4. Sebuah Rasa

Malam semakin larut. Vivi duduk di kursi belajar dalam kamar fokus pada layar laptop di atas meja. Kepalanya mengangguk-angguk kecil mendengar lagu SHINee, boy band Korea Selatan favoritnya.

Dia sedang stalking akun facebook penulis yang karyanya ia colong. Dengan tabah ia membuka satu-satu akun bernama Efendi, hingga sampai juga ke sebuah akun penulis itu. Dengan akun palsu Vivi meng-add dia jadi teman, berharap bisa mengetahui lebih banyak sosok itu.

First impression dari Vivi untuknya, Efendi cowok baik, ramah dan cukup supel. Dia enggak garing, terus terang ia sangat nyaman mengobrol dengan cowok itu. Tidak nampak kesedihan dari pesan-pesan balasan yang ia terima. 

Iseng-iseng dia mengunjungi akun Efendi di aplikasi tulis menulis. Mau tau, sejauh mana terror follower Mimi menggempur akun itu.

Vivi membaca beberapa komentar barbar di novel, juga di wall, dan semua itu membuatnya menghela napas juga memaksa bibir bergetar. Semakin lama ia membaca, tanpa sadar air mata mengalir di pipi, meninggalkan jejak garis tak lurus di sana.

Dia enggak tega, enggak kuat, ingin melambai menyerah. Harusnya semua caci maki itu untuk dirinya. Karena sang Plagiat di sini adalah Vivi. Dia tertunduk menutup mata pakai telapak tangan, berusaha tidak bersuara, takut mengundang perhatian Kakak.

Beberapa komentar brutal di sana yang sangat membuat mata perih, juga hati tersayat antara lain;

[Dasar penulis amatir bejat! Tahu diri dong, main comot karya orang! Itu yang nulis capek, eh, kamu datang tinggal ambil. Mamamu enggak pernah mengajari jangan mencuri apa gimana?]

[Astagfirullah, dia bikin karya susah, enak aja main klaim, pakai nyerang pribadi lagi. Istigfar, tobat, tutup akun, sunat sampai habis sana.]

[Ayo report sama-sama! Supaya nih novel lenyap, dan akun penulisnya di-deleted!] 

Batinya mengambil alih. Ia benar-benar tak tega, dan harus berbuat sesuatu. Jari-jari Vvi cekatan mengetik pesan di sana. [Cukup! Sudah, hentikan! Kalian semua jangan membully. Setiap manusia punya kesalahan, kenapa dipermasalahkan? Sudah cukup, aku enggak mau kalian begini ke dia.] 

Sayang sekali komentar Vivi tak dianggap. Kebiasaan netizen Indonesia kalau sudah keluar kerangkeng mereka bagai serigala lepas ke lahan ternak kambing. Mereka semua follower instagram Mimi, mungkin hanya Mimi yang bisa menarik tali kendali.

Vivi berusaha menulis permintaan maaf pada Efendi, tapi tiada balas dari akun itu. Aneh, Efendi belum memblok akun Vivi. Itu membuatnya tambah merasa berdosa. "Setan macam apa diriku, yang tega melakukan semua ini?"

Untuk mengurangi perasaan itu, Vivi main facebook, asal pencet tombol hingga tak sengaja melihat foto profile sosok idaman hati. Cowok berkacamata tampan yang selama ini ingin ditemui. 

Mata Vivi mendelik nyaris keluar, wajahnya nyaris menabrak layar laptop. "Cogan! Mas Coganku! Ace001?"

Dia langsung meng-add akun facebook itu. Setelah itu Vivi mulai stalking cowok itu, mulai dari instagram, twitter, semua foto di internet, hingga paham jika ternyata cowok itu anak gym yang suka membaca. Dia lulusan SMA Kusuma Bangsa Palembang dan sekarang berkuliah di Universitas UBAYA. Satu foto pemuda itu membuat Vivi kembali mendelik lebih tajam. 

Terdapat tulisan nama gym yang tak sengaja terambil. Sekarang dia tahu di mana alamat gym itu.

Waktu berjalan tanpa henti, sepulang kuliah di hari Sabtu, Vivi heboh bersama dua sahabat tercinta. Mereka bertiga berjalan di lorong padat mahasiswa, wajar jika bicara memakai nada tinggi.

