3. Copy Paste

Senyum jahat muncul di bibir. Ia tertawa seperti professor jahat berhasil membuat senjata pemusnah dan siap menterror kota.

Vivi menemukan cara super hebat untuk membuat novel yang ia tulis mendapat banyak vote, juga kehujanan komentar positif, sekaligus menambah banyak follower. Sebenarnya ini cara yang ... yang penting berhasil.

Dimulai dari membuat ratusan akun kloningan. Semua itu bukan hanya untuk promo, tetapi memberi vote palsu, komentar palsu, juga follower palsu. Dalam waktu singkat novel abal-abal yang dia tulis masuk peringkat sepuluh besar dalam aplikasi tulis menulis online.

Di kampus, ketika waktu pergantian mata kuliah, Vivi gaduh sendiri di depan kelas yang nyaris kosong ditinggal penghuni ke kantin. Dia berdiri seperti artis, tapi hanya beberapa orang yang peduli.

Sambil memamerkan layar hp, dia berkata, “Hai, guys and girls, lihat nih, followerku sudah banyak banget. Terus yang vote juga ratusan. Mereka semua suka sama karyaku!”

Suara cempreng Vivi membuat beberapa murid di luar kelas menoleh ke arahnya, berbisik-bisik lalu terbahak sambil bergeleng pergi. Tetap saja dia bersikap masa bodoh, ketebalan mukanya melampaui tebal dinding tembok Berlin.

“Hoaks.” Komentar seorang pemuda yang duduk di kursi baris ke dua sambil makan siomai bungkusan. Beberapa teman lain ikut berucap hoaks hoaks, menghina Vivi tentunya.

“Ih, enggak hoaks kok, kalau enggak percaya coba kalian baca novelku. Ceritanya tentang cewek berumur 30 tahun, yang enggak laku bertemu dengan—“

“Vi, Vivi.” Sasa menghela napas panjang, membuat Vivi tersedak. Gadis itu hendak berucap sesuatu, tapi urung, entah apa alasannya tak jadi berucap.

Vivi yang mendapati hal ini jadi penasaran. Ia mendekati Sasa. “Apaan? Hmm, speak girl.” Gayanya bicara sengak banget, apalagi ditambah pakai melipat tangan di depan dada segala, merasa jadi orang penting.

“Aku tau rahasiamu, jadi enggak usah banyak gaya.” Sasa bicara tanpa memandang balik, malah menulis sesuatu di buku.

Dengan panik Vivi membungkam mulut Sasa. “Apaan sih, ribut deh, hahaha. Rahasianya Cuma tulisanku tuh bagus banget, jadi banyak yang baca dan vote. Gitu kan, Mi?”

Mimi yang sembari tadi tak peduli dengan Sasa atau Vivi menoleh sebentar, lalu fokus lagi pada layar hp yang dia pegang.

"Mi, ditanya tuh, jawab," celetuk Vivi.

Mimi menjawab, “Iyain biar cepat selesai.”

Sebenarnya beberapa murid lain juga tak terlalu peduli pada apa yang Vivi gembar-gemborkan. Mereka hanya gabut kurang kerjaan, jadi tadi menghina Vivi. Mereka membaca pelajaran saja malas apalagi mengurusi novel. Sayang sekali Vivi gagal melihat ini. Dia menilai jika seluruh dunia sedang melihatnya, ada yang kagum, iri, bahkan banyak yang dengki.

Jam perkuliahan telah usai. Vivi cabut dari sana. Ketika sampai rumah, dia tak henti bersiul. Cara jalannya seperti kancil kepanasan, melompat-lompat kecil sempat jatuh sekali di depan muka tangga, tapi tak ada cidera, dia bangkit lagi.

Ulahnya sangat mengganggu April yang sedang santai nonton TV di ruang tengah. Tanpa tudung aling aling Vivi meloncat dari belakang sofa, duduk di sebelah April yang kaget setengah hidup.

"Vivi, polahmu loh, petakilan banget. Minta dirukiah apa gimana?" gerutu April, matanya tetap fokus pada wajah ganteng Wang Yi Bo di TV, aktor kungfu drama idolanya yang sekarang sedang bermain film Romance.

Vivi malah bersenandung dengan keras sambil bermain hp, membuka menu, back, menu, back. Semua dia lakukan demi mendapat perhatian April, tapi gagal. Kakaknya terhipnotis oleh aktor ganteng.

Vivi mulai berulah. “Kak, Kakak.”

“Hmm.”

