Bab 0.4

Aku berdiri di depan kamar Bimo, yang letaknya berdampingan dengan kamar ku.

"Bimo, kamu lagi ngapain, udah tidur belum?" panggil ku dari depan kamar sambil mengetuk pintu. "Mbak masuk ya! Boleh gak!"

Tak ada jawaban, apa anak ini udah tidur baru saja jam setengah sembilan malam, masa dia sudah tidur.

 Aku memutar kenop pintu lalu membukanya, berderap masuk ke kamar Bimo, dia berada di meja belajar melipat kedua tangannya seraya membenamkan wajahnya di antara lengan.

Ku mendekat dan berdiri di sampingnya, "Bimo, kamu kenapa Dek? Kok nangis? Masa jagoan cengeng," ucapku sambil mengusap punggungnya. Dia mengangkat kepalanya mendongak menatap wajahku.

"Mbak, aku kangen Ayah dan Ibu," lirih Bimo, wajahnya begitu sayu ku melihat kesedihan yang mendalam di mata indahnya, dia sangat merindukan kedua orangtua yang sangat ia sayangi.

"Iya, sama, Mbak juga kangen Ayah dan Ibu, tapi kamu jangan sedih dong! Kan ada Mbak disini, yang selalu ada untuk kamu." Aku mencondongkan tubuh dan memeluknya.

Hatiku teriris melihat Bimo kecil menangis, dia sering merasakan kesepian kala teringat orang tuanya yang sudah lama tiada.

Aku juga merasa yang ia rasakan, kami sangat kehilangan, juga merindukan ayah dan ibu. Meskipun aku bukan anak kandungnya tapi aku menganggap mereka lebih dari orangtua ku sendiri.

Aku telah mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari orangtua Bimo, sekarang giliran aku yang harus menyayanginya dan menjaganya sepenuh hati.

"Mbak, kenapa Tuhan tak adil pada kita? Orang tua kita bukan orang jahat, tapi kenapa mereka merampas ayah dan ibu dari kita Mbak?" ucapnya di sela tangisan, hatiku sesak mendengar ucapan anak ini.

"Shhh..." Aku mendesah nafasku sesak, aku menepuk-nepuk punggung Bimo dengan lembut.

"Dek, kamu jangan bicara seperti itu, kamu masih inget kan, apa kata Pak ustadz, kita jangan sekali-kali mengatakan tuhan itu tidak adil! nanti kita berdosa, Tuhan maha adil Dek, jangan su'udzon padanya, kita harus selalu husnudzon! Harus berbaik sangka," terang ku agar Bimo tak selalu mengeluh dan menyalahkan takdir.

Hatiku juga terluka bila teringat kejadian itu, tangis Bimo mengiringi setiap malam kami, semenjak kepergian ayah dan ibu dunia ini terasa sepi dan hampa,

Tapi aku harus kuat demi Adikku. Meski ada Om Doni yang menemani kami namun dia tak seperti ayah dan ibu. Mungkin karena dia pria lajang yang belum paham mengurusi anak-anak seperti kami.

"Tapi Mbak, kita udah gak punya orangtua, Om Doni sebentar lagi pindah dari rumah ini, masa kita tinggal berdua? Aku gak mau Mbak, aku takut, nanti ada penjahat lagi masuk ke rumah ini."

Rupanya Bimo masih trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu, sama aku juga masih trauma, namun aku selalu melawan rasa takut itu, aku selalu di ajarkan harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh oleh ibu panti.

Ibu panti selalu memberi nasehat, sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ketika aku menangis karena aku anak yang tak di harapkan oleh orangtuaku.

Namun beliau selalu mengatakan bahwa aku ini gadis yang kuat, belasan tahun yang lalu aku di temukan dalam tong sampah di bawah guyuran hujan, dengan tubuh menggigil dan kedinginan.

Katanya kondisiku sangat memprihatinkan  dan kritis, tapi aku bisa melawan rasa sakit ku, aku tangguh, dan harus kuat, itulah yang selalu di tanamkan oleh ibu panti dalam diri ini.

"Bimo, dengerin Mbak, meskipun kita tinggal berdua di rumah ini, tapi Mbak yakin kamu berani, kamu anak yang hebat, lagian penjahatnya kan sekarang masih di penjara, jadi gak mungkin, dia kembali lagi kesini,"

"Iya Mbak, ku harap seperti itu, tapi Om Doni kok tega ya sama kita? Apa dia sudah tak mau lagi menemani kita Mbak?"

"Adek Mbak yang ganteng, Om Doni akan mempunyai keluarga baru, jadi kita gak ada hak untuk melarang dia pergi dari sini!" ucap ku pelan.

"Tapi Mbak, aku takut," lirih Bimo memelukku erat, dia selalu manja padaku meskipun dia kini sudah sudah usia sembilan tahun tapi manjanya sama seperti dahulu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status