8. Kafe dan Dia

Vivi belum tau pasti editor itu gadis atau laki. Walau demikian dia tetap bersemangat untuk menemui editor. Menurutnya ini adalah jalan untuk menuju kesuksesan. Ia sangat berharap editor itu mampu mengajari tentang dunia literasi.

Karena alasan itu, dia mengenakan pakaian terbaik milik Kakak, pakaian sopan serba tertutup. Blouse lengan panjang berwarna vanilla dengan bawahan celana jeans dan sepatu ket. Ia ingin tampil sesempurna mungkin dan membentuk image baik di pertemuan pertama.

Setelah siap, Vivi pergi menemui editor di tempat mereka janjian. 

Di dalam kafe, dia duduk dekat jendela sambil menonton banyak pejalan kaki berhilir-mudik di trotoar. Aroma pastri memberi nuansa nikmat. Obrolan lembut dari pelanggan pun tidak menghalangi suara musik yang menyapa telinga.

Seorang pelayan berkemeja panjang putih dengan rompi sweeter tanpa lengan datang menghampiri Vivi. Dia mentoel lengan gadis itu memakai ujung tumpul pena, membuat yang ditoel menoleh.

"Mau pesan apa, Mbak?" 

"Nanti saja. Ini sedang nunggu orang, Kak," jawab Vivi.

Pelayan mengangguk kecil lalu memandang sekitar. Betapa padatnya kafe di jam sore, nyaris tiada kursi kosong tersisa. Dia sedikit membungkuk untuk berbisik pada gadis itu.

"Maaf Mbak, sebenarnya aku ditegur bos. Disuruh bilang kepada Mbak, kalau enggak pesan apa-apa silahkan tunggu di luar. Kasihan pelanggan lain ingin masuk, malah harus menunggu karena tak ada kursi kosong."

Vivi panik. Segera dia membaca kertas menu yang sembari tadi menanti di atas meja. "O-oh, begitu ya. K-kalau begitu anu, ini, ahm, aku pesan ... ada milk shake?"

"Ada Mbak, mau dicampur buah--"

"Harganya?"

Gadis pelayan menarik lembut kertas daftar harga di meja, menunjuk beberapa jenis milk shake dengan bervariasi harga. Mulai paling murah sepuluh ribu rupiah sampai paling mahal dua puluh ribu rupiah.

"Jadi Mbak milih yang mana?"

"Yang strawberry saja, Kak."

"Baik kalau begitu, makanannya mau pesan apa, Mbak?"

"Aduh, ntar saja ya. Serius aku sedang nunggu orang."

"Baiklah kalau begitu, mohon ditunggu ya. Pesanan akan segera tiba."

Pelayan itu bergegas pergi menuju bagian belakang kafe.

Waktu berjalan lumayan cepat. Vivi mengamati jam tangan untuk yang kesepuluh kali. Jarum pendek menunjuk angka empat, sementara jarum panjang menunjuk angka sepuluh. Sesuai janji pertemuan akan berlangsung tepat pukul empat sore. Kurang setengah jam lagi dia bakal melihat seperti apa sosok editor.

Pelayan tadi muncul lagi membawa baki stainless berisi gelas panjang besar tunggal pesanan Vivi. 

"Ini Mbak, pesanannya." Gadis pelayan menaruh gelas itu ke atas meja plastik berukiran di depan Vivi. Gelas berisi susu berwarna pucat dengan bintik-bintik merah muda. Ada es batu tenggelam dan timbul di sana.

Pelayan tak langsung pergi, malah memandang ke arah pintu sambil berbisik pada Vivi. "Cowok itu bukan, yang Mbak tunggu?"

Vivi menoleh ke arah dekat pintu masuk kafe. Sosok familiar berdiri di sana, bersandar tembok sambil memandang layar android yang dipegang. Pemuda berkacamata dalam balut denim biru panjang dan celana jeans panjang biru muda.

"Mau dipanggilkan, Mbak?" goda pelayan. "Kasihan loh, dia dari tadi menunggu di sana."

