Lady Bug
Lady Bug
Author: WarmIceBoy

1. Toko Buku

Badannya bagai anak SMA, padahal sudah kuliah semester tiga. Dia punya kulit kuning langsat yang kata orang kenyal mirip kulit bayi, rambutnya hitam lembut harum shampo Didie. Kata Ibunya, Vivi gadis cantik, entah kenapa masih jomblo, jadi, pemuda gendut berkacamata di depannya bukan pacar Vivi.

Vivi percaya jika ada kemauan pasti ada jalan. Seperti Aladin yang menemukan lampo ajaib, dia percaya ada seorang Jin baik hati yang akan mengabulkan semua permintaanya.

Permintaan Vivi tidak muluk-muluk, selain ingin punya pacar cowok Korea, dia ingin pandai menulis dan menciptakan buku berkelas. Padahal dia malas membaca, malas menulis, malas mendengar kesuksesan orang juga nasihat orang. Apa bisa jadi penulis pemes?

"Coba tadi enggak ke toilet, pasti enggak sampai sini!"

Sentakan Sasa membuat lamunan Vivi sirna. Dia hendak membalas cuitan gadis berkerudung yang mengenakan pakaian serba panjang itu, tapi Sasa seakan lupa titik koma, tak henti nyerocos.

"Sudah panas, polusi pula, kita bolos kuliah demi ke sini, Jancook! Ups, astagfirullah, Ya Allah, ampuni hambamu karena berkata kasar."

"Heh, Sa, cewek berjilbab tuh harusnya kalem, ini mana seperti anak punk."

Dan ucapan Vivi memancing celometan jilid dua Sasa untuk muncul.

Ya, antrean memang sepanjang naga Shenlong sampai di trotoar depan toko buku. Semua ini demi buku Kejora yang sangat legendaris, buku yang mampu membawa pembaca terbang ke langit ke tujuh dan Vivi sudah membuktikan sendiri dengan membeli seri pertama.

"Halo cemua." Mimi datang, bawa buku tebal bersampul putih, pamer di depan dua sahabat. "Nih, aku bawa buku, duh kacian ye antre, berjemur kek ikat asin. Tiati, bukunya tinggal dikit." 

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, Mimi si selebgram mulai streaming. Dia tidak suka membaca buku, tapi buku Kejora bisa membuat follower-nya naik secara drastis, give away, dengan syarat follow dan share i*-nya Mimi.

"Ee jangan ada yang follow! Rugi!" teriak Vivi. "Ditipu kalian, tuh bukunya bakal dikasih ke cowoknya Mimi!"

"Bener!" timpa Sasa. "Demi Allah, tuh bocah give away settingan!"

"Bawel kalian semua! Bilang aja sirik, ya kan?" sahut Mimi geram.

Ketiganya berdiskusi hal yang tidak penting hingga nyaris lupa akan yang penting. Mereka sampai di depan rak buku kejora.

"Aduh, tinggal satu," ujar pegawai toko buku, bingung melihat Vivi dan Sasa. "Siapa yang mau beli?"

Sasa dan Vivi saling lirik, serempak menjawab, "Aku!"

Keduanya kembali adu mulut sampai jambak-jambakan. Bagai emak-emak rebutan om tajir keduanya berguling-guling di atas lantai.

Sebagai sahabat yang baik, tentu Mimi menjadi yang pertama berinisiatif untuk … merekam kejadian ini sambil ketawa-tawa, tak lupa menjadi kompor yang baik dan benar.

"Hajar ble! Tarik lepas kerudungnya! Yak, jambak! Mantep. Jangan lupa follow instagramku, ya! Mimicuantik!"

Tiba-tiba seseorang berkaki jenjang melangkahi Sasa dan Vivi. Dia menghadap pegawai toko yang tercengang memandang wajahnya.

"Mbak, buku Kejora-nya saya beli."

"Iya Mas, mari ikut saya … ke pelaminan, eh, m-maksud saya ke meja kasir."

Percakapan yang sangat menyiksa telinga Vivi dan Sasa, memaksa keduanya bangkit. Di hadapan mereka terbentang punggung lapang berlapis baju kemeja biru kotak-kotak, ada tas ransel nya juga loh.

"Eh Mas, jangan asal main rebut buku orang, dong! Kami berjibaku sampai baku hantam, situ enak saja main serobot. Eh, dengar enggak, sih!"

"Hajar Vi!" seru Sasa sambil membenahi kerudung. Wajahnya nyangkut, ketutupan kerudung putih yang kusut.

Vivi memang terkenal pemberani, dia membalik badan pria di depannya dan ….

Oh my God! Vivi terdiam, gagal kedip, dagunya seakan mau jatuh.

Mimi sibuk membantu Sasa melepas kerudung yang nyangkut di kepalanya. Alhasil mereka gagal melihat wajah si pemuda. Mukjizat bagi Vivi, dengan begini hanya dia yang bisa melihat Sang Pemuda idaman.

