Bab 0.8

Awal pekan adalah awal semangat baru untuk menyambut hari. Ku lirik jam di pergelangan tangan, menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit masih banyak waktu luang, untuk sarapan dan beres-beres, aku selalu bagi tugas sama Om Doni soal pekerja'an di rumah ini, kecuali Bimo anak manja.

Ku berdiri di depan cermin, sambil menyisir rambut ku yang panjangnya sebahu, ku sematkan jepitan warna silver berbentuk love, di sisi kiri bagian atas kepala.

 Aku sudah siap untuk mencari ilmu di SMU Karunia Bakti, ku kenakan baju kebangaga'an ku, seragam putih abu-abu dan sepatu hitam dengan sedikit garis putih menyamping, di setiap sisinya.

Lalu kuraih tas selempang berwarna hitam, yang sudah ku siapkan di atas meja belajar, tempat ku membawa semua alat tulis dan perlengkapan sekolah.

Ku tatap wajah ini, dengan seksama, aku semakin dewasa, tinggi ku juga sudah bertambah, Mungkin tinggi badanku sekitar 158 cm.

 Aku baru sadar tak lama lagi usiaku menginjak delapan belas tahun, sebentar lagi aku punya KTP, ku tak sabar ingin segera punya identitas penduduk.

"Bismillah," ucap ku seraya menarik nafas dan keluar kamar, menuju kamar Bimo untuk mengajaknya sarapan, barangkali dia sudah tak ngambek lagi seperti tadi, saat dia melihat ku dengan om Doni.

 "Dek, kita sarapan dulu yuk! Nanti ke buru dingin nasinya," ucap ku sambil berjalan ke arahnya. Dia masih duduk bersila di atas tempat tidur dengan bantal di pangkuannya, seraya menopang dagu.

"Gak ah, aku gak laper," jawabnya menggeleng pelan. "Mbak aja sana! Siapa tau pengen makan berdua sama Om Doni,"

"Hm." Aku menarik nafas panjang agak sedikit kesal.

Gemes banget sama ini anak pengen ku plintir ususnya kalau bisa, tingkahnya semakin kesini semakin aneh, masih aja cemburu kepada Om Doni, heran aku.

Ku lihat rambut Bimo masih acak-acakan juga agak sedikit basah bekas keramas, ku ambil sisir berwarna hitam dari atas meja, lalu ku menata rambutnya yang agak gondrong.

Saat aku merapikan rambutnya, dia hanya diam tak bersuara dan tak membantah, seperti biasa ketika moodnya sedang kurang baik.

"Dek, rambut kamu ini udah panjang loh, nanti pulang sekolah, mampir dulu ke pangkas rambut yuk! kita cukur! Biar kamu tambah ganteng," bujuk ku sambil menyisir rambutnya di belah samping.

"Gak mau, Mbak aja yang cukur rambut!" ketus bocah berseragam merah putih, dengan topi masih di tangannya, juga dasi yang terpasang belum sempurna, ku rapikan penampilannya dari baju hingga dasi.

"Hallaah, Mbak kan cewek, masa ke pangkas rambut," sergahku, ku raih kedua bahunya dan menarik tubuh mungil Bimo, ku ajak dia berdiri di depan cermin lemari pakaian.

"Apa sih Mbak, gak jelas amat, kenapa aku di ajak ngaca?" tolak Bimo menggerakan pundaknya dari cekalan tangan ku.

"Dek, liat bayangan kamu di cermin! Ganteng kan, apalagi kalau di rapi'in rambutnya, nanti banyak yang ngefans loh, sama kamu!" ujar ku, seraya mencondongkan tubuh, dan mendekatkan wajahku dengan wajahnya.

"Di bilang gak mau! Ya gak mau, maksa amat, sih,"

"Hm, apa nunggu, Pak guru yang motong rambutnya, biar di botakin sekalian!" ucap ku mencoba mengingatkan, sekaligus menakuti dia supaya mau menurut padaku.

"Ck hah." Bimo berdecak kesal mendengar  ucapan ku.

 "Bimo, dengerin Mbak! kamu masih inget kan pesan ibu? Ibu bilang kamu harus nurut sama Mbak, kalau kamu nakal, ibu sama ayah nanti sedih loh di alam sana, karena kamu tak seperti yang mereka harapkan!" terang ku panjang lebar, moga aja Bimo mau mendengarkan perkata'an ku.

"Iya, iya, nanti aku mau potong rambut, tapi Mbak yang cariin modelnya! Mana yang cocok buat aku." ucapnya malas.

Aku menghela nafas panjang, ada-ada saja ini bocah. Tinggal potong saja apa susahnya coba, yang penting kan rapi dan enak di lihat.

"Iya, nanti Mbak yang tentuin gayanya kaya apa, biar kamu tambah ganteng,"

"Mbak," ucap Bimo mendongak menatap wajahku.

"Apa Dek?"

"Mbak, beneran gak suka sama Om Doni?" telisiknya, aku tersenyum mendengar pertanyaannya yang tak masuk akal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status