The Shark's Baby Sitter
The Shark's Baby Sitter
Author: Ailana Misha
Chapter 1 - GPA

This Novel is owned by Ailana Misha

Please, don’t copy and remake!

On April 18th, 2021

Melbourne, Australia

Hari ini adalah hari pertama dia dan teman-temannya menginjakkan kaki di kampus mereka lagi semenjak liburan semesteran dimulai. Tadi gadis itu masih tidur saat teman-temannya menjemputnya di rumahnya, alhasil dandanannya ke kampus hari ini terlihat ala kadarnya, dia yang memang jarang pakai make up jika ke kampus, pagi ini semakin parah dengan wajah kusut masamnya. Lebih tepatnya wajah kusutnya yang keliatan lebih mayoritas daripada wajah imutnya.

Gadis itu, Dania Adelaine Sanders, hari ini memakai dress terusan hijau tua di atas lutut, dress itu kedodoran baginya, tapi memang dasar yang wataknya tidak pedulian, hal semacam itu bukan hal yang besar baginya. Lagipula dia bukan gadis semacam gadis kampusnya yang update sekali masalah fashion, dan sebagainya.

"Are you teethache, Dan?" tanya Jeanne tanpa dosa, teman dekat Dania.

"Huh.. You all are really amnesia, right?" Dania memutar bola matanya, gadis itu terlihat kesal.

Jeanne, Gadis berwajah bulat itu hanya menyengir kuda. Jeanne adalah partner in crime-nya Dania jika ingin membully Angela yang hobby sekali berdandan, yang anehnya juga punya hobby makan. Menurut Dania, Angela punya perut yang sangat tidak normal, bagaimana bisa cewek yang makannya banyak punya badan yang kurus dan lurus seperti yang Angela punya.

"What happen to Dania, Jean? Did her GPA got down again?" Angela bertanya pada Jeanne yang berjalan disampingnya.

Dania mendelik kesal. Duhh doanya ini anak, kenapa kebangetan sekali. Untung Angela adalah mahasiswa yang berotak liquid, kalau tidak Dania sudah memiting temannya satu itu. Gadis yang memiliki surname Brown itu memang sedari tadi masih menanyai nilai KHS (Kartu Hasil Semester)-nya, padahal jelas–jelas Dania sudah tidak mau menjawab.

“Aku benci dengan kalian tahu!!!" kata Dania dengan bibir yang mencebik itu akhirnya.

"Seharusnya kamu tak perlu takut seperti itu, Dan. Mana mungkin beliau ada di rumahmu kan!?" Jeanne tertawa kacau, gadis itu mengingat kejadian tadi pagi.

"Ya kan beliau menakutkan, Jean!!!” Dania sudah ingin menangis jika mengingat hal itu.

Apa? Ya pagi ini memang dia, Dania dan teman–temannya, memiliki niat untuk ke kampus dan mengambil print out KHS semester kemarin sekalian, lalu membayar Heregistrasi ulang. Tetapi teman - temannya ini bagaimana bisa-bisanya membohonginya hanya karena dirinya masih di pulau kasur saat mereka sudah sampai rumahnya. Mereka mengatakan dosen wali Dania di ganti Mrs. Jolie yang galak dan rewel itu, dan jahatnya lagi Mrs. Jolie sudah ada di ruang tamu rumahnya.

Demi langit terang tak berawan, Dania tidak mau berurusan dengan dosen satu itu lagi. Tidak mau. Sebagai akibatnya, Dania yang belum sadar benar dari efek mengantuknya waktu itu, gadis itu langsung berjalan ke toilet dan malah menabrak lemari pakaiannya sendiri.

Bukannya benci, tetapi lebih tepatnya antipati

Ada pengalaman yang tak enak, pengalaman yang membuat sakit hati jika mengingat kejadian waktu itu. Bukan Dania yang satu-satunya menjadikan Mrs. Jolie bahan gosipan. Dania seperti berada di waktu yang salah dan juga tempat yang salah, pertama kali dia membahas dosen satu itu dengan cerita asmara beliau yang kandas, bersamaan waktu itu pula tanpa disadari olehnya Mrs. Jolie sudah berdiri di belakangnya dengan wajah merah padam saking marahnya.

Sudah dapat diprediksi, selama semester kemarin Dania menjadi target ‘apa–apa salah’ dan ‘apa–apa kurang’ bagi bu dosen itu. Sudah begitu, Mrs. Jolie marah - marah melulu kalau melihat gadis berambut panjang itu.

