Beautiful Fault
Beautiful Fault
Author: JasAlice
Chapter 1 Sexy Lady

Tubuh Ayse menegang. Dengan gemetar ia meremat selimut yang menutupi tubuhnya tanpa helaian pakaian. Ia menelan saliva susah payah. Keringat dingin itu sudah terasa di keningnya.

“Kau sudah bangun, Ayse?”

Suara bariton itu membuat pandangan Ayse langsung teralih ke sumber suara. Ia membeliak. Mendapati pria bertubuh tinggi di depan pintu hanya mengenakan celana jeans.

Wajahnya bersemu melihat perut liat dan dada bidang itu tercetak sempurna. Dulu, saat usia pria itu menginjak tujuh belas tahun, tubuhnya tidak terlihat sangat seksi seperti sekarang.

Meskipun untuk rerata usia tersebut, sudah mampu membuat perempuan di sekolahnya mengidolakan pria berdarah Turki itu. Tidak sedikit perempuan yang terpesona, membanjiri sosial media seorang Yavuz Can Sener.

“Apa yang kau lakukan di sini, Can?” cicitnya ketika pria berdarah Turki itu semakin masuk ke dalam.

Perempuan berambut coklat itu tertegun Can mengulurkan satu gelas berisi air putih. “Ambil dan minumlah,” ucapnya dengan lembut.

Manik hazel itu mengerjap, menatap bingung Can, sekaligus memperlihatkan raut takut sekaligus penuh tanya.

“Kau ... Kau melakukannya padaku?” 

Can. Pria berambut hitam itu menatap lekat manik hazel yang masih duduk, mencoba menutupi tubuh sempurnanya.

“Kau takut padaku, Ayse?” tanya pria itu balik.

Ayse tertegun.

Senyum tipis itu diperlihatkan Can. “Kau mendapati diriku sudah berubah padamu? Atau sejak perpisahan itu, kau tidak bisa menganggapku sebagai orang terdekatmu?”

“Kenapa kau terlihat takut padaku?” tanyanya.

Tubuh Ayse bergetar ketika pria itu mengambil duduk di sisi ranjang. Ia tertegun mendapati pria yang bertelanjang dada itu duduk di hadapannya. Ia pun menaruh gelas di atas nakas.

Manik coklat dan hazel mereka saling bertemu. Menepis keadaan mereka dalam keadaan sekarang. Karena sesaat mereka tenggelam dalam hal ‘lalu’.

Ayse menelan salivanya susah payah. “Jangan seperti ini, Can ...” bisiknya nyaris bergetar.

Can tetap diam, sampai ia mendapati Ayse beringsut mundur, takut dengan tatapan tajam Can. Perempuan itu sangat gelisah dengan keadaannya.

“Apa kita sudah—“

“—Aku akan keluar dari sini. Gaunmu sudah aku letakkan di atas sofa di sana,” tunjuk Can pada sofa lebar di kamar asing itu.

Ayse tidak mengingat apa pun. Mungkin, belum sepenuhnya karena ia terlalu syok, mendapati dirinya bangun di atas ranjang besar dengan pria yang ia kenal sejak mereka remaja.

Sayangnya, ini pertemuan kali pertama mereka setelah Ayse berusia lima belas tahun. Ayse tertegun melihat kalung berbentuk jangkar yang melingkar di leher Can. Pria berambut hitam itu segera beranjak dari duduknya, lalu membiarkan pintu kamar tertutup rapat.

“Pakaianmu sudah tidak melekat sedikitpun di tubuhmu, Ayse,” ucapnya nyaris bergetar.

“Apa aku—“

Ayse tertegun dan ia memberanikan diri beranjak dari duduknya.

Dengan tangan gemetar, ia turun, membalut keseluruhan tubuh perempuan itu dengan selimut dan menatap takut ke atas ranjang.

Namun, ia tertegun. Tidak menemukan noda yang tertinggal.

“Dia ... Dia tidak melakukan apa pun, semalam?”gumamnya lebih pada meyakinkan diri sendiri.

Ayse mengerjap. Manik hazelnya masih mencoba fokus, melihat ranjang itu. Tapi yang terlihat hanyalah ranjang yang sedikit berantakan.

“Apa yang terjadi semalam?” tanyanya penuh kebingungan.

**

Can melihat kedatangan Ayse dengan gaun hitam yang ia pakai semalam. Gaun yang memperlihatkan bahu putihnya, berlengan panjang. Gaun itu hanya membalut sampai setengah dari tungkai atasnya.

