Bab 2 Menebus Kesalahan

Keesokan Harinya

Sehari setelah kepergian Ningsih adalah hari pernikahan Caramel dengan Jarot si rentenir kejam. Caramel terpaksa menerima lamaran lelaki tua itu karena ketidaksanggupannya dalam membayar hutang. Hutangnya begitu banyak, bahkan 10 tahun ia bekerja pun tidak akan mampu untuk melunasinya. 

Caramel sedang dirias oleh perias pengantin  agar terlihat lebih cantik dan menawan. Sang perias sempat merasa kesal karena Caramel terus menjatuhkan air matanya.

“Mbak Caramel, sudah dong nangisnya! Saya capek kalau harus merias ulang wajah mbak terus-terusan,” keluh perias tersebut. 

“Iya, Mbak. Maaf,” jawab Caramel.

“Kak?” panggil Devon mendekati Caramel dan duduk disebelah Caramel. 

“Iya, Dek?” jawab Caramel dengan memicingkan matanya. 

“Kakak yakin? Akan melanjutkan pernikahan ini?” tanya Devon. 

“Kakak tidak punya pilihan lain, Dek. Hanya cara ini yang bisa Kakak lakukan untuk melunasi hutang kita. Dan kamu … kamu masih terus membutuhkan biaya untuk perawatan kamu, Dek,” terang Caramel dengan memegang bahu Devon sembari menatapnya. 

“Lebih baik Devon tidak perlu berobat, Kak. Devon tidak tega melihat Kakak hidup menderita.” Devon berucap dengan menunduk. 

“Dek ... jangan buat usaha Kakak dan ibu selama ini sia-sia, ya? Kakak tidak apa-apa kok. Mungkin memang pak Jarot jodoh Kakak. Kakak yakin dia tidak akan memperlakukan Kakak dengan buruk.” Dalam hati Caramel ia juga tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan.  Caramel menggenggam tangan Devon yang terasa sangat dingin dan berkeringat.

“Semua ini salah Devon, Kak. Kalau saja Devon tidak sakit, Kakak tidak mungkin menikah dengan lelaki tua itu,” ucap Devon dengan menangis memeluk Caramel. 

“Ingat, Sayang. Kita punya Tuhan yang akan selalu melindungi kita. Kakak ikhlas melakukannya. Mungkin dengan Kakak pasrah dan ikhlas dengan takdir Kakak, semua akan lebih mudah. Devon doakan Kakak juga ya, semoga Kakak bisa selalu bahagia,” ungkap Caramel. 

“Iya, Kak. Devon akan rajin mendoakan Kakak.” Devon membalas ucapan Caramel dengan melepaskan pelukannya. 

Setelah bercengkerama cukup lama, dan Caramel telah selesai di make up. Datanglah wanita paruh baya yang memanggil Caramel bahwa acara akad nikah akan segera dimulai. 

Caramel menguatkan hatinya dengan menarik nafasnya dalam-dalam. Hidupnya akan berakhir di tangan rentenir kejam yang sama sekali tidak ia cintai. 

Sekilas Caramel memeluk tubuh Devon erat berharap bisa menjadi sumber kekuatan untuknya. 

“Ibu ... hari ini Caramel akan menikah. Doakan hidup Ara bahagia ya, Bu.” Batin Caramel mengingat ibunya yang telah tiada. 

Caramel keluar dari kamar menuju ruang tamu di mana acara sakral itu akan dilangsungkan. Rasanya ia tidak sanggup menopang beban hidupnya. Baru saja ia kehilangan ibunya dan kini harus menikah dengan seorang pria tua yang akan menjadikannya istri keempat. Sungguh miris! Dalam hidupnya, Caramel tidak pernah menyangka akan mengalami nasib seburuk itu. 

“Caramel … kamu yang kuat ya, Nak?” tutur salah satu tetangga Caramel yang tengah menuntun Caramel duduk disebelah Jarot. 

 Caramel hanya mengangguk sekilas, buliran air mata Caramel terjatuh begitu saja. Ia duduk disebelah Jarot yang sedang memandanginya dengan sorot mata dan seringaian yang menjijikkan. 

“Bagaimana pengantin laki-laki dan perempuan, siap?” tanya penghulu. 

Jarot dengan antusias menjawab ‘Siap’. Sedangkan Caramel hanya terdiam dan menunduk karena air matanya yang terus mengalir. 

Jarot dan penghulu berjabat tangan untuk memulai acara akad. 

“Wahai saudara Jarot bin Sulaiman. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Caramel binti Maulana yang walinya telah mewakilkan kepada saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai!” ucap penghulu itu dengan lantang. 

