Alegoria
Alegoria
Author: Red Maira
Sepuluh Dosa Besar

SEPULUH DOSA BESAR. Demikian batu tulis raksasa itu mengukir diri, tegak berdiri berhadapan dengan gerbang emas setinggi tiga meter. Di bawah judul adalah rentetan dosa yang dimaksud,

  1. Pengkhianatan terhadap negara
  2. Nasionalisme tanpa pengorbanan
  3. Hukum tanpa keadilan
  4. Suara tanpa kebebasan
  5. Ilmu tanpa moralitas
  6. Pendidikan tanpa karakter
  7. Manusia tanpa kemanusiaan
  8. Menyerah tanpa berusaha
  9. Meminta tanpa memberi
  10. Hidup tanpa prinsip.

Inilah filsafat hidup Negeri The Great Alegra. Masyarakat dunia menyebutnya prasasti. Tetapi rakyat Alegra lebih senang memanggilnya secara lebih nyentrik, “Monumen batu berukir”. Artinya semata-mata karena batu itu diukir dan dipoles membentuk huruf-huruf yang menjadi tiang-tiang dasar negara.

Monumen itu terpajang ditengah-tengah air mancur yang dilingkari pohon-pohon hijau dengan tinggi sejajar. Tak jauh dari situ, himpunan bunga begonia, margot, krisan, mawar dan akasia berjejer rapi dalam petak-petak lahan yang teratur, menebar harum kepada keanggunan alam yang berwarna-warni.

Ramai dan damai. Monumen batu berukir selalu menyita perhatian, ditonton khalayak umum, disanjung-sanjung dan dikeramatkan. Inilah salah satu ikon kebanggaan nasional. Wajah pertama yang dilihat dunia jika menengok The Great Alegra.

Kontras dengan monumen tersebut, adalah rangkaian bangunan konstruksi kuno, kastil-kastil serta menara-menara panjang bernuanasa abad pertengahan dengan arsitektur yang begitu detail. Pembatas keduanya adalah pintu gerbang setinggi mercusuar. Gerbang utama berbentuk kotak, bertabur mozaik dekorasi rumit yang dibuat dengan ketelitian tinggi, diatasnya melengkung dengan apik, tulisan bersepuh emas dalam karakter Perancis kuno, “A Palace of Alegra”. Kompleks Istana Alegra, demikian rakyat Alegra menyebutnya. Istana Alegra, singkatnya.

Terletak tepat di jantung ibukota Penthalpa, kompleks Istana Alegra adalah perumahan paling diimpikan; anugerah kecil yang jatuh ke bumi. Ia adalah landmark bangsa sejak zaman The Great Alegra masih dipimpin oleh Raja Humbert dan Ratu Bethany. Usia Istana Alegra bahkan lebih tua dari keluarga Alegra sendiri. Dengan kubahnya yang super megah, bertahtakan emas berlian, Istana Alegra seperti gadis cantik yang tak pernah tua. Ia duduk disana, memandang pada keluasan kota, memandang pada garis hidup tiap-tiap rakyat, memandang kepada para pemuja dibawah kakinya, memandang berbagai pergolakan, suka cita dan duka negeri. Ia tidak berbicara, tidak mengeluh. Ia diam disitu, tetap muda dan ekslusif melewati berbagai zaman. Ia adalah permaisuri abadi.

Jauh lurus ke barat, timur, utara dan selatan dari Istana Alegra, adalah jalan aspal menuju istana utama, sebuah tempat maha luas dengan pesona tak tergapai. Diiringi rimbunan pohon-pohon tinggi yang ditunggangi anggrek di sepanjang sisi di beberapa titik, perjalanan menuju istana utama terasa seteduh musim semi. Menara-menara dan minaret jam menjulang, berwarna selembut krim, bersaing menjaga kompleks istana yang memiliki luas, tinggi, dan lebar melebihi luas, tinggi, dan lebar apapun di tanah air ini.

Tidak ada yang benar-benar tahu ada berapa bangunan, ada berapa kastil, minaret jam dan menara di kompleks itu, sebab berjalan seharian keliling tempat itu pun tidak akan mampu mencakup semua bagian, pun setengahnya tidak. Satu-satunya yang berhak tahu tentang keluasan kompleks itu adalah keluarga kerajaan Alegra dan satu-satunya orang yang paling tahu dari keluarga Alegra itu adalah tidak lain tidak bukan, Sang Raja, The Grand Duke of The Great Alegra, Lord Alastairs Yael Alegra.

