan bapaknya. Tapi, bapak Ayu masih saja diam dengan serius tanpa memperhatikan perkataannya.

“Bu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Ayu sekali lagi dengan memastikan apakah dia memang benar akan menikahi Adipati berkuasa itu.

“Yang harus kamu lakukan ya menikah, Ayu. Pak, kau harus menjelaskan kepada anakmu yang cerewet ini! Ibu bingung mau ngomong apa?!” bentak ibunya kesal.

Ayu duduk lemas di atas kursinya. Yang dia dengar, sang Adipati orang yang sangat pendiam, dingin, dan jarang sekali tertawa. Setiap selir yang masuk ke kamarnya, tidak ada semalam sudah keluar dengan cepat. Bahkan ada yang menangis saat keluar dari kamar sang Adipati. Cerita itu sudah menyebar sampai ke luar istana. Ayu sangat resah mendengar gosip itu.

“Bu, aku ini tidak bisa menikah. Kenapa bukan kakak saja, Bu?” protes Ayu yang sama sekali tidak di hiraukan ibunya.

“Aku tidak akan menikahi Adipati tua itu!” Kakak Ayu yang bernama Sriasih datang dengan suara tegasnya.

“Aku tidak bisa adikku sayang. Kau lah yang harus menikah. Dan jangan bikin ibu tegang. Turuti surat lamaran Adipati. Jika kita tidak menuruti, apa yang akan terjadi dengan keluarga kita?” katanya santai sambil mengelus rambut Ayu yang masih saja terurai.

Sriasih masih saja meyakinkan Ayu agar mau menerima lamaran yang di ajukan untuknya. Lamaran Adipati yang datang ke keluarga Ayu yang merupakan bangsawan dan terkenal memiliki anak yang paling ayu, membuat Sang Penguasa itu melayangkan lamarannya.

“Bu, kapan aku harus ke sana?”

“Kemana, Ayu?”

“Datang ke lamaran Adipati, Bu.”

“Nanti akan ada yang menjemputmu, Ayu. Dan kau tinggal di rumah selir dulu. Nanti di sana kau akan di siapkan. Tapi, belum tahu kapan kau akan masuk ke dalam kamarmu dengan Adipati. Tunggu di panggil.”

Ayu semakin lemas mendengar apa yang di katakan ibunya. “Apa seperti antrian gitu, Bu? Sang Penguasa kok jahat gitu!”

“Bagaimanapun juga Adipati adalah penguasa, dan kita bisa apa dengan melanggarnya. Yang bisa kita lakukan hanya menurutinya.” Ibu Ayu memegang pipinya. Dia berusaha menenangkan hati anaknya yang sangat resah.

Bapak Ayu akhirnya berdiri, dan menghampirinya. “Ayu, kita ini kan bawahan raja Adipati. Bagaimanapun juga, menjadi selirnya itu adalah yang paling tidak boleh di tolaknya. Jadi, kau itu harus menuruti raja. Nanti akan ada libur. Kau bisa pulang ke rumah. Sampai saat ini belum ada selir yang resmi menjadi ratu Adipati. Sapa tahu, kau nanti yang menjadi ratu itu. Nasib tidak ada yang tahu.”

Ayu masih saja lemas. Dia segera berdiri, berjalan masuk ke dalam kamarnya. “Aku akan membuat Adipati melirikku. Paling tidak aku akan membuat diriku berharga di sana. Tapi, aku tidak tahu bagaimana rupa Adipati. Dia selalu saja lewat di hadapan kami dengan memakai kereta dan walaupun dia keluar, kami harus benar-benar menundukkan kepala.”

Ayu menatap wajahnya di depan cermin. Dia masih saja resah membayangkan bagaimana dirinya akan melakukan malam pertama dengan orang yang jauh lebih tua dengannya. Bahkan mungkin sekitar puluhan tahun jaraknya.

"Aku tidak tahu gosip itu adalah benar atau tidak. Semoga dia tidak benar-benar tua," gerutunya kesal.

Pagi menjelang. Ibu Ayu mengetuk pintu kamarnya. Dia segera membukanya. “Ayu, kau harus segera ke istana. Utusan kerajaan mengutusmu untuk datang ke sana. Sekarang mandilah! Dalam tiga puluh menit, kita harus siap denganmu!”

Ibu Ayu mendandaninya dengan sempurna. Dia memang adalah kembang desa yang banyak di incar oleh pria. Namun, kekuasaan Adipati yang memiliki segalanya. Ayu memakai kebaya kuning, dan sanggul dengan hiasan bunga kamboja yang sangat cantik.

Beberapa kuda dan kereta kencana sudah datang. Jenderal dan beberapa pengawal gagah dengan memakai jubah hitam dan pedang yang ada di tangan kanan mereka, membuat semua orang menundukkan kepalanya. Jenderal tertinggi istana sendiri yang di tugaskan Adipati untuk menjemput Ayu. Jenderal itu di juluki nama Jenderal Iblis.

“Selamat datang jenderal.” Bapak dan ibu Ayu serta kakaknya Sriasih menunduk dengan cepat. Ayu sedikit melirik dan menatap mata hitam bulat sang jenderal. “Di mana calon selir raja?!” tanyanya dengan tegas.