“Saya terima nikah dan kawinnya, Caramel binti-” ucapan Jarot terpotong. 

Brakkkkk …!!!

Ucapan Jarot terhenti karena ada seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kencang menendang pintu di hadapannya, hingga membuat semua orang terkejut dibuatnya. 

Seisi ruangan menoleh ke arah sumber suara. Jarot merasa geram, kemudian ia berdiri dan menghampiri pria yang tengah berdiri di ambang pintu tersebut. 

“Siapa kau? Apa urusanmu datang kemari dan mengganggu acara pernikahanku?” tanya Jarot dengan sorot mata tajam penuh amarah. 

Tanpa berkata-kata, pria itu meminta asistennya untuk memberikan sebuah koper berisi uang kepada Jarot. 

“Apa ini? Kau menghinaku?” tanya Jarot. 

“Buka!” perintah pria itu kepada Jarot. 

Dengan cepat Jarot membuka koper itu. Ia terperangah kaget karena di dalam koper itu berisi uang yang sangat banyak. Bahkan dalam waktu semalam pun ia tidak akan mampu menghitungnya. 

“Masih kurang?” tanya pria tersebut tanpa ekspresi. 

“Sudah lunas 'kan hutangnya? Sekarang kau pergi dari sini!” Pinta pria itu yang tak lain adalah Yuan. Salah satu pria yang terlibat dalam tabrak lari yang mengakibatkan kematian ibu Caramel. 

Tanpa banyak bertanya tentang sosok di depannya, Jarot pun meninggalkan acara itu dengan membawa sekoper uang yang kini berada didekapannya. 

Dengan dibantu tetangganya, Caramel berdiri dan menghampiri Yuan. 

“Tuan? Anda siapa? Kenapa anda baik sekali? Apa motif Tuan membayar semua hutang-hutang saya?” tanya Caramel dengan memberanikan diri menatap manik kecokelatan yang ada di depannya. 

“Kamu tidak perlu tau siapa saya. Sekarang duduklah, aku yang akan menikahimu.” Yuan berbicara dengan nada datar seperti kebiasaannya. 

Caramel sangat bingung. Begitupun dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Tidak ada yang mengetahui siapa pria itu, dan alangkah terkejutnya lagi saat pria itu mengatakan akan menikahi Caramel menggantikan Jarot. 

“Tuan … apa maksud anda? Jika anda ingin meminta saya membayarnya, saya akan membayarnya. Tapi, tolong beri saya waktu?” Caramel memohon. 

“Aku tidak butuh uang. Aku butuh istri. Sekarang duduklah. Kita akan menikah sekarang juga!” jawab Yuan tegas. 

Caramel masih enggan untuk menuruti permintaan Yuan. Dia masih sangat terkejut dan bingung dengan permainan yang Yuan perankan. 

“Duduk! Bukankah wajahku lebih baik daripada pria tua itu?” tanya Yuan lagi. 

Tentu saja Yuan lebih segalanya dibanding Jarot. Wajahnya yang tampan, usianya yang masih muda, tubuhnya yang kekar, berkharisma dan mempesona tentu membuat orang seketika jatuh cinta terhadapnya. 

Dengan perasaan yang campur aduk, Caramel perlahan-lahan duduk di sebelah laki-laki yang kini tengah bersiap menghadap penghulu. 

“Duduk! Anggap saja sekarang kamu sedang membayar hutangmu,” tegas Yuan lagi. 

Tanpa menunggu Caramel menjawab, acara ijab kabul itupun dilaksanakan. Dihadiri para tetangga dan beberapa orang bawaan Yuan yang menjadi saksi, dan menyaksikan Tuan mudanya melangsungkan pernikahan. 

Yuan berjabat tangan dengan penghulu. Penghulu tersebut mengucapkan nama Caramel, binti, dan mas kawin yang diberikan oleh Yuan dengan jelas dan nyaring. Dengan hentakan tangan penghulu yang meminta Yuan untuk menyautnya, hanya sekali tarikan nafas Yuan mampu menyelesaikannya, tak kalah lantang dengan suara sang penghulu. 

“Bagaimana, sah?” tanya penghulu kepada para saksi dan tamu undangan. 

“Saaahhhh!!!” riuh jawaban para saksi dan para tamu undangan serempak. 

Banyak sebagian orang yang tersenyum menyaksikan pernikahan Caramel. Akhir hidupnya tidak semengerikan yang di bayangkan sebelumnya. Bayangan menjadi istri keempat dari pria yang sudah tua sungguh bukan sebuah impian. 