*****

Untuk suatu alasan, bagi rakyat Alegra, Kompleks Istana Alegra adalah suatu misteri tak terjangkau. Apabila pesona monumen batu berukir dapat dinikmati publik, kehidupan dibalik gerbang Istana Alegra adalah sebuah ekslusivitas. Kehidupan apa yang berada dibaliknya? Apakah benar bahwa para keluarga Alegra harus menggunakan kereta api jika ingin berkeliling istana? Bahwa kompleks itu katanya memiliki bandara sendiri? Dengan landasan pacu, lapangan golf dan bukit salju sendiri? Seluas itukah? Semegah itukah? Pertanyaan-pertanyaan ini melampaui batas-batas imajinasi mereka. Ada rasa haru disana. Ada kebanggaan, bahwa peradaban negeri ini telah maju sedemikian rupa. Tetapi ada rasa pilu juga, seandaianya mereka adalah bagian dari keluarga Alegra. Ah, seandaianya...

Tapi rakyat Great Alegra sangat menghormati Lord Alastairs dan Lady Earlene selaku Raja dan Ratu, serta Prince Adrien dan Lady Luna selaku Pangeran dan Putri. Figur kerajaan tergambar sebagai keluarga sempurna. Baik Sang Raja, Sang Ratu, dan anak-anaknya adalah panutan. Semua jatuh pada kepatuhan total. Mencintai keluarga Alegra adalah bagian dari nasionalisme dan taat kepada Sang Raja adalah pengorbanan rakyat yang paling sempurna terhadap negara. Berkhianat kepada mereka adalah dosa yang tak terampuni.

*****

Oh ombak yang berdebur di bibir laut

Sungai jernih yang mengiris daratan

Pada gunung cadas yang diselimuti kabut

Angin lembah membawa kelembutan.

Oh tanah airku, Alegra Raya

Terbenam dalam doa,

Terlukis dalam gembira,

Aku adalah merpati yang lahir dari rahimmu.

Oh sejahteralah, Alegra

Engkaulah sang penyelamat dari petaka besar

Engkaulah sang pemimpin yang tak pernah gentar

Aku adalah merpati yang berlutut padamu.

Langit senja, merah muda,

Harum anggur menyeruak sampai samudera,

Kerudung suci disematkan pada Alegra Raya,

Takdir baik selalu bersama Alegra dan keluarga.

Terpujilah Alegra Raya, terpujilah Alegra!

Hiduplah tanah airku, hiduplah Alegra!

Terpujilah Alegra Raya, terpujilah Alegra!

Hiduplah tanah airku, hiduplah Alegra!

“Oh haruskah nyanyian itu diputar setiap pagi dan digemakan di seluruh negeri?” keluh Adrien, sesosok pemuda tampan berambut emas dan bermata biru.Waktu itu adalah kedua musim semi 1955, dan gaung paduan suara melambung, meledak di seluruh langit negeri; sebuah rutinitas yang tiap pagi hari dilakukan oleh segenap bangsa Alegra.

 Luna, gadis lembut yang tengah duduk tak jauh dari taman tempat kakaknya berada itu, segera menoleh. Adrien hanya menyunggingkan senyum lelah. Raut mukanya menyiratkan kekecewaan.

“Nasionalisme harus selalu dipupuk, Tuan muda,” tukas Carter, pelayan istana hampir lima tahun belakangan ini. Ia yang bertugas membuntuti Adrien di sepanjang perjalanannya mengelilingi taman, telah terbiasa untuk meladeni keluhan-keluhan Sang Pangeran. Lagi, Adrien menarik napas lelah.

“Nasionalisme, Carter, adalah bukan tentang seberapa sering kau mendengar lagu-lagu penyemangat itu. Namun nasionalisme hanyalah tentang siapa yang rela berkorban demi tanah air ketika tanah air itu sendiri tak memberikan ia apa-apa.”

