Share

Misi Pertama 2

Faisal memandang ke tiga Goblin yang ada di depannya. Memikirkan dengan mantap langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Makhluk hijau cebol ini memang lemah, namun bisa sangat berbahaya jika dia terperosok pada alur serangan mereka.

Beberapa Pendekar yang kurang beruntung berakhir menemui kematian, karena meremehkan mereka sebab sombong atau alasan tidak masuk akal lainnya.

Satu Goblin dengan pedang maju sambil mengayunkan pedangnya, untuk menggores tubuh sang pendekar muda. Faisal menghindari serangan Goblin tersebut dengan cekatan.

Faisal melempar obor ke arah Goblin yang menyerang, membuat monster itu terhentak dan ragu untuk menyerang. Kesempatan tersebut diambil oleh sang Pendekar muda.

Perisai bundar miliknya yang memiliki sisi tajam, menggorok leher sang Goblin yang terkejut hingga mengeluarkan banyak darah.

Sang Goblin terpental membentur lantai, tubuh monster itu  kejang-kejang sebelum akhirnya mati.

"Grroorrb!" Seru pemegang tombak.

Goblin itu segera merangsek dengan tombak terhunus untuk menusuk tubuh Faisal. Pendekar muda itu pun melaju sambil membungkuk serendah mungkin.

sang Goblin menusuk-nusuk Faisal, mencoba membalas kematian temannya. Pendekar muda itu berkali-kali mampu menghindar. 

Lalu dengan cekatan dia menghindar, kemudian melempar botol berisi minyak tanah yang diberikan oleh ketua desa.

"Grroorrb!"

Goblin itu terkejut, sambil mengusap-usap matanya karena benda itu masuk ke dalamnya. Kesempatan itu diambil Faisal untuk membunuh Goblin tersebut.

Namun niatnya diurungkan, sebab sebuah anak panah melesat menuju kepalanya. Perisai bundar yang dibeli menjadi penyelamat.

Setelah selamat dari serangan Goblin itu, segera Faisal lemparkan Gada miliknya ke arah Goblin yang memegang panah. Karena tidak menyadari serangan itu, kepala miliknya hancur karena serangan Faisal.

Goblin itu mati dengan cepat karena organ vital miliknya terkena serangan. Faisal terengah-engah setelah pertarungan tersebut.

Matanya menatap Goblin terakhir yang memegang pedang. Monster hijau itu kini berlumuran minyak tanah.

Monster itu menyerang dengan membabi-buta. Tangan kecil miliknya terayun-ayun untuk menyerang Faisal, Pendekar Muda itu bisa menghindari serangan tersebut.

Satu momen Faisal menggulingkan tubuhnya ke lantai Dungeon menuju obor yang masih belum padam. Si Goblin makin geram karena musuhnya selalu lolos dari serangan.

"Grroorrb!"

Goblin itu bersuara, entah makian atau cemohan pada Faisal. Pendekar muda itu tidak ambil pusing, setelah meraih obor dia memandang dingin Goblin tersebut.

Melihat lawannya malah menatap dingin dirinya seakan mengejek, membuat Goblin tersebut naik pitam. Segera dia merangsek ke arah Faisal dengan tangan siap menerkam.

Pendekar muda itu hanya mendengus saat melihat tingkah lawannya. Dengan pelan dia berkomentar.

"Dasar bodoh!"

kemudian melempar Obor di tangannya, karena tubuh Goblin itu terlumuri minyak tanah. Api dengan cepat melahap tubuh monster kecil itu.

Dia berteriak-teriak dan mencoba memadamkan api yang menjilati setiap inchi bagian tubuh nya. Namun Faisal mempercepat monster itu menuju kematian.

Dengan kayu obor yang ada ditangan, Faisal memukul keras kepala Goblin itu sehingga Monster itu langsung diam tidak bergerak. Setelah itu, dia menyalakan obor baru untuk menjelajah Dungeon ini lebih dalam.

Setelah menjelajah Dungeon lebih dalam, Pendekar Muda itu menemukan banyak sekali barang-barang jarahan yang di kumpulkan para Goblin.

Semuanya tergabung menjadi satu tempat seperti gunung. Meski begitu, monster hijau kecil itu memisahkan kotoran mereka dari makanan dan senjata.

Di antara semua  barang-barang itu, terdapat seorang wanita yang terikat tanpa sehelai benangpun menempel pada kulitnya.

