Chapter 2 - Kalung Jodoh

“Jane!“

Jane menolehkan kepalanya mencari asal suara yang memanggil namanya. Setelah menoleh kanan kiri, akhirnya ia melihat seorang wanita cantik berlekung pipit tengah berdiri sekitar sebelas langkah darinya seraya tersenyum manis kepadanya.

“Astaga Nana!“ pekik Jane seraya menghambur memeluk wanita bernama Nana itu.

“Aaa Jane!” balas wanita itu ikut berteriak histeris. Lalu keduanya berpelukan erat layaknya saudara yang lama terpisah.

“Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Kau pasti mempunyai banyak pengalaman saat kau terus dinas dan berkeliling dunia. Hebat sekali!” puji Jane menatap kagum Nana yang berprofesi sebagai seorang dokter dan membaktikan hidupnya untuk membantu masyarakat dunia, ia melakukan banyak sumbang jasa untuk membantu kesehatan masyarakat yang membutuhkan.

“Kau berlebihan! Oh iya Jane, Aku membawakanmu oleh-oleh. Kau harus melihatnya!” ucap Nana merogoh sesuatu dari dalam tasnya bersemangat.

“Whoaahh kau membawakanku oleh-oleh? So sweet! Aku harap itu adalah sebuah makanan!” ungkap Jane antusias.

“Sayangnya, bukan. Ini adalah cenderamata dari salah satu anak di kamp pengungsian.” ucapnya mengeluarkan kalung berbandul kristal bening dari dalam tasnya.

“Whoah, kalung ini cantik sekali.” Puji Jane.

“Nah aku sudah tahu kau akan menyukainya. Kemari biar ku pakaikan.” Nana memutar paksa tubuh Jane lalu mengaitkan ujung kalung itu dengan ujung lainnya.

“Ngomong-ngomong ini adalah kalung jodoh.” ungkap Nana setelah selesai mengaitkan ujung kalung Jane. Jane terdiam seraya menatap Nana dengan tatapan aneh lalu sedetik kemudian ia tertawa nyaring terbahak.

“Hahaha kalung jodoh? Oh ayolah kau bukan anak kecil berumur sepuluh tahun yang percaya dengan cerita konyol seperti itu dan lagi pula kau tahu aku tidak percaya dengan cerita seperti itu. Tapi jujur kalung ini sangat bagus, aku menyukainya.” ungkap Jane menepuk-nepuk pundak Nana masih sambil tertawa.

“Kau harus tahu dulu cara kerja kalung itu. Jadi kalung itu akan berubah mengikuti warna yang kita suka. Lihat kalungmu warnanya berubah jadi biru kan? Karena kau suka warna biru! Nah nanti saat kau bertemu orang yang akan menjadi jodohmu ia akan berubah warna mengikuti warna yang jodohmu sukai. Menakjubkan bukan?” Nana  bercerita dengan wajah semringah penuh takjub layaknya anak taman kanak-kanak yang percaya dengan barang ajaib yang diberikan ibunya. Dan itu terlihat sangat lucu bagi Jane.

“Oke..oke.. Aku mempercayainya. Jadi mari kita cari jodohku, mana di mana calon jodoh saya-” ungkap Jane terdengar mengejek.

“Ahh kau meledekku ya? Aku sengaja membawakan benda ini karena aku tahu bahwa kau dibenci oleh cupid” Nana menepuk punggung Jane.

“Sialan kau!” umpat Jane bercanda.

“Kau lebih sialan, bitche!” keduanya terdiam sesaat sebelum detik selanjutnya mereka sama-sama tertawa.

“Ahh sudah lama kita tidak saling mengumpat.”

“Kau benar. Aku benar-benar merindukan mu. Tapi aku juga lelah, bisakah kita brunch saja di sana?” tunjuk Nana pada sebuah restoran bernuansa Eropa di persimpangan jalan.

“Hei tapi aku tidak lapar,” elak Jane.

“Tapi aku lapar, dan kau harus mentraktir ku!” pinta Nana  bergelayut di tangan Jane dengan puppy eyes.

“Pintar sekali kau memilih restoran huh. Aku rasa kau ingin membuat dompetku menjerit.”

“Kau memang berintuisi tajam. Tapi aku tahu ini restoran terbaik.” ucap Nana  menyipitkan matanya lalu menarik Jane ke restoran berlogo Sirius Hotel’s group itu. Dan di situ perasaan Jane menjadi tak enak. Tak mungkin di sini ia menemukan kesialan bukan? Semoga saja ini hanya perasaannya.

***

“Jadi informasi apa saja yang sudah kau dapatkan?” tanya Darren  seraya berjalan mondar-mandir tak tenang, rupanya berita yang di posting gadis itu benar-benar memberi dampak padanya. Hujatan, tatapan sinis sang ayah dan bisik-bisik para dewan direksi sudah menyambutnya sekarang.