Teman–temannya bahkan tidak membantu sama sekali, setiap ada Mrs. Jolie lewat di cafetaria, di depan kelas, di lobby, di gazebo kampus, kerjaannya Jeanne dan teman mereka satu lagi, Kevin, malah menunjuk-nunjuk dosen muda itu dengan tangan dan jari telunjuk mereka. Ya, kesannya di mata ibu dosen itu, mereka mendorong Dania untuk mengajak tawuran. Membuat masalah ini semakin panjang tanpa ada yang mau mendinginkan.

Dania sungguhan tak habis pikir, teman-temannya ini kapan bisa kasihan padanya agar berhenti untuk menyangkut-nyangkutkan dirinya dengan Mrs. Jolie. Gadis muda itu ingin kehidupan yang tenang selama tahun terakhirnya di kampus. Tetapi jika melihat mimik muka Mrs. Jolie tiap kali melihatnya, itu rasanya jauh dari tanda–tanda terkabul sepertinya.

Sekarang Dania dan Angela tengah duduk - duduk di kursi panjang di dekat lobby kampus mereka, kedua gadis itu sudah membayar Heregistrasi dan mengambil KHS mereka. Angela melihat lembar KHS-nya yang seperti biasa penuh dengan deretan nilai A, berbeda sembilan puluh derajat dengan milik Dania.

Kurang ajarnya Angela, gadis itu lantas merebut lembar KHS milik Dania dan melakukan prosedur pengujian analitis.

Ya Ampun Angela,

Apa dia pikir kita lagi masuk kelas audit?

Dania menghela nafas. Gadis itu tahu apa itu prosedur analistis. Prosedur pengujian analitis adalah membandingkan laporan periode berjalan dengan periode yang lalu, budget dengan realisasinya serta analisis rasio (misalnya menghitung rasio likuiditas, dan profitabilitas untuk tahun berjalan maupun tahun lalu, dan membandingkannya dengan rasio industri), pengujian ini biasanya sering dilakukan oleh auditor, kerjaannya mata kuliah prodi tetangga, Akuntansi.

Dania membatin, Angela pasti lagi membandingkan nilainya satu persatu dengan punyanya, yang harus ia akui nilainya sudah seperti itik buruk rupa. Punya teman pintar sekelas pula begini ya rasanya. Mengenaskan!

"Nilaiku tak mungkin beranak pinak jadi A semua meski kau memeriksanya berulang kali, Angel..." kata Dania malas, gadis berambut kecokelatan itu melirik sesekali pada Angela yang menatapnya dengan ekspresi puas.

"Andai nilaiku bisa aku transfer padamu.” Angela menawarkan sambil menggelitik dagu bawah Dania.

"Terima kasih dan tak perlu." tetapi Angela malah tertawa mendengarkan jawabannya.

Gadis berambut cokelat panjang itu menyadari Jeanne yang dari beberapa menit yang lalu izin ke toilet masih belum kembali, setidaknya jika Angela masih sibuk dengan nilai miliknya, Dania bisa mengobrol dengan Jeanne masalah boygroupnya yang baru come back dengan single baru mereka. Angela diajak ngobrol begituan, mana akan nyambung.

"Alohaa... Kalian sudah KRS-an belum?" Sekonyong-konyong ada cowok yang muncul dihadapan mereka.

Cowok yang enggak seberapa maskulin, imut banget wajahnya, tetapi cukup menerjemahkan kalau dirinya salah satu aliansi terdepan artisnya anak teknik sipil. Kevin.

"Sudah... Semester ini bakalan menarik ya kan?" Angela mengembalikan lembar KHS-milik Dania, dan menyikutnya.

"Mana aku tahu." jawab Dania asal-asalan.

"Kau mau magang dimana, Dan? Aku sudah titip bilang ke papaku jika aku ingin melamar magang di kantornya." Angela masih bersikeras agar Dania mendengarkannya.

"Iya, ya.... Program studi kalian semester ini mewajibkan program magang."

Kevin membenarkan, cowok itu sekarang berdiri bersedekap di depan Dania. Rasanya mereka bertiga sudah berteman sejak bangku SMA, tetapi malah tidak ada yang berubah, baik Kevin, Angela maupun dirinya, yang berubah hanyalah sekarang ditambah Jeanne ada di grup mereka.