Napasnya memburu dan peluh mengalir dari seluruh tubuhnya. Tanpa di jelaskan, Faisal tahu apa yang terjadi pada wanita tersebut.

"Kabar yang beredar tentang Goblin menculik wanita untuk bereproduksi ternyata benar. Sekarang aku paham kenapa banyak pendekar tidak ingin memburu mereka." Gumam Faisal.

Faisal segera melepaskan ikatan wanita tersebut, lalu menutup tubuhnya dengan kain yang dia temukan di sekitar.

Hasrat 'lelaki' miliknya sudah dia kendalikan, berkat pelatihan gila yang dia lakukan. Semua itu demi satu tujuan besarnya di masa depan.

"Merangkak dari lumpur untuk sampai pada tempat tertinggi, aku harus menjalankan makna dari puisi itu." Gumam Faisal lagi sambil menggendong wanita tersebut.

Pendekar muda itu kembali melanjutkan penjelajahan, untuk memastikan bahwa tidak ada satupun Goblin yang dia tinggalkan.

Bagaimanapun, sebuah permasalahan harus diselesaikan sampai akar-akarnya. Agar tidak menimbulkan bibit baru di masa depan.

Setelah memeriksa semua Dungeon dengan teliti, Faisal menemukan beberapa sisa monster hijau kecil itu di dalam sebuah gua yang ditutup oleh palang sederhana. 

Para anak-anak Goblin itu ketakutan, namun ada salah satu diantara mereka memegang sebuah batu untuk melawan.

Faisal turunkan wanita di punggungnya dan membasmi mereka tanpa sisa. Setelah menyelesaikan pekerjaan.

Faisal lalu keluar dari Dungeon, dengan menggendong kembali tawanan itu di punggungnya.

Gadis itu tetap diam saat Faisal menggendongnya. Pendekar muda itu juga tidak berniat memulai percakapan.

Saat dia sampai di desa yang memberikan Quest. Orang-orang segera menghampiri Faisal dan mulai bertanya-tanya.

"Apa kau sudah memusnahkan Goblin di sana?"

"Apa Gadis ini Tawanan para Goblin?"

Itulah beberapa pertanyaan yang diucapkan oleh Penduduk, saat Faisal sampai di sana. Pemuda itu hanya menjawab seadanya saja pada mereka yang bertanya.

Ketika dia sampai di rumah kepala desa, orang tua itu menyambut dengan terkejut. Apalagi di punggungnya ada seorang gadis tawanan para Goblin.

"Pendekar! Kau sudah kembali, apa pembasmiannya selesai?" Tanya Kepala desa.

"Aku sudah menyelesaikan pembasmiannya. Di sana terdapat 4 Goblin dan ada beberapa anak Goblin juga yang bersembunyi." Jawab Faisal

"Ternyata mereka sedang berkembang biak, syukur jika kau bisa membasmi mereka sebelum jumlahnya sulit di tangani. Lalu gadis itu?" Tanya kepala desa sambil menunjuk gadis yang ada di punggung Faisal.

"Masalah gadis ini, akan aku titip-"

sebelum Faisal menyelesaikan ucapannya. Gadis itu menggeleng dan mencengkeram bahunya. Melihat itu, kepala desa mengerti.

"Sepertinya, dia tidak ingin tinggal di sini. Lebih baik kau bawa dia kembali ke Padepokan, serta laporkan kejadian sesungguhnya." Ucap Kepala desa.

"Kau tidak meminta aku menutupinya?" Tanya Faisal.

Kepala desa menggeleng sambil berkata, "aku sudah berbohong padamu, jadi biarkan aku mendapatkan hukuman atas kebohongan itu."

Ada hukum yang akan di diberikan. Apabila sang pemberi Quest berbohong, saat memasang Quest pada pihak Padepokan.

Faisal menghela napas, saat mendengar ucapan kepala desa. Namun dia tidak peduli dan hanya diam saja, yang dia khawatirkan adalah kondisi mental sang Gadis tawanan, sepertinya ucapan kepala desa memang tepat.

"Aku akan membawa dia ke Padepokan besok! Bisa kau siapkan tempat istirahat untukku malam ini?" Tanya Faisal

Segera sang Kepala desa memberikan sebuah kamar untuk Pendekar muda itu supaya bisa beristirahat. Dia juga memberikan baju ganti, untuk dipakai tawanan yang diselamatkan Faisal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status