"Pokoknya ntar kita keluar ke City of Tomorrow, titik!" Maksud Vivi dengan City of Tomorrow, adalah nama sebuah mall di kawasan Surabaya, dekat pertigaan tol arah Sidoarjo. "Ayolah, enak di sana, foodcourt-nya lebih besar, banyak cogan pula--"

"Vi, kita udah saling kenal lama. Aku tau isi kepalamu. Katakan, apa alasan sebenarnya mengajak nongkrong di sana?" Sasa cukup jeli melihat tepat dalam hati Vivi. "Kalau enggak jujur mending aku di rumah aja, santai, tiduran."

Vivi cemberut meremas lengan ransel karena Sasa menentang ucapannya. Cukup lama dia diam hingga angkat bicara. "Alasanku karena cowok ganteng di toko buku itu loh."

Langkah Sasa terhenti. "Serius?" Pertanyaan itu mendapati anggukan Vivi dan membuatnya berjalan riang menarik-narik lengan sahabatnya. "Dapat info dari mana? Yakin nih, bukan hoax? Vi, serius, enggak?"

Vivi menodong gadis berjilbab itu pakai android. Bukan hanya Sasa, tapi Mimi ikut mengintip layar hp. Mereka berdua mengamati foto cowok yang Vivi colong. 

"Masyaallah, iya ini, yang tempo hari!" Sasa jingkrak-jingkrak girang karena akhirnya bisa bertemu dengan cowok ganteng idolanya. "Oke deh, ntar sore ke sana ya!" Dia menjadi pelari paling cepat juga paling lincah mendahului murid-murid lain.

"Eh, dasar marmut. Cepet banget berubah pikiran." Komentar Mimi. "Yakin tuh, bakal ketemu di Cito?" Maksud Mimi dengan Cito, singkatan City of Tomorrow. 

Vivi mengangguk memberi kepastian dengan bibir melipat ke dalam. "Coba cek foto pas dia berada di gym. Kaca gym ada tulisan apa, coba?"

"FLASH FITNESS INDONESIA." Mimi membaca lantang, lalu mencari letak tempat itu di android miliknya. Senyumnya merekah ketika mendapati memang tempat itu ada d Cito. "Oh my goat! Beneran ada! Tapi, apa enggak apa-apa membawa Sasa? Ntar kalian rebutan lagi."

Vivi sendiri jadi suntuk lantaran memberi tahu Sasa. Ia tak berpikir sampai sana, tadi dia hanya butuh wingman. Nasi sudah jadi bubur, yang bisa dia lakukan hanya memberi cuilan ayam supaya jadi bubur ayam. 

Mimi menangkap raut wajah itu, cekikikan menyenggol lengan Vivi. "Nyesel, kan?" 

"Dikit." Vivi tetap setia menuruni anak tangga bareng Mimi. "Tolong stop."

"Hmm? Stop apaan?"

"Stop follower barbarmu, Mi. Jujur, aku enggak enak sama penulis itu. Followemu liar banget, sampai--"

Mimi berdecak kesal. "Halah, biarin. Pencuri seperti dia harus diberi hukuman. Sudah, kamu tenang aja, toh nama baikmu aman."

Vivi kecewa dengan pola pikir Mimi. Bukan itu masalahnya. Ia menimbang untung dan rugi untuk jujur, hingga hati ikut bermain. Dengan suara kecil dia bicara, "Jujur. Aku yang mencuri. Bukan dia."

"Eh?" Kaki Mimi tertanam sesaat di lantai tangga, lalu jalan lagi mengimbangi langkah Vivi. "Serius?"

"Iya." 

Mimi termenung. Andai Vivi bisa meminta satu keinginan pada Om Jin, dia ingin mengetahui apa isi pikiran Mimi. Dia berharap Mimi tak membencinya karena melakukan dosa seperti ini. Semua juga terjadi begitu saja.

Di luar dugaan satu tangan Mimi merangkul Vivi. "Dah lah, biar aja."

"Loh, kok begitu?"

"Kita hidup di dunia yang keras. Jika memang ingin naik panggung, seperti pohon besar harus siap diterpa angin. Andai baru begini saja dia sudah loyo, mending mundur. Lagian Efendi tuh cowok, kan?"

Vivi mengangguk. Sejauh ini dia yakin Efendi cowok. "Tapi follower-mu kejam banget, barbar, urakan. Aku ikut kerasa loh, sampai mikir andai aku yang dibegitukan."

Mimi mengangguk kecil. "Jadi mau bagaimana nih? Mau kubongkar rahasiamu ke mereka--"

"Jangan. Cukup suruh mereka berhenti." Vivi tertunduk lesu. "Aku enggak tega, sumpah."

