Hubungan Buruk dalam Keluarga

Sebuah senyuman pun terlihat pada sudut wajah Helwi. Jika ada yang namanya Dewi Fortuna, maka perempuan itu dengan senang hati akan menyembah dan bersujud syukur!

Ah tidak, pujian syukur tersebut akan ia tujukan pada kekuasaan Tuhan.

Masih ada keadilan walau secuil.

Lalu Helwi pun berhasil mendapatkan itu. Ini terlihat seperti mendapatkan holy hoky.

Bersyukurlah dengan kemampuan berbicara Helwi yang cukup bisa diandalkan. Hingga pada akhirnya, setelah sekian lama akhirnya perempuan tersebut mendapatkan sedikit harapan.

Apalagi yang lebih baik dari sebuah kebebasan yang hakiki?

Terlebih memang hal itulah yang dinantikan dan dicari oleh Helwi selama ini.

Hasil 'musyawarah' yang terjadi antara Geri dan Helwi adalah, perempuan itu bisa bebas melakukan apapun yang ia inginkan. Walau masih dengan status yang belum jelas apakah pernikahan masih akan berlanjut atau tidak.

Sebab, Geri masih bingung dan bimbang dengan eksperimen satu malam yang mereka lakukan. Hanya saja walau apapun yang terjadi, satu hal yang pasti, Helwi pun punya hak veto tersendiri.

Terlebih kedua orang tersut akan pindah tempat tinggal ke sebuah apartemen yang dipersiapkan keluarga Fahrezi sebagai hadiah pernikahan. Untuk itu Helwi akan lebih mudah mencapai kebebasannya.

Hari itu adalah hari terakhir bagi sepasang pengantin baru tersebut berada dalam kediaman mewah milik keluarga Fahrezi.

Sekarang..., nikmat mana yang kau dustakan?

"Sayang, bagaimana malam pertama kalian?" tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan nonya Fahrezi.

Sontak pertanyaan tersebut pun membuat Helwi tersedak. Tentu saja, mereka sedang makan saat itu.

Sedang makan saja apa yang Helwi dapatkan adalah sebuah pertanyaan mencolok di pagi hari?

Untung saat itu Helwi tidak sedang makan makanan yang terlalu berat, hanya sebuah roti kesukaannya.

Kalau makanan berat mungkin akan tersangkut pada kerongkongannya.

"Ma tolong jangan bahas malam pertama saat sarapan," ujar Geri sedingin mungkin.

Apa yang sedang dipikirkan oleh sang Mama benar-benar merepotkan. Pagi-pagi sudah main tanya mengenai malam pertama.

Seakan-akan sudah tidak ada lagi tema lain yang lebih bermutu daripada hal tersebut.

"Tak masalah Geri, Mamamu hanya bertanya biasa," ujar sang Papa terhadap pembicaraan tersebut.

"Itu terlalu sensitif Pa, apa kalian tidak malu?" balas Geri yang menatap tanpa ekspresi pada sang Papa.

Sedari dulu hubungan keluarga tersebut memang tak baik satu sama lain. Baik Geri maupun orangtunya hanya mementingkan ego dan kepentingan masing-masing. 

Tak ada yang mau mengalah, semua hanya terjadi begitu saja hingga tak pernah ada titik terang.

Hanya satu yang pasti, Geri telah salah melangkah hingga berakhir menjadi seorang guy.

Lalu hal itulah yang membuat Tuan dan Nyonya Fahrezi pun memutuskan untuk menikahkan Geri dengan seorang perempuan yang sangat mereka percaya.

Dengan harapan, sifat dan kelainan Geri bisa sembuh dan menjadi orang normal.

"Kami tak malu jika membicarakan masalah kelainan seksual yang terjadi padamu, Geri," jawab sang Papa sambil menatap tajam.

Cring!

Pada akhirnya Geri pun meletakkan sendok kemudian berniat pergi dari meja makan. Tak lupa ia pun juga meraih tangan Helwi untuk ikut bersamanya.

Tempat makan tersebut menjadi sangat memuakkan!!!

"Besok kami akan pergi ke apartemen yang Papa dan Mama berikan dan aku sudah kenyang."

Setelah mengatakan itu Geri pun berniat untuk membawa Helwi untuk ikut bersamanya. Padahal Helwi sendiri sama sekali belum selesai makan. 

Tak mau peduli terhadap apapun yang terjadi, Geri hanya ingin segera pergi dari tempat tersebut.

"Geri, apa kamu tak ingin memimpin perusahaan? Mau Papa berikan perusahaan kepada sepupu mu atau setidaknya sekertaris ya?"

Detik itu juga Geri pun langsung menghentikan langkah kaki. Memimpin perusahaan, tentu saja ia mau. Setelah sekian lama baru kali ini sang Papa akhirnya menyinggung soal menjadi pemimpin.

Tentu saja, itu adalah salah satu keuntungan Geri menerima perintah sakral sebuah pernikahan. Kalau tidak, mana mungkin ia menerima begitu saja keputusan sepihak dan gila tersebut.

Geri dengan segala sifat angkuh dan percaya dirinya.

"Apa masih ada syarat lain yang harus ku penuhi untuk memindahkan perusahaan atas namaku? Apa yang kalian inginkan, seorang cucu?"

