Siapa yang akan Menang?

"Kau menghinaku, Helwi?" tanya Geri dengan wajah tanpa ekspresi.

"Tidak bukan Geri, aku hanya..."

Belum sempat Helwi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Geri pun kembali menyatukan bibir keduanya. Hanya saja kali ini dengan tempo yang lebih cepat dari yang pertama. 

Terburu-buru serta diikuti oleh nafsu, yang entah kapan, hal tersebut bisa saja akan semakin membuat Geri kehilangan akal.

Melupakan niat awal yang ingin mencoba gaya bercinta yang baru.

"Ge..., ri."

Dengan susah payah Helwi menyebut perkataan tersebut. Hanya saja walau apa yang Helwi katakan, ciuman penuh nafsu Geri tak berhenti juga. 

Sudahlah, dengan ini Helwi hanya bisa pasrah terhadap keadaan.

Walau apapun yang terjadi, Helwi harus memperjuangkan kehidupan normal impiannya. Untuk itu mau tak tahu ataupun seamatiran apapun ia, Helwi harus bisa membuat Geri tertarik dengan aktivitas malam pertama mereka.

Jikapun tak tertarik, setidaknya Helwi harus bisa membuat Geri terkesan. Walau dengan itu mau tak mau Helwi harus merelakan bagian paling berharga dalam dirinya hilang begitu saja.

Tak mau kalah, dengan insting sebagai perempuan normal Helwi pun perlahan mulai mengimbangi permainan lidah dan sentuhan yang diberikan oleh Geri.

Perempuan itu membiarkan apa yang normal terjadi. Insting atau apapun itu, semuanya terjadi begitu saja.

Mengabaikan serta melupakan segala kemungkinan yang sempat ia pikirkan.

Memang terlalu berisiko jika berhubungan intim dengan Geri, hanya saja apa ada pilihan untuk Helwi?

Tidak ada!

Ingin jungkir balik pun akan terus begitu.

Saat ini Helwi hanya merasa buruk, seluruh tubuh perempuan itu rasanya seperti tersengat listrik berkekuatan sedang. Kalau tegangan tinggi kan langsung mati, bukannya seperti ada yang aneh terhadap sesuatu.

Terbayang tidak?

Sudahlah, abaikan.

Kemudian, entah sejak kapan tubuh kedua orang yang meyandang status sebagai pengantin baru itu sudah berada diatas ranjang.

Helwi tak tahu apa yang terjadi, yang jelas ia sudah terbawa arus yang sama sekali tak ia mengerti.

Sebuah permainan gila yang menjerat. Bagai sebuah racun yang menyebar dan mengambil alih semuanya.

Racun yang membunuh.

Semua terjadi begitu saja. Helwi kehilangan arah.

"Ge... ri." 

Kembali terdengar suara Helwi yang terasa tercekat di tenggorokan. Pada akhirnya malam itu kedua orang yang berbeda jenis kelamin tersebut melakukan kegiatan sepasang pengantin baru pada umumnya.

Tak ada yang tahu mengenai apapun, yang ada hanyalah ketidakyakinan terhadap apa yang terjadi dan tidak.

Sebuah jalan untuk kehilangan pada apa yang nyata dan semu.

Semua hal yang menggelisahkan.

***

"Eunggh."

Helwi menggerakkan tubuhnya perlahan. Sebuah mimpi buruk membuat ia terbangun. Baru sedetik bangun dari mimpi buruk yang menimpa, Helwi pun sontak langsun membelalakkan matanya.

"Aaa!!!"

Bugh. Suara seseorang yang jatuh dari ranjang pun terdengar. Sang korban yang sebelumnya masih tidur pulas sontak terbangun.

Dengan tatapan nyalang Geri, orang yang menjadi korban atas keterkejutan Helwi pun langsung bicara.

"Apa yang kamu lakukan!?"

"Tu-tuan, kita kenapa?" 

Bukannya menjawab pertanyaan Geri, apa yang terjadi justru adalah Helwi malah bertanya balik.

Jujur saja, Helwi pikir awalnya semua yang terjadi semalam adalah mimpi, sebuah mimpi buruk yang membuat ia jadi terbangun.

Lantas apa yang terjadi sebenarnya adalah kenyataan?

Sakit sekujur tubuh seketika membuat Helwi berpikir keras.

Tunggu..., satu detik, dua detik, tiga detik.

"Aaa! Tuan, cepat pakai baju Anda!"

Terlambat, sungguh. Setelah melihat dan menyadari bahwa Geri sama sekali tak mengenakan pakaian alias shirtless, baru akhirnya Helwi langsung menutup mata. 

Padahal sudah terlambat lho.

Ck, ck, ck. Helwi..., Helwi.

Untung saja Geri menggunakan celana boxer. Walau begitu masih saja membuat Helwi blushing.

Satu hal yang Helwi syukuri, setidaknya celana boxer yang Geri kenakan tak memperlihatkan sesuatu seperti adik kecil...?

"Berisik! Tutup mulutmu atau aku akan mencium."

Mencium apa, sontak Helwi jadi merinding oleh perkataan Geri. Tunggu..., sepertinya perempuan itu jadi teringat akan sesuatu.

Benar!

Perjanjian!

Jika apa yang ia alami ini bukan sebuah mimpi, itu berarti ada sebuah perjanjian yang mereka buat semalam. 

The dare is life!

Sebuah penentuan nasib hidup!

