Share

For Get Me Not

Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 56. Sesampainya di lantai yang dimaksud, mereka disambut oleh resepsionis lalu mempersilahkan mereka masuk dengan mudah. Sedangkan ada beberapa pengunjung yang tidak diperbolehkan masuk karena pakaian mereka tidak sesuai standar aturan.

Pasalnya untuk wanita tidak boleh mengunakan sendal biasa dan pria tidak boleh mengunakan kaos saja.

"Kita duduk di luar aja."

Ajak Tama sambil mengedarkan pandangan mencari tempat yang kosong. Karena ini hari kerja jadi masih ada beberapa meja kosong.

Tama menawarkan Nayyara untuk duduk di dekat kolam yang mejanya bertuliskan reserved. Nayyara

menolak karena yang ia dengar dari percakapan Tama dan resepsionis ada minimal order 1 jutaan agar bisa mendapatkan tempat disana. 

"Engak ah, ada minimal order gitu sampe 1 jutaan pula." 

Nayyara menggeleng tak setuju.

Akhirnya mereka random saja memilih meja yang kosong. Sebenarnya Tama tidak masalah dengan minimal order, tapi dia lebih menurut dan menghargai pendapat Nayyara.

"Kamu mau pesan apa?" Tama membolak-balikan menu

"Terserah kamu aja aku ga ngerti," jawab Nayyara pasrah.

Tama menunjuk gambar pada menu yang diikuti anggukan waitress. Tidak menunggu waktu lama pesanan mereka datang.

Nayyara mengambil minuman yang sudah dipesankan untuknya.

"Ini minuman apa Bang? Cantik banget rasanya unik, rasa apel campur jeruk nipis ada rasa-rasa berrinya juga." 

Ia mengangkat dan memutar-mutar gelas minuman tersebut.

"Forget me not, minuman itu tu kaya kamu, penampilanya cantik rasanya unik pas dan seger," jawab Tama sambil mengunyah makanan dan menunjuk-nunjuk Nayyara dan minuman cantik itu bergantian.

Nayyara mencibirkan bibirnya mendengar perumpamaan Tama.

"Tau ah."

Nayyara menoleh ke samping seolah malas melihat Tama.

Nayyara terpaku dengan pemandangan di hadapanya.

"Aku baru tau kalo di tower ini ada tempat seperti ini." Nayyara memandang  lurus ke depan melihat pemandangan Jakarta pada malam hari. Ia menikmati indahnya Ibukota dimalam hari. Kilauan lampu dari berbagai bangunan juga lampu jalan dan kendaraan berbaur menjadi kesatuan yang indah seperti lautan cahaya. 

Kini Tama berpindah tempat duduk di samping Nayyara. Memandang lurus ke arah yang sama.

"Orang-orang si bilang ini tu atap bumi Sky Bar and Restaurant."

Suasana yang nyaman untuk menikmati malam Jakarta, tanpa suara bising degupan musik DJ, bahkan hanya segelintir orang yang merokok di sana. Membuat siapapun betah berlama-lama untuk melupakan kesibukan kota Jakarta.

Setelah merasa kenyang dan puas, mereka memutuskan untuk pulang. Tama mengantar Nayyara pulang terlebih dahulu.

"Mau mampir?" Nayyara membuka seat beltnya.

Tangan Tama ikut membantu Nayyara melepaskan seat belt.

"Besok aja biar kamu bisa istirahat cepet."

Tama hendak membuka seat bealtnya namun ia urungkan karena Nayyara menahannya.

"Udah nggak usah turun."

Nayyara lalu membuka pintu mobil.

"Tunggu! ada yang ketinggalan."

Sebelum Nayyara keluar Tama mencegahnya.

Tama bermaksud melancarkan aksi balas dendamnya kepada Nayyara. Dia berusaha mencium pipi Nayyara namun tertahan oleh seat beltnya yang masih terpasang. Tama berusaha menarik-narik tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Nayyara tapi usahanya sia-sia.

"Isss pake nyangkut lagi ni."

 Tama mendengus kesal.

Nayyara terkejut menyadari tindakan yang akan Tama lakukan kepadanya. Sedetik kemudian tersadar dengan posisi Tama yang masih menyangkut pada seat belt.

"Hahahaha," Nayyara tertawa puas.

"Kasian deh kamu." 

Ia lekas pergi dan meninggalkan Tama di mobil.

Dari dalam mobil Tama melihat Nayyara yang berlari dan memasuki rumah. Tama masih tak habis pikir dengan kelakuan dirinya sendiri, yang tidak memastikan kelancaran aksinya, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menertawakan kekonyolannya.

***

Paginya Nayyara bangun dengan keadaan yang masih terlihat berantakan khas orang bangun tidur. Kaos yang kebesaran dan celana boxer pendek yang nyaman untuk ia gunakan saat tidur.

Semua sudah bersiap untuk sarapan bersama. Nayyara terkejut ternyata Tama sudah datang dan ikut sarapan bersama orang tuanya.

 "Abang!" Nayyara terkejut

"Dari tadi loh Tama datangnya, udah ngobrol-ngobrol lama sama Papa." 

Pak Riswa berbicara sambil mengunyah makanan.

Tama hanya merespon dengan senyuman.

“Kamu nggak kerja Nay?" Bu Ani bingung melihat putrinya yang masih mengenakan kostum tidur kebangsaan.

"Aku hari ini izin Bu, mau jemput orang tua Bang Tama." 

Bu Ani membulatkan mulutnya, "Ooo."

Mereka melanjutkan sarapan sampai habis. Selesai sarapan Nayyara ingin membantu bu Ani untuk cuci piring dan merapikan peralatan makan tapi malah dicegah karena sudah ada Tama yang menunggu.