Entah karena apa, Helwi spontan langsung mengepalkan tangan kuat saat mendengar Geri yang dengan mudahnya menyebut kata syarat dan cucu.

Memangnya ia adalah mesin penghasil anak yang hanya untuk mendapatkan sebuah nama dan pengakuan diatas kertas?

Sebuah pemenuhan syarat belaka. Tak ada artinya!

"Geri jaga mulutmu!"

"Apa, bukankah aku benar, kalau sudah menikah kalian pasti akan minta cucu kan. Setiap orangtua menginginkan itu saat anaknya sudah menikah!"

Plak!

Helwi hanya bisa mematung ditempat saat melihat adegan drama kolosal tampar-menampar. Perempuan satu itu tak tahu secara pasti apa yang harus ia lakukan saat itu.

"Inilah sebabnya Papa tidak bisa mempercayakan perusahaan padamu Geri, kamu terlalu mudah bicara sesenaknya. Tidak pernahkah kamu berpikir akibat dari apa yang kamu katakan?"

"Pukul, pukul saja sesuka Papa. Kalian lah yang membuatku jadi begini. Apa yang ku butuhkan itu adalah kasih sayang, bukannya harta dan kekuasaan yang kalian gadang-gandangkan. Aku mencari kebahagiaan dan kepuasan sendiri hingga salah melangkah."

"Dasar anak tak tahu diuntung!"

Niat tuan Fahrezi yang ingin menampar wajah Geri pun terhenti oleh nonya Fahrezi yang langsung menghentikan pergerakan sang suami.

"Sudah Pa."

"Saya akan berusaha lebih keras lagi, Tuan dan Nyonya. Jadi tolong jangan berkelahi."

Meski dengan suara yang terasa tercekat di tenggorokan, pada akhirnya Helwi pun bisa menyelesaikan kalimat.

Ia sangat ingin menangis akan tetapi air mata itupun juga terasa menyangkut pada pelupuk mata. Lagipula, Helwi juga tak akan membiarkan cairan bening tersebut keluar pada saat-saat seperti ini.

Helwi tak akan pernah membiarkan hal tersebut terjadi!

"Helwi, sayang, jangan bicara begitu."

Saat sang Mama ingin menyentuh wajah menantu tersebut, akan tetapi Geri sudah lebih dulu menarik Helwi menjauh agar sang Mama tak bisa merealisasikan niatnya.

"Kalian sudah menyerahkan Helwi padaku. Akan ku coba melihat peruntungan nasib antara kami, hanya saja ku tekankan, setelah ini jangan pernah mengingkari apa yang sudah kalian katakan. Jika tidak, bersiaplah untuk kehilangan garis keturunan. Keluarga kita hanya bisa punya anak sedikit saja, kan. Jika tidak, aku yakin kalian akan sangat ingin punya anak lagi."

"Kalau saja. Jika kami mau, kami bisa mengadopsi Geri. Jauh sebelum kamu masih kecil."

Geri terdiam, benar juga. Jika itu terjadi sudah dipastikan sebuah masalah yang lebih buruk lagi akan terjadi saat itu juga.

Lalu bersamaan dengan itu Geri pun melihat pada Helwi yang seperti menjadi patung manekin. Tak bernapas, pasti perempuan tersebut melakukan kegiatan bodoh tersebut.

Orang pintar itu bisa terlihat bodoh dan dungu dalam banyak kesempatan. 

Sangat ironis.

"Kamu, bernapas. Jangan mau jadi orang bodoh yang sebenarnya pintar."

"Hah..."

Benar kan apa yang Geri pikirkan. Helwi terlalu banyak makan micin hingga sering bodoh. Padahal sungguh, orang itu pintar bahkan melebihi Geri. Saat kuliah punya IPK diatas rata-rata dan tentu juga diatas Geri.

"Sayang."

"Kami akan melanjutkan makan di kamar saja. Ada yang harus ku bicarakan dengan Helwi."

"Jangan bersikap buruk pada Helwi, Geri," ujar sang Papa yang terus menatap Geri intens.

"Ck, jika kalian memang benar-benar baik, harusnya biarkan orang ini menghirup udara kekebasan bukannya malah memberi ia tanggung jawab dan harapan yang mencekik."

Setelah mengatakan itu Geri pun segera pergi dari tempat tersebut. Entah apalagi yang akan terjadi, yang jelas ia ingin segera pergi dari tempat itu saja.

"Makanlah, anggap saja aku sedang baik. Nanti setelah ini aku akan bersikap seperti biasanya," kata Geri yang menyodorkan satu piring makanan untuk Helwi.

Makanan tersebut baru saja diantarkan oleh asisten rumah.

"Tuan sendiri, apa tidak mau makan?" cicit Helwi dengan wajah yang tertunduk dalam.

Ia sedang menahan air mata yang sangat menyebalkan.

"Jangan cengeng! Atau aku akan melakukan hal buruk."

"Memangnya apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Helwi yang akhirnya mendongkrakkan wajah demi melihat wajah sang tuan muda yang saat itu sudah sah menjadi suaminya.

Detik itu juga mata lembut Helwi bertemu pandang dengan tatapan super tajam dari seorang Geri.

So, apalagi yang akan terjadi setelah itu...?

Hanya beberapa orang yang akan tahu, termasuk author. Hehehe.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status