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku ingat sebuah perjanjian. Ada dua, dan kita menggunakan yang terakhir. Jadi apa keputusan Anda, Tuan?"

Helwi sontak semakin mengeratkan selimut saat Geri perlahan mendekat kearahnya. Apa yang akan orang itu lakukan?

Sungguh, Helwi benar-benar sangat takut.

"Diam dan jangan melakukan apapun. Aku masih ingin memastikan sesuatu."

"Memastikan apa?" tanya Helwi spontan.

Sontak pertanyaan Helwi membuat Geri menggeram marah. Ternyata dibalik sikap sopan perempuan itu selama ini, sejatinya ia adalah orang yang sangat cerewet dan menyebalkan.

Geri tak suka orang yang banyak bicara.

"Balas apapun yang ku lakukan. Kamu hanya perlu melakukan itu."

"Apa yang harus ku balas?" tanya Helwi lagi.

Sungguh, perempuan itu sama sekali tak tahu apa yang sedang dikatakan oleh sang tuan muda. 

Salahkanlah otak polos Helwi atau ia yang sedang dalam mode lemot.

Baru bangun tidur memang begitu lho.

Lalu pada detik berikutnya Geri langsung menempelkan bibir keduanya. Setelah itu itu terjadi Helwi pun seketika langsung mematung ditempat. Ia jadi tak tahu harus melakukan hal seperti apa. Semua terlalu tiba-tiba.

Orang itu sama sekali tak tahu harus bersikap seperti apa.

"Helwi, ku bilang balas atau aku akan melakukan lebih. Seks morning terdengar bagus."

Sebelum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Geri, Helwi hanya mengerjapkan mata berulang kali. Sungguh perempuan tersebut sama sekali tak mengerti akan apa yang terjadi.

Yang ia tahu hanyalah Geri yang langsung menciumnya lagi. Tak hanya itu, Helwi sontak membulatkan mata saat merasakan tangan Geri sudah bergerak nakal.

Tidak, saat ini saja Helwi merasa ada rasa sakit pada bagian selangkangannya. Kalau seks morning terjadi, sungguh Helwi sudah tak bisa lagi menerima.

Apa yang terjadi setelahnya adalah dengan sekali gerakan Helwi pun akhirnya bisa melepaskan diri dari kurungan Geri. 

"Cukup dengan kegiatan memastikannya. Sekarang jawab pertanyaan ku yang tadi, Tuan," kata perempuan itu sebelum akhirnya menundukkan kepala dalam saat melihat tatapan super dingin dari seorang Geri.

Dia akan bebas atau berakhir dengan orang yang tak bisa mengendalikan emosi dengan benar. Semoga saja dengan ini, Helwi bisa menjalankan kehidupan normal yang walaupun harus sebagai seorang istri dari orang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan menjadi pasangan hidup.

Siapa yang mau menghabiskan hidup dengan seorang guy yang punya sikap kasar?

Walau apapun yang Geri lakukan, pada akhirnya ia pun menjawab pertanyaan Helwi juga.

"Ada yang aneh saat aku menyentuh tubuhmu. Aku tak tahu apa itu, jadi aku tidak tahu apa jawabannya."

Ha?

Kalau saja boleh, Helwi pasti akan menganggakan mulut besar-besar sampai bahkan lalat bisa saja masuk ke mulutnya

Tidak tahu, jadi posisi dan keadaan Helwi digantung?

Yang benar saja!?

Helwi tak akan pernah bisa menerima.

Akan tetapi..., memangnya perempuan itu punya pilihan?

Jawabannya tidak.

"Perasaan aneh seperti apa yang kamu rasakan?" tanya Helwi lagi.

Ia memang bukan pakar cinta, akan tetapi sebuah kepastian keadaan adalah hal mutlak yang harus ia dapatkan. Tidak bisa tidak, itu adalah sebuah keharusan.

"Seperti ada sengatan listrik, aku ingin menyentuh lebih dan lebih," jawab Geri yang lebih tepat disebut seorang anak kecil yang bertanya nama sebuah benda ketimbang menjelaskan.

Sementara itu Helwi pun Hanya bisa mengerutkan kening. Perempuan itu sedang berpikir mencari diksi yang tepat untuk menerjemahkan perkataan sang tuan muda.

Disamping juga merasa bingung terhadap apa yang ia pikirkan sendiri. Sebab..., ia pun juga merasakan hal yang sama.

"Oh ya, itu normal terjadi. Insting sebagai manusia yang sedang berhubungan intim. Jadi tak ada rasa cinta dalam setiap sentuhan, semua hanya karena terbawa suasana dan apa yang tengah terjadi. Baiklah, biar ku ganti pertanyaannya, apa kamu tertarik untuk terus melakukan hubungan intim tersebut?" tanya Helwi lagi. 

Saat ini perempuan tersebut sedang bicara sebagai seorang pengamat bukan pakar cinta. Logikalah yang bekerja bukan perasaan.

Setiap sentuhan lumrah terjadi, tak ada rasa cinta atau sesuatu semacam itu dari setiap sentuhan yang tercipta.

Lalu apa yang terjadi antara kedua orang tersebut adalah saling berpandangan satu sama lain.

Sebuah kesempatan hanya terjadi satu kali. Karenanyalah jawaban Geri sangat berarti bagi Helwi. 

Kebebasan yang menjadi kelanjutan hidupnya bergantung pada apa yang laki-laki tersebut katakan.

"Aku...?"

"Apa?"

Apa, nantikan setalah yang satu ini ya.

See you more!

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status