"Ehm enggak usah, bukan kok, bukan dia yang aku tunggu." Walau sebenarnya Vivi ingin ke sana, tapi menahan diri karena sedang menanti orang super penting. 

"Ouh." Raut wajah pelayan kecewa. "Kalau begitu permisi Mbak, selamat menikmati."

Pelayan pergi kembali ke belakang meja bar menghampiri seorang pelayan lain yang sedang mengelap gelas. Keduanya berbisik-bisik hingga mengundang bartender ikut nimbrung. Ketiganya mengamati Vivi dan pemuda di dekat pintu sambil tertawa kecil. 

Vivi menoleh ke arah pintu masuk, mengintip sosok yang menjadi boyfriend imaginary-nya. Andai malam itu tidak berulah dengan merusak banyak motor di mall, sekarang pasti dia bakal menghampiri Anjas sekedar untuk menegur. Namun saat ini dia hanya berharap Anjas tidak melihatnya, supaya tidak meminta pertanggung jawaban untuk masalah di mall.

Waktu bergerak lambat. Jarum jam tangan tepat menunjuk angka empat. Vivi menoleh kencang ke arah pintu kafe. Apa sosok yang ia nanti berbadan gendut? Tua? Muda? Atau malah biasa-biasa saja? Seorang wanita atau pria? Semua pertanyaan membuat perutnya terasa hampa.

Tiba-tiba Anjas masuk kafe, duduk di kursi dekat pintu utama. Sontak Vivi membuang wajah supaya tidak terlihat olehnya.

Sesekali Vivi menoleh ke belakang untuk mengintip sosok pemuda yang sekarang sedang membaca menu sambil mengobrol dengan gadis pelayan. Sepertinya dia memesan sesuatu.

Apa mungkin Anjas sedang nge-date? pikiran Vivi mulai bermain tebak-tebakan. 

Satu jam berlalu. Pengunjung kafe datang dan pergi silih berganti. Mana sosok itu? Sesuai perjanjian, si editor akan datang dengan membawa mawar merah. Prediksi Vivi pasti editor akan memakai hiasan bunga mawar merah di bagian dada. Sementara sesuai rencana Vivi membawa stop map kuning, yang sekarang ditaruh di meja. 

"Gantengnya," bisik gadis pengunjung di meja sebelah Vivi, berbisik-bisik bersama teman. 

"Mana bawa bunga lagi, apa dia janjian mau nge-date?"

"Beruntung banget ceweknya, ya, dapat cowok yang romantis."

Vivi enggan menoleh, tapi bunga? Bunga apa? Ketika memandang ke arah Anjas, dia mendapati bunga mawar merah terkapar di atas meja. Kebetulan saja, pasti kebetulan. Pasti dia menanti pacarnya. Anjas bukan editor. 

Tiba-tiba hp Vivi dalam tas berbunyi nyaring, membuat getaran kencang. April menelepon. Secepat mungin dia mengangkat telepon. "Hallo, ada apa Kak?"

"Bagaimana, sudah ketemu sama editornya, belum?"

"Belum, Kak."

"Loh, emang kamu di mana?" Suara Kakak terdengar khawatir. "Enggak salah tempat pertemuan, kan? Coba cek nama kafenya."

"Enggak kok, ini di kafe yang dibuat janjian. Ramai banget sih, mungkin--"

April memotong ucapan Vivi. "Aneh banget, harusnya dia sudah datang. Tadi Rafa bilang editornya menunggumu. Coba cari, gih. Kasihan kalau dia harus menunggu lama-lama."

"Oke--eh, tunggu dulu. Emang editornya seperti apa?"

"Yaelah, kan sudah dibilangin, dia bawa bunga mawar merah! Coba cek sekitar. Jangan berpangku tangan aja."

"Iya iya, ini juga sedang mencari. Halo kak? Cih kok dimatiin,sih? Dasar cewek tua enggak jelas."

Setelah menyimpan hp ke tas, dia menoleh ke segala arah untuk mencari sosok si pembawa bunga mawar merah, tapi tidak ada bunga lain kecuali di meja Anjas. Sekarang badannya bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran keluar dari semua pori-pori. Sekarnag dia yakin jika Anjas adalah editor yang ditunggu. Bagaimana jika ditagih biaya ganti rugi? 

