8.

"Ven, ini Ruster yang akan menjadi calon istriku!" sahut Romoe yang menghampiri Raven  yang duduk di kursinya yang sedang sibuk bolak-balikkan kertas di salah satu dokumen penting. sekaligus memperkenalkan calon istrinya kepada Raven.

Tatapan Raven dan Ruster bertemu, Ruster terdiam memperhatikan pria di depannya dengan wajah terkesan dingin dan tidak bersahabat sama sekai. Meskipun memiliki wajah yang tampan seperti wajah Romeo. tepatnya, mirip dengan wajah Romeo.

 Raven berdiri merapikan jas di kenakannya. kemudian, menyodorkan tangan kanannya pada Ruster.

"Raven Van Diora," ucap Raven yang memperkenalkan dirinya dengan sikap dinginya yang membuat Ruster merinding.

Ruster tersenyum menyambut tangan Raven. merasakan genganggaman hangat pria itu, membuat Ruster merasakan keanehan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.

"Ruster Heart,” balas Ruster dengan sikap ramahnya.

"Senang berkenalan dengan mu, karena kau akan menjadi anggota baru di keluarga besar kami!" ucap Raven dengan sikap yang di buat ramah untuk menutupi sikap aslinya dan tidak lupa ia memaksa diri untuk tersenyum ramah. sampai merasa otot-otot di wajahnya tertarik dengan sikap pura-puranya yang penuh kebohongan. begitu juga dengan otot sekitar bibirnya yang terasa sunguh kaku.

Ruster tersipu malu, memang ini terlalu cepat dia menerima Romeo sebagai calon suaminya. tapi Ruster telah yakin pilihannya kali ini tidak akan salah lagi. Karena Romeo sosok yang baik, buktinya Romeo dengan kesungguhan hati menemui ibunya untuk meminta izin menikahi dirinya. yang merupakan tekat pria serius, walau sudah tahu keandaan keluarganya yang miskin sekarang mengenalkan dirinya kepada Raven yang merupakan satu-satu keluarga Romeo. walau Ruster sedikit curiga dengan keluarga Romeo, apa benar hanya sisa Raven seorang.

Jabatan tangan mereka terlepas, Raven memperhatikan Ruster dengan ujung matanya dan menyelusuri tubuhnya yang hanya terbalut gaun sederhana berwarna crem kusam sebatas lutut. tetiba, Raven merasakan desiran aneh di dalam tubuhnya, rasa haus ingin menikmati tubuh Ruster tidak tertahankan menguasai otaknya. Bahkan mulai menguasai pikirannya semakin perlahan-lahan.

“Rasanya mungkin sangat menyenangkan mengingat dirinya sudah lama tidak menyentuh wanita,” batin Raven yang mengalihkan matanya ke arah Romeo. Yang sama mempunyai niat dengannya. bahkan wajah Romeo sudah mengeluarkan tetesan liur dari bibir dengan mata menatapi kemolekkan tubuh Ruster.

"Lalu setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Raven yang buka suara membuyarkan lamunan Romeo yang berdiri di belakang Ruster yang sedang berliur sampai menampilkan wajah mirip babi mesum.

Diam-diam Romeo memperhatikan kemolekkan bokong Ruster yang membangkitkan gairahnya sejak tadi. Hingga membuat rudalnya teriksa karena sesak di dalam penjara.

"Kami akan ke butik untuk membeli gaun pengantin Ruster, apa kau mau ikut dengan kita?" balas Romeo yang berusaha bersikap normal mungkin. Yang tidak ingin di curigai oleh Ruster. bahwa ia barusan sudah berliur dengan mata jahilnya menatapi kemolekkan tubuh Ruster.

"Secepat ini?" tanya Ruster yang menoleh pada Romeo yang kini berdiri di sampingnya.

"Iya sayang, karena hari minggu ini kita akan segera menikah dan aku tidak ingin kehilanganmu. Maka aku mempercepat pernikahan kita berdua,” jelas Romeo yang merangkul pinggang Ruster dengan intim.

 Hal itu pun tidak luput dari lirikan mata Raven yang sedari menyusuri lekuk tubuh Ruster dengan seksama. Ada rasa cemburu mengisi hati Raven secara mendadak. karena melihat Romeo merangkul seorang wanita dengan begitu perhatian dan mestra.

