Bab 0.5

"Tenang, ada Mbak, tapi kalau kita bicara sama calon istri Om Doni, siapa tau istrinya mau tinggal di sini, tar Mbak yang ngomong dan bujuk dia," ujar ku.

Ku melepas pelukan, kedua tangan membingkai wajahnya, ku usap lembut air mata yang membekas di pipi chubby nya dengan ibu jari.

"Mbak Tia, sayang gak sama aku? Apa Mbak nanti kalau sudah dewasa, terus menikah, Mbak juga mau tinggalin aku,"

"Gak, Bimo, Mbak gak akan tinggalin kamu sampai kamu dewasa nanti, dan kamu memiliki keluarga sendiri, jikalau suatu saat nanti kamu sudah memiliki pendamping hidup, Mbak baru bisa tenang ninggalin kamu dengan keluarga baru kamu," terang ku panjang lebar.

"Gak Mbak, aku gak mau punya pendamping hidup,"

"Loh kok," aku menautkan alis keheranan.

"Aku mau, Mbak Tia yang menjadi pendamping hidup aku nanti!" ucapan Bimo membuat aku tercengang.

Ku menanggapinya dengan senyuman, mungkin dia hanya bergurau, dasar anak kecil, apa yang ada dalam fikirannya, aku ini kakaknya kenapa dia bicara seperti itu.

"Bimo, kamu ngomong apa sih Dek?"

"Aku mau, Mbak jadi pendamping hidup aku! jikalau aku sudah dewasa nanti." Dia mengulangi ucapannya lagi, hadeeh... aku mendadak atsma mendengarnya.

"Kan Mbak ini kakak mu, mana boleh kakak beradik menjadi pasangan hidup!"

"Aku tau, Mbak itu bukan kakak kandungku, jadi kita gak di haramkan untuk menikah, di masa depan nanti,"

What? Aku tepok jidat mendengar kata yang keluar dari bibir mungilnya. Dari mana dia tau aku ini bukan kakak kandungnya, ucapnya membuat aku bergeming sesaat.

Anak ini benar-benar polos, siapa sih, orang yang telah memberi tau dia tentang status aku di dalam keluarganya, kalau aku tau, akan ku damprat dia habis-habisan.

"Kamu jangan ngarang Bimo! Mbak ini kakak kamu, Awas ya akan ku cabik-cabik orang itu, sudah membocorkan rahasia keluarga!" umpat ku, sambil meremat kertas yang aku ambil dari meja belajar Bimo.

"Bimo, emang siapa yang mengatakan, bahwa Mbak ini bukan kakak kandung mu?" desak ku, dengan tangan mengepal.

"Pak ustadz," ucap Bimo sambil mendongak, "Emang Mbak berani,cabik-cabik Pak ustadz?" tanyanya polos.

"Hak." Aku termangu kenapa pak ustadz mengatakan itu, mana berani aku mendamprat guru ngaji ku, bisa-bisa aku di kutuk karena menjadi murid durhaka, aku menggeleng pelan sambil tersenyum kaku.

 "Bimo, apa yang sudah pak ustadz katakan sama kamu?" Aku mengguncang pundaknya.

"Kata pak ustadz, kalau kita berangkat ngaji, kan kita selalu berpegangan tangan, sambil memeluk Al-Qur'an, Mbak kan sudah baligh, nah kalau nanti, jika aku sudah akhil baligh, kita kalau bersentuhan batal wudhu nya, karena bukan sodara kandung, jadi kalau kita batal wudhu nya haram memegang Al-Qur'an!" terangnya begitu enteng.

"Oh, gitu ya, kapan pak ustadz ngomong seperti itu?" Aku manggut-manggut.

"Kemaren malam, pas Mbak di luar majelis, lagi nungguin aku baca hafalan, Pak ustadz bilang sama aku, kalau kita ini saudara angkat," terang Bimo.

"Bimo, tapi Mbak gak menganggap kamu seperti Adik angkat, Mbak menganggap kamu, sebagai Adik kandung Mbak sendiri,"

"Tapi, aku cinta sama Mbak."

Hidih... Ya Tuhan bocah ini, apa yang ada di dalam isi kepalanya, kenapa dia mengatakan cinta, dari mana anak kecil seperti dia tau soal begitu?

Apa mungkin pengaruh dari teman-teman sepermainannya. Atau karena dia kebanyakan nonton FTV di saluran satu untuk semua.

"Ah Bimo, jangan ngawur kamu!" sergahku. "Kamu ini baru kelas empat SD, tau dari mana kamu tentang cinta?" lanjut ku, seraya mengacak rambutnya yang agak gondrong.

 Anak ini memang susah sekali jika aku menyuruhnya memangkas rambut, harus di bujuk dulu kadang dari pagi sampai sore.

Itu juga kalau berhasil, kalau tidak ya sudah, nunggu ketua kelasnya yang memotong rambut Bimo.

"Ya aku tau lah Mbak, arti cinta itu apa, tayangan di TV juga banyak, bahkan anak-anak sekolah banyak yang pacaran."

Wardaw ampun deh ah... Rasanya aku pengen ngunyah sirih terus ku semburkan sama Bimo biar dia sadar dari gurauannya.

"Astaghfirullaah, Bimo." Aku mengelus dada. "Ini udah malam, tidur sana! Besok bangun pagi, jangan lupa solat subuh, kamu udah gede, sudah wajib belajar solat!" sanggah ku, di tutup dengan cubitan di pipinya.

"Sakit!" Bimo mengelus bekas cubitan ku.

"Lagian," pungkas ku. 

Lebih baik aku segera pergi, menghindari perkataan dia yang belum pantas ia ucapkan.

Cinta dia bilang, aku aja belum tau itu cinta seperti apa, manis atau pahit, ataukah rasanya nano-nano, aku tak tau, karena aku masih jomblo, Bimo yang selalu melarang aku punya pacar.

"Mbak gak konsisten, tadi bilangnya aku masih kecil pas ngomong cinta, kenapa sekarang bilangnya aku udah gede ketika nyuruh aku sholat?"

"Kalau untuk cinta-cintaan, kamu memang masih kecil, belum umur, tapi kalau untuk belajar melaksanakan kewajiban, kamu sudah harus karena sudah mulai gede, belajar itu harus sedini mungkin, biar nanti ketika sudah dewasa jadi terbiasa, gak usah di suruh-suruh lagi untuk beribadah," ujar ku panjang kali lebar kaya danau Toba.

"Oh, kan aku juga rajin, ibadahnya Mbak,"

"Solat subuh, kamu jarang, apalagi hari Minggu, bablas tidur sampe jam sepuluh, udah tidur sana! Takut kesiangan!"

 Aku mengangkat kedua bahunya ke atas dan menggandengnya ke tempat tidur. Lalu aku menekan pundak Bimo agar dia merebah. 

"Mbak, aku belum ngantuk!" sergahnya.

"Jangan banyak protes! Tuh liat jam berapa?" ucapku mendongak seraya menunjuk ke arah jam dinding.

"Jam, setengah sepuluh Mbak,"

"Udah gak usah bantah!" Aku menyelimuti tubuhnya, lalu mencium keningnya sebagai rasa sayang kakak kepada adiknya.

"Ih, Mbak, galak!" protes Bimo, sembari mengerucutkan bibirnya.

"Tidur ya Dek, besok pukul setengah lima pagi, Mbak bangunin untuk solat bareng, sekarang Mbak juga mau tidur, udah ngantuk."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status