Naomi mengerti bahwa Darren menghadapi situasi tidak menguntungkan setelah si pemilik Orion Star media itu menyebarkan skandal dan menggoreng skandal itu sebagai berita paling panas hingga berada di puncak headline berita. Kini dewan komite perusahaan jadi meragukan etika Darren karena Orion Star Media membuat seakan-akan Darren adalah penjahat seksual.

“Soal pemimpin Orion media ya?“ tanya Naomi dengan tatapan sok polos.

“Bukan Naomi, ini soal liburanmu ke Eropa! Wow sangat menyenangkan hingga aku ingin mengirimmu ke antartika!” jawab Darren tanpa ekspresi, bermaksud sarkas.

“Benarkah? Kau yang terbaik Dar-“ Naomi tersenyum senang hendak memeluk bos yang merangkap sebagai sahabatnya itu namun Darren menoyor jidatnya.

“Tentu soal gadis pendek Jepang bernama Jane itu!” Bentak Darren gemas karena Naomi benar-benar berpikir bahwa ia tengah membahas rencana Darren untuk meliburkannya atas pencapaian target investor resort nya. Lebih tepatnya kesuksesan resort yang berada di atas tanah gadis pendek Jepang itu.

“Uhh -uhuh Maaf. Tapi bukankah aku sudah memberitahumu? Haruskah aku mengulangnya? Ia adalah lulusan law and business dari Oxford—“

“Demi Tuhan Naomi! Bisakah kau memberikan ku informasi yang membahas keburukan gadis Kurcaci ini agar aku juga bisa menyebarkannya pada media? Aku tak butuh informasi ia lulusan terbaik atau apalah itu” potong Darren dengan amarah yang meluap-luap. Astaga, ia rasa kepalanya akan meledak dalam  kurun waktu beberapa hari ini.

“Sejauh ini prestasi terburuknya adalahnya selalu gagal dalam masalah percintaan. Kasusnya yang terakhir adalah ia melaporkan seorang anak pengusaha yang akan dijodohkan padanya atas alasan pelecehan.” lanjut Naomi tercicit, sebenarnya ia bukannya suka melihat Darren frustasi. Tapi melihat wajah kesal Darren yang langka menumbuhkan rasa kepuasan dalam diri Darren. Biasanya Darrenlah yang selalu membuatnya kesal dengan cekikikan tanpa berdosanya saat Naomi harus mengulang rekapan laporan akhir tahun.

“Hanya itu? Hanya gagal dalam masalah percintaan? Bagaimana aku bisa menyerang balik? Apakah tisak ada sesuatu seperti skandal?” gerutu Darren.

Urgh Naomi sungguh tidak membantunya dan malah membuatnya semakin kesal saja, apakah gadis Jepang memang seperti ini? Bukankah seharusnya mereka terlihat cerdas atau setidaknya imut? Darren menghela napas berat mungkin ia harus merekrut sekretaris baru lulusan akademi Intelijen.

“Jadi menurutmu aku tidak membantumu sama sekali?” tanya Naomi dengan wajah datar khasnya.

“Kau tahu jawabannya” jawab Darren  menarik jas abunya hendak keluar dari ruangan kerjanya untuk mencari angin. Orang-orang begitu sungguh menyebalkan hari ini membuatnya ingin meminum segelas kopi pahit dengan lagu Norah Jones Tragedy. Yeah seperti banyaknya tragedi yang menimpanya belakangan ini.

“Padahal aku baru saja ingin mengusulkan untuk menggunakan kelemahan tentang masalah percintaannya ini, dan mengikatnya padamu” ucap Naomi juga hendak berjalan ke arah mejanya.

“Apa maksudmu?” Darren membalikkan badannya terlihat tertarik apa yang baru saja diusulkan Naomi.

“Aku pikir kau beranggapan bahwa aku bodoh dan tidak membantumu sama sekali” ungkap Naomi  terdengar menyindir Darren.

“Oke aku tarik kata-kataku,” ucap Darren segera.

“Dan bagaimana dengan liburan ke Eropa?” Naomi bersemangat.

“Bahkan kau minta liburan ke antartika pun akan aku kabulkan.” jawab Darren tak sabar, penasaran dengan rencana yang Naomi usulkan.

“Kau bisa menggunakan kekuasaan ayahmu untuk minta dijodohkan dengan gadis itu, aku yakin ayahnya tak akan menolak. Kau bisa mendekati orang tuanya karena kalian memiliki latar belakang yang hampir sama ibu Jane adalah orang Jepang—“ Naomi menghentikan pembicaraannya sejenak.

“Maksudku, siapa juga yang bisa menolak pesona seorang Darren William  Sirius?” ungkap Naomi merasa tak enak lalu  berusaha membakar semangat Darren dengan memujinya.

