5. Insiden Di Mall

Perkataan Mimi membuat Vivi dan Sasa bertukar pandang bingung, terlebih sahabat mereka itu menarik lengan mereka.

"Ayo duduk dulu. Aku jelasin."

Keduanya menurut seperti murid TK disuruh guru untuk duduk. Di mata mereka Mimi memang spesial. Cowok mana yang tidak takluk oleh Ratu Tomboy Sejagat? Anak basket? Mimi pernah suka sama senior, dia menantang basket dan cowok itu tunduk. Anak band? Ada murid SMA yang ditaklukkan dengan cara dia ikut bermain gitar. Seorang dokter? Dulu Mimi pura-pura sakit dan berhasil memacari dokter muda itu. Semua cowok-cowok itu hanya bertahan seminggu jadi pacarnya, lalu secara sepihak dia memutuskan mereka. Benar-benar playgirl sejati.

Sekarang keduanya menanti apa yang akan Mimi ucapkan.

Dan tak butuh waktu lama untuk gadis itu berucap. "Jangan mengejar cogan, tapi buat mereka penasaran dengan kita."

"Penasaran gimana?" selidik Vivi.

"Ya jangan jadi murahan. Intinya--"

"Intinya nge-drama, ya kan?" sela Sasa. "Dah ah, kelamaan. Mi, sorry, cowok ini beda seperti cowok yang kamu taklukkan. Biasanya kamu tau di mana cowok-cowok itu berada, tapi ini beda. Kita enggak tau apa-apa tentangnya, kecuali dari akun sosmed, ya kan Vi?"

"Ho o, setuju. Lagian cowok-cowok itu takluk kan karena kamu memang ... apa kata mereka, Sa?" tanya Vivi.

"Menggairahkan, seperti kuda liar."

"Heh," sela Mimi. "Siapa yang bilang gitu? Enak aja kuda liar."

"Ye semua cowok yang pacaran sama kamu," sahut Sasa, sesekali dia mengamati cowok yang sedang duduk membaca buku di kursi dekat tempat gym. "Dah ah, keburu kabur tuh cowok. Ada cara ampuh enggak? Minimal kita bisa kenalan gitu."

"Mi, buruan, ada cara instan enggak?" sambung Vivi. "Cepet dong, mikir aja lama banget, kek mikir jawaban soal Matematika."

Mimi memandang datar keduanya bergantian, lalu menyeringai kecil. "Mau instan?"

"Iya," jawab Vivi dan Sasa serempak.

"Ada caranya, mudah banget. Salah satu dari kalian pura-pura jatuh. Nanti, ada alasan nih buat kalian berkenalan--"

"Oalah, cuma itu?" Sasa menyela ucapan Mimi. "Kalau itu sih, dari baca novel teenfiction juga banyak! cliche sekali!"

"Tunggu." Vivi menarik lengan sasa. "Siapa yang jatuhin diri? Kamu apa Vivi? Janagn jatuh berdua."

Sasa menjawab, "Ya aku lah."

"Enak banget, ntar kamu dong yang mendominasi," ujar Vivi. "Aku sama Mimi jadi kambing putih."

"Ya itu urusanmu. Dah dulu, buru-buru nih."

Vivi menarik lengan Sasa, ia hendak maju duluan, tapi Sasa menarik balik, maju mendahului. Merasa dizalimi, Vivi menarik kasar lengan Sasa sampai gadis itu nyaris jatuh. Terus saja begitu hingga Mimi merekam semua kejadian itu pakai hp.

"Bagus! Buat instastory-ku! Hajar Vi! Yak, jambak rambutnya, Sa!" Sebagai teman yang baik, setelah puas menari-nari di atas penderitaan teman, juga karena mulai terciptanya kerumunan di sekitar mereka, Mimi melerai mereka juga. Dia seperti wasit tinju ketika kedua petinju saling gigit telinga.

Dia mendorong keduanya hingga saling menjauh. "Sudah sudah, woi! Malu dilihat orang! Dari pada ribut, mending suit deh. Yang menang, yang jatuh. Ayo, aku jadi wasit."

Saran bagus memang jarang dilewatkan. Baik Sasa dan Vivi memasang ancang-ancang, mengepal seperti Goku hendak melancarkan serangan kamehameha. Memang urat malu keduanya sudah lama putus.

"Suit!" Keduanya langsung memamerkan senjata masing-masing.

Vivi dengan telunjuk panjang sementara Sasa kelingking manis, tapi langsung diganti pakai jempol gede.

"Yey aku menang!"

"Apaan menang! Kelingking tadi! Mi, lihat kan, kelingking."

Mimi menarik keduanya supaya tidak baku hantam. "Sekali lagi sekali lagi."