Vivi memilih pilihan terbaik yang ada dalam benak, keahlian warisan turun temurun. Dia kabur dari sana tanpa menoleh sedikit pun. Dengan mengendarai motor matik punya Kakak, ia benar-benar pergi lupa akan tujuan awal ke sana untuk apa. 

Sesampai di rumah, langit telah gelap. Ia memarkir motor di pelataran depan rumah, mendapati April menanti duduk di kursi teras rumah.

Kakaknya mengamati setiap gerak-gerik Vivi, sampai adiknya itu duduk di kursi kayu teras, terpisah satu meja kayu dari kursi yang April duduki. 

"Loh, kok lemes? draft-mu habis dihancurin, ya, sama editor. Sudah Kakak bilang, tulisanmu itu jelek banget. Sudahlah, semangat, dia pasti akan membantu hingga kamu mengerti--"

"Enggak kok. Tadi aku cabut duluan dari sana."

Spontal suara April mengegas. "Loh? Gimana sih? Enggak ketemu?"

"Sepertinya ketemu, cuma ya gitu--"

"Astaga Vivi." April mengelus dada sambil menggeleng kecil. "Kamu tau enggak dia tuh orang sibuk. Susah banget memaksa dia buat ketemuan."

"Ya mau bagaimana lagi," jawab Vivi. "Dia tuh cowok yang aku ceritain tempo hari."

"Yang mana? Tunggu, cowok yang motornya kamu rusakin?" 

Vivi mengangguk pelan. "Aku takut, nanti kalau dia minta ganti bagaimana?"

"Kamu sih, pakai main-main begituan. Kek kurang asupan cogan aja," sahut April ketus. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"

Vivi menanti kakaknya yang masuk ke rumah, tak lama kemudian dia keluar membawa helm bersama Ibu. 

"Mau ke mana," tanya Ibu, ketika April mencium tangannya. "Sudah mau Isya ini. Vivi, baru pulang, Nak?"

"Iya, tapi mau pergi lagi," jawab April. "Assalamualaikum."

Vivi cemberut ogah-ogahan ikut, tapi April memberi lirikan serigala murka, membuatnya tak berkutik mau dibonceng Kakak pergi. Motor itu kembali pergi dari rumah.

"Mau ke mana?" tanya Vivi.

"Ke kafe tadi."

"Kak, nanti kalau ditangkap polisi gimana?"

"Santai aja, polisinya malas nangkap kamu."

"Ih, Kakak!"

"Santai, kamu tenang aja, masalah itu sudah diatur."

Pernyataan yang bukan memberi rasa tenang, malah membuat Vivi bertanya-tanya. Ia semakin tak mengerti kenapa April bersikap santai. Sesampainya di kafe, sosok Anjas telah pergi. Kursi yang tadi ditempati pun sekarang diduduki orang lain.

"Kamu sih!" sentak April. "Kalau begini kan kasihan tuh cowok."

"Mbak, nyari barang yang tertinggal?" Seorang gadis pelayan membawa stop map milik Vivi yang tadi benar-benar lupa tidak dibawa pulang. "Ini, tadi cowoknya yang memberi kami stop map ini, juga bunga merah ini."

Vivi membuka stop map, mendapati draft novel dicoret-coret, pada halaman terakhir tertulis dengan huruf besar. Rusak! Novel sampah! Lusa kita bertemu di sini, jangan kabur!

WarmIceBoy

Perjalanan Vivi menuju cita-cita baru dimulai. Terima kasih sudah mau membaca sampai di sini, sekiranya sudi meluangkan beberapa koin untuk membaca cerita ini sampai tamat. Santai saja, cerita ini di bawah lima puluh bab, kok. Semoga kalian mau membaca sampai habis ya. Jangan lupa tinggalkan saran dan kritik, juga kesan dan pesan untuk penulis, ya. Sekali lagi terima kasih. Salam literasi :)

| 1

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status