7. Diskusi Dilema

Setelah pulang dari mall, Vivi mengunci diri dalam kamar. Ia duduk di kasur menelungkup kepala ke antara dua kaki yang dilipat. Dadanya berdebar-debar ketika membayangkan kejadian di lahan parkir bawah tanah mall.

Bukan hanya motor punya Anjas, tetapi beberapa motor lain pasti rusak. Dia benar-benar menjadi anak nakal di sana. Bagaimana jika para pemilik motor yang rusak menagih uang kompensasi? Vivi hanya mahasiswi yang belum mandiri, masih bergantung kepada orang tua. Apa yang ibu akan katakan ketika mengetahui hal ini?

"Vi? Ada apa, Nak?" Suara ibu terdengar dari luar kamar, mengiringi ketukan lembut pintu. "Kamu kenapa, kok langsung masuk kamar? Sasa sama Mimi datang tuh. Vi, kamu mau menemui mereka?"

Sayup terdengar suara Mimi di luar sana. "Sudah tidur mungkin, Tante. Tadi habis main kejar-kejaran soalnya jadi Vivi kecapekan. Kalau begitu kami pamit pulang dulu, permisi."

Keadaan kembali sunyi hingga sayup terdengar suara TV dari luar kamar. Cukup lama Vivi terdiam membayangkan bagaimana keadaan Anjas. Apa dia dihakimi orang banyak? Beberapa kali suara getar android di atas meja belajar menggema dalam kamar, tetap dia tak bersedia mengangkat. Terlalu takut, bagaimana jika itu para pemilik motor? Atau Anjas? Mereka pasti meminta ganti rugi.

Suara mobil dari arah jalan depan rumah membuat Vivi sadar jika April baru pulang dari kondangan bersama pacarnya. Benar saja, suara Kakak dan Rafi terdengar mengobrol dengan ibu di luar sana. Lalu mesin kendaraan berangsur mengecil hingga sirna.

Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk. Ia berharap pengetuk segera pergi, tapi tidak. April malah masuk ke kamar, menyalakan lampu.

"Vi--ya Tuhan, kamu kenapa?"

April duduk di sebelah adiknya di kasur, membimbing Vivi tersayang masuk dalam rangkul serta memberi pundak untuk tempat bersandar gadis malang itu.

Hangat perlakuan Kakak membuat Vivi sedikit nyaman, sampai terdengar ucapan yang sedikit menusuk hati terucap dari bibir April. 

"Kok jadi begini sih, putus sama cowok--eh, sorry, jomblo kok, ya, lupa." April berharap mampu membuat Vivi tertawa atau marah, tapi gagal. Adiknya itu malah semakin larut dalam kehampaan. "Kenapa Vi? Kenapa jadi seperti ini? Ayo katakan, ada apa?"

Pertanyaan itu tak langsung terjawab karena Vivi menangis sesenggukan. Semakin lama semakin kencang suara tangis Vivi. Pelukan pada tubuh April juga semakin erat. "Aku takut banget, Kak. Bagaimana ini?"

"Ini ada apa? Takut kenapa? Kamu hamil?"

"Enggak! Tadi, tadi, tadi--"

Tentunya karena cara menjawab yang belepotan, tersedan-sedan, muncul tanda tanya di benak April. "Tadi tadi apa? Tadi habis mengaca terus sadar kalau kamu enggak cantik-cantik amat? Apa lihat pocong? Di mana? Waduh bahaya nih, pocongnya tau rumah kita enggak?"

"Bukan!" Akhirnya Vivi mengamuk juga, sampai teriak gede banget, lalu menangis lagi. "Tadi di mall tuh aku buat salah gede banget, Kak. Gimana ini? Nanti kalau ketahuan rumahku, didatengin, terus disuruh bayar--"

"Astaga, kamu mecahin kaca mall? Udah dibilangin kalau main jangan petakilan!"

"Bukan! Kok tega banget sih, adik sendiri juga dituduh hamil, mecahin kaca, jelek."

"Terus, apa?"

"Tadi kan, ceritanya begini ...." Vivi menceritakan semua kepada April. Mulai dari pertemuan dengan cowok super ganteng, sampai ulahnya di lahan parkir bawah tanah mall. "... nanti kalau mereka datang ke sini, minta ganti rugi, gimana Kak? Minta Kak Rafa Rafi buat bayar ya, please."

"Enak saja, pacar orang dijadikan tameng. Makannya cari pacar sendiri!" April melirik datar, dari pandangan itu sepertinya perasaan dia saat ini campur aduk antara kasihan sama marah. "Mereka lihat wajahmu, enggak?"

