3. Lost The Key

"Ares, balikin kuncinya!" Lisa berseru marah. Ares malah mengangkat tangan kanannya lebih ke atas, meninggikan kunci gembok sepeda Lisa agar ia tidak bisa menggapainya. Menyebalkan!

Baru saja tadi Lisa berpikir hari ini momen terlangka karena ia tidak marah-marah pada Ares seperti biasanya. Tapi ternyata pemikiran itu salah. Tidak ada momen terlangka! Ares tetap menyebalkan setiap saat. Dia kembali berulah.

Tadi saat Lisa akan pulang, kunci gembok sepedanya yang diparkir di pinggir jalan hilang. Lisa panik. Pasalnya ia memang teledor dengan hanya menggenggam kunci itu di tangan, tidak memasukkannya ke saku atau tempat semacamnya. Saat Lisa sedang bingung-bingungnya mencari, tiba-tiba Ares datang sembari mengangkat tangan, memperlihatkan kunci yang ia pegang. Rupanya kunci itu jatuh dan ditemukan olehnya. Lisa hampir berterimakasih dan mengambil kunci itu sebelum akhirnya Ares menarik kembali tangannya, menganggu Lisa seperti hobi sehari-harinya.

"Makanya yang tinggi. Masa ambil kunci segampang ini nggak bisa?" ujar Ares, tersenyum mengejek. Lisa menatap sebal. Dasar, sok! Mentang-mentang dirinya tinggi sedangkan Lisa pendek!

"Balikin, Res. Aku mau pulang." Lisa berjinjit, masih berusaha mengambil kunci dari tangan Ares. Ares malah memundurkan tangannya, membuat Lisa harus maju mendekat ke arah pemuda itu.

Saking gemasnya, akhirnya Lisa memilih cara lain. Ia meloncat setinggi mungkin, lalu menyampar tangan Ares keras agar kunci itu lepas dan terjatuh. Dan benar saja, kunci itu terlepas dari tangan pemuda itu. Tapi yang membuat Lisa melototkan mata, kunci itu terjatuh ke lubang selokan yang tertutupi jeruji besi di samping Lisa.

Dada Lisa langsung kembang kempis demi melihat hal itu. Ia menoleh ke Ares, menatapnya tajam. Ini sudah keterlaluan. Ares benar-benar menyebalkan. Terlebih saat ia hanya memasang wajah sok terkejut melihatnya.

"Serahlah! Bodo amat!" Lisa melangkah pergi dengan rasa sebal menggerumul di hati. Tidak peduli jika ia harus berjalan kaki dua kilometer untuk sampai ke rumahnya. Tidak peduli dengan sepedanya yang masih terparkir di pinggir jalan sana. Curi saja sana sepeda kesayangannya! Lisa sudah lelah. Ia tipe orang yang tidak peduli apapun ketika emosinya sudah sampai puncak.

Baru melangkah sebentar, senja semakin menghilang di ufuk barat sana. Sebentar lagi malam akan datang. Lisa mendengus sebal, teringat tingkah menyebalkan Ares yang membuatnya harus berjalan kaki seperti ini. Lisa langsung menepuk dahinya ketika teringat sesuatu. Ia tidak membawa ponsel tadi! Bagaimana caranya memesan taksi online?!

"Buruan naik."

Lisa melirik seseorang di sampingnya. Itu Ares dengan sepeda hitamnya. Sejak kapan ia memakai sepeda? Lisa tidak salah lihat kan? Biasanya pemuda itu membawa motor kemana-mana.

"Nggak usah." Lisa menjawab ketus, tetap berjalan memandang lurus ke depan. Ia sebal melihat wajah Ares. Tidak peduli dengan perkataan banyak orang bahwa dia tampan. Apa gunanya tampan jika menyebalkan?

Ares yang masih mengayuh sepeda berujar, "Jangan ngambek. Nanti ada orang yang bakal bawa kunci duplikatnya terus anter sepedanya ke rumah. Buruan naik. Nggak takut jalan kaki sendirian jam segini?"