Yuan menatap wajah Caramel dengan tersenyum tipis. Caramel pun melakukan hal yang sama. Kemudian ia mencium punggung tangan Yuan, dan disambut ciuman kening oleh bibir Yuan. 

Devon menghampiri Caramel dan memeluknya dengan kencang. 

“Kak … Devon bersyukur karena Kakak tidak jadi menikah dengan pria tua itu. Dan Kakak menikah dengan pria yang sangat tampan,” ujar Devon dengan melirik ke arah Yuan. 

Yuan pun tersenyum mendengar penuturan Devon. Yuan mengusap kepala Devon dengan penuh kelembutan. 

Caramel sangat merasa senang dalam hatinya. Entah dengan cara bagaimana Caramel berterimakasih kepada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Yuan bagaikan malaikat untuknya. Dia telah menyelamatkan hidup Caramel dari lembah hitam yang mengerikan. 

Para tetangga banyak yang menitikkan air mata melihat hidup Caramel yang mengharukan. Mereka berharap Caramel bisa menemukan kebahagiaannya bersama pria yang kini telah menjadi suaminya.

Acara terus berlanjut. Seorang penghulu yang telah menyelesaikan tugasnya pun pamit undur diri. Acara dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan makan-makan ala kadarnya. Tidak mewah, mengingat budget Caramel yang tidak seberapa, hanya mampu menghidangkan sajian makanan yang sederhana. 

“Berbahagialah, Nak! Ibu harap kehidupanmu lebih bahagia setelah ini,” kata Asih tetangga Caramel. 

“Iya, Bu. Terimakasih banyak. Terimakasih Ibu sudah sangat baik dengan Caramel,” balas Caramel.

“Ibu sudah menganggapmu seperti anak ibu sendiri, Nak. Kamu jangan pernah sungkan meminta bantuan Ibu, ya? Kalau suatu saat kamu kenapa-kenapa,” tambah Asih. 

“Iya, Bu,” jawab Caramel. 

Setelah semua para tamu undangan pergi, Caramel duduk di sebuah kursi karena merasakan lelah pada kakinya. Dan Yuan ikut duduk di sampingnya. 

“Setelah ini kita pulang ke rumahku,” ucap Yuan tiba-tiba.

“Tapi, Tuan? Lalu bagaimana dengan tempat tinggalku ini?” tanya Caramel. 

“Kamu tidak perlu khawatir. Nanti akan ada orang yang mengurusnya.” Yuan menjawab dengan santai. 

“Devon ikut dengan kita 'kan, Tuan?”

“Tentu. Tapi lusa aku berencana membawa Devon ke Singapura untuk pengobatannya.”

“Anda serius, Tuan? Tapi biayanya pasti sangat mahal?” Caramel membelalakkan matanya. 

“Kamu istriku, tanggung jawabku. Dan Devon sudah menjadi tanggung jawabku juga. Kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu.”

Caramel dan Devon saling memandang dan sesekali melihat Yuan. Kemudian Devon memeluk tubuh Yuan dan mengucapkan banyak terimakasih untuknya. 

“Terimakasih banyak, Kak. Entah harus dengan cara apa Devon membalas kebaikan Kakak. Nanti kalau Devon sudah sukses, Devon akan membalas semua kebaikan, Kakak.” Devon mengucapkan dengan antusias dan penuh keyakinan. 

Yuan semakin mengeratkan pelukannya.

“Devon bisa sembuh total saja itu sudah lebih dari cukup. Oiya Devon, nanti saat berobat di Singapura, kamu ditemani sama om dan tante Kakak, ya? Kakak dan Kak Caramel tidak mungkin menemani kamu di sana, karena di sini kami juga punya banyak pekerjaan,” terang Yuan. 

Devon terlihat lesu. “Jadi, nanti Devon di sana sendirian?” Devon bertanya tanpa semangat. Tidak seantusias tadi. 

“Kamu sama om dan tante Kakak, Devon. Namanya om Bima dan tante Sinta. Mereka pasangan suami istri, dan sudah hampir 10 tahun menikah belum memiliki keturunan. Mereka pasti sangat senang merawat kamu di sana. Devon mau ya?” bujuk Yuan. 

Devon masih diam enggan untuk berpendapat. 

Yuan menoleh ke arah Caramel berharap Caramel bisa memberikan pengertian untuk adiknya. Caramel pun mengerti dengan maksud Yuan, dan ia pun ikut meyakinkan. 

“Dek ... semua ini demi kesembuhan kamu. Devon mau, ya? Nanti, kalau Devon kangen sama Kakak, Kakak dan Kak Yuan akan menjenguk kamu ke sana,” rayu Caramel. 

