The Official Mistress
The Official Mistress
Author: Shanshan
Lamaran Instan

Suasana sore hari di sebuah kafe bergaya minimalis modern bernuansa all blue, di pusat ibu kotanya Indonesia. Terdengar alunan musik jazz yang indah dan nyaman didengarkan telinga. 

Padahal suasana di luar kafe sana dipenuhi dengan keriuhan lalu lintas yang mulai padat karena dibarengi dengan jam pulangnya para pekerja.

Sedangkan di dalam kafe, meski begitu tenang. Ada salah satu penghuninya yang merasa terganggu oleh suara yang dihasilkan dari benda pipih lebar menggantung di salah satu dinding kafe.

"Apa nggak ada berita atau gossip lain selain mereka berdua? Menyebalkan sekali, padahal inginnya melihat wajah lain yang lebih tampan dibandingkan dia," gerutu seorang gadis yang mengibaskan rambut panjang bergelombang indahnya dengan kesal.

Gadis cantik yang memiliki paras campuran Indo-Korea itu bernama Alexandra Dhana Ganendra. Ia adalah pemilik kafe yang modern minimalis itu. 

Gadis itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang tengah  diduduki sembari melipat kedua tangan di depan dadanya. Matanya mengedar ke arah sepetak taman bunga yang sengaja dibuatnya pada depan kafe bagian dekat dinding, tujuannya agar terlihat lebih asri dan hijau.

"Sandra, kamu ini mirip sekali dengan nenek-nenek kalau sedang mengeluh seperti itu," sindir seorang pria tampan yang mengenakan seragam khas Chef warna putih.

Sindiran tadi membuat Sandra menoleh ke samping. Dan ia mendapati pria itu tengah berjalan ke arahnya dengan memegang sebuah nampan kayu berpelitur.

"Makan dulu kuenya, agar mood mu membaik," lanjutnya lagi sambil meletakkan cangkir putih  yang berisi kopi favorite Sandra dan juga sepiring cake berwarna merah.

"Heh! Awan mendung, nggak usah ngejek deh ya?!" tukas Sandra dengan jengkel. 

Ia mencebikkan bibir, sedangkan pria yang bernama Awan tadi hanya mendengus yang kemudian ikut duduk di kursi yang ada di depan gadis itu.

"Anggap saja begitu ..." balasnya santai, melemparkan tatapan puas pada Sandra.

"Apa kamu nggak takut kupecat?" Aku menaikkan sebelah alisku untuk menantangnya.

"Dan apa kamu nggak takut rugi kalau memecatku? Di mana lagi kamu bisa mendapatkan chef tampan dan bersertifikat go internasional sepertiku yang mau bekerja di kafe sederhana seperti  milikmu ini?" ujar Awan sedikit membusungkan dada.

Awan melirik ke sekeliling kafe yang memang cukup minimalis dan tidak bisa dikatakan mengantongi status bintang lima itu.

'Aish sial, dia tahu saja kelemahanku,' rutuk Sandra dalam hati.

Sandra tidak bisa memaki pria itu secara langsung,  jadi hanya bisa meringis dan mengumpatinya dalam hati. 

Meski Awan menyebalkan, tapi Sandra tetap mengutamakan penghitungan neraca laba ruginya. Seorang pengusaha harus meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Walaupun dengan imbas menerima ejekan dan hujatan dari chef-nya.

Karena menurut Sandra, Awan adalah sumber pundi-pundi uangnya.

"Terserah padamu sajalah kalau begitu, memangnya aku bisa apa ..." ujar Sandra pasrah dengan merosotkan bahunya.

Ingin melawanpun Sandra tidak bisa karena perkataan Awan memang benar, jadi gadis itu hanya menelan gerutuanku dengan mengangkat cangkirnya lalu menyesap kopi buatan Chef-nya.

"Hemm, kopimu memang yang terbaik," puji Sandra dengan wajah puas setelah merasakan kopinya.

"Aku tahu," sahut Awan dengan bangga.

Senyuman Awan terlihat menawan sekali, dengan dibekali wajah tampan bak aktor korea itu pasti bisa menggaet para gadis di luaran sana. Sayangnya ia lebih memilih tidak menjalin hubungan dengan siapapun kecuali bersama perangkat memasak dan bahan-bahan olahannya.

Pemikiran tentang betapa tampannya Awan, membuatnya  terkekeh pelan, dan mulai menyendok kue berwarna merah di depannya itu.

"Warnanya nggak sama dengan red velvet biasanya," komentar Sandra mengernyit heran dengan warna kue yang tak biasanya seperti itu. 

Sepintas Sandra khawatir kalau sudah salah membeli bahan dan itu akan mempengaruhi kualitas makanan yang ada di kafenya. Warna kue yg biasanya merah pekat tapi kini jadi merah terang. 

Komentar Sandra hanya disambut dengan senyuman dari bibir Awan.

