7. Sentuhan Pertama

Sia terperanjat saat berpapasan dengan Rigel di halaman samping. Nyaris tersandung gulungan selang air, Rigel mencegah itu terjadi dengan menangkap lengan kanan Sia.

Sadar akan kesulitan yang akan didapatkannya, Sia segera menarik kembali tangannya dari cengkeraman Rigel.

Mundur dua langkah, Sia gugup karena yakin bahwa pria dihadapannya ini adalah si pemilik rumah. Meski begitu, Sia bersyukur karena dia tidak melihat sesuatu yang buruk tentang majikannya. Masa depan penuh darah atau kecelakaan yang bisa mengancam nyawa.

Rigel memandangi telapak tangannya yang baru saja dia gunakan untuk memegang lengan Sia. Baru kali ini Rigel memegang seseorang lebih dari beberapa detik, jika itu menyangkut hal yang mendesak atau mendadak.

Di luar itu, dia berusaha untuk tidak menyentuh, apalagi memegang seseorang. Rigel membenci hal itu. Sentuh menyentuh membuatnya muak. 

“Maaf, Tuan ...” Sia bergetar, menghindari kesalahan, tapi baru saja dirinya justru berbuat ulah langsung di depan si pemilik rumah, “aku Galexia Pandora, pelayan yang ditugaskan untuk membersihkan rumah Anda.”

“Aku sudah tahu mengenai hal itu.” Rigel menyahut tanpa peduli, kedua matanya masih fokus pada telapak tangan yang seolah ‘ternoda’ karena ulahnya sendiri.

Seketika Sia menjadi canggung. Dia sama sekali tidak menduga bahwa pemilik rumah akan pulang secepat ini. Sia bahkan belum menyelesaikan pekerjaannya di dapur.

Buru-buru, Sia berbalik menuju ke pintu samping, meninggalkan Rigel yang termagu dengan tatapan penuh konsentrasi pada telapak tangannya sendiri, seolah tangan itu sudah melakukan kesalahan besar yang tidak diperintahkan oleh otaknya.

Sia membereskan semua sisa bahan makanan yang berantakan di dapur, serta wadah-wadah kotor bekas memasak. Dia bahkan tidak sadar bahwa Rigel menyusulnya melalui pintu yang sama.

Memperhatikan Sia yang sekarang menggerakkan kedua tangannya untuk mencuci piring, Rigel sadar dia melakukan hal yang tidak berguna.

Belasan pelayan silih berganti melakukan tugasnya di rumah ini, tapi tak pernah sekalipun Rigel tertarik untuk mau tahu, apalagi memperhatikan cara kerja para pelayannya.

Memutar tubuh untuk berjalan meninggalkan dapur, baru selangkah, Rigel kembali berbalik, menatap punggung Sia yang terbalut gaun melewati lutut berwarna ungu pudar, dengan gaya ikat rambut half ponytail.

“Siapa tadi namamu?”

Sia sedang memegang piring yang baru saja dia bilas di luar wastafel untuk diletakkan pada rak piring di samping bak cuci piring itu, ketika Rigel mengejutkan Sia dengan bertanya.

Piring terlepas dari tangan Sia, berantakan di lantai dan menyisakan keterkejutan lain saat Sia menyadarinya.

Dengan acuh, Rigel menyilangkan salah satu kakinya, sebelah bahu bersandar di kusen pintu dapur. Lurus menatap Sia yang cemas dan terlihat bergetar.

Sia berjongkok, membersihkan pecahan piring yang bertebaran di lantai.

“Sedang apa kau? Cepat ambil sapu dan serokan!” perintah Rigel, masih dalam posisi yang sama. Dia sengaja tidak mendekat.

Sia bangkit. “Hati-hati dengan langkahmu!” seru Rigel. “Gunakan sapu untuk membersihkan pecahan kaca yang memiliki bagian besar.”

“Baik, Tuan.” Sia berjinjit, melakukan gerakan langkah kedua kakinya dengan hati-hati.

Semenit berlalu, Sia kembali dan mulai menyapu pecahan piring yang berukuran besar. Sementara Rigel baru saja pergi untuk mengambil selotip hitam dan slipper berbahan plastik dengan warna biru pastel.

“Sudah selesai?” Rigel menghampiri, melemparkan slipper itu secara pelan ke arah aman, di samping Sia. “Pakailah itu.”

Sia patuh, mengangguk sekilas dan langsung memakai pelindung kaki berukuran besar itu dengan sedikit canggung. Jelas memberi ruang lebih di belakang kedua kakinya.

