Queen of The Dark Hill
Queen of The Dark Hill
Author: Vie Junaeni
1. Hide and Run

Di sebuah club malam dalam kota metropolitan bernama New Bluex, dua orang gadis terlihat menikmati pesta dengan segelas wine di tangannya masing-masing.

"Alex, let's have a party baby!" 

Tania, gadis dengan rambut ikal berwarna cokelat, berseru seraya membenturkan dinding gelas kristal berisi wine itu pada gelas milik Alexandra. 

Gadis berusia 20 tahun dengan rambut pirang itu sudah terlihat mabuk. Namun, Alex tetap mencoba bertahan. Tubuh ramping berbalut dress Gucci itu terus bergerak gemulai seiring dentuman musik dalam club malam itu. 

Desainer muda itu memang menyukai pesta dan kehidupan glamor. Semua yang melekat pada tubuhnya bermerek mahal. Meskipun ia terlahir sebagai anak yatim piatu di Heaven Field, tetapi ia bisa mengubah hidupnya. Alexandra sukses menjadi perancang busana terkenal dan pindah ke kota.

Namun, sifat hedonisme yang dimilikinya membuat gadis itu terperangkap dalam hutang. Ia mulai sering datang ke pesta dan mabuk-mabukkan sampai lupa bekerja keras seperti dulu.

"Yuhuuu, baby, let's have a party until dawn!" 

Gadis itu balas berseru pada sahabatnya itu. Dua orang pria bertubuh tegap dan kekar terlihat mengamati Alex dari meja bartender. 

"Lihat, dua pria itu sedang mengamatimu," ucap Tania di telinga Alex. 

"No way! Mereka terlalu dewasa untukku, kau tak berniat menjodohkanku dengan mereka, kan?" 

"Apa kau menyukai pria botak juga?" tanya Tania menggoda Alex. 

Tania dan Alex tertawa terbahak-bahak bersamaan di tengah kerumunan para muda-mudi penyuka pesta itu. Tiba-tiba, kedua pria itu mendekat.

"Permisi, apa kau Alexandra Jhonson?" tanya pria yang berkacamata hitam dan kepala plontos itu.

"Iya, bagaimana kau tau namaku? Oh, sebentar, jika kau berusaha mendekatiku, maaf sekali kau bukan tipeku, hahaha....!" 

Alexandra menoleh ke sahabatnya dan kembali tertawa.

"Kami dari Bank Green, Anda harus ikut dengan kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Anda," ucap pria itu.

"Astaga, Bank Green katanya?" 

Alexandra menoleh pada Tania.  Mereka lalu mendorong dua pria itu jatuh ke lantai dan berseru.

"Tolong kami, mereka penjahat yang akan menculik kami!" 

Sontak saja penjaga club malam itu langsung menghadang para debt collector itu. 

Alex dan Tania berhasil masuk ke dalam BMW warna putih itu. Gadis itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Kenapa kau belum melunasi tagihan kartu kreditmu itu, sih?" 

Tania bertanya dengan nada membentak. 

"Sudah, jangan berisik, bukankah kau juga suka menikmatinya?"

"Ya tapi, karena kupikir kau anak orang kaya, jadi..." 

"Jadi, kau memanfaatkan aku, kan?" 

Tania tidak menjawab, ia memperhatikan mobil SUV hitam di belakang dari kaca spion.

"Astaga, mereka mengikuti kita!" Pekik Tania.

Alexandra melirik ke arah kaca spion lalu menghentikan laju mobilnya mendadak.

"Lekas turun, aku tak mau melibatkanmu!" 

Gadis itu berseru pada Tania.

"Tapi Alex—" 

"Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, sedangkan kau masih punya keluarga, cepat pergi!" 

Tania menurut, gadis itu turun dari mobil dengan perasaan cemas. Alex tersenyum lalu menancap gas dan melajukan mobil itu lebih cepat. 

Tania langsung berlari melewati lorong jalan yang sempit sambil kebingungan menuju ke rumahnya. Perasaan gadis itu masih cemas memikirkan sahabatnya Alex.

Mobil BMW berwarna putih itu melaju kencang berkejar-kejaran dengan mobil SUV yang dikendarai debt collector tadi. Gadis itu mulai merasa pusing dan beberapa kali oleng dalam mengemudi karena pengaruh alkohol. 

Sampai akhirnya gadis itu tak kuasa mengendalikan mobilnya saat menghindari truk besar yang melintas dari arah depannya. Mobil yang dikendarai gadis itu menabrak pembatas jalan dan jatuh ke dalam jurang di kegelapan malam itu.