“Lihat nih, banyak yang vote. Banyak follower. Banyak komentar positif, Kak. Kata Kakak jelek, ternyata enggak, malah ada yang bilang bagus banget. Nih, kalau enggak percaya lihat deh komentar untuk novelku. Kata orang novelku sekelas sama novel best seller. Kak! Ih, noleh kek.”

Supaya tak terus-terusan diganggu setan di sebelahnya, April menoleh sebentar memandang muka Vivi yang bermandi senyum, lalu kembali lagi ke layar TV.

Vivi kesal, menepuk paha April. “Ih, Kak. Lihat dong, ini adikmu mau pamer, kok dicuekin. Harusnya Kakak sirik.”

Dari pada Vivi mengganggu ketenteraman, April mengalah. Dengan ogah-ogahan dia mencoba membaca novel karangan Vivi. “Enggak ada perubahan, tetap jelek, tulisanmu ancur. Ini kamu mau cerita apa? Dialog enggak dikasih tanda petik, narasi amburadul, bahasa Jawa keluar semua. Dah lah, pusing Kakak bacanya.” Kasar April melempar hp Vivi ke sofa.

“Dih, bilang aja sirik. Kakak enggak bisa nulis bagus, kan? Kakak ingin populer tapi gagal. Hayo ngaku.”

“Terserah. Dah sana, main di kamar, jangan berisik dan kalau bisa jangan keluar sampai besok pagi.”

"Ih, apaan sih! Sok banget."

Vivi cemberut merebut remote lalu mematikan TV, hingga mengundang teriakan April yang segera mengejarnya sampai kamar. Dia cekikikan mengunci diri dalam kamar, menduduki kursi untuk bersiap membuat akun palsu lebih banyak lagi guna kesuksesan novel.

Dia mendorong kedua tangan ke depan memajukan tempat duduk, bersiap mengetik. “Semangat !” Sepertinya Vivi lupa jika seorang penulis dipanggil penulis karena menulis, bukan membuat akun kloningan.

Satu Minggu berlalu. Vivi semakin menggila dengan kegiatan barunya. Semua part dalam novel dibanjiri pujian yang dia buat sendiri, juga vote yang diberi sendiri. Walau demikian novelnya semakin melambung hingga mencapai peringkat satu dalam genre teenfiction. Mulailah datang para pembaca asli yang mengikuti arus memuji karyanya.

Karena waktu habis untuk membuat akun kloningan, Vivi mengupdate novel pakai karya orang lain. Dia melakukan hal paling hina di dunia literasi, plagiat dengan cara copy-paste.

Alasan Vivi menjadi plagiator simpel, karena tak punya waktu untuk membuat premis, mengatur plot, juga membentuk karakter, apalagi menulis novel berkualiatas tinggi. Apa Vivi masih punya malu?

Tentu dia manusia dan punya perasaan juga, termasuk rasa malu. Terutama karena karya yang dia curi milik seorang penulis baru. Di mana akun penulis korban baru dibuat beberapa bulan lalu, masih minim follower.

Peduli amat. Inilah dunia, kehidupan keras. Dunia literasi adalah dunia rimba. Yang kuat yang bertahan. Begitu anggapan Vivi seperti merasa paling hebat.

Namun, kala malam tiba Vivi sering merenung. Sebenarnya untuk apa dia menulis semua ini? Toh hasil dari tulisan ini semu. Semua hanya demi angka yang tak bisa dia bawa mati kelak.

“Vivi.”

Yang dipanggil menoleh ke belakang. Sontak dadanya berdebar-debar. Sosok pemuda di toko buku singgah lagi. Berdiri di belakang, kedua tangan melingkar ke lehe Vivi. Dagu pemuda singgah ke atas kepala Vivi.

“Bagaimana novelmu?”

“Baik, Kak. Cuma ya gini. Aku … aku mencuri novel orang.”

“Kok begitu? Kenapa enggak menulis sendiri?”

“Kalau menulis sendiri, jelek.”

Pemuda itu memutar kursi putar Vivi. Ia bertumpu lutut di hadapan pemilik kursi. Wajah mereka sejajar. Senyum lembut membuat Vivi ikut tersenyum. Elusan di pipi berubah menjadi cubit.

“Tujuanmyu menulis untuk apa?” tanya pemuda.

Vivi tertunduk malu.

Cowok itu lanjut bicara, “Kalau terus begini, kamu akan selamanya hidup dalam halusinasi kosong, Vi.”

