His Last Wish (Indonesian)
His Last Wish (Indonesian)
Author: Zhen Xin Xin
Bab 1

Raymond Cooper menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, menikmati sensasi dari aroma yang dihasilkan dari rokok itu. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya mengamati suasana di luar bandara. Posisinya yang duduk di area khusus merokok membuatnya sedikit sulit untuk mengamati sekitar, tapi ini jauh lebih baik daripada harus menahan diri untuk tidak merokok sampai tiba di hotel. Kopi espresso yang ia pesan untuk membuatnya tetap terjaga setelah enam jam perjalanan dari Morozov menuju kota Cirillo yang terletak di pulau Andreas itu mulai dingin. Agak enggan, ia meminum kopi itu dalam sekali teguk, lalu mematikan  rokoknya yang tinggal sedikit ke asbak rokok yang sudah disiapkan di atas meja seraya menghela napas panjang. Tangannya yang kokoh dan ramping itu mengeluarkan secarik kertas lusuh dari mantel berwarna cokelat yang ia kenakan. Hidungnya yang peka itu masih bisa mencium aroma darah yang tersisa dari kertas lusuh itu.

Amanda Chloe

Kota Cirillo

26 Oktober 20xx

“Amanda, ya?” ujarnya seraya menyangga kepalanya di atas meja. Bahkan di saat terakhirnya, Arnold berjuang keras menggenggam kertas itu sekuat tenaga, seakan ingin melindungi apa yang ada di dalam secarik kertas itu. Napasnya sedikit tercekat. Bayangan akan kematian temannya…

Tangannya mengepal. Ia menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah lalu mengetuk jemarinya yang ramping itu ke atas meja agar serangan paniknya tidak muncul. Setelah kepanikannya mereda, matanya kembali tertuju pada kertas itu, memasukkannya kembali ke dalam saku mantelnya. Kepolisian Morozov sudah memutuskan kematian temannya sebagai upaya perampokan yang gagal dan menutup kasus itu dengan cepat, sehingga mustahil baginya untuk menyelidiki kembali kasus kematian temannya itu jika ia terus bergerak sebagai detektif. Karena itu, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepolisian, dan menghentikan sesi konseling dengan psikiaternya. Ia sudah lelah untuk terus bersembunyi tanpa mencari kebenaran. Mana mungkin ia yang seorang detektif kepolisian memutuskan untuk berhenti menyelidiki kasus yang jelas-jelas bukan perampokan yang gagal, tapi upaya pembunuhan yang sudah direncanakan?

Harga dirinya pasti lenyap kalau ia ikut berhenti menyelidiki kasus itu. Kata kunci kasus itu hanya pada secarik kertas iniーkertas yang ia ambil diam-diam setelah menghubungi polisi dan ambulans. Raymond tidak mungkin menyadarinya jika bukan karena hidungnya mencium aroma kertas dari tangan Arnold. Kertasnya begitu kecil, sampai nyaris luput dari penglihatannya, sehingga begitu membuka tangan temannya menggunakan sarung tangan yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga seandainya ia mendadak mendapatkan panggilan dari tempat kerjanya, ia segera memasukkannya ke dalam buku catatan kecil yang selalu ia bawa tanpa berpikir panjang. Intuisinya mengatakan padanya untuk tidak memberikan barang bukti itu pada polisi, dan kelihatannya intuisinya tepat. Kalau kertas ini sampai diketahui orang lainーapalagi jika itu adalah kelompok yang telah membunuh Arnold, habislah sudah. Siapa pun orang yang ada di kertas ini, ia akan mencarinya. Bahkan jika perlu, menjaganya dengan nyawanya sendiri. Seperti sumpahnya di depan makam Arnold.

Sepertinya ini akan jadi tugas yang sulit. Ia bahkan bisa mencium adanya bahaya dari kertas ini.

Raymond meraih kopernya seraya memanggil pelayan untuk membayar tagihan, lalu berjalan meninggalkan kafe tersebut menuju hotel. 

***

Sudah dua hari sejak ia tiba di kota Cirillo. Udaranya yang hangat begitu menenangkannya, berbeda dengan Morozov yang suhunya relatif dingin karena dekat dengan Rusia. Penduduk kota ini relatif ramah dan santai, sehingga proses adaptasinya di kota ini jauh lebih cepat. Ia bahkan sudah menganggap kota ini sebagai rumah barunya. Tapi ia tidak mungkin tinggal dalam jangka waktu lama di hotel itu. Cepat atau lambat uangnya akan segera menipis, jadi ia harus segera mencari tempat baru. Karena itu, saat ini ia berada di sebuah kantor agen properti yang direkomendasikan oleh staf hotel tadi pagi, duduk sambil membaca brosur yang ditawarkan oleh seorang sales yang segera menyambutnya begitu ia masuk ke dalam kantor ini. Rudolfーnama sales tersebutーbaru saja meminta izin untuk melayani seorang wanita muda kikuk yang masuk ke kantor ini. 

Sambil menunggu, ia membalikkan halaman brosur itu hingga matanya tertuju pada salah satu apartemen yang sesuai dengannya. Ruang tamu dan dapur yang luas lengkap dengan furniture sehingga ia tidak perlu repot-repot membeli lagi, memiliki balkon yang bisa ia gunakan nantinya untuk merokok, dengan pemandangan kota Cirillo. Ia sudah senang membayangkan seperti apa nantinya. Namun, begitu ia melihat harga yang terpampang di bawah keterangan apartemen itu, ia mengurungkan niatnya. Harga per bulan apartemen ini sanggup membunuh uang tabungannya dalam waktu enam bulan. Apa sebaiknya ia mencari apartemen lain? Ada beberapa apartemen di brosur yang ia pegang, menawarkan harga yang cukup murah, tapi sebagai kompensasinya, ia tidak bisa merokok dan harus membeli furniture baru yang jelas akan sangat merepotkan. Opsi yang kurang menyenangkan memang, tapi sepertinya jauh lebih baik daripada membiarkan tabungannya hangus dalam enam bulan untuk apartemen impiannya. 