"Magang wajib? Apanya yang wajib magang, Angel?" Dania yang memang tidak tahu apa-apa langsung mentarget topik bahasan satu ini.

Teman-temannya hanya saling pandang heran melihat gadis satu itu. "Bukannya sudah di umumin di website fakultas juga ya? Diinfokan Sistem akademik juga." sahut Angela.

"Memang ada?" Dania mulai merasa ada yang tidak beres.

"Itu program wajib semester ini Dan, kalau kamu tidak segera ambil KRS-an, dosen-dosen pembimbing yang enak pada diambil anak lain lho. Tunggu... Dan, kamu sudah KRS-an kan?" Tanya Angela hati - hati.

KRS itu kepanjangannya Kartu Rencana Studi untuk semester kedepan, kartu ini isinya adalah semua mata kuliah yang akan diambil untuk semester ke depan. KRS biasanya bisa diinput melalui Sistem Informasi Akademik kampus secara online, dan tiap mahasiswa pasti memiliki akun Sistem Informasi Akademiknya sendiri–sendiri.

Setelah menginput KRS, mahasiswa tersebut dapat memprint outnya dan meminta tanda tangan dosen wali-nya. Nah, di dosen wali inilah mahasiswa tersebut dapat berdiskusi dan curhat terkait apakah tepat untuk mengambil mata kuliah tersebut atau tidak, jika diperbolehkan tentu KRS mereka akan dapat ditanda tangani oleh dosen wali.

"Not yet..." Dania meringis.

"Hah!! Seriously??" kompak Kevin, dan Angela menepok jidat mereka. Anak satu ini niat bunuh diri, menurut mereka!

***

At Dania’s House

Melbourne, Australia

Gadis Sanders itu sudah kembali dari kampusnya. Angela, Jeanne, dan Kevin sebenarnya ingin mengajaknya nonton film yang sedang tayang di bioskop sekarang, film genre action, genre yang biasanya Dania sukai, namun gadis itu sedang tidak mood melakukan sesuatu.

Hal yang ingin dilakukannya sekarang adalah menangis dan menyesali betapa sial nasibnya. Bayangkan, dosen yang menjadi dosen pembimbing program magangnya adalah Mrs. Jolie. Saat Sistem Informasi Akademiknya menampilkan nama Mrs. Jolie sebagai dosen pembimbing mata kuliah tersebut pertama kali, rasanya Dania sudah ingin melempar handphonenya ke dalam baskom es serut rasa nanas milik Jeanne. Sahabatnya yang tahu hubungan Dania dan Mrs. Jolie seperti apa, hanya bisa mengelus–elus punggung Dania dengan ucapan–ucapan yang sebenarnya tidak memotivasi sama sekali.

“Tidak apa–apa, Mrs. Jolie pasti sudah bosan sama kamu.”

“Beliau pasti sudah tidak rewel lagi, beliau kemarin cuma PMS saja!”

‘Aku enggak percaya, Mrs. Jolie sudah enggak PMS lagi!’

“Lagian beliau kan perfeksionis sekali, magangmu pasti perfect, Dan!”

Too Perfect punya garis linier dengan gemar menyiksa mahasiswa-nya, anyway....

“Ambil sisi positifnya, nanti kamu akan bisa sering dibimbing olehnya, biar dapat nilai A.”

Arghh.... Kenapa Angela mengingatkannya! Nilai magangku pasti enggak aman ini!!

Dania sudah akan naik ke lantai dua rumahnya, tatkala telepon rumahnya berdering. Dengan langkah goyah nan malas, gadis itu kembali menuju meja kecil dekat televisi di ruang keluarganya, telepon rumahnya masih berdering. Berharap telepon tersebut berhenti menelponnya, namun harapannya sia–sia.

“Hallo, Kediaman keluarga Sanders disini.” sapa Dania awalnya.

“Hallo, sayang. Ini mama. Dania sudah pulang dari kampus kan?” Mama Dania menanyai anak gadis semata wayangnya.

“Ergh..” Dania yang masih pening hanya mengiyakan, tanpa sadar ibunya bahkan tak bisa melihat anggukannya.

“Sayang, mama sudah pesan sandwich di toko kue langganan kita, bisa Dania ambilkan dan antar ke rumah sakit sekarang?”

“Tapi ma...”

“Uangnya ada di atas kulkas, jangan telat okay...”

