Sepiring Berdua? (Orang yang punya niat buruk)

"Mau tahu, sekarang buka mulutmu."

Helwi sontak langsung menggelengkan kepala. Ia takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Geri. Apa yang terjadi saat itu pasti akan membuat semua bertambah buruk.

Jika bisa Helwi tak mau berada dalam kondisi yang menyulitkan, hanya saja apa ada pilihan baginya?

Tidak.

"Hanya membuka mulut, Helwi," ujar Geri yang sudah mensejajarkan diri dengan orang yang sangat ia benci tersebut.

Jangan lupakan juga cara bicara yang kelewat datar dan tatapan tajam juga.

Oleh perkataan tersebut, Helwi pun hanya bisa menundukkan kepala semakin dalam. Kemudian pada sudut hati yang paling dalam jadi berpikir kenapa ia malah jadi seperti itu.

Lemah dan tak berdaya. Dasar tak bisa melakukan apa-apa. Kalau begitu akan lebih baik mati, daripada hanya terjebak dalam situasi yang sangat menyedihkan.

Orang yang tak berdaya, apa akan lebih baik mati...?

Tak semua orang berpikir begitu kan?

Itu adalah sesuatu yang tabu.

"Helwi, lihat aku."

Apa yang Geri katakan membuat Helwi akhirnya mendongkrakkan kepala. Saat itu terjadi, yang terlihat adalah satu sendok makanan berada tepat dihadapan perempuan itu.

"Dua kebaikan dalam satu tindakan. Cepat makan sebelum aku berubah pikiran."

"Tapi Tuan juga harus makan," kata Helwi tanpa sadar.

Saat menyadari apa yang ia katakan, sontak perempuan itu pun langsung menutup mulut dengan menggunakan tangan. 

Salah, itu salah!

"Maafkan saya, tidak apa-apa, biar saya makan sendiri saja, Tuan," kata Helwi yang hendak mengambil sendok yang dipegang oleh Geri.

Orang itu tentu saja tak akan membiarkan hal tersebut terjadi, terserah dengan apa yang ia pikirkan, yang jelas Geri tak akan pernah membiarkan hal itu.

"Siapa yang menyuruhmu makan sendirian. Mau ku suapkan secara paksa atau lembut. Tapi ya, baiklah, ku rasa makan sepiring berdua tidak ada salahnya. Aku belum pernah melakukan itu dengan para lelaki sebelumnya. Jadi mari kita lakukan."

Tidak, bagi Helwi kegiatan yang dikatakan oleh Geri sangat jorok. Helwi tak pernah membayangkan ia makan dengan cara begitu.

"Sayangnya kamu tak punya pilihan selain iya."

"Dasar pemaksa," kata Helwi tanpa sadar.

Apa yang terjadi setelah itu adalah Helwi yang langsung mendapatkan satu suapan. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah itu, yang jelas Helwi hanya bisa menatap bingung.

"Dasar bodoh cepat kunyah. Kamu bukan anak kecil lagi, jangan menggoda ku dengan tatapan polos itu, aku jadi gemas tahu tidak!"

Sontak Helwi pun mengunyah makanan dan secepat itu juga ia pun juga langsung menelan makanannya. Yang tersisa hanyalah Helwi mengambil segelas air sebab makan makanan yang belum lumat sepenuhnya.

Saat itu juga mata perempuan itu pun tertuju pada sepiring makanan yang lain.

"Oh ya, kan ada satu piring lagi. Makanlah Tuan, aku akan makan yang ini saja."

"Letakkan itu Helwi atau aku akan membuat mu tak bisa berjalan!"

Dengan tubuh yang bergetar akibat kaget, Helwi pun hanya bisa menundukkan wajah lagi. Hanya saja sedetik setelah itu ia pun kembali melihat Geri.

Sebenarnya ada sesuatu yang langsung terlintas dalam pikiran Helwi, akan tetapi tak bisa ia tanyakan.

Seperti ada apakah gerangan sang tuan muda malah bersikap baik padanya...?

Ya walaupun masih dengan cara bersikap seperti biasa, yaitu kasar dan pemaksa. Itulah karakter Geri yang sesungguhnya, untuk beberapa hal tersebut Helwi pun juga sudah terbiasa.

Helwi sontak memejamkan mata sebentar saat melihat Geri dengan santainya makan dari sendok yang ia pakai. Benar-benar sepiring berdua dan menijikkan.

"Apa yang kamu pikirkan?"

"Tidak ada," jawab Helwi sambil menggeleng cepat.

Baru saja Geri ingin menyuapkan satu sendok makanan lagi, sebuah suara telepon pun menghentikan kegiatan tersebut. Tanpa membuang banyak waktu Geri pun langsung meletakkan piring makanan, kemudian melihat siapa orang yang meneleponnya.

Tidak mengatakan apapun, Geri hanya langsung main mengangkat telepon tersebut.

Lantas ternyata sang penelepon adalah salah satu teman lelaki Geri yang biasa menjadi partner ranjangnya. Tanpa memperdulikan keberadaan Helwi, Geri pun langsung mengangkat telepon itu dengan masih berada di ruangan itu juga. 

Tidak sama sekali menyingkir.

[Halo Jim, ada apa?]

