Hanya Kau Milikku
Hanya Kau Milikku
Author: RKT
Pendahuluan

"Hei, Alia," suara yang tidak asing di telinga Alia. Alia malas menengoknya. Ia berjalan terus tanpa menghiraukan panggilan tersebut.

"Alia, sombong sekali dirimu!" Kesal sang pria. Ia menatap Alia dengan perasaan jengkel.

Alia menunjukkan wajahnya yang dingin. Pria tersebut menarik Alia dengan kasar. Sang pria mengukir sebuah pohon dan membuat angka.

"Aku pastikan aku akan menikah denganmu," ucapnya sombong. Ia berteriak keras ketika Alia berjalan melewati dirinya.

"Oh ya?" tanya Alia meremehkan sambil membalikkan tubuhnya mengarah sang pria itu.

"Itu akan terjadi," katanya dengan keras hingga Alia yang berjarak 1 meter dengannya dapat mendengar dengan jelas.

Lima tahun kemudian

Usia Alia sudah 25 tahun. Ia tinggal bersama ayahnya yang sangat kaya bernama Menir sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia. Alia mendapat tekanan dari sang ayah.  Menir ingin Alia segera menikah. Akan tetapi, Alia masih sibuk dengan menjalankan hobi dan tidak tertarik sama sekali dengan sebuah pernikahan. Alasan berikutnya, ia belum menemukan pria yang cocok untuk kareterianya.  Akhirnya Menir mengalah dengan alasan-alasan Alia yang masih dianggap logis untuknya.

Menir bertemu dengan Joko temannya. Ketika Joko memperkenalkan putrinya yang  bernama Sonia serta kedua anak dari Sonia yang lucu, yang tidak lain adalah cucu dari Joko. Terbersit rasa iri dipikiran Menir. Kapan ia akan punya cucu dari putri kesayangannya atau anak satu-satunya itu.

Tekanan demi tekanan Menir lakukan agar Alia mau menikah dan akhirnya Alia setuju dengan permintaan Menir. Ia sudah tak sanggup untuk menerima tekanan dari ayahnya.

"Alia," panggil Menir, Menir masih berada di luar rumah. Alia dan  Tina saling pandang. Menir masuk dengan wajah sumringah seperti mendapatkan Jack pot.

"Alia, ada berita baik," suara Menir terdengar hangat akan tetapi Alia menaruh curiga. Tak biasanya ayahnya yang memiliki sifat dingin bisa tersenyum sehangat itu. Mata Alia melihat penuh selidik. 

"Apa ayah?" Alia mengernyitkan dahinya.

"Ayah akan menjodohkanmu dengan Hendri, anak teman ayah."

Bom waktu seketika meledak tanpa terdengar bunyi menitnya. Tina memberanikan diri menentang Menir demi kebaikan sahabat baiknya.

"Paman, Alia masih terlalu muda untuk menikah," untuk pertama kalinya Tina memberanikan diri berbicara dengan Menir yang dingin.

"Lalu kenapa? Tunggu dia sepertimu," Menir melihat tidak suka terhadap Tina. Alia mencoba mencegah ayahnya untuk tidak berbicara sembarangan kepada sahabatnya akan tetapi Menir tak memperdulikannya. "Lihat usiamu sudah 30 tahun tapi belum menikah."

Menir menunjuk Alia dengan telapak tangannya. "Lihat putriku dia begitu cantik, banyak pria yang suka padanya." Kemudian Menir menunjuk Tina dari atas kepala sampai kaki dengan telapak tangan besarnya. "Lihat dirimu begitu gendut, mana ada pria yang suka padamu." ucap Menir meremehkan.

Tina merasakan sedikit sakit hati atas perkataan Menir yang menyingung fisiknya. "Kau diskriminasi, Paman!" kesal Tina.

"Aku bukan diskriminasi tapi itu faktanya, bukan?" 

"Cukup, ayah!" Alia berjalan masuk ke kamarnya sedangkan Tina pulang ke rumahnya.

Menir mengetuk pintu kamar putrinya beberapa kali.

"Ayah bisa tidak sih menghargai perasaanku?" Alia berteriak dari kamarnya.

"Ayah hanya ingin kau bahagia, hanya itu. Lihat ayah! Ayah sudah tua dan ayah tidak tahu umur ayah sampai kapan akan bertahan." Menir mengetuk lagi pintu kamar Alia dengan lembut.

Alia membuka pintu dengan perlahan. Menir melihat Alia penuh harap akan tetapi wajah Alia sangat dingin seperti musim salju di bulan Desember.

"Ayah," Alia tanpa ekspresi memanggil.

"Iya,"

"Aku setuju menikah dengan Hendri," 

Senyum kebahagiaan terukir pada bibir Menir. Ia memeluk putrinya yang munggil itu. Suasana sedikit mencair dan hangat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status