Rangkulan Mimi pada leher Vivi semakin erat. Ia memberi kecupan persahabatan di pipi sahabatnya itu. "Ini yang aku suka darimu, Vi. Hatimu lembut, enggak tegaan. Walau sok kuat, sok barbar, nyatanya lembek seperti tai ayam. Sok pintar tapi goblok."

"Terus, terus, hina terus, ngelunjak ya kalau ngomongin orang!" Vivi mencubit pinggang Mimi, mengejar gadis yang berlari lebih cepat itu. Keduanya kejar-kejaran sampai terengah di lapangan sekolah.

Sesampainya di rumah Vivi yang selama ini jarang mandi sekarang mau berlama-lama berendam dalam air bunga tujuh rupa, sampai memakai lulur segala. Sehabis mandi dia juga memakai lotion Korea punya kakak. Dengan memakai baju sabrina pundak terbuka yang memiliki panjang selutut, Vivi tampil seperti barbie.

"Cie, si Barbie KW, mau ke mana?" celetuk April, memandang dengan raut wajah mengejek seakan minta ditampol. 

"Aku enggak mau ribut, jadi kuelus-elus aja ya Kak lenganmu. Bye." Seperti kancil Vivi melangkah menuju teras rumah, nyaris jatuh ketika menuruni anak tangga.

"Mau ngedate sama siapa? Wangi bener? Eh, tunggu. Kamu nyolong lotion Kakak, ya?"

"Enggak, enggak, enggaaaaak!" Vivi tancap gas berlari sekencang mungkin. 

April sendiri menggeleng gemas mengamati kelakuan boncil satu itu, tetapi dia prihatin. April duduk di sofa ruang tengah, membaca novel karya Efendi, korban adiknya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati komentar-komentar hujatan hingga senyumnya muncul ketika mendapati pesan dari adiknya di wall akun Efendi. "Cil bocil, aslinya kamu nyesel kan, nyolong karya orang?"

Dia punya rencana untuk menolong Vivi, tetapi semua tergantung pada Rafa Rafian, pacarnya yang bisa dipanggil Rafa atau Rafi, tergantung hati. 

Sementara itu setelah melakukan perjalanan jauh, Vivi sampai juga di Cito. Ketiga gadis duduk di kursi foodcourt, setiap bicara mereka harus sedikit berteriak karena tempat itu gaduh oleh suara obrolan pengunjung yang memadati mall.

Kedua teman Vivi pun tampil luar biasa. Sasa sengaja melepas kerudung memakai kuncir dua seperti Mei Mei dalam film Upin Ipin. Sementara Mimi memakai kemeja lengan panjang enggak dikancing, plus celana panjang dan kaos oblong gambar motif bendera Amerika. Tomboy banget.  

Sasa menengok ke arah tempat gym yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berada. "Mana, katanya ada mas ganteng, mana?"

"Ada kok, coba cari lagi," jawab Vivi, matanya seperti CCTV mengamati sekitar hingga terhenti di layar hp yang Mimi pegang.

Si tomboy tengah asik dengan instagram, tak terlalu peduli pada sosok pemuda cakep yang sedang jadi buronan kedua sahabatnya. Sepertinya dia sedang berusaha mengendalikan masa sesuai keinginan Vivi.

Vivi mendapati senyum Mimi timbul. Ia mengintip lebih jauh, mendapati Efendi memfollow akun Mimi.

Dengan begitu Mimi bisa melihat semua postingan yang hanya bisa dilihat ketika mempunyai hubungan follow mem follow. Dia bahkan memfollow akun itu, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh selebgram. 

Vivi tersenyum. Setidaknya karena kejadian tak terduga dalam aplikasi tulis menulis, Efendi bisa berkenalan dengan Mimi di instagram. Dia tak sengaja membaca satu pesan Mimi yang sangat membuat hati lega.

[Nanti akan kucoba bantu promo novel barumu. Kamu buat akun baru saja, ya.] 

Apa mungkin timbul cerita lain diantara Efendi dan Mimi? Entah, Vivi tak bisa membaca masa depan. Tetapi dia berharap banyak untuk itu. 

"Eh, eh!" Sasa histeris menggoyang lengan Vivi. "Beneran ada! Cogan Vi! Mi! Itu dia orangnya, ayo samperin!" 

"Hee, ntar dulu, jangan gasak-gusuk!" cegah Mimi, menarik kepang Sasa dan kerah Sabrina Vivi. "Cogan seperti dia, jangan langsung disamperin, ntar kabur. Kalian harus menjadi pemburu yang baik."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status