"Yuk, jalan!" suara Nayyara membuyarkan konsentrasi Tama pada ponsel yang sedari tadi ia gunakan untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Nayyara berdandan, sudah dipastikan menunggu seorang wanita bersiap-siap tidak membutuhkan waktu yang sebentar.

Mereka lalu berpamitan kepada Bu Ani dan Pak Riswa untuk ke rumah Tama. 

Sesampainya di apartemen Tama, Nayyara langsung bergegas ke dapur dan memasak. Ia memotong sayuran seperti kol dan wortel. Menyiapkan bumbu untuk dihaluskan dan merebus ayam dan daging. 

Tama dari tadi hanya memperhatikan Nayyara lalu berjalan mendekati Nayyara,

"Kamu mau masak apa?"

"Aku mau bikin soto aja ya Bang, kan Abang bilang kalo Bapaknya Abang suka soto." ucap Nayyara sambil menggoreng bumbu halus yang berwarna kuning.

"Kamu bisa bikin soto?" bukanya menjawab Tama balas bertanya.

"Hhmmm" jawab Nayyara dengan berdehem.

"Hebat banget si kamu." Tama mengacak2 puncak kepala Nayyara.

Nayyara memisahkan kol, bihun, dan kentang setelah matang. Kuah soto yang mengepul dan mendidih menandakan soto sudah siap. Semuanya sudah ia pisah di wadah yang berbeda dan berjajar rapi agar mudah saat ia meraciknya.

Setelah selesai memasak Nayyara merapikan apartemen Tama yang sebenarnya sudah tertata rapi.

"Ok finish" ujarnya setelah selesai memasak dan merapikan apartemen Tama.

 "Kamu makan lagi Bang?" Nayyara heran melihat Tama seperti orang belum sarapan padahal ia sudah sarapan cukup banyak di rumahnya. Ya begitulah Narotama sikap yang humble dan apa adanya membuat orang nyaman terhadapnya tanpa rasa sungkan.

"Iya abis soto kamu enak banget sih," Tama menyantap soto buatan Nayyara yang entah sudah mangkuk keberapa.

Nayyara duduk di samping Tama, "Mau ke bandara jam berapa?"

"Jam 13.00 kita berangkat." Tama menggeser mangkuk nya yang sudah kosong.

Nayyara mengangguk, lalu  ia mengambil mangkuk kotor milik Tama dan menuju dapur untuk mencucinya.

"Astaga aku lupa bikin bawang gorengnya." Nayyara menepuk jidat, ia langsung mengambil bawang merah dan segera ia mengupas lalu memotongnya.

Air mata Nayyara menetes merasakan perih akibat memotong bawang.

"Kamu nangis?" Tama langsung memutar tubuh Nayyara hingga menghadapnya.

Nayyara mengerjap-ngerjapkan mata, "Nggak apa-apa udah biasa kalo motong bawang emang kaya begini"

Tama menghapus air mata di pipi Nayyara. Seketika pandangan mata mereka saling bertemu. 

Rasa panas tiba-tiba menjalar di wajah Nayyara. Tangan Tama masih berada di pipi Nayyara, Tama semakin dalam menatap manik milik Nayyara, debaran jantung Nayyara semakin tak terkendali. Tama memberanikan diri untuk memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka.

Nayyara terdiam rasa takut akan teringat kejadian kelam masalalu yang memilukan membuat dadanya bergemuruh.

"Boleh?" Tanya Tama pelan.

Entah harus menjawab apa, Nayyara hanya mengangguk.

Saat  tidak ada lagi jarak di antara mereka. Nayyara sedikit menahan tubuh Tama.

"Jangan dipaksa," ujar Tama sambil mencubit gemas hidung mungil Nayyara.

Saat Tama ingin membalikan tubuhnya, Nayyara menahan Tama dan memberanikan dirinya menci*m Tama terlebih dahulu.

Jantung Nayyara semakin berdegup kencang ia bingung harus apa lagi.

Sedangkan Tama sedikit terkejut tapi sedetik kemudian ia tersadar dan menikmati benda kenyal milik Nayyara.

Nayyara masih tertegun pada posisi awal, tubuhnya sangat kaku, jantung masih terus memompa begitu cepat, ia hanya membiarkan Tama bergerak aktif.

Sensasi manis dan lembut dari bibir Nayyara, serta aroma bunga yang lembut dari tubuh Nayyara, membuat Tama tidak mau berhenti untuk menikmatinya. 

Entah memiliki keberanian dari mana Nayyara membuang dan melupakan lukanya. Perlahan ia terhanyut akan sentuhan Tama memberanikan diri untuk membalas dan merespon gerakan Tama. 

Keraguan di hati yang sempat mendominasi hati dan pikirannya telah lenyap. Tubuh yang tadinya menolak sekarang tidak sungkan untuk menerima dan membalas.

Gerakan mereka semakin berirama saling berbalas, meluapkan perasaan satu sama lain. Yang sesekali terjeda untuk memenuhi udara di paru-paru mereka masing-masing.

BERSAMBUNG…

.

.

.

.

.

DOOOORR hayu pada nyengir-nyengir sendiri yah.

Maaf  ya kalo kiss scenenya agak maksa dan bertele-tele. Soalnya Nayyara takut (emot tutup muka) tapi kalo LIKE KOMENNYA banyak, apalagi di kasih LOVE sama BINTANG 5, "Nay pasti berani tapi kalo Nayyara ga bisa aku juga siap gantiin," (berharap mukjizat datang)

Related chapters

DMCA.com Protection Status