Agak enggan, Raymond meletakkan brosur itu di atas meja, mencari Rudolf yang ternyata masih bersama wanita muda yang sejak awal sudah menarik perhatiannya. Bosan, ia mencondongkan sedikit tubuhnya, mencoba untuk mencuri dengar percakapan mereka, sambil tetap berusaha agar terlihat tidak mencolok.

“Jadi, apa ada apartemen yang menarik perhatian Anda, Nona?” Pria itu sengaja mempermanis nada suaranya saat berbicara dengan wanita muda itu, membuatnya tersenyum kecut. Sikap pria tua berkepala telur itu jauh berbeda saat menyambutnya tadi. Agak ketus, dan memandanginya dari atas ke bawah seakan-akan ia pria dekil dengan prospek yang kurang menjanjikan. Ia memandangi pakaian yang ia kenakan. Mantel cokelat yang ia kenakan saat tiba di kota ini, dengan kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana jins biru tua dan sepatu sneaker berwarna hitam merah. Ia mengambil ponselnya yang ada di saku jins-nya, lalu mendesah panjang setelah melihat bayangannya di layar ponselnya, memahami kenapa pria berkepala telur itu terlihat enggan melayaninya. Rambutnya yang berantakan itulah penyebabnya. Apalagi, ia tidak sempat bercukur pagi ini karena terburu-buru ingin segera mencari apartemen. Ia kembali fokus pada wanita muda itu. Dari gerak-gerik wanita itu, ia tahu kalau wanita itu terlihat tidak nyaman saat Rudolf berdiri di dekatnya.

“Yang sederhana, seperti apartemen ini.” Wanita muda itu menunjuk ke salah satu apartemen yang ada di brosur yang sama dengan yang ia pegang. Sial, jarak mereka yang cukup jauh menyulitkannya untuk mengetahui apartemen mana yang diinginkan wanita itu.

“Tapi Nona, harga per bulannya cukup mahal. Apa Anda yakin?”

Didorong oleh rasa penasarannya, ia beranjak dari kursi sofanya, mendatangi kedua orang itu, berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat natural saat ia mengintip apartemen mana yang dimaksud oleh wanita muda itu.

Oh. Apartemen yang sama dengannya. Menarik.

“Permisi.” Ia berdehem, sengaja mengambil momen di saat Rudolf mulai kembali berbicara. “Sepertinya kita sedang mencari apartemen yang sama.”

Wanita itu mengernyit, dibarengi dengan wajah masam Rudolf saat mendapati keberadaannya yang dianggap mengganggu. “Maaf, tapi Andaー”

“Maafkan kelancangan saya.” Ia tertawa pelan, berusaha agar tetap terlihat keren. Seenggaknya, ia harus memberikan kesan pertama yang bagus di depan wanita yang mengenakan sweater merah dan rok lipit berwarna cokelat tua dengan sepatu hak tinggi tiga sentimeter itu. “Nama saya Raymond Cooper. Saya baru tiba di kota ini sejak dua hari yang lalu. Dari pengamatan saya, kelihatannya Anda juga orang baru di kota ini.”

Wanita itu terkesiap, lalu tertawa pelan. “Ya, Anda benar. Dari mana Anda bisa tahu soal itu?”

“Observasi. Tapi itu tidak penting. Kalau tidak keberatan, apa Anda bersedia untuk menjadi teman sekamar saya? Yah, kalau Anda tidak masalah satu atap dengan priaー”

“Tidak masalah.”

Jawaban cepat wanita itu mengejutkannya. Ia mengembalikan brosur yang ditawarkan Rudolf padanya, lalu tersenyum puas. “Bagus. Harga sewanya jauh lebih murah ditanggung berdua, bukan? Kalau begitu kami pilih apartemen ini.”

Ia bisa melihat wajah masam Rudolf walau hanya beberapa detik, lalu kembali ke senyum bisnisnya, menuntun mereka ke meja kantornya untuk mengurus berkas-berkasnya.

“Kalau tidak keberatan, saya bisa mengajak Nona untuk melihat apartemen itu. Untuk survei lokasi. Yah, kalau Tuan yang di sebelah Nona itu tidak bisa hari ini juga tidak apa-apa.” Rudolf memutar bola matanya saat menatapnya. Benar-benar menjengkelkan. Ia tarik kesan soal orang-orang di kota ini yang ramah. Rudolf di luar pertimbangannya. Kelihatan sekali kalau pria berkepala telur ini tengah mengincar wanita ini. Memang sih, wanita ini sangat cantik untuk ukuran wanita seusianya. Pemalu, tapi berkemauan keras. Itu kesan yang ia dapatkan saat melihat wanita ini. Dan melihat gelagat mencurigakan Rudolf saat memandang wanita ini membangkitkan instingnya untuk melindungi wanita ini.

“Sama sekali nggak.” Ia tersenyum, menahan jengkel. Kalau diberi kesempatan untuk meninju pria, tentu akan ia lakukan saat ini juga. “Saya sangat luang, terima kasih. Kalau bisa secepatnya, kenapa tidak sekarang?”

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status