"Apa bahan yang kubelikan kurang berkualitas atau ... gimana, Wan?"

"Makan saja dulu, baru bicara lagi," titah Awan seolah ingin memberikan sebuah kejutan.

Pembawaan Awan selalu tenang dan kalem, juga misterius meski kadang mulutnya sedikit menjengkelkan kalau sudah berkomentar. Menyenangkan sekaligus menjengkelkan, itulah perasaan yang Sandra rasakan padanya.

Satu potongan berukuran sedang masuk ke dalam mulut sang gadis, matanya membola merasakan sensasi lembut, manis dan sedikit masam yang menyegarkan di dalamnya. Sandra merasa terkejut juga takjub. Tidak menyangka kalau red velved bisa terasa seperti ini.

"Kamu ganti bahannya?" tanya Sandra sedikit heboh karena penasaran.

Awan mengangguk, "Aku melihat tumpukan delima dijual murah di grosiran, makanya aku membelinya beberapa. Jadi bagaimana menurutmu?"

"Menurutku? Aku suka." Sandra menganggukinya dengan antusias lalu melanjutkan menyuap potongan cake berwarna merah itu ke dalam mulutnya. 

Meski begitu matanya tak lepas dari memperhatikan wajah tampan di depannya.

"Baguslah kalau begitu." 

Awan duduk sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja. Matanya mengawasi Sandra yang tengah asyik mengunyah.

Sandra heran ketika melihatnya. Otaknya bertanya-tanya, 'apa nggak pegal tersenyum terus dari tadi?' 

Atensi Sandra pada senyuman Awan langsung teralihkan karena satu suara yang menyapa. Tak asing tapi juga tak familiar.

"Sandra ..." panggil seseorang yang suara seorang wanita.

Sandra menengadah dan memandangi dua orang yang sedang berdiri di samping mejanya dengan mata membelalak.

'Lah, bukannya mereka sedang masuk acara gosip? Kenapa malahan muncul di kafe milikku? Sialan, perasaanku jadi nggak enak ngeliat mereka,' batin Sandra ketar-ketir bagaikan sedang dikejar rentenir.

"Ah, ada tamu," kata Awan sopan, yang mana wajah Sandra sendiri masih kaku dengan pemandangan di depannya. "Kalau begitu aku permisi dulu ya, San," lanjutnya sambil beranjak dari kursi. 

Meninggalkan Sandra yang masih tertegun dengan kehadiran tamu tak diundang dalam kafenya.

Saking terkejutnya, ia sampai lupa untuk mempersilahkan duduk dua tamu yang baru saja datang itu. Hingga satu suara berdeham menarik perhatiannya.

"Ah maaf, aku hanya sedikit terkejut karena kedatangan mendadak kalian berdua," ujar Sandra yang segera mengubah raut terkejutnya menjadi lebih tenang. 

Sandra berdiri dan menyalami dua tamunya.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Sandra basa-basi, tak lupa tetap mengulas senyum manisnya.

"Aku baik-baik saja," sambut salah satu tamunya yang bergender wanita. Ia yang lebih duluan membalas jabat tangan Sandra. 

Serena Makaila Wiryamanta, seorang primadona di kampus Sandra dahulu. Wajah cantiknya mirip sekali dengan aktris Korea Park Shinhye. Rambut lurusnya sepunggung dan berwarna hitam tergerai indah di sana. Dress selututnya yang berwarna baby blue terlihat cocok dan membuatnya semakin menawan.

Mengingat perbedaan fakultas antara Sandra dengan Serena. Membuat gadis itu bertanya-tanya motifasi apa yang membuat mereka datang. Karena sesungguhnya mereka tak memiliki hubungan yang cukup dekat hanya sekedar untuk saling bertukar sapa, apalagi untuk berkunjung seperti itu.

Kecuali memang untuk makan, tapi rasanya tak masuk akal mengingat mereka berdua adalah orang kaya. Bahkan bukan sekedar orang kaya biasa, bisa dikatakan mereka adalah konglomerat. 

Kekurangannya hanya mereka tidak memiliki darah bangsawan. Kalau sempat iya, bisa dikatakan mereka adalah manusia yang paling sempurna di kehidupan ini.

Sedangkan pria yang satu lagi hanya menatap Sandra dengan tatapan datar. Suami Serena, yakni Athan Vasaya Ballazs. 

Bisa dikatakan seorang crazy rich di se Asia Tenggara. 

Visualnya membuat kaum hawa terpana. Bagaimana tidak? Memiliki wajah tampan bak aktor papan atas. Fitur mata dan rahang yang cukup tajam. Kulit putih berkilau, tak kalah dari istrinya. Tinggi badannya menjulang membuat orang-orang mendongak hanya untuk memandang wajahnya. 

Ah, penampilannya begitu sempurna.