Ma... But-“

Thank you, sweety. Mama harus kerja dulu, Bye~”

Mama Dania sepertinya sedang sibuk dan buru-buru, bahkan sebelum Dania sempat untuk menyatakan keberatannya sekarang, sambungan telepon itu sudah ditutup sepihak oleh ibunya. Rumah sakit tempat ibunya bekerja terletak di pusat kota Melbourne, dan toko roti langganan ibunya ada dua blok dari Rumah sakit tersebut. Tapi kan tetap saja dari rumahnya jauh.

Dania melihat jam dinding, belum jam 12.00 a.m., berarti ibunya masih jam kerja, pantas saja ibunya buru–buru di telepon tadi, namun waktu makan siang tidak lama lagi pikir Dania, tinggal satu jaman, gadis cantik itu harus segera berangkat berarti. Dania lantas mengambil uang seadanya di atas kulkas seperti kata ibunya dan segera meluncurkan motornya ke jalanan kota Melbourne.

***

At Mango Six Cafe

Melbourne, Australia

Suasana cafe ini khas Mango Six kebanyakan, Cafe tersebut memiliki ruang indoor dan outdoor, beberapa pengunjung terlihat mengobrol dengan orang yang duduk di pasangan kursinya. Beberapa pelayan yang berlalu lalang dengan apron warna hijau tua terlihat melayani para pengunjung mereka. Tak terkecuali dengan pelayan yang melayani pengunjung yang berada di meja no. 8 di ruang bagian outdoor. Pelayan tersebut baru saja mengantarkan minuman bagi pengunjung perempuan disana yang sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius.

Ya, hanya perempuan saja, karena pengunjung laki–laki di meja tersebut menolak untuk memesan satupun menu disana. Mimik muka pria itu benar–benar tak terbaca, dan jelas bukan ekspresi senang atau bahagia kelihatannya. Sedari pertemuan mereka, pria itu hanya terdiam dengan sorot mata tajam mengawasi perempuan di hadapannya.

“Apakah kamu tak tahu betapa aku merindukanmu...” kata perempuan itu, tangan perempuan itu mencoba meraih jemari tangan pria itu, namun segera ditepis oleh pemilik tangan.

“Kalimat itu bahkan tak pantas untuk kita berdua sekarang.” Dengan dinginnya pria itu berucap, tidak memandang perempuan yang sudah hampir menangis itu.

“Apa karena aku hubungan kita sudah berakhir, kamu mengatakan semua itu?”

Mata perempuan itu kini memerah. Itukah yang menjadi alasan pria ini bersikap seperti itu padanya.

Are you kidding? Kamu tak lihat situasiku juga?” desis pria itu pelan.

It isn’t fair for me...”

Wanita itu masih berkepala batu untuk meminta pengertian dari pria itu. Dia sudah meminta maaf bukan, lantas mengapa pria di depannya begitu dingin seperti ini.

“Seharusnya kamu bersyukur aku membungkam pers sialan itu.” Pria itu kini telah memandangnya, namun wajahnya kentara sekali, menahan amarah.

Perempuan dihadapannya masih berusaha untuk meraih atensi pria itu, namun lagi–lagi pria itu mengacuhkannya. Dia benar–benar tak tahu lagi harus melakukan apa lagi pada pria berambut brown black itu. Bagaimana caranya agar pria di depannya mau untuk memaafkannya, dia benar–benar tak ingin kehilangan pria itu.

“Apa yang kamu inginkan? Akan aku lakukan apapun.”

Wanita ber-dress pink pastel itu mengiba, namun nyatanya, sikapnya bahkan bertolak belakang dengan ucapannya, tangan wanita itu masih saja berusaha untuk meraih tangan pria itu yang lagi–lagi ditepis oleh pemiliknya.

“Cukup jauhi dia!” singkat padat dan jelas perintahnya.

Pria itu kini sudah memungut jasnya yang bersender di kursi dan bersiap berdiri dari kursinya. Namun lengannya sudah dicengkeram oleh wanita berambut panjang itu. Kernyitan dahinya menyiratkan jika dia benar–benar kesal pada wanita satu itu. “Aku tak bermaksud unt-”

“Jauhi dia!” ulangnya lagi.

Sebelum wanita itu selesai dengan ucapannya, dia sudah menghempaskan tangan perempuan itu untuk sekian kalinya, dan segera turun menuju tangga kayu Mango Six Cafe. Meninggalkan wanita yang menangis di kursinya dengan sesekali memukul–mukul meja dengan kepalan tangannya.

Your footsteps are so familiar to me

You’re getting farther away

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status