Kali ini Vivi melancarkan serangan jempol, tapi Sasa sigap memamerkan kelingking. Vivi langsung ganti menjadi telunjuk.

"Tuh kan curang!" keluh Sasa.

"Eh, kamu duluan yang curang, dasar produk Micin!" sentak Vivi.

"Micin ..." Sasa baru sadar jika namanya mirip nama produk micin. "Oo dasar karakter 'Final Fantasy 9'!"

Vivi yang dulu pernah main game itu di PS1, tau siapa yang Sasa maksud dan itu membuat wajahnya semakin memerah."Apa? Enak aja! Aku mati dong!"

"Mau bernasib seperti dia? Sini, aku bantu!"

"Diam!" sentak Mimi, melirik ke Vivi dan Sasa secara bergantian. "Dah gini aja, kita adu pakai koin. Kalau garuda, Vivi maju, kalau sebaliknya, Sasa maju."

Ketiga gadis memandang koin di telapak tangan Mimi. Koin itu dilempar ke atas dan gagal mendarat di telapak tangan, jatuh menggelinding hingga nyangkut di permen karet, berdiri dengan bagian sisi menjulang ke angkasa.

Ketiganya bertukar pandang bingung. Sepertinya memang ada iblis yang bermain-main di sini, berusaha merusak persahabatan mereka. Vivi berinisiatif berjalan cepat mendekati cowok ganteng yang menjadi target, peduli setan dengan Sasa dan Mimi.

"Vivi, tunggu!"

Yang dipanggil enggan menoleh, fokus pada sosok target yang bakal menopang badannya kelak. Ketika sampai di sebelah pemuda itu, Vivi pura-pura tersandung, niatnya supaya jatuh ke pangkuan cowok di sebelah, eh dari belakang malah bokongnya ditendang Sasa. Sigap Vivi menarik kaki gadis itu hingga keduanya jatuh bersamaan di lantai.

Keduanya jatuh berpelukan, sama-sama berdiri dan saling beradu argumen dengan hinaan yang kalau didengar malah seperti lolongan guguk. Mimi kembali menengahi, tapi keduanya tak mau mendengar, apalagi mau diam. Mimi mengambil gelas berisi air teh, menciprati muka kedua sahabatnya baru mereka bungkam.

"Malu-maluin aja! Sudah sini, biar aku kenalkan langsung!" Mimi memandu kedua gadis untuk menoleh ke arah cowok di sebelah mereka.

Namun, pemuda itu lenyap bagai ditelan bumi. Ketiganya memandang sekitar, berusaha mencari jejak si ganteng. Hanya Vivi yang mengamati meja yang menjadi tempat singgah cowok itu. Terdapat buku Kejora jilid tiga di sana, kena tumpahan teh. Diam-diam ia memungut buku, pelan-pelan melangkah menjauh dari kedua sahabat, sambil memastikan baik Sasa dan Mimi tidak mengikuti dari belakang. Segera dia membawa kabur buku itu, pergi sendiri tak peduli pada kedua sahabatnya. Terutama pada Sasa. Kali ini dia menganggap gadis itu sebagai rival.

Vivi menerka cowok itu pasti datang memakai motor. Jika begitu hanya ada dua tujuan si cowok sekarang. Lahan parkir di luar mall atau lahan parkir bawah tanah mall. Pilihannya tiba pada lahan parkir bawah tanah. Dengan harap-harap cemas ia menaiki lift, memencet tombol paling bawah, yang akan membuat lift membawanya langsung ke tempat tujuan.

Selama menanti dia tak tenang, selalu bergerak sambil memasang wajah cemas seperti orang menahan berak. Ketika pintu lift terbuka, ia mendobrak keluar, hingga membuat beberapa orang di depan nyaris jatuh.

"Heh! Setan! Hati-hati dong."

Vivi tak peduli dengan ucapan para pemakai lift, dia menerawang jauh ke seantero lahan parkir bawah tanah yang pengap, berbau bensin dan oli, juga berisik oleh suara menggema kendaraan. Banyak motor berjajar rapi, beberapa kendaraan baru datang dan banyak yang hendak pergi. Belum lagi puluhan pengunjung mall berlalu lalang. Andai ada alat pendeteksi wajah pasti lebih gampang menemukan sosok pemuda itu. Syukur keberuntungan berpihak kepadanya.

Sosok itu sedang sibuk mengambil helm dari dalam jok motor. Dari jauh saja sudah beda sendiri, walau kurus tapi badan itu membentuk keindahan di atas rata-rata.

Tanpa malu Vivi melambai. "Kak Mas Oppa Ganteng! Bukumu ketinggalan, nih!" berteriak sambil berlari menghampiri.