Vivi mencoba mengingat-ingat, lalu menggeleng pelan dengan bibir menjeb-menjeb.  

Histeris pula nada bicara April menanggapi jawaban adiknya. "Kamu terekam dalam CCTV, enggak?" 

"Sepertinya nggak."

"Ya sudah, santai saja, asal enggak ketahuan, aman."

"Kalau ketahuan?"

"Ya sudah, kan kamu yang dicari, bukan Kakak."

Tangis Vivi semakin kencang sampai memaksa guguk menggonggong di luar sana, bahkan membuat alarm mobil tetangga berbunyi. Alhasil suara itu menarik kehadiran ibu. Beliau berdiri di muka kamar menggeleng kecil tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar.

"April, kamu sudah besar jangan mengganggu adikmu. Itu kamu apain sampai nangis begitu?"

Vivi sigap membungkam mulut Kakak. "Enggak apa-apa Bu, cuma latihan nge-drama. Ibu balik nonton TV saja, biar aku sama Kakak latihan. Ditutup Bu, pintunya." 

"Sopan sama orang tua seperti itu? Nyuruh-nyuruh." Ibu menggeleng kecil menutup pintu hingga berbunyi dentuman pelan. Sepertinya beliau pergi dari sana. 

Sekarang ruang kembali sunyi, hanya suara tersedu-sedu Vivi yang tersisa. April menanti gadis itu supaya bisa mengontrol emosinya yang tak stabil terlebih dahulu, supaya ketika diberi nasihat kelak bisa masuk dan menetap dalam kepala.

Sebenarnya April tak ingin memberi kabar gembira ini karena belum pasti, tapi karena Vivi sedang terendam dalam laut galau, mungkin hal ini bisa menjadi penghibur. "Vi, Kakak punya berita bagus."

"Kabar apa? Mau nikah sama Rafa? Kasihan, dapet suami bunting duluan sebelum nikah." Mendapati lirikan tajam April, Vivi tersenyum pamer gigi putih, gigi sigungnya lumayan gede. "Bercanda kak. Apa nih berita gembiranya?"

"Kamu masih ingin menjadi penulis cerita profesional?"

"Masih, lah. Kenapa, mau nyuruh berhenti?" Ketus nada bicara Vivi.

"Apa itu membuatmu gembira? Enggak, kan? Makannya, dengar dulu, jangan asal menebak. Kakak ada kenalan editor novel, yang mengedit novel Kejora itu, loh."

"Bohong."

"Serius, sebenarnya kenalan Rafa sih, tapi nanti juga pasti jadi kenalan Kakak juga. Nah, tadi Rafa yang menawarkan, enggak mungkin bohong. Berhubung Kakak sedang baik, kamu mau enggak ketemu sama editor--"

"Mau! Mau banget, Kak!" Vivi merangkul Kakak seperti merangkul guling hingga yang dirangkul sesak napas. "Makasih banget ya, Kak! Vivi taku Kakak memang yang paling baik sedunia dan akhirat!"

Kasar April mendorong adiknya hingga pelukan terlepas demi menghirup udara segar lagi. Ia batuk-batuk mengelus dada yang kembang kempis. "Kamu sengaja mau bunuh Kakak apa gimana?"

"Ya sorry, kan sedang happy. Kapan Kak kita ketemu editor? Cewek apa cowok editornya?"

"Belum tau ya, mungkin cowok--hayo! Kalo berani peluk-peluk lagi, kutampol mukamu." Diancam seperti itu Vivi urung memeluk. "Kamu bisa bertemu dengan editor itu, tapi ada syaratnya."

"Syarat apaan? Aku enggak punya duit."

"Tahu kok kalau kamu miskin, bocil mana punya duit. Syaratnya kamu harus berhenti membuat akun kloningan. Stop memberi vote palsu. Jangan memberi komentar positif dalam ceritamu sendiri dan jangan plagiat cerita milik orang lagi. Kalau bisa, kamu juga coba minta maaf sama orang yang karyanya kamu curi, hapus semua akun palsumu. Bagaimana, sanggup?"

"Banyak banget, ditawar boleh?"

April bangkit berjalan pergi dari sana. Ia menahan pintu kamar sebelum keluar. "Kakak serius. Asal kamu tau, orang yang ceritanya kamu curi pasti sedih banget. Coba posisikan dirimu sebagai orang itu."

"Cara minta maaf yang baik, bagaimana?"

April terpaksa duduk lagi di tepi kasur demi menemani adiknya yang tertunduk bingung. "Ya minta maaf, sama seperti ketika kamu berbuat nakal dan dimarahi guru dulu."

