4. Si Berlian

Limora Catty. Siapa yang tidak mengenalnya di pemukiman kumuh ini. Pemukiman Lauht. Limora menamai tempat ini tanpa pikir panjang, dan menandai Lauht sebagai tempat untuk dia dan Buckley berkuasa.

“Tamu istimewa yang mendatangi kita ini, siapa Buck?” Keramahan singkat dari Limora, dia tersenyum.

“Entahlah. Aku melihat dia berjalan ke sana kemari seperti wanita gila. Kupikir, dia pasti suruhan para penggusur atau apalah itu, untuk menyusup ke sini. Dia akan mengacau seperti Irene. Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi,” cerca Buckley. Ada guratan kemarahan di raut wajahnya.

Limora tertawa pelan, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak menampar Buckley yang bodoh. Limora sadar, dia mendapatkan berlian dengan cuma-cuma.

“Bisakah kau singkirkan prasangka tidak bergunamu itu, Buck?” Limora melirik Buckley, tajam dalam pandangan menekan. Suaranya saat bicara terdengar manis, tapi mengandung racun.

Buckley membungkam mulutnya sendiri. Dia tahu tidak akan ada gunanya berdebat dengan Limora yang maha benar. Lagipula, dia berhutang banyak pada wanita itu. Hutang budi atas kehidupan kedua untuknya.

Sambil menggerutu, Buckley meninggalkan Limora dan Sia dengan wajah ditekuk. Dia memilih menyerahkan semua masalah rumit pada Limora, dan hanya akan mengurusi hal berbau fisik yang biasanya sulit ditangani oleh seorang wanita.

“Hei, Nona, siapa namamu?” tanya Limora, mendekatkan wajahnya pada Sia. Dia ingin memastikan bahwa wanita basah kuyup di depannya ini, memang benar-benar cantik dan menawan.

Sia memundurkan tubuhnya, dia cemas akan pendekatan Limora, karena itu berarti mereka bisa saja bersentuhan.

“Sia. Namaku Sia.”

“Oh, nama yang bagus. Nama lengkapmu?” Limora menunggu. Dia melihat Sia kebingungan menjawab, membuat Limora mengernyit. “Apa kau sudah bahagia hanya dengan tiga huruf itu saja sebagai namamu?”

Sia memperhatikan bahwa mungkin, dugaan pertamanya, Limora bukanlah seseorang yang ingin berbuat buruk pada dirinya. “Galexia ... Galexia Pandora,” jawab Sia. Dia ragu apakah itu benar nama lengkapnya, tapi dia ingat seorang Perawat Rumah Sakit pernah menyebutkan nama itu saat Dokter memeriksa perkembangan tubuhnya.

“Hmm ... namamu memang bagus. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Limora, dia menatap Sia lekat-lekat. “Aku tidak ingin mendengarnya dari Buckley. Kau lihat sendiri bagaimana dia membenci hampir semua wanita di dunia ini, kecuali aku, bukan?”

Sia mengangguk setuju. Setidaknya, ada seseorang yang bisa diajak bicara dan itu melegakan untuk pertama kalinya, setelah dia diusir oleh Josie.

“Aku ... terjadi kesalahapahaman antara aku dan Bibi dari pihak Ibuku ...” Sia berhenti, menatap Limora yang menunggu dengan senyum terukir di wajahnya yang memiliki bintik-bintik di sekitar pipi kanannya yang penuh, “aku diusir dan berjalan tidak tentu arah, hingga tanpa sadar memasuki pemukiman ini. A-aku tidak berbohong, memang itu yang terjadi padaku ....” Sia menekan telapak tangan kanannya di atas dada, memberi kesungguhan pada ucapannya.

“Aku percaya padamu, Sia.” Limora merapatkan duduknya, mendekati Sia lebih dekat lagi, dia ingin menguatkan hati si berlian yang tiba-tiba muncul tanpa dia perlu bersusah payah mencarinya. Tapi Sia menjauh, hingga Limora kembali mengernyit. “Ada apa? Kau takut padaku?”

“Bukan, bukan begitu,” geleng Sia, dia melindungi semua anggota tubuhnya dengan memeluk dirinya sendiri, “aku hanya minta satu hal saja padamu, tolong ... jangan sentuh aku, dalam bentuk apapun itu. Aku mohon,” pinta Sia, hampir menangis.

Sekejap Limora terhenyak, dia penasaran, tapi urung bertanya. Jika ingin mendapatkan hati si berlian, Limora menggunakan pendekatan yang bijak agar Sia percaya padanya.