Wajah tirus, alis lebat, mata sipit, pakai kacamata, mana mancung lagi! Kulitnya juga putih, badan atletis, tinggi pula!

"Calon Imamku …" gumam Vivi.

Pemuda itu menarik lengan. Mungkin jengkel dengan ulah Vivi. Dia tersenyum pada pegawai toko buku, mengikutinya menuju ke meja kasir.

Vivi tak putus asa. Selain ingin buku, sekarang dia ingin berkenalan, minta nomor telepon, minta ditembak, terus nerima cinta Sang Calon Imam, terus nikah, jadi Ibu dari anak pemuda tadi. Perfect!

Dia menarik-narik lengan pemuda misterius seperti anak kecil minta sesuatu pada Ibunya.

"Mas, Oppa, Kakanda, bukuku itu, bukuku kembalikan."

"Apaan sih," keluh pemuda berkaca mata.

Dia menarik lengannya, mempercepat langkah mengikuti petugas toko buku. Sepertinya illfill sama Vivi. Semoga belum alergi sama.

Vivi sendiri mana mau menyerah. Dia punya motto, menyerahlah kalau capek. Sayang sekali kalimat capek terhapus dari Kamus Besar Bahasa Vivi.

Hingga mereka sampai di depan meja kasir. Vivi belum melepas ikan tangkapannya. Dia masih mengganjal pada lengan pemuda, semakin berisik, dan ucapannya semakin kacau.

"Tanggung jawab, bukuku, Mas Oppa Kak, bukuku. Tanggung jawab! Iih, Mas Oppa Kak--"

Pemuda itu berbalik badan, menaruh buku tebak Kejora di atas kepala Vivi. Hebatnya buku itu seimbang, gagal jatuh. 

"Dah kan? Ambil tuh buku …."

Sepertinya pemuda misterius kesal sama Vivi. Dia cabut dari toko buku pakai langkah dua ribu lima ratus.

"Maas Oppa Kak! Mau ke mana? Kita belum kenalan! Maaaas, jangan tinggalin aku!"

Benar-benar lupa malu, Vivi mengekor seperti hewan peliharaan pada pemuda itu. Suaranya bising sampai membuat pemuda itu menutup dua telinga.

Langkah Vivi terhambat karena ada yang menarik kerah kaosnya dari belakang. Untung buku di kepalanya jatuh ke telapak tangan, jadi tidak rusak.

Pegawai toko buku ternyata yang menarik kerah kaos Vivi. Dia murka, entah kenapa. Mungkin iri kalah manis dari Vivi.

"Mbak, bayar dulu bukunya, baru pergi. Gimana, sih!"

Vivi tak peduli sama gadis pegawai. Dia menjeb-menjeb ketika melihat calon Imamnya pergi naik motor sport warna biru. Padahal mereka belum kenalan, belum tanya nomor telepon. Sebal dia memandang pegawai toko buku.

"Tuh kan, Masku kabur. Mbak sih, resek banget."

"Lah? Salahku apa Mbak?"

Vivi menjadikan pelayan itu sebagai pelampiasan. Dia uring-uringan hingga digiring ke meja kasir. Untung pegawainya sabar, kalau tidak, Vivi sudah dikirim ke Mars pakai Fedex. 

Petugas kasir ramah bertanya, "Namamu siapa Mbak?"

"Vivi, kenapa sih tanya-tanya?"

Seorang petugas mengambil foto Vivi pakai kamera instant. 

"Widih, di foto. Ada apa sih?" tanya Mimi, baru datang sama Sasa..

Petugas memandang datar dua gadis yang sepertinya kenal dekat dengan Vivi.

"Kalian teman Vivi?" 

Yang ditanya mengangguk.

"Nama kalian?" tanya petugas lagi.

Setelah mengetahui nama mereka, petugas mengambil foto keduanya. Tiga bingkai foto memajang foto mereka tepat di tembok belakang kasir. Lalu di atas tiga bingkai, tertempel kertas bertuliskan 'Black List'.

"Lah, kok aku ikut kena?" tanya Mimi. "Kan mereka berdua yang salah!"

"Bodo amat. Kalian satu geng, kan. Dah sana jangan balik lagi!" seru pegawai kasir melempar buku Kejora ke muda Vivi.

Vivi kecewa berat, bukan karena di blacklist, tapi karena gagal berkenalan dengan calom Imam.

HJin, beri aku tiga permintaan. Agar aku bisa meminta supaya bisa bertemu lagi dengammya.

WarmIceBoy

Semoga cerita ini dapat menghibur. Para pembaca, sedianya mau meninggalkan saran dan kritik, sehingga kedepannya author dapat memperbaiki juga membuat karya yang lebih baik lagi. Jangan lupa simpan novel ke dalam perpustakaan dan tinggalkan review kalian jika berkenan, ya. Happy reading. :)

| 3
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yusenugi
Aku juga enggak tau XD
goodnovel comment avatar
Kira Khasunny
Itu bisa warna orange tulisannya pakai apa, Bang? 🤔
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status