Chapter 4 - Narcissus sang Narsistik

Jane mengetuk-ngetukkan sepatu heels merahnya seraya menatap Darren  yang sudah memilih untuk duduk di salah satu kursi VIP rooms restoran Sirius. Tepat ini amat sangat privasi dan terpisah dari ruangan lainnya.

Darren menyisir rambut abunya dengan jari tangan, lalu ia menarik kerah bajunya yang terasa mencekik.

Jika kalian ingin tahu, Darren  berusaha berpenampilan rapi hanya agar mendapatkan kesan baik di mata tuan Albern, bahkan ia rela mengancingkan kemejanya hingga ujung kancing paling atas dan itu adalah hal yang paling dibencinya karena membuatnya tercekik. Darren yang sibuk melonggarkan kemejanya melirik Jane yang berdiri kesal melipat tangan di perut.

“Tarik perkataanmu pada ayahku, atau kau menyesal.” ancam Jane  tanpa berbasa-basi. Untuk sesaat Darren tergelak lalu menatap Jane dengan sebelah mata yang terteduhi rambut blondenya.

“Baik jika-“ ucapan Darren tergantung "Kau menyerahkan tanahmu dan hilangkan semua berita buruk yang kau sebar” lanjut Darren yang membuat alis Jane berkedut tak karuan.

“Aku tidak mau” jawab Jane hendak melangkah keluar dari ruangan itu. Namun Darren menahannya dengan berjalan mendahului Jane dan merapatkan tubuhnya ke arah Jane menyudutkannya ke tembok.

“Aku tahu tipe wanita sepertimu. Kau sengaja bersifat seperti ini untuk menarik perhatianku, pola yang sama dan sangat membosankan. Ku beri tahu satu hal, aku bukan pria sok idealis. Kau tidak perlu melakukan drama untuk mendapatkan satu malam bersamaku-“

“Kau tampan tapi ternyata selain bodoh, kau mempunyai kadar kepercayaan diri di atas rata-rata orang normal. Pergilah ke psikolog.” balas Jane pedas

“Cih aku tahu kau menyukaiku dan menginginkan perhatianku. Mengakulah” Tuduh Darren semakin yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Apa ada alasan kenapa aku harus merepotkan diriku seperti itu?” Tanya Jane sengit.

“Ahah? Benarkah? Bagaimana dengan ini-mmh” ucap Darren sebelum detik selanjutnya ia membungkam dan mencuri ciuman dari Jane secara paksa

“Mmhh—lepas!”   berusaha memberontak, namun tenaga Darren  jauh lebih kuat tentu saja. Bahkan Jane merasakan sakit mendera pergelangan tangannya yang dicengkeram Darren.

Darren terus merapatkan tubuhnya pada Jane. Menariknya pada tubuhnya, dikuncinya pinggang ramping Jane  hingga Jane  kesulitan bergerak, ia mulai merasakan pasokan oksigennya menipis.

Melihat  situasi yang tidak lagi aman, Jane  segera mengangkat sebelah kakinya lalu menancapkan ujung penyangga heels nya yang ramping dan tajam pada ujung sepatu kulit Darren.

Darren memekik. Jane berhasil menyerangnya. Darren melepaskan pagutannya seraya mengerang kesakitan, setelahnya ia menatap Jane nanar.

“Dengar sialan! Aku bukan mangsa empukmu! Jika kau berpikir aku tertarik pada spesies lelaki sepertimu, kau salah besar! Lihat saja, aku akan melaporkanmu!” geram Jane  menunjuk wajah Darren dengan telunjuknya tepat di depan mata

“Kau pikir kau bisa memenjarakanku hanya dengan tuduhan ciuman? Bahkan yang diketahui ayahmu adalah kau sudah tidur denganku!” ungkap Darren tersenyum meledek. Sial ternyata pertahanan gadis ini di luar dugaannya.

Jane menatap Darren jengah. Lelaki ini, lelaki gila yang harus diberi pelajaran! Seorang maniak rangsangan yang gila dan pemaksa.

Jane harus memberi lelaki ini pelajaran. Haruskah ia mewakili seluruh wanita yang sakit hati dan fisiknya karenanya, lalu mengirim lelaki gila ini ke neraka?

“Oh, kau ingin balas dendam padaku atas sifat serigalamu yang gagal memangsaku dengan tali pertunangan? Baik aku akan menerima pertunangan ini. Tapi jangan menyesal setelah kau mengambil keputusan ini. Karena kupastikan penjahat kelamin seperti mu ini akan menyesal! Jangan merengek saat aku mengubur dalam-dalam cacing hitam jelek itu di dalam celanamu hingga ia tidak bisa pergi pada satu lubang manapun!” Ancam Jane hendak berjalan keluar dari ruangan itu.

“Silahkan! Aku pastikan lubang hangatmu menjadi tempat bersemayam cacing tampanku hingga kau tak ingin aku menariknya barang sedetik pun! Akan kubuat kau menarik kata-kata kasarmu perawan tua lihat saja!” balas Darren setengah berteriak tak peduli dengan kemungkinan tamu atau pelayan lain mendengar ucapan vulgarnya itu.

Sialan! Selama dua puluh tujuh tahun dia hidup, baru kali ini ia merasakan kesalnya dipermalukan wanita. Selama ini ialah yang akan mempermalukan wanita dengan mengomentari tubuh atau kecantikan yang ia anggap kurang dan terlalu percaya diri berpikir bisa mendekati Darren. Namun sekarang seorang wanita yang bahkan tak secantik gadis pemujanya, atau berbadan molek, ideal semampai layaknya model Victoria secrets atau Miss Japan dengan lancang menolaknya bahkan mempermalukan dan mengancamnya.

Ia tidak boleh tinggal diam. Ia harus membalas semua perlakuan hina ini

Jane Ansley

Nama itu akan Darren tulis di list orag yang harus ia tumbangkan segera, di posisi paling atas. Paling pertama.

“Sialan kau Ansley !” pekiknya meninju tembok dengan tatapan penuh emosi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status