Carter mengangguk, otomatis. Anggukan adalah hal wajib yang harus ia lakukan saat Adrien tengah berpendapat. Ia telah mengangguk sejak pertama kali bekerja untuk istana dan akan terus mengangguk sampai istana berhenti memperkerjakannya-yang ia harap tidak perlu terjadi.

“Tapi khusus untuk orang-orang tertentu, lagu-lagu seperti itu penting, mengapa? Karena kadangkala ia harus terus diperingatkan tentang darimana ia berasal dan apa sikap yang patutnya ia tunjukkan terkait dengan asalnya itu.”

Luna menghela napas, sadar kepada siapa ucapan itu ditujukan. Gadis bermata sebiru safir itu menoleh ke arah Adrien, sesuatu di dalam mulutnya ingin keluar sebagai kata-kata melawan namun sampai di ujung tenggorokan, kata-kata itu lenyap, menyisakan bibir yang bergetar.

“Lihatlah, sebentar lagi Putri Cantik kita akan pergi sambil berurai air mata. Oh malangnya, bahkan untuk membela dirinya sendiri pun ia tidak mampu.”

Adrien menyuruh Carter tertawa, maka Carter dengan enggan pura-pura tertawa. Luna memalingkan wajah kepada dua pemuda itu dan pergi dengan perasaan sedih yang mendalam. Tak terasa, tepat seperti dugaan kakaknya,  air mata Luna merembes. Adrien memalingkan muka, tak peduli.

*****

Adrien Moritz Alegra, The Duke of The Young Majesty of Alegra, calon penerus Raja. Tinggi. Tampan. Mapan. Tidak ada yang lebih diinginkan para gadis muda Great Alegra selain menjadi istrinya. Adrien menjanjikan apapun yang dicita-citakan seorang gadis muda; kehidupan gemah ripah gemilang sentosa. Adrien Moritz Alegra,  25 tahun, lulusan ilmu politik di Universitas Alegra. Pesona pangerannya membius. Ia adalah mutiara. Ia adalah emas. Ia adalah berlian. Ia adalah... fantasi sempurna dari kehidupan yang sempurna.

“Lewat sini,” seru Adrien mengarahkan Carter ke garasi di dekat sebuah kastil pribadi milik ibunya, Lady Earlene, The Grand Duchess of The Great Alegra. Mahkota di atas kepalanya menandakan bahwa ia adalah Sang Ratu. Perempuan paruh baya itu tengah sibuk duduk di beranda bersama dengan anjing pudel kesayangannya waktu Adrien datang.

“Mama,” sahut Adrien. Lady Earlene hanya menoleh, kemudian tersenyum sebentar dan kembali tenggelam dalam pikirannya.

“Apakah dia akan datang hari ini?” tanyanya.

“Ya, tentu saja, Tuan Gavin Marshall akan datang dan menjelaskan apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan negeri ini.”

“Oh, tidak, bukan itu maksudku, mama,” sela Adrien. “Maksudku “dia” yang kau rindukan?”

Lady Earlene merasa tertohok.

“Dia tidak akan datang,” tegas Adrien.

“Diamlah! Kau tak berhak mengatakannya,” serobot Lady Earlene, menjawab dengan nyelekit. “Kau tidak tahu apa-apa.”

Selanjutnya, keluar kalimat-kalimat andalan yang biasa diluncurkan pada saat-saat seperti ini, bahwa masalah seseorang adalah masalah seorang itu saja dan masalah seseorang akan diatasi oleh seorang itu juga. Jadi berhentilah berbicara, apalagi tidak ada yang memintanya berbicara.

Lady Earlene pergi bersama anjing pudelnya, meninggalkan Adrien yang naik pitam sendirian.

“Carter, cepat keluarkan limosinku!” gertaknya kepada asistennya.

Gemetaran, Carter mengeluarkan limosin hitam dari garasi. Lady Earlene menoleh sekilas dan mengamati tanpa ekspresi, tapi kemudian ia kembali berjalan tanpa peduli. Sementara secepat kilat, tubuh Adrien melesak masuk ke dalam mobil yang melaju kencang melintasi pemandangan: pepohonan, patung-patung, kastil, kolam dan air mancur. Di suatu tikungan, bayangan mobil lenyap tertelan kabut hawa dingin. Hilang di peradaban.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status