Vivi menggeleng. “Rencanaku setelah banyak follower akan mulai menulis dengan kemampuan sendiri, Kak.”

“Kapan?”

“Ya nanti, kalau sudah banyak follower.”

"Sekarag kan sudah banyak."

"Kurang banyak."

Pemuda itu menghela napas panjang, bangkit dari sana. Dia membuka pintu dan April masuk. Bayang itu seperti nyata sekarang sirna oleh kehadiran Kakak.

“Eh, Vi, Kakak mau bicara.” April duduk di tepi kasur Vivi, mengamati layar hp di tangan, lalu menunjukkan layar kepada Vivi. “Jujur, ini bukan tulisanmu, kan?”

Tenggorokan Vivi mendadak kering. “Apaan sih, katanya jelek, gitu tetap dibaca. Kak, Kakak.” Dia memutar kursi putar menghadap meja, tapi April memutar lagi kursi itu menghadapnya.

Kali ini layar android nyaris bersenggolan dengan wajah Vivi . “Ini bukan tulisanmu, kan? Ngaku aja.”

“Tulisanku.”

“Emang jalan ceritanya bagaimana?”

Wajah Vivi menoleh ke atas, garuk-garuk kepala juga. “Apa ya?”

“Enggak tahu kan?” April bediri tegap memandang tajam pada wajah sok polos adiknya. “Karya siapa yang kamu curi?”

Tiada jawab dari Vivi. Dia terlalu bingung harus bilang apa pada Kakak.

“Kamu copy paste karya orang, itu plagiat namanya. Kakak enggak percaya kamu melakukan hal ini.” Cukup lama April memandang jengah adiknya, menanti jawaban yang tak pernah datang. “Parah, parah. Hati-hati loh, sepandai-pandainya pocong melompat, ada kalanya kesandung juga, dan pocong enggak bisa berdiri sendiri.” April kesal, keluar kamar membanting pintu.

Vivi bukannya tak sadar, tetapi apa daya. Hanya ini yang dia mampu untuk saat ini. Yang mampu membuatnya tersenyum hanya sosok dalam mimpi. Dia mematikan laptop, juga lampu kamar, terlentang di kasur berusaha memejam, tidur tak tenang.

*

Di kampus pada jam istirahat, Vivi, Mimi dan Sasa berkumpul sambil bercanda seperti biasa di kantin. Suara mereka menandingi suara pengunjung lain. Sambil memakan bakso ketiganya membahas novel Vivi yang stay di urutan sepuluh besar genre teenfiction selama seminggu penuh.

 “Apa aku bilang.” Sasa yang duduk di sebelah Vvii berkomentar. “Kalau latihan terus menerus, tulisanmu tambah bagus, loh."

Vivi mengunyah pelan, senyum pun lembut. Dia bingung harus komentar apa.

“Vi, lihat deh, ada komentar masuk, komentar baru untuk novelmu.” Mimi meminjamkan android pada Vivi, supaya sahabatnya bisa membaca komentar yang dimaksud.

[Kak, tolong jangan mencuri karya saya. Saya enggak akan memperpanjang masalah ini, tapi tolong hapus karya Kakak. Terima kasih.]

"Jadi kamu nyolong?" celetuk Sasa yang ikut membaca dari samping. "Astagfirullahaladzim, aku kira kamu ada perkembangan, enggak tahunya malah--"

"Enggak, aku enggak nyolong! Itu tulisanku! Kisahnya tentang masa lalu seorang gadis, menceritakan kisah jaman SMA." Vivi bisa tahu hal itu karena sempat membaca sekilas. Yup, dia membaca. Setelah kejadian di kamar bersama April, ia akhirnya mau membaca novel walau cuma membaca loncat-loncat dari bab satu ke bab lima dan langsung ke bab akhir. 

"Wah parah nih orang, mau pansos." Mimi mengambil androidnya lagi. 

"Mi, mau apa?" tanya Vivi, mendapati Mimi membuka instagram.

"Tuh bocah ngajak war, kan? Lumayan nih buat instastory. Kamu jangan takut Vi, massa ku banyak nih, ada ribuan! Biar kita report bersama tuh akun penulis pansos!" 

"Astagfirullah," Sasa mengelus dada. "Dah lah aku enggak ikut-ikut!"

Vivi terdiam. Perasaannya campur aduk. Dia tahu kalau perbuatannya salah, tapi, mengaku sekarang sudah terlambat. Vivi hanya berharap penulis itu tabah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status