Intimidasi

"Ini karyawan Ibu, tak mampu bekerja dengan baik," tukas Pria berjambang itu.

"Iya kami, merasa tak nyaman dengan pelayanan cafe ini, karena waitress anda kurang profesional, sebaiknya anda memilih karyawan yang bisa di andalkan!" timpal Pria berjas hitam tak memiliki jambang, namun tubuhnya sama-sama besar.

Aku menarik nafas kesal, "Bu, kan biasanya kami para waiters, bekerja seperti yang sudah di perintahkan, dan sudah sesuai prosedur yang di tentukan,"

"Silvi, kamu jangan membantah dan jangan bersikap seperti itu pada Pak Devan dan Pak Reno! Kamu harus mengedepankan dan mengutamakan kenyamanan Pak Devan!" omel Bu Maya.

"Tapi Bu,"

"Kamu ikut, ke ruangan saya sekarang!" Bu Maya sepertinya marah besar padaku, dari sikapnya yang ketus, padahal aku tak membuat kesalahan, tapi kenapa dua Pria itu malah mengintimidasi ku, aku benar-benar tak mengerti.

Ku melirik pada wajah dua Pria aneh itu, mereka saling menoleh dan tatapannya bertemu, sambil menunjukan senyuman miring, apa maksud dia sebenarnya, apa yang mereka mau dari diriku. Lalu aku menoleh ke arah dimana Mas Alex duduk, namun dia tak ada di situ.

Hanya gelasnya saja yang masih penuh dan dia tinggal begitu saja, entah pergi kemana dia, kenapa dia tak membelaku? Apa dia tak tau, dengan apa yang sudah terjadi padaku. Apakah dia tak berani menghadapi dua Pria yang telah memojokkan ku, sehingga Mas Alex menghindar, ah aku tak tau, mungkin hari ini, adalah hari sial ku.

"Silvi, duduk!" titah Bu Maya.

"Iya Bu."

 Kami duduk saling berhadapan, Bu Maya menegakkan tubuhnya seraya menautkan kedua tangannya di meja, ku meremat ujung kemeja seragam kerja ku, perasa'an ku kalut sa'at ini dan benar-benar tidak tenang, ku tundukkan wajah ini, aku tak berani menatap wajah Bu Maya yang sedang marah, apa aku akan di pecat oleh Bu Maya? Aku tak tau, aku hanya bisa pasrah.

"Silvi, kamu tau?"

Aku menggeleng pelan.

"Silvi, dia Pak Devan, orang terkaya di kota ini, beliau pemilik perusaha'an property, hotel-hotel di kota ini sebagian besar adalah aset miliknya, kamu harus memprioritaskan Pak Devan! Dia adalah pelanggan terbaik di sini! Silvi, kamu tau?"

Bu Maya mencondongkan tubuhnya ke depan, aku menggeleng, tak mengerti, "Silvi, beliau hanya ingin kamu yang melayaninya, dan tak mau di layani oleh waiters lain, jadi kamu jangan dulu melayani pelanggan sebelum selesai dengan urusan Pak Devan! Jika dia meminta di bawakan sesuatu oleh kamu, ya, kamu harus turuti!"

"Oh, tapi kenapa dia, selalu ada di sini?" tanyaku polos.

"Yang namanya orang kaya, ya bebas, terserah dia mau berada di mana pun, kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Gak Bu,"

"Ini peringatan untuk kamu! Jika kamu membuat kesalahan sekali lagi, kamu akan saya tindak lanjuti, gaji kamu akan saya tahan! Bahkan saya bisa saja memecat kamu!"

Nafas ku sesak mendengar penuturan Bu Maya yang mengintimidasi ku seperti itu, ya Tuhan aku benar-benar tak habis fikir, hanya sedikit aku berbuat kesalahan, dan itu tak di sengaja, bahkan itu bisa di bilang bukan kesalahan ku, dia sampai segitu marahnya padaku.

"Sekarang, kamu boleh ke luar!"

Aku pun berlalu dari ruangan Bu Maya, dengan hati yang kesal pada Devan dan Reno, dadaku sesak kedua tangan ku mengepal.

"Nona." Pria itu berjalan menghampiri, dan berdiri di hadapan ku kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

"Apa? Kamu puas," ketus ku.

"Ma'af." Dia menundukkan kepala di hadapan ku, wajahnya terlihat menyesal, namun aku tak tau pasti dia benar menyesal atau hanya bohong belaka.

 Aku mengangkat wajah ini, dengan nafas memburu, ku tatap wajah itu dengan tatapan kesal, marah dan benci bercampur jadi satu di hatiku pada dua Pria ini.

"Anda senang, karena saya sudah di marahi, dan di beri surat peringatan oleh Bu Maya?" tukas ku.

"Nona, Ma'af kan saya! Saya berjanji, kamu tidak akan kehilangan pekerjaan mu,"

"Hm," ketus ku sembari membuang muka.

"Nona, kami mohon, maafkan kesalahan kami! Terutama saya, yang  bersalah," ucap Pria bernama Devan.

"Silvi..." Suara Bu Maya terdengar lantang dari ruangannya, karena pintu tak aku tutup kembali, tadi setelah aku keluar dari sana. Aku pun langsung menunduk, takut Bu Maya keluar dan memarahi ku lagi, bisa-bisa gajiku di tahan olehnya.

"Iya, saya sudah memaafkan Pak Devan," ucapku segera.

"Nona saya tau, kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini, dan kamu sedang membutuhkan uang banyak, apa kamu mau menerima tawaran saya? Saya bisa membantu kamu! Keluar dari masalah kamu!"

"Apa? Tawaran apa?" Aku mengerutkan kening, dari mana dia tau aku sedang membutuhkan banyak uang, "Maksud anda, membantu apa?"

"Saya akan memberimu pekerjaan yang mudah, dan gaji yang besar, apa kamu mau?" 

"Kerja apa?"

"Menjadi, asisten pribadi Bos saya!" Pria bernama Reno menimpali ucapan Devan.

"Eum, tapi,"

"Kamu bisa fikirkan matang-matang! Ini kartu nama Bos Devan," ucap Reno menyodorkan kertas tebal padaku.

"Iya," dengan hati ragu aku mengambil kartu nama tersebut.

"Sekali lagi saya minta Ma'af! Saya permisi," ucap Reno dan Devan berlalu dari hadapan ku.

Mereka berdua keluar dari cafe ini, aku mengantarnya hingga ke depan pintu. Ku menatap mobil mewah yang di naiki oleh kedua Pria aneh itu menurutku, hingga hilang dari pandangan. Ku membaca kartu nama tersebut dan aku masukkan ke dalam saku kemejaku.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status