Alexandra lupa memakai seatbelt dan terpental ke luar dari dalam mobilnya saat jatuh ke dalam jurang. Ia meyakinkan diri agar siap menghadapi kematiannya kala itu. 

Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sesuatu di luar nalar gadis itu datang dan membawanya ke dalam masalah baru jauh lebih besar dari sekedar masalah hutang di kota besar itu.

Sekelebat bayangan hitam menangkap tubuh ramping milik Alexandra dan membawa gadis itu ke suatu tempat. Sosok itu mendaratkan gadis itu dan meletakkannya di tepi sungai. Kedua mata gadis itu masih mencoba terbuka untuk menelisik sekitar tetapi kedua mata lentik itu terasa berat dan akhirnya dia tak sadarkan diri. 

***

Suara air mengalir terdengar bernyanyi mengiringi kicauan burung di pagi itu. Alexandra terbangun karena terpaan sinar mentari pagi menyentuh wajah cantiknya itu.

Tangan kanan gadis itu berusaha menutupi sinar matahari yang terasa menyengat itu. Ia mencoba mengamati sekitar. Hamparan sungai dengan air jernih terlihat. Betapa jernihnya air sungai itu sampai ia dapat melihat ke dasar dan beberapa ikan yang berenang melintas.

Pepohonan rimbun terasa menyejukkan udara sekitarnya. Burung jay biru terlihat bertengger di pepohonan yang ia lihat.

"Apa aku berada di surga, ya?"

Alexandra bangkit dan mengamati tubuhnya. Tak ada luka dan rasa sakit sama sekali kala itu. Padahal ia yakin sekali kalau ia baru saja terjun ke jurang. 

"Tapi, mana mungkin gadis bersifat buruk sepertiku masuk surga, kalaupun aku mati pasti aku masuk neraka," gumam gadis itu pada diri sendiri.

Lantas saja ia mencubit pipinya sendiri sampai berteriak.

"Aw, ini terasa sakit, pasti aku tak bermimpi. Tapi di mana aku?" 

Gadis itu mengamati sekitar kembali. Ia seperti berada di sebuah pedesaan dengan pemandangan alam indah bagai lukisan. Udara terasa segar dia hirup, udara yang jauh dari polusi udara seperti di kotanya.

Seorang anak perempuan mendadak hadir mengejutkan gadis itu. Tadinya anak itu hendak mencari ikan dalam sungai,tetapi kehadiran Alexandra membuat anak itu terperanjat. Anak itu sangat terkejut melihat penampakan gadis di hadapannya itu.

"Pakaian apa yang kau pakai itu?" tanya anak itu menelisik dress mahal yang Alex gunakan.

"Pakaian apa katamu? Ini pakaian mahal tau! Lalu, pakaian apa yang kau kenakan itu, apa kau sedang berpakaian kostum dalam sebuah festival desa?" tanya Alex.

Anak itu memandang pakaian yang ia kenakan itu. Pakaian dari kulit lembu itu terlihat tak ada yang aneh baginya.

"Selena, apa kau dapat ikannya?" 

Seorang wanita bertanya pada anak itu. Dia datang dari arah belakang Alexandra. Wanita itu terlihat mengamati gadis itu dengan tatapan aneh. Tatapan yang sama yang ditunjukkan anak kecil tadi.

"Kau datang dari kerajaan mana?" tanya wanita itu.

"Kerajaan mana? Hahaha… apa kau pikir aku seorang ratu atau putri kerajaan?" tanya Alexandra sambil bertolak pinggang.

Namun, sebelum wanita itu melontarkan beberapa pertanyaan, terdengar derap kaki kuda tak jauh dari tempat mereka berpijak.

"Kita harus pergi, aku tak mau mereka menangkapku," ucap wanita itu.

"Hei, kau mau ke mana?" tanya Alex.

"Apa kau sudah menikah?" wanita berusia 30 tahun itu bertanya balik pada Alex.

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

"Kalau kau belum menikah dan ingin selamat, ayo ikut denganku!" 

Wanita itu melangkah pergi seraya merangkul bahu anak perempuan tadi. Anak itu menoleh pada Alexandra yang tak kunjung bergerak.

"Hei, gadis bodoh, apa kau mau mati?" 

"Apa kau bilang, aku gadis bodoh?" 

Alexandra yang kesal langsung mengikuti anak kecil itu dan kakaknya. Ia ingin sekali mencubit pipi merah anak itu dengan keras.

*****

To be continue...

See you next chapter.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Veedrya
Wah wah alex....km terdampar dimana
goodnovel comment avatar
Vie Junaeni
it is awesome...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status