Limora akan membentuk cara pikir Sia dengan menganggap dirinya sebagai teman, dan akan selalu bersedia membantunya dengan tulus.

“Oh, baiklah, baiklah ...” Limora mundur, menggeser tubuhnya menjauh, “aku mengerti, dan aku akan menuruti keinginanmu, Sia.”

“Terima kasih,” ucap Sia lega. Merasa beruntung bahwa Limora tidak memperlakukannya dengan sedikit buruk seperti Buckley.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apakah Bibimu itu tidak akan mencarimu?” Limora bertanya hati-hati, dengan tanpa suara yang seharusnya terdengar begitu mendamba.

Sia menggeleng kuat-kuat. “Sisie tidak akan mencariku, dia sudah sangat membenciku.” Sia tidak tersenyum, tidak juga bersedih, nyaris tanpa ekspresi.

Limora membaca hal tidak terduga untuk si berlian utuh belum tersentuh dihadapannya ini. Dia yakin, keberuntungan sedang menghujani dirinya dengan bertubi. Semua begitu sempurna.

“Lalu, apa sekarang kau ingin aku membantumu?”

Sia bukan tidak mencurigai Limora, dia paham akan dirinya yang akan dimanfaatkan dalam hal yang belum bisa dia duga. Tapi bagi Sia, hal buruk sudah terjadi beberapa kali dalam hidupnya, jika terjadi lagi melalui Limora, mungkin dia bisa menghadapinya.

Perlakuan baik dan lembut dari Limora pada orang asing seperti dirinya, tidak mungkin tanpa alasan. Sia tahu itu. Mereka sama-sama tahu bahwa hubungan ini atas dasar saling membutuhkan, memberi keuntungan satu sama lain.

“Ya, aku membutuhkan bantuanmu, dan aku akan membayarnya dengan pantas,” jawab Sia, kini tanpa keraguan.

Sia, yatim piatu dan tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Jika pun ada sanak saudaranya yang lain, itu hanya akan berakhir sama seperti hubungannya dengan Josie.

*****

Rigel mengernyit ketika melihat rumahnya yang berantakan. Dia ingat, memang dirinya lah yang terakhir kali menjadi penyebab hal ini terjadi semalam.

Tapi seharusnya, tempat ini, rumahnya yang luas ini, sudah harus bersih sebelum dia pulang dari kantor.

“Yoan!” Rigel berteriak sambil melepaskan dasinya. Dia melempar tubuh setinggi seratus delapan puluh empat sentimeternya, ke sofa.

Pria muda, Yoan Bailey muncul dengan langkah tergesa, dia baru saja memarkirkan mobil di garasi, tapi teriakan Rigel seolah mengisi seluruh penjuru rumah hanya untuk memanggil nama Yoan.

“Ya, Tuan?”

“Kau lihat?” Rigel menunjuk seluruh ruangan yang berantakan. “Kenapa aku masih melihat pemandangan ini setelah aku pulang?”

“Itu ...” Yoan menggaruk tengkuknya, dia merasa ini membingungkan, “Bella dan Yasmine tidak lagi bisa bekerja untuk Anda, Tuan—”

“Apa?” Rigel duduk tegak mendengar penuturan Yoan, dia mengernyit marah. “Cari tahu, apa gaji mereka tidak cukup selama ini? Apa aku perlu menambahnya menjadi dua atau tiga kali lipat? Cepat tanyakan pada mereka!”

“Maaf, Tuan. Pagi-pagi sekali aku mendapat kabar dari tetangga Bella, bahwa dia sudah pergi dengan kekasihnya ke luar kota. Mereka akan segera menikah. Sedangkan Yasmine, dia juga sudah pergi merantau ke luar kota, itu menurut Pamannya,” jelas Yoan. Dia sudah bersiap akan amukan dari Rigel yang sudah tampak sangat tidak bersahabat.

Benar saja, tanpa bicara, Rigel menendang meja kecil yang ada di depan sofa. Dia bangkit dan menatap tajam pada Yoan.

“Aku tidak mau tahu, cari pengganti mereka atau kau yang menggantikan semua pekerjaan mereka!”

Yoan mendesah dan mengeluh berulang kali dalam hati. Dia tahu ini akan sangat sulit. Banyak orang yang menolak, bahkan sebelum mereka tahu apa pekerjaan yang harus mereka kerjakan di rumah ini.

Alasannya, tentu saja, karena mereka cukup mendengar bahwa seseorang yang akan membayar upah pekerjaan mereka adalah Rigel Auberon. Sosok menyebalkan yang selalu terlihat bisa menghina hanya dalam sekali dia memandang seseorang.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status