"Nanti fansku bakal kabur, dong. Nama baikku hancur, kredibilitas pun bakal dipertanyakan, terus--"

"Parah banget otakmu, ya. Hati-hati, kena karma baru tahu rasa." April pergi ke luar kamar, mematikan lampu lalu menutup pintu sampai berbunyi cukup keras hingga suara dentuman menggema di ruang itu.

Vivi terlentang di atas kasur menerawang lepas ke langit-langit kamar. Followernya sekarang kebanyak akun asli. Pujian-pujian dalam part cerita juga nyata. Hujan vote pun deras. Ia sadar semua itu bukan untuknya, tapi untuk Efendi sang penulis asli. Semua pujian akan musnah bahkan bisa jadi berganti menjadi hujatan jika ia jujur pada dunia. Lalu bagaimana kelak?  

"Vivi." Suara itu membuat yang dipanggil duduk di tepi kasur, menoleh ke balkon kamar di mana sumber suara berasal. Sosok Anjas tersenyum, melambai dari sana. 

"Mas Kak Oppa ganteng, kok bisa ke sini?" Ia bangkit membuka pintu kaca dorong menarik lembut lengan pemuda itu. "Ayo masuk, di luar dingin."

Anjas menggeleng, duduk di lantai balkon sambil bersandar pintu kaca. Ia menepuk-nepuk lantai di sebelah, membuat Vivi duduk di sana. 

Semilir angin hangat malam khas Surabaya menerpa kulit gadis itu, juga membuat rambut hitam sedikit berantakan. Langit malam sedikit merah karena polusi cahaya tiba-tiba bertabur bintang. Anjas bermain-main dengan tangannya.

"Waah, Kakak magician!"

Pemuda itu mengangguk kecil. "Dengan imajinasi kamu bisa membuat khayalan menjadi nyata. Lalu, jika seseorang mengklaim keindahan yang kamu ciptakan, bagaimana perasaanmu?"

Vivi tertunduk. Ia tahu mau dibawa ke mana percakapani ini. "Pastinya marah, sedih, ingin menempeleng kepala pencurinya. Terus menghujat mati-matian, sampai yang dihujat mati kena serangan diare."

Anjas mengangguk kecil. "Sama seperti Efendi, dia pasti ingin menghajarmu. Asal kamu tahu, untuk menciptakan suatu karya butuh waktu, usaha, keinginan kuat, juga dedikasi. Semua itu dirampas begitu saja."

"Tapi kan--"

"Bagaimana jika kamu menjadi Efendi?"

Vivi menggeleng. Air mata kembali tumpah dari matanya. Ia memeluk lengan Anjas. "Aku pasti menangis."

"Nah. Cukup, sudah, cukup, jangan menangis. Sekarang coba minta maaf kepadanya. Beri apa yang pantas untuknya."

"Tapi, kalau begitu ceritaku hilang, dong."

"Ya harus. Itu bukan karyamu. Itu milik Efendi."

"Kalau minta maaf saja, enggak usah bilang ke publik bagaimana? Ya ... ok, aku hapus karyanya, tapi pakai alasan untuk direvisi atau apa, terus minta maaf pakai pesan gitu, ke Efendi." Vivi tak ingin kehilangan pamor.

Anjas menghela napas panjang. Ia bangkit, melangkah pelan menuju pintu utama kamar, keluar dari sana tanpa membuka pintu. "Pikirkan lagi Vi. Apa pantas kamu mendapat follower, vote dan sanjungan?" 

"Kak? Kakak mau ke mana?" Vivi berusaha mengejar Anjas, tapi gagal. Cahayaterang perlahan muncul, membuat silau.

"Kak!" Vivi terbangun, duduk di kasur. Cahaya matahari hangat menerpa kulit wajah. Ia mengatur napas yang tak beraturan. Sekujur tubuh berkeringat. Semua tadi hanya mimpi. Sekarang keputusan akhir ada di tangan Vivi. 

"Vi, bangun woi!" April membuka pintu tanpa mengetuk. Kepalanya nongol dari sela pintu yang terbuka. "Tuh editornya bisa menemuimu nanti sore, jam lima di kafe Manyar. Kenapa, kok sepertinya suntuk banget? Enggak mau ketemu editor? Kalau enggak mau, aku batalkan, biar dia enggak menunggu, kasihan."

"Mau lah!"

Vivi benar-benar dilema. Andai dia bertemu editor tanpa membawa karya, apanya yang mau diedit? Sementara karyanya, delapan puluh persen hasil plagiat, hanya part-part awal yang benar-benar ia tulis. 

Sekarang ia menghela napas kecil, tak bernafsu turun dari kasur membuka laptop, menyalakan mesin print. "Bagaimana ini?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status