“Saya yang bernama Ayu Sekar.” Dengan tegas, Ayu maju ke depan. Dia sangat berani melakukannya. Semua selir yang akan menjadi penghibur raja tidak ada yang pernah melakukan hal itu. Sang jenderal tersenyum, menatap Ayu dari atas sampai bawah.

Orang tua Ayu di sebelah Sriasih kakaknya, sangat kawatir dengan apa yang Ayu lakukan. Dia sudah melanggar aturan sang Adipati. Jenderal gagah dengan mata tajamnya mendekati Ayu yang masih berdiri dengan mengangkat wajahnya.

“Tidak aku pungkiri, kau lah yang paling cantik. Kali ini, aku memaafkanmu. Lain kali, pedang ini akan menghunusmu, wanita.”

Jenderal Iblis, itulah julukannya karena sudah sering memenangkan peperangan dan membuat semua musuh ketakutan karena kehebatannya dalam memainkan pedang. Dia mengarahkan tangannya agar pengawal membuka pintu kereta kencana yang akan membawa Ayu ke istana. Tanpa berbicara lagi, jenderal menaiki kudanya yang dengan cepat melesat di ikuti kereta dan semua pengawal dengan gagah namun menakutkan.

“Aku tidak menyangka anak kita yang sangat kalem itu, bisa seperti itu, Pak.” ucap ibu Ayu dengan gelisah. “Iya Bu, semoga saja dia bisa selalu membawa kabar baik kepada kita.” Bapak ayu dengan ibunya masuk ke dalam rumahnya. Sementara Sriasih hanya diam menatap kereta yang tidak dia sangka sangat mewah dari biasanya yang dia lihat.

“Mungkin aku akan merubahnya jika Adipati itu bisa membuatku semakin berkuasa,” batin Sriasih masih diam memandang kereta Ayu hingga menghilang.

Dalam kereta, Ayu diam menyiapkan tenaganya untuk menghadapi apa yang akan ada di hadapannya, dan tidak di sangkanya. Kereta kencana sampai di hutan. Roda yang semula berputar kencang melambat seketika. Ayu merasakan hal yang sangat aneh. Dia sedikit membuka tirai jendelanya. “Kenapa berhenti?” tanyanya dalam hati.

“Siapa pria yang menghadang jenderal dengan pedangnya?” Ayu melihat seorang pemuda dengan tudung dan cadar hitam menghadang mereka.

“Serahkan semua harta kalian!” Dia mengarahkan pedang yang sangat tajam ke wajah Jenderal yang sama sekali tidak bergerak. “Jenderal, aku tidak akan memerintahkan ke dua kalinya.”

Dengan cepat Sang Jenderal, menghunuskan pedangnya. Sekali tebas, pemuda itu kehilangan kepalanya. “Jangan, sudah cukup!” teriak Ayu. Dia membuka kereta kencananya. “Tolong, kali ini biarkan yang lain hidup!” jenderal itu menarik Ayu, memasukkan ke dalam keretanya.

Sang Jenderal menatap tajam wajah Ayu. Dia semakin mendekatkan wajahnya. “Jangan mentang-mentang kau akan menjadi selir raja, bertindak seenaknya sendiri. Aku bisa saja membuangmu dan mengatakan jika kau melarikan diri. Dan kau tahu akibatnya, keluargamu akan tewas.”

Jenderal melepaskan tangannya, hingga Ayu terlempar ke dalam kereta. “Aku tidak akan melupakan apa yang kau katakan, Jenderal! Akan aku buat Sang Adipati memenggal kepalamu. Tunggulah saatnya tiba!” batin Ayu dengan amarahnya.

Sang Jenderal dengan keahlian pedangnya, menghabisi semua perampok yang menghadang mereka. Bahkan dia tidak mengenal rasa kasihan jika yang menyerangnya adalah remaja. Semua nyawa puluhan orang itu melayang. Salah satu pengawal segera berlari menunduk, memberikan kain hitam untuk membersihkan pedang Sang Jenderal yang masih terdapat cairan darah, setelah menyelesaikan pertarungannya.

“Ayo berangkat! Jangan membuat Adipati raja menunggu kita!” Dia berbicara dengan sangat lantang.

 “Hiya ….” Kuda gagah hitam miliknya dengan sekali pukulan, melesat dengan kencang.

Kereta kencana akhirnya sampai di istana yang sangat megah. Kepala selir menyambutnya di depan gerbang. Dia adalah wanita tua dengan pakaian kebaya merah dan dandanan yang sangat tebal. Jalannya sangat anggun. Semua akan menunduk jika melewatinya, kecuali Ayu yang selalu mengangkat wajahnya dan melanggar semua aturan.

“Tundukkan kepalamu!” bentaknya dengan tatapan tajam ke arah Ayu.

“Untuk, apa?” Ayu membalas tatapan tajamnya.

Comments (7)
goodnovel comment avatar
Sapar Khan
kayakx menarijk
goodnovel comment avatar
Sapar Khan
msh nyimak thorr
goodnovel comment avatar
fendryatmaladju17
adipati dolken kah ini?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status