"Silahkan kalian mempersiapkan keperluan pernikahan kalian, aku sudah tidak sabar menunggumu tinggal di kediaman kami dan aku tidak bisa ikut. Aku harus selesaikan berapa pekerjaan penting. Agar pernikahan kalian secepatnya di laksanakan," jelas Raven pada Ruster.

Mata Ruster menatapi Romeo yang duduk kembali ke kursi CEO.

“Menunggu dalam arti lain,” batin Raven yang membalas tatapan mata Ruster.

“Kalau begitu. kami pergi dulu, Ven,” pamit Romeo dengan merangkul pinggul Ruster untuk segera keluar dan di tatapi oleh Raven dengan mata menuju ke bokong Ruster yang berisi padat. yang sungguh membangkitkan sisi liar tubuhnya.

“Sial,” umpat Raven yang merasakan bagian sesak di bawahnya yang semakin menjadi-jadi. ia segera berdiri sebentar untuk menyesuaikan duduknya.

Pintu kantor tertutup, Raven segera duduk di kursi mewahnya dan mengelus bagian yang membesar. Yang menjerit untuk meminta di keluarkan dari dalam. Dari penjara yang mengurungnya.

“Sebentar lagi, bersabar lah!” ucap Raven pada rudalnya yang memberontak untuk keluar dari siksaan penjara yang sempit.  Yang mengurung kebebasannya untuk berpetualangan menuju ke celah yang sempit dan mencengkram badan rudalnya.

***

Di salah satu toko pakaian mahal yang khusus menjual gaun pernikahan. Romeo dengan malas memperhatikan Ruster yang mencoba gaun pengantin dengan model terbaru berulang kali di depan cermin.

Sedangkan Ruster terlihat bersemangat menatap pantulan dirinya di dalam cermin. yang terlihat seperti seorang putri kerajaan yang akan menikah dengan seorang pangeran tampan.

"Bagaimana menurutmu apa aku pantas mengenakan gaun ini?" tanya Ruster dengan suara bahagia berjalan ke arah tempat Romeo duduk dengan membolak-balikan majalah berapa kali. 

Kepala Romeo mendongak ke atas dan senyuman lembut menghiasi wajah tampannya. lalu, kedua mata Romeo menatapi tubuh Ruster yang di balut dengan gaun putih yang glamour.

"Sangat cantik...kau terlihat seperti bidadari," puji Romeo yang menghampiri Ruster dan merengkul pinggangnya.

Wajah Ruster langsung merona kemerahan karena malu dengan pujian Romeo padanya yang merupakan pujian pertama kali ia dengar. sejak mengenal Romeo dalam waktu semalam dan hampir tidak sampai 24 jam dalam perkenalan mereka berdua. bahkan sepakat melanjtkan ke jenjang serius.

“Aku rasanya tidak sabar lagi untuk membawamu menghangatkan tempat tidurku," bisik Romeo mengecup leher Ruster yang putih dan lembut.

Deg

Ruster merasa meleleh dan lemas hanya sebuah kecupan ringan dan kalimat terkesan vulgar dari bibir Romeo yang benar-benar merasang tubuhya.

"Mau gaun yang mana?" tanya Romeo yang melirik tumpukkan gaun yang pernah di coba oleh Ruster.

"Mau yang ini, yang sedang aku pakai. boleh tidak?" tanya Ruster dengan suara sedikit manjanya.

"Boleh."

Perlahan Romeo menjauh dari Ruster. Kemudian melangkah ke arah kasir.

"Aku ambil gaun itu?" ucap Romeo pada kasir wanita yang menantapnya dengan tatapan penuh nafsu.

Romeo tidak akan heran lagi dengan tatapan para wanita terhadap dirinya dan Raven. Karena hampir semua wanita menginginkan dirinya dan Raven dalam arti lain.

Wanita kasir itu memproses apa yang di minta oleh Romeo. Kemudian menyerahkan kartu dan struk pembelian kepada Romeo dengan sengaja menyentuh jemari Romeo, sebagai isyarat tertentu.

Sayangnya, Romeo tidak tertarik sedikit pun. Karena ia sudah menemukan target baru yang sedang ia mainkan saat ini. siapa lagi jika bukan Ruster yang kini akan menjadi istrinya dalam sebuah permainan dengan nama pernikahan iseng.

.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status