Pria itu bisa melihat jelas betapa semampai—seksinya—perempuan dengan tinggi 175 senti itu. Ia mengambil duduk di hadapan Can, tepat di meja makan berukuran persegi yang hanya bisa diisi empat kursi saja.

“Jelaskan apa yang terjadi dengan kita semalam, Can,” tekannya menatap pria yang sibuk mengolesi selai di atas roti miliknya.

Pria yang sudah memakai kaus polos berwarna abu-abu itu menatapnya lekat. Ayse tertegun. Paras itu semakin tampan diusia dewasanya.

“Temanmu ingin merusak tubuhmu,” jelasnya membuat Ayse membeliak.

Napasnya tercekat.

“Semalam adalah pesta reuni sekolah menengah pertamamu, kan? Kau datang ke Klub sendirian dan aku tidak sengaja mengenali salah satu di antara kalian. Aku memerhatikanmu. Kemudian teman priamu terlalu kuat menginginkan tubuhmu.”

Suara perempuan berambut panjang itu bergetar, “Kenapa kau ada di sana?” 

Can tersenyum tipis. “Bukankah ini takdir, Ayse? Seharusnya kau bersyukur kita dipertemukan lagi,” balasnya penuh makna tersirat.

Ayse merasakan degup jantungnya bertalu kuat. Kedua tangannya terkepal kuat saat pandangannya mendapati manik coklat itu menatapny rapuh.

Kau memang sangat keterlaluan, Ayse. Pikir perempuan itu tertunduk lemah.

Ia merasakan sesak menjalar dalam tubuhnya.

“Kenapa kau meninggalkanku, Ayse?”

Degup jantungnya semakin tidak keruan. Suara itu sangat lirih. Seorang Yavuz Can Sener mempertanyakan masa lalu mereka?

“Seharusnya kau mampu menungguku, Ayse. Aku lulus dua tahun lebih cepat. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau sudah pergi dari asrama sejak usiamu tujuh belas tahun.”

“Bahkan, kau tidak menepati janji kita untuk saling komunikasi,” lanjutnya membuat Ayse menatap Can.

“Aku tidak mungkin berada di sana selamanya, Can,” tandasnya dengan sorot tegas.

“Di sana aku tidak punya siapa pun dan—“

“—Dan kau, memilih tinggal bersama pria dewasa itu? Kau bersama pria yang pernah sekolah di Yayasan milik orangtuaku! Tempat kau mengenyam pendidikan juga!”

Ayse terdiam. Napas perempuan itu tercekat.

Can tidak lagi bernafsu memakan roti yang sudah ia baluri dengan selai. Tatapannya terlalu kuat menatap Ayse. Perempuan bermanik hazel itu menatapnya nanar. Namun, di balik semua itu, Can ingin juga memperlihatkan sorot rapuh yang sama.

Tapi kenapa ia tidak bisa? Apa semua ini karena pengkhianatan Ayse dulu? Ia membuang kepercayaan yang sudah Can pertahankan.

“Kita melakukan hal yang lebih jauh semalam?”

Can menatap tidak percaya Ayse yang mengalihkan pembicaraan. Kekesalannya tidak digubris, menggorekan luka dalam hatinya saat perasaannya diabaikan.

Ia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Can mencoba menormalkan detak jantung dan tidak terlihat emosi.

“Seperti yang kau lihat pagi ini, tanpa helaian pakaian,” ucapnya datar.

Ayse membeliak. “Kau ... Juga ...” Ia berucap terbata dengan perasaan tidak keruan.

“Tentu, Ayse. Kau tidak sadar?”

“Aku tidak terlalu mengingatnya, tapi ...” Ayse menggantungkan ucapannya ketika ingatan itu hadir perlahan.

Suara desahan itu perlahan menyeruak bersamaan sentuhan yang Ayse lakukan pada tubuh di atasnya yang sudah menanggalkan bajunya. Menyisakan celana jeans yang tadi pagi terlihat oleh Ayse.

Ia menelan saliva susah payah.

Can tersenyum tipis. “Apa aku memang bersalah melakukannya?”

Tatapan keduanya bertemu.

Can tampak menegakkan tubuhnya, memandang lurus Ayse dan berkata, “Bolehkah aku tidak menyesali yang terjadi semalam, Ayse? Saat aku melihat tubuh sempurnamu? Karena pagi ini kau terlihat sangat seksi, membalut tubuhmu dengan selimut tebal itu.”

Napas Ayse tercekat.

**

Halo! Selamat datang dicerita Alice. Semoga suka sama plot dari cerita Ayse dan Can, ya! Follow Instagram @jasmineeal untuk informasi seputar cerita.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status