Sesungguhnya Caramel juga merasa keberatan dengan keputusan Yuan. Apalagi selama ini ia belum pernah sekali pun berpisah dengan adiknya. Ia juga belum begitu yakin dengan Yuan, apakah Yuan orang yang baik atau bukan.  Caramel masih mencoba menyelidikinya. Tapi apapun itu, ia telah menjadi istrinya. Sudah menjadi kewajibannya untuk menuruti apa yang menjadi keputusan suaminya. 

“Kami akan mengantar kamu sampai ke Singapura,” imbuh Yuan. 

Devon pun tersenyum senang. Meskipun tidak ditemani sang kakak, setidaknya kakaknya tau tempat tinggalnya nanti. 

“Baiklah. Devon mau. Tapi Kak Yuan janji akan sering mengunjungi Devon?” tanya Devon dengan mengulurkan sebuah jari kelingking. 

“Kakak janji!” jawab Yuan cepat sembari menyambut uluran kelingking Devon. 

Kemudian 2 jari kelingking itu saling terpaut di hadapan Caramel. Seseorang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu, kini telah berhasil mengambil hati Devon dan membuat Devon merasa nyaman berada di sisinya. 

***

Selesai mengemasi pakaiannya dan juga pakaian Devon, Caramel berjalan ke arah mobil Yuan untuk meninggalkan tempat tinggalnya yang menyisakan ribuan kenangan di dalamnya. Kenangan bersama ayah dan ibunya. Kini dirinya telah menjadi seorang istri, yang harus mengikuti ke mana pun suaminya pergi. 

“Ayah ... Ibu ... maafkan Caramel harus meninggalkan rumah ini. Rumah ini menyimpan banyak kenangan tentang keluarga kita. Caramel bukan lagi gadis seperti dulu, Bu. Kini Caramel sudah menjadi istri Tuan Yuan. Istri dari seseorang yang telah menyelamatkan hidup Caramel dari jerat cinta Jarot si tua bangka. Semoga ayah dan ibu bahagia ya di sana.” Caramel membatin. 

Sebelum Caramel benar-benar pergi dari rumah itu, ia menitikkan air matanya kembali. Betapa sedihnya berpisah dengan tempat tinggal yang selama ini dihuninya. Tempat yang menyimpan banyak memori dan cerita di dalamnya. 

“Ayo, masuk,” ajak Yuan dengan membukakan pintu untuk Caramel. 

Caramel pun masuk ke dalam mobil itu, diikuti Yuan yang juga masuk dan duduk disebelahnya. 

Sejenak Yuan melihat wajah Caramel, ia merasa sangat kasihan dan ingin melindunginya. Hidup istri dadakannya itu penuh derita dan air mata. Awalnya memang Yuan menikahi Caramel untuk menebus kesalahannya, karena ia sudah terlibat dalam tabrak lari ibu Caramel. Meski bukan dia pelakunya, tapi dia ikut merasa bersalah karena sudah menyembunyikan kebenaran. 

Lagi pula Surya telah menerima ganjarannya. Yuan memecat Surya sebagai supir pribadinya. Awalnya Yuan ingin mengakui di hadapan Caramel dan memenjarakan Surya, namun melihat keluarga Surya yang juga sangat susah, ia merasa iba dan tidak tega. Surya memiliki 2 anak yang masih kecil-kecil. Dan istrinya juga sakit-sakitan. Hal itu yang membuat Yuan tidak tega memenjarakan Surya. Meskipun ia tau tindakannya itu salah, tapi serapat mungkin ia akan menutupi agar Caramel tidak mengetahuinya. Karena jika Caramel tau, bukan tidak mungkin Caramel hanya memenjarakan Surya, melainkan juga Yuan karena telah menyembunyikan kebenaran darinya.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Yuan, Caramel dan juga Devon sampai di kediaman Alexander. Mereka melewati gerbang yang menjulang tinggi berwarna gold. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, mereka keluar dari mobil Yuan. Decak kagum tak henti keluar dari mulut Devon dan juga Caramel. Ini pertama kalinya mereka melihat rumah sebesar ini dalam hidupnya. Maklum, Caramel hanyalah gadis yang berasal dari keluarga sederhana bahkan kehidupannya seringkali kekurangan. Hidupnya bagaikan remukan rempeyek di antara banyaknya rempeyek yang masih utuh dan bagus. Keberadaannya juga seakan tidak terlihat jika dilihat hanya sekilas. 

Bangunan itu tampak megah dan mewah. Glamor tapi tetap elegan. Hanya orang-orang kayalah yang mampu mempunyai rumah sebesar dan sebagus ini, begitu pikir Caramel dalam otaknya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status