Married With Guy (Indonesian Version)
Married With Guy (Indonesian Version)
Author: Rinia
Pernikahan yang Tak Diinginkan

Brak!

Dengan kesan kuat yang dibuat-buat Helwi, nama seorang perempuan yang merupakan seorang lulusan kampus ternama langsung mendobrak pintu kamar seorang yang sama sekali tak ia kenal secara baik. Untuk itu hanya sekedar tahu.

Kenal, hanya saja tak sebenarnya. Tahu siapa orang tersebut akan tetapi tak kenal secara baik. 

Kenal baik dan hanya sekedar tahu itu adalah dua hal yang berbeda.

Lantas apa yang didapatkan oleh gadis tersebut?

Ada dua orang laki-laki yang sedang bercumbu panas diatas ranjang. Dengan menahan diri sebaik mungkin, semacam pertahanan, dengan cepat--secepat yang ia bisa, perempuan itu langsung menarik kerah baju seorang laki-laki yang menjadi partner ranjang seseorang yang berada di bawahnya.

Sangat mendominasi, itulah yang terlintas pada sudut pikiran Helwi. Lantas entah karena apa malah ia yang harus menjadi orang malang dalam dunia ini sebab harus berurusan dengan orang yang sangat menijikkan tersebut.

"Pergi, atau ku laporkan kau pada nonya besar!"

Harusnya kata-kata yang keluar adalah kamu, bukan kau. Perempuan tersebut biasa bersikap sopan terhadap orang lain.

Suara menggelar sungguh bukanlah karakter seorang Helwi. Sejujurnya ia adalah perempuan berhati lembut dan sangat berhati-hati. 

Akan tetapi sekarang mau tak mau ia harus berurusan dengan seorang yang sangat menyusahkan!?

Suara menggelar pun tak akan pernah cukup. Sungguh Helwi sangat muak!

"Helwi!"

Suara seseorang yang bicara itu bahkan lebih nyaring dari apa yang Helwi keluarkan.

Akan tetapi tanpa menghiraukan apapun Helwi pun langsung menyeret kasar tangan seseorang yang sangat merepotkan baginya. Siapa lagi kalau bukan orang yang sama menjijikkannya dengan orang yang berteriak menyebut namanya tadi.

Sang partner ranjang!

Hanya saja semua itu tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang terjadi setelah itu adalah Helwi kesulitan mengatasi tarikan tangan seseorang padanya yang ingin mengenyahkan laki-laki yang satunya lagi.

"Tuan Geri tolong sadar, saya sudah pusing dengan sikap Anda."

"Siapa yang menyuruh mu ikut campur urusanku!?"

"Tuan dan nyonya besar, tuan muda."

Plak!

Sudah biasa. Sungguh, semua perlakuan buruk sudah biasa Helwi dapatkan dari seseorang yang ia sebut dengan tuan muda. Bahkan pada banyak kesempatan, perempuan tersebut mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi dari sebuah tamparan.

"Pergi sebelum aku mematahkan salah satu tanganmu."

Dingin dan syarat akan kemarahan, itulah nada bicara sang tuan muda.

"Saya tekankan Anda akan menyesal Tuan. Camkan itu!"

Baru saja Geri ingin kembali menampar wajah Helwi lagi, seseorang yang menjadi partner ranjangnya menghalangi perbuatan pemuda tersebut.

Sementara itu Geri yang melihat hal tersebut pun sontak langsung mendesah kuat.

Awalnya perempuan itu kira tubuhnya akan kesakitan hanya karena satu malam. Lebih tepatnya pada bagian wajah.

Satu tamparan Geri yang pertama saja masih terasa membekas pada wajah Helwi.

"Kamu beruntung kali ini, sekarang cepat pergi atau aku akan menghabisi mu sekarang juga," kata Geri dengan mudahnya.

"Tapi..."

"Nona, akan lebih baik jika Anda segera pergi. Saya tak bisa menahan terlalu lama."

Cih, ingin sekali rasanya Helwi meludahi wajah sok berkuasa yang ada di hadapannya. Namun apalah daya Helwi tak bisa berbuat banyak.

Jika memang sudah begini, akan lebih baik kalau perempuan tersebut segera pergi dari tempat tersebut. Jika tidak maka ada banyak hal yang terjadi kalau ia tak segera pergi.

Sangat merepotkan.

Tanpa ada yang tahu bahwa dari kejadian itulah terjadi hal yang membawa banyak perubahan dalam masing-masing kehidupan.

Baik antara Helwi, Geri maupun seseorang yang menjadi partner ranjang, tak akan pernah ada yang tahu.

Hidup itu keras dan tak berperasaan. Itulah hal terjadi. Semua akan lebih buruk atau tidak sama sekali.

Tak ada yang tahu.

***

Saat ini Helwi hanya bisa menatap nanar wajah polesan penuh make up pada wajahnya. Hari dimana seseorang menikah yang biasanya menjad sesuatu yang membahagiakan dalam kehidupan dan juga sebagai sejarah perjalanan hidup. 

Hanya saja apa yang terjadi saat ini adalah sebuah pengabdian malah berujung pada sebuah malapetaka yang tak berkesudahan.

Kejadian yang menjadi sebuah kegilaan yang nyata, yang mampu mengubah takdir kehidupan.

Tak akan ada orang yang tahu.

Ceklek.

Helwi sama sekali tak melihat pada seseorang yang datang tersebut. Terserah dengan apa yang terjadi yang jelas perempuan itu hanya ingin tetap berada pada tempatnya saja.

Mengabaikan eksistensi orang yang baru saja membuka pintu.