"Silahkan duduk, maaf tempatnya kecil seperti ini," kata Sandra pada akhirnya mempersilahkan setelah beberapa detik terpana pada visual bak dewa Yunani kuno itu.

Setelah melihat dua tamunya sudah duduk dengan nyaman. Sandra langsung memanggil salah satu staffnya agar mengambilkan minuman untuk tamu tak diundang itu.

"Lucas ... sini sebentar," panggil Sandra sambil memberikan kode pada pria berkulit tan jangkung itu agar mendekat. 

Menunggu staffnya datang, Sandra menyamankan diri untuk kembali duduk di kursinya tadi.

Lucas berjalan menghampiri meja dengan mengulaskan senyum tampan rupawannya, "Iya Kak."

"Tolong buatkan tamu kita minuman," kata Sandra, kemudian ia menoleh pada dua orang tadi dan bertanya, "Kalian mau minum apa?" tawarnya dengan sopan, meski dalam hati sedang mengutuki mereka berdua.

"Aku teh chamomile saja kalau tidak merepotkan, dan Athan biasanya meminum Americano," ujar Serena. 

Sikapnya begitu anggun, membuat Sandra sebagai perempuan bisa terkagum-kagum pada sosoknya. Sandra mengangguk dengan cepat, guna menutupi wajah bodohnya yang terpesona hingga ternganga sejenak.

"Tolong buatkan saja apa permintaan mereka tadi," pesan Sandra pada Lucas.

"Siap Kak, ditunggu sebentar ya." Lucas langsung undur diri. 

Beberapa saat hanya ada keheningan karena Sandra sibuk mengamati dua orang itu. 

Serena yang terlihat lebih cantik dari pada yang terlihat di layar televisi. 

Sedangkan Athan, wajahnya tampannya terlihat datar dan dingin, mirip sekali dengan kulkas sepuluh pintu. Membuat Sandra ingin sekali mencibirkan bibir. Label kata tampan untuk Athan yang ada di benak gadis itu langsung kuganti dengan balok es.

"Sandra," kata Serena sambil beringsut membenahi duduknya agar tegap, "kamu pasti sudah melihat berita tentang kami berdua bukan?"

Sandra diliputi rasa dilema. Ingin rasanya gadis itu  mengangguk tapi juga menggelengkan kepala. Ia paling malas membicarakan masalah rumah tangga orang lain, karena merasa bukan urusannya. Jelasnya ia tidak suka mencampuri urusan orang lain, karena itu sangat merepotkan.

"Eum, iya ..." kata Sandra dengan tak enak hati juga kikuk.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Serena yang membuat Sandra mengerutkan dahinya karena bingung.

 Pertanyaan Serena membuatnya tidak nyaman.

"Ah, masalah rumah tangga kalian tentunya aku tidak bisa berkomentar apapun," ujar Sandra dengan bahasa cukup formal, menandakan sedikit menjaga jarak. Meski begitu ia tetap tersenyum dan berusaha menyikapinya sebijak mungkin.

"Aku meminta Athan untuk menikah lagi," ujar Serena dengan wajah kalemnya. 

Sandra jadi bertanya-tanya, 'bagaimana dengan perasaannya, apakah tenang seperti wajahnya juga?'

Sesaat kemudian Sandra mulai tak mengerti kenapa Serena mengatakan perihal rumah mereka padanya. Ia pikir urusan rumah tangga mereka tak ada sangkut pautnya dengannya, jadi seharusnya tidak perlu bercerita seperti itu.

"Jadi kami ke sini untuk menemui calon istri kedua milik Athan."

Sandra menganggukkan kepalanya, memahami ke mana arah pembicaraan Serena. Ia mengerti kalau ternyata Serena ada janji temu dengan calon madunya. Dan kelihatannya pilihan tempat untuk menemui madunya adalah di kafe milik Sandra. 

Membuat Sandra cukup tersanjung dan bangga, karena kafenya bisa masuk dalam daftar pilihan pasangan konglomerat itu.

"Permisi, minumannya kak." Lucas yang baru saja tiba dan menyuguhkan minuman pada dua tamu Sandra, kemudian ia dengan cepat undur diri.

"Oooh ..." Tanggapan ringan Sandra setelah mengetahui alasan di balik ku jungan dua tamunya. "Mari, silahkan diminum dulu," ajak Sandra untuk meminum minuman yang baru saja disajikan.

Dan Sandra yang memulainya duluan. Perlahan ia sesap kopinya, tapi dua lainnya masih terlihat tak menyentuh cangkir mereka.

"Dan, aku berharap kamu Alexandra Dhana Ganendra bisa menerima Athan Vasaya Balazs untuk menjadi suamimu."

"Uhugh uhugh uhugh ..."

Sandra langsung tersedak, rasanya perih sekali sampai ke rongga hidung. Ia memukul-mukul dadanya, dan matanya memerah. Rasa terkejut membuat mata merahnya terbelalak lebar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status