44. Bandara

Motor yang Vivi kendarai, sampai di lahan parkir apartemen Anjas. Dia melepas helm sambil berlari kecil menuju gedung. Ia tak peduli pada Mimi dan Efendi yang baru datang melintas di samping mengendarai motor mereka.

"Astagfirullah, Vivi tunggu!" Sasa memungut helm yang Vivi lepas. Yang dipanggil benar-benar tak mendengar ucapan, malah nyelonong masuk seorang diri ke dalam gedung.

"Vivi, tunggu dulu, jangan bergerak sendiri seperti ini!" sentak Sasa, mengekor.

Di depan lift, Vivi memencet tombol berulang kali bagai tiada hari esok. "Cepet ... cepetan!"

Pintu lift terasa lama terbuka, bagai seabad dia menanti. Kesal Vivi memukul tembok. 

"Vivi!" sentak Sasa, menahan kedua tangan sahabatnya. "Jangan seperti ini, malu dilihat orang."

Vivi memandang sekitar. Dua sekuriti berada di dekatnya. Banyak mata pengunjung melihat dan mereka berbisik-bisik. Bahkan beberapa orang di kafe apartemen berkumpul di dekat kaca jendela memandang aneh k

WarmIceBoy

Semoga cerita ini dapat menghibur. Para pembaca, sedianya mau meninggalkan saran dan kritik, sehingga kedepannya author dapat memperbaiki juga membuat karya yang lebih baik lagi. Jangan lupa simpan novel ke dalam perpustakaan dan tinggalkan review kalian jika berkenan, ya. Happy reading. :)

| Like
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status