Bahkan jika perlu bersikap bahwa ia sedang sendirian.

"Cepat mandi."

Pada akhirnya Helwi pun melihat pada orang yang bicara itu. Tanpa membuang banyak waktu Helwi langsung pergi.

Bahkan keadaan, situasi dan kondisi sama sekali tak berpihak padanya. Begitupun dengan seseorang yang sama sekali tak menghiraukan keberadaannya. 

Sebuah pernikahan yang tak berdasarkan apapun, itulah yang terjadi.

Pernikahan yang tak ada artinya. Yang ada hanyalah keterpaksaan.

"Menyebalkan, bagaimana caraku untuk melepaskan benda ini?"

Helwi sedang bicara pada diri sendiri saat ia tak bisa membuka kancing resleting gaun pernikahan. Siapa yang bisa dimintai bantuan?

"Apa harus tuan Geri, ah tidak, aku tak bisa melakukan itu. Tapi..."

Setelah memejamkan mata cukup lama pada akhirnya Helwi pun memutuskan untuk menggunting gaun. Toh tak akan ada orang yang marah, tentu saja.

Tidak akan pernah ada yang marah.

"Apa yang kau lakukan?"

Seketika itu juga Helwi yang baru saja ingin mengunting gaun pun jadi melihat pada sumber suara.

Pertanyaannya, kenapa orang yang seharusnya tak akan pergi menghampiri perempuan tersebut bisa berada disana?

Aneh kan?

Begitu pun yang dipikirkan oleh Helwi sekarang. 

Ada apakah gerangan?

"Ada apa?" tanya Helwi yang langsung melihat orang yang tiba-tiba datang menghampirinya.

Apalagi yang akan terjadi terjadi setelah itu?

Tiba-tiba mata Helwi pun langsung membelak kaget saat melihat Geri, seseorang yang ia panggil dengan 'tuan muda', perlahan mendekatinya sambil membuka satu persatu kancing baju.

What the hell?!

Mereka memang sudah menikah, akan tetapi hal itu terjadi hanya karena keterpaksaan. Walaupun tak ada surat kontrak pernikahan atau sesuatu seperti itu, tetap saja keduanya tak akan pernah bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan normal.

Tak akan pernah.

Lalu ya sungguh, Helwi yakin 100% bahwa orang yang sering ia panggil tuan tersebut pasti tak akan berbuat macam-macam.

Secara kan orientasi seksualnya berbeda haluan. Tapi..., kenapa sekarang malah bersikap begitu?

"Eeh Geri, kamu mau apa?"

Selesai sudah, saat ini Helwi pun hanya memikirkan hal yang macam-macam. Tak hanya itu sebuah nama pun juga keluar dengan sendirinya.

Benar, kedua orang itu berasal dari kampus yang sama hingga memang pantas hanya menggunakan panggilan nama.

Itu adalah hal yang wajar.

Sementara itu Helwi adalah anak dari salah satu pengawal kepercayaan keluarga Fahrezi. Nama keluarga yang punya perusahaan terkenal tersebut adalah Fahrezi. Nama keluarga yang disandang oleh Geri.

Lantas semenjak ayah Helwi meninggal, maka sejak itulah keluarga Fahrezi pun mengangga Helw sebagai anak sendiri.

Alasannya adalah karena keluarga Fahrezi tak punya anak perempuan, mereka hanya punya satu anak laki-laki alias tunggal.

Biaya kuliah, hidup dan lain sebagainya ditanggung oleh keluarga baik tersebut. Bahkan walaupun kepala keluarga Fahrezi tak mengadopsi Helwi dengan memasukkan perempuan tersebut pada kartu keluarga, setiap kali ada pertemuan ataupun rapat, maka tuan atau nonya Fahrezi lah yang akan datang.

Geri dan Helwi pun juga dibesarkan dari kecil sampai dewasa secara bersama-sama, maka dua orangtua tersebut sudah bersikap biasa saja terhadap keduanya.

Anak baik, itulah gelar yang didapatkan oleh Helwi secara tak langsung.

Lantas, sebagai bentuk balas budi, Helwi pun menjadi penjaga, teman sekaligus orang yang mengawasi pergerakan Geri.

Tak ada yang menyuruh perempuan itu menyebut Tuan muda, Tuan dan Nyonya. Malahan yang ada adalah Kakak, Papa dan Mama.

Hanya saja, Helwi sudah terbiasa dengan sebutan yang ia gunakan. Maka dari ia akan tetap menggunakan kata-kata itu.

Hingga ya akan tetap terus begitu, bahkan di depan tuan dan nonya Fahrezi sekalipun.

Tak masalah, selama Helwi merasa nyaman, maka tak akan ada yang keberatan. Termasuk tuan dan nyonya Fahrezi sekalipun.

Helwi cukup sadar diri untuk tak sembarangan memanggil nama seseorang. Terlebih itu adalah orang yang sangat dihormatinya.

Karenanyalah ia akan terus memanggil dengan sebutan tuan, nonya dan tuan muda.

Lalu sekarang, kata 'tuan muda' yang sering Helwi gunakan pun tak lagi terdengar dari mulutnya. Berganti dengan hanya nama saja.

"Siapa yang menyuruhmu untuk menerima pernikahan ini!? Apa yang sedang kau pikirkan, menginginkan harta, kan!?"

"Jaga mulut Anda, Tuan!"

Seketika itu juga Helwi jadi terlihat sangat gila dengan apa yang terjadi. Memang benar-benar gila.

"Kau!"

Helwi pun sontak langsung memejamkan matanya. Bukan karena pasrah, akan tetapi lebih ke arah takut.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status