Saat mendengar nama Jim, yang helwi tahu adalah Jimmy, Helwi pun sontak langsung melihat pada Geri. Akan tetapi hal itu hanya terjadi sebentar sebab Geri melihat Helwi dengan tatapan super tajam.

Dengan keberanian yang tersisa, Helwi pun hanya bisa melirik melalui ekor mata. Apapun yang terjadi, ia ingin mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Geri, suami diatas kertasnya.

[Oke, tapi tidak bisa di rumahku. Orangtuaku sedang ada di rumah. Aku saja yang menemuimu.]

[Hahaha tentu saja, sampai jumpa.]

Helwi pun hanya menatap tanpa ekspresi saat menyadari Geri yang sepertinya akan pergi.

Sangat terdengar jelas dari kata-kata yang orang itu katakan di telepon.

"Kamu mau kemana?"

"Bukan urusanmu, habiskan makanan itu dan berkemas, kita akan segera pergi ke apartemen."

"Kenapa tidak melepaskan ku dengan sebenarnya saja, kalau kamu masih berhubungan dengan orang yang salah?" tanya Helwi yang memberanikan diri.

Salahkan otak perempuan itu yang tak mau bekerja sama, bukan spontanitas ataupun sesuatu lain. Semua murni terjadi atas perintah otak yang terjadi secara cepat.

"Jangan ikut campur urusanku Helwi. Aku sudah memberikan kebebasan untukmu. Sekarang lebih baik persiapan agenda apa yang akan kamu lakukan kedepannya. Aku sedang tidak mood bersikap buruk."

Setelah mengatakan itu, Geri pun langsung menghilang dibalik pintu. Menyebalkan, itulah yang langsung dipikirkan oleh Helwi.

Jahat, tega dan tak berperasaan. Semuanya cocok untuk menggambarkan seorang Geri.

"Hiks..., Ayah, Ibu..., apa Helwi harus hidup seperti ini? Kenapa, apa yang harus Helwi lakukan. Rasanya sangat sakit, Ayah, Ibu," kata perempuan itu yang pada akhirnya memakan makanan.

Walau sedang menangis sekalipun Helwi harus tetap memakan makanan tersebut. Lagipula sudah biasa kok, Helwi makan dengan air mata yang mengalir membahasi wajahnya.

***

Sementara itu mari kita beralih dengan apa yang terjadi pada Geri dan Jimmy, seorang laki-laki pasangan yang paling sering menjadi partner ranjang orang tersebut.

Jimmy adalah orang yang juga punya kelainan orientasi seksual seperti Geri.

Lalu sebejad-bejadnya Geri, ia tak pernah melampiaskan nafsu pada orang yang bukan sealiran dengannya.

Kalau bukan karena sama-sama punya kelainan, maka Geri akan berusaha menahan diri.

Itu terbukti saat Geri masih SMA dahulu. Ia pernah menyukai seorang anak pendiam dan pintar dalam kelasnya. 

Lalu mulai dari sanalah awal mula Helwi yang juga satu kelas dengan Geri pun akhirnya mengetahui bahwa sang tuan muda ternyata punya kelainan orientasi seksual.

Geri dengan wajah merah padam menjadikan teman satu kelas tersebut menjadi fantasi untuk melakukan pelepasan. Bertepatan saat itulah, Geri yang mendesahkan nama sang teman sekelas pun dipergoki oleh Helwi yang tak sengaja masuk ke kamarnya.

Seperti sudah di gariskan takdir, mulai dari sanalah Geri yang sebelumnya tak menghiraukan keberadaan Helwi pun jadi sangat membenci perempuan tersebut. Terlebih lagi dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu yang memberitahukan kelainannya pada kedua orangtua Geri.

Tak hanya itu, Helwi dengan bodohnya juga berlagak seperti seorang pahlawan kesiangan. Geri tak terima privasinya diusik.

"Geri, apa yang kamu pikirkan?"

Sontak Geri pun langsung mengalihkan pandangan. Ia dan Jimmy masih berada dalam selimut saat baru saja selesai melakukan aktivitas panas.

"Tidak ada."

"Aku ingin bertemu dengan Helwi setelah ini, boleh kan?"

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Geri cepat.

Entah apa yang membuat hal itu terjadi, perkataan tersebut keluar begitu saja dari mulut Geri.

"Ck, aku tak akan melakukan apapun, aku hanya ingin bicara biasa saja. Boleh ya."

Orang yang bicara itu adalah seseorang yang menjadi partner ranjang Geri pada hari terakhir keputusan sakral pun menimpa hidup Geri dan Helwi, sebuah pernikahan paksa.

"Tentu saja, apapun untukmu, honey," kata Geri yang mencium lembut bibir Jimmy.

Pada sela-sela ciuman tersebut, sebuah seringaian pun muncul pada sudut wajah Jimmy.

Menghancurkan, itulah yang sedang Jimmy pikirkan.

Tanpa Geri tahu selama ini, Jimmy sebenarnya tak hanya menyukai sesama jenis tetapi juga berlainan jenis.

Kelainan orientasi biseksual. Itulah yang terjadi.

Lantas Jimmy sudah tak sabar bertemu dengan rival sekaligus mangsa selanjutnya.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status