“Kau benar . Lalu apa keuntunganku untuk di jodohkan dengannya?” Tanya Darren tak mengerti.

Plak

Naomi menepuk jidatnya. Bukankah Darren William Sirius itu seseorang yang ahli tentang wanita?

“Urgh ternyata Darren William Sirius sungguh bodoh soal wanita” ungkap Naomi memutar bola matanya.

“Jane Ainsley adalah pejuang wanita atau istilahnya ia adalah feminis dan ia tak menginginkan pernikahan, ia seorang pencari kebebasan! Bayangkan jika kau bisa membuatnya terikat perjodohan dan memutus mimpinya.” Naomi menatap Darren yang terlihat berpikir.

“Tapi aku tak ingin terikat perjodohan, aku juga seseorang yang bebas seharusnya kau paling tahu itu Naomi. Akan sangat menyiksa jika terikat dengan gadis merepotkan seperti itu, itu sama saja bunuh diri.” Darren menggaruk hidungnya “Sepertinya aku tarik janjiku Naomi—“

“Justru karena kalian berdua sama-sama orang yang mencari kebebasan! Jane Ainsley jelas akan menolakmu tapi kau bisa mengatur sebuah pertukaran! Jadi, katakan padanya kau akan membatalkan perjodohan itu jika Jane mau menjual tanahnya secara sah padamu“ potong Naomi gemas.

“Memangnya kau pikir gadis itu mau menerima perjodohan itu begitu saja? Kau tak bisa mencari cara lain?“ tanya Darren lagi, membuat Naomi menepuk jidat untuk yang kedua kalinya.

“Dengan bantuan ayahmu dan kau yang mau sedikit menyamar menjadi good boy kau bisa” Saran Naomi

“Ah ya tentu saja dengan bantuan asistenmu yang cerdas ini!” Dada Naomi membusung bangga.

“Bagaimana bisa kau seyakin itu?”

“Bukankah aku sudah menjelaskan dari awal? Jane Ainsley itu seperti Athena, ia cantik, pintar dan bersikap kritis. Tapi satu hal yang aku lihat sebagai kelemahan, semua orang mempunyai kelemahan, benar? Setelah meneliti aku melihat bagaimana cara ia memperlakukan ayahnya, dan aku mendapat kesimpulan! Aku yakin ia tak akan menolak perjodohan jika itu permintaan ayahnya. Apalagi usianya yang sudah dua puluh sembilan tahun. Ini saat yang tepat untuknya menikah, intinya jalanmu akan lancar jika bisa mencuri hati ayahnya dulu.” jelas Naomi dalam satu napas yang bahkan membuat Darren sesak juga salut atas bakatnya yang satu ini.

“Kau benar! Aku akan memberikanmu cuti satu bulan penuh di Eropa!” ungkap Darren lalu berjalan dengan cepat ke arah ruangan presdir utama yang merupakan ayahnya.

“Tapi tunggu, kau bilang dua puluh sembilan? Ia lebih tua dariku dua tahun? Padahal wajahnya masih terlihat imut. Tunggu, kau tidak memberi tahuku fakta ini.“ pekik Darren kaget dan tak percaya.

“Kau memotong ucapanku. Daaan.. Ahh Kau sangat beruntung karena berkat hasil investigasiku ternyata tuan Albern Ainsley  mempunyai pertemuan dengan ayahmu sekarang di restoran Sirius Tokyo!” ucap Naomi menajamkan netranya pada Cctv yang Tengah menampilkan sebuah rombongan yang baru saja masuk ke dalam restoran dengan nuansa putih gading dan coklat.

“Maksudmu mereka memang akan melakukan pertemuan? Dan kau baru memberi tahuku?” geram Darren ingin sekali ia mencekik gadis pendek menyebalkan di depannya ini. Namun ia tak ada waktu. Ia harus bergegas dan mengatakan pada tuan Albern Bahwa ia ingin melamar anaknya.

Darren menyeringai dengan langkah kaki percaya dirinya.

Bersiaplah Jane Ainsley .

Kau akan menuai apa yang kau tanam. Kau menantang Darren William Sirius, dan kini saatnya kau menerima hadiahnya.

Naomi menatap kepergian bosnya itu. Lalu setelahnya ia kembali memfokuskan tatapannya pada layar yang menampilkan Cctv tadi. Naomi menyipitkan matanya saat ia melihat gadis lain Dengan ikat satu khas yang juga dikenalnya sebagai Athena  baru memasuki restoran itu. Bukankah ini sebuah rencana yang sempurna?

“Hee.. Jadi Athena kita sedang disana ya? Hmm, mari kita lihat apa yang terjadi saat Narcissus bertemu Athena” ucap Naomi dengan tatapan sarat akan makna.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status