“Ambil senter dan roti tawar beberapa lembar.”

Meski bingung, Sia tetap bergerak untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Rigel.

“Matikan lampunya!” perintah Rigel lagi.

Sia mundur beberapa langkah untuk memadamkan lampu, bingung semakin menggantung dipikirannya.

“Nyalakan senter yang ada di tanganmu, lalu terangi ke lantai di sekitar piring yang tadi pecah, pasti banyak serpihan kaca yang tertinggal.” Rigel memberi instruksi.

“Baik, Tuan.” Sia berjongkok, terlalu fokus pada lantai dan tidak begitu memperhatikan Rigel yang ada didekatnya.

Tangan mereka saling bersentuhan di lantai. Membuat keduanya tersentak dan menarik kembali tangan masing-masing, bersikap canggung dikeremangan dapur.

Sia berdebar, dia takut penglihatannya memberi gambaran buruk masa depan orang lain yang tidak ingin dia lihat.

Rigel mengernyit, dia memegangi tangan kanannya yang masih terasa memanas karena sentuhan singkat mereka.

“Kau belum menjawabku. Siapa tadi namamu?” Mengatasi kecanggungan, Rigel ingat jika gadis di sampingnya ini belum menjawab pertanyaan darinya. Meski Sia sudah memperkenalkan diri sejak awal pada Rigel.

“Galexia Pandora, Tuan.”

“Tetap di situ,” cegah Rigel sambil menunjuk cahaya senter di lantai. Dia segera merogoh saku celananya mengeluarkan selotip, “tahan!”

Sia mengangguk, memperhatikan jari-jari lentik Tuannya yang nyaman dipandang mata. Sia terlalu naif setelah hilangan ingatan, sehingga rasanya terlalu sulit untuk menjadi dirinya sendiri sementara dia tidak ingat siapa dirinya yang lalu.

Selama kurang lebih dua puluh lima menit mereka bekerjasama untuk menyelesaikan kekacauan yang dibuat Sia, dan selama itupula, baik Rigel ataupun Sia tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Apa ada yang Tuan perlukan lagi?” Sia memberanikan diri bertanya setelah semua selesai dan dapur kembali terang.

“Tidak ada ...” Rigel memalingkan pandangan ke meja makan. Dia baru menyadari bahwa ada beberapa hidangan di sana, “ini untuk makan malam?”

Sia mengangguk, “Benar, Tuan. Aku sengaja memasaknya sedikit lebih cepat. Agar saat Anda pulang bekerja, Anda tidak terlambat untuk makan malam.”

“Kalau begitu, ayo makan.” Rigel menarik kursi, duduk tenang, lalu menoleh untuk melihat Sia. “Ambilkan aku air.”

“Baik, Tuan.” Sia bergegas menuju lemari es, tapi tergelincir saat melewati lantai dekat wastafel dengan sisa air dari piring yang tadi pecah.

Suara gedebuk menandakan tubuh Sia berada dalam ambang bahaya. Rigel melompat dari kursinya, mengangkat tubuh Sia yang terus mengerang kesakitan.

Posisi Sia jatuh cukup berbahaya, berbaring dengan kepala bagian belakang terbentur ke lantai. Rigel seakan lupa bagaimana dia dengan panik membawa Sia menggunakan kedua tangannya untuk dibaringkan di sofa ruang tengah.

Sia sudah tidak sadarkan diri setelahnya. Membuat Rigel semakin panik dan menghubungi Yoan untuk segera membantunya.

Yoan tiba lima belas menit bersama Dokter Fredy yang langsung sigap memeriksa keadaan Sia.

Berdiri dengan gugup dipinggir sofa, Rigel memperhatikan Yoan yang terlihat begitu khawatir pada Sia. Berulang kali secara terang-terangan, Yoan seakan mengabaikan kehadiran Rigel dan hanya banyak bertanya pada Dokter Fredy.

Pemeriksaan selesai dalam dua belas menit.

“Dia baik-baik saja. Sebaiknya, baringkan dia di tempat tidur. Butuh beberapa jam untuk beristirahat sampai dia terbangun nanti,” jelas Dokter Fredy pada Rigel, meski yang bertanya tentu saja, Yoan.

Tanpa pikir panjang, Yoan mengangkat tubuh Sia. Kulit mereka saling bersentuhan satu sama lain. Bahkan dalam tidurnya, Sia bisa melihat melalui mimpi bagaimana Yoan mendapatkan bencana di masa depan.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status