Suara itu membuat banyak orang yang merasa ganteng menoleh bingung. Dia berlari penuh keceriaan menghampiri pemuda misterius.Yang dipanggil mengamati tingkah gadis tak tau malu yang sekarang berdiri di sebelah, dengan terengah sampai terbungkuk-bungkuk mengatur napas. Cowok itu cuek, lanjut melakukan aktifitas menutup jok motor.

Setelah napas kembali teratur, Vivi menyodorkan buku Kejora kepada pemuda itu. "Ini mas, bukumu tadi ketinggalan di meja foodcourt dekat gym. Untung yang menemukan gadis baik jadi bisa selamat nih buku mahal."

Dengan mata sipit, pemuda mengamati wajah Vivi, lalu berkata, "Loh, kamu kan yang tempo hari di toko buku? Stalking ya!"

"Stalking? enggak kok, ini cuma takdir." Vivi memberi senyum sehat sambil menodongkan buku ke pemuda di depannya. "Mas, kenalan dong, namaku Vivi--"

Dengan gerak lugas dan ketus pemuda itu mengambil buku. "Jangan mengikuti orang, mengerti?" 

Cukup kasar dia membuang buku tebal ke dinding hingga buku jatuh masuk tong sampah di bawah. Cekatan pula dia duduk di jok motor, tak peduli pada gadis yang masih bingung dengan apa yang dilihat barusan. Vivi tak menyangka pemuda itu begitu ketus, kelewat dingin. Dia memungut buku dalam tong sampah, menghampiri pemuda itu lagi.

Tanpa malu Vivi menepuk punggung pemilik buku. "Mas Kak Oppa, ini kenapa dibuang? Mahal loh."

Pemuda tetap cuek, tak menganggap Vivi ada. Jelas membuat gadis itu semakin bingung. Yang dia tahu pertemuan mereka karena buku Kejora, buku mahal nan langka, sekarang buku itu malah dibuang.

"Mas, ini kenapa dibuang? Mas marah, ya? Atau jijik karena buku ini aku pegang tadi?" Wajah Vivi layu seperti bunga bakung di malam hari. Bibirnya melengkung ke atas dan tangan yang bebas berusaha merebut kunci di motor, supaya cowok itu tidak lari.

Pemuda di atas motor urung pergi, sepertinya hati pemuda itu lemah karena tersentuh oleh aksi Vivi. Dia menyingkirkan dengan pelan tangan yang sembari tadi bergerilya berusaha mengambil kunci motor.

"Apa aku menjijikkan?" tanya vivi. "Padahal aku tuh mau kenalan."

"Oke kita kenalan, namaku Anjas. Kamu enggak menjijikkan, tapi buku itu yang memuakkan." Anjas mengambil buku di tangan Vivi. Dengan tenaga anak gym dia mampu merobek kasar benda itu jadi dua bagian, lalu menaruh buku ke tangan gadis itu. "Tolong buang buku hina ini. Dan tolong, jangan pernah menemuiku lagi."

Kalimat terakhir membuat Vivi terbakar amarah. "Sombong banget sih, jadi cowok, Mas? Mas tuh ganteng, tinggi, cool, tapi jangan jual mahal juga lah, ntar enggak laku loh."

"Cerewet."

Dikatai begitu, Vivi kesal hingga tak sengaja memutar gas. Motor tunggangan pemuda itu melesat seorang-orangnya menabrak kendaraan yang terparkir di seberang sana.

Mulut Vivi menganga lebar, lebar banget selebar terowongan kereta api, dan tidak bergerak melihat motor jatuh. Untung pengemudinya baik-baik saja, tapi beberapa motor di sekitar ikut jatuh. Seperti domino efek motor yang jatuh menimpa motor lain dan membuat motor lain jatuh, hingga akhirnya puluhan motor jatuh. Vivi cukup cerdas untuk kabur.

"Eh Vi, ada apa?" Sasa dan Mimi baru keluar lift, tak tahu kenapa banyak orang teriak-teriak dan pemuda dalam helm menunjuk ke arah Vivi. "Vi, jangan-jangan itu cowok--"

"Sudah sudah, ayo kabur. Sudah cukup." Vivi menggiring kedua gadis kabur.

"Heh Celeng!" teriak Anjas berusaha mengejar Vivi, tapi tertahan oleh orang-orang di sana.

Ketiga gadis berlari kencang, berusaha kabur dari sana. Untung motor mereka parkir di halaman depan mall.

"Vi, kamu apain cogan itu sampai mengejar kita? Hebat kamu Vi!" Mimi yang tak tahu menahu bertepuk tangan heboh sendiri.

Andai tertangkap, Vivi membayangkan hukuman apa yang menanti.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status