Tidak ada gunanya. Lisa tetap tidak peduli. Ia malah menyeringai meremehkan. Memangnya Ares bisa sepeduli dan sebertanggungjawab itu padanya? Kerjaannya saja hanya membuat Lisa sebal.

"Kalau aku bilang nggak usah, ya, nggak usah," ucap Lisa sebal, mempercepat langkah kakinya. Tapi tiba-tiba Ares memberhentikan sepedanya di depan Lisa, menghela napas menatapnya.

"Pokoknya naik."

Lisa menatap tajam ke arah Ares sejenak, lalu berakhir menghela napas lelah. Dasar, pemaksa! Lisa baru sadar ucapannya sedari tadi sia-sia. Mana mau Ares mendengarkan ucapannya, meskipun Lisa juga sama tidak mau mendengarkannya sih. Tapi setidaknya ego Lisa tidak setinggi pemuda itu.

"Aku naik dimana?" tanya Lisa, masih menekuk wajah sebal. Ia mengernyitkan dahi ketika tidak ada pijakan kaki di belakang sepeda.

"Di depanlah, Sa. Mana bisa di belakang. Coba aja kalau mau."

"Yakali di depan!" seru Lisa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pantatnya jika duduk di besi sesempit itu.

"Daripada jalan?" ujarnya.

Lisa menghela napas untuk kesekian kalinya, bergerak duduk di depan Ares. Pemuda Reigara itu tersenyum. Ia mencondongkan tubuh ke depan, meraih stang, mempertipis jarak antara Lisa dengannya. Lisa menelan saliva, lebih menundukkan badannya. Ini terlalu dekat. Pasalnya ia merasa tubuh Ares sampai menyentuh pundaknya. Bahkan hembusan napas pemuda itu terasa hangat di tengkuk Lisa.

"Jangan deket-deket. Risih." Lisa berucap pada akhirnya.

Ares terkekeh, "Harusnya kamu yang agak nunduk. Kepalamu nutupin jalan ngerti nggak," ucapnya.

Lisa mendengus sebal, segera menundukkan kepalanya sampai nyaris menyentuh stang. Jika saja ia membawa ponsel, ia pasti tidak akan mau berada di posisi paling tidak mengenakkan ini bersama Ares. Sudah pantatnya sakit, badannya juga harus menekuk tidak jelas. Itu belum kakinya yang nanti harus menyingkir agar tidak terkena sedel yang dikayuh Ares. 

Dasar, Ares menyebalkan!

Sepertinya Lisa memang harus menarik kata-katanya tentang momen terlangka tadi. Hari ini sama sekali bukan momen terlangka, melainkan momen yang biasa terjadi saat Ares mengganggunya sampai taraf 'benar-benar sangat menyebalkan' dan membuat emosi Lisa memuncak. Anehnya, ia selalu memaafkan Ares tidak lama setelah itu. Pemuda itu yang membuat Lisa kesal, tapi ia juga yang membuat Lisa melupakan kekesalannya. Entahlah... Lisa juga tidak tahu mengapa bisa begitu.

"Lewat jalan mana?" tanya Ares.

"Lurus aja dulu. Nanti aku kasih tahu," jawabnya.

Ares mengangguk, menggenggam kuat pegangan di stang. Sedetik kemudian, Lisa merasa sepeda yang ia naiki bergerak. Ares mulai mengayuh sepedanya dengan Lisa yang masih berada di posisi tidak mengenakkan seperti sebelumnya.

Yang terpenting, Lisa harap ia tidak akan menemui jalanan berlubang nanti.

***

"Stop!" Lisa berseru tiba-tiba. Ares yang mendengarnya mengerem sepeda mendadak. Payahnya, Lisa yang belum bersiap-siap harus menanggung akibatnya. Kepalanya terantuk besi stang di depannya cukup kencang.

"Santai dikit bisa nggak sih, Res." Lisa turun dari sepeda, mengelus-elus dahinya yang sakit karena menabrak stang.

"Tadi yang tiba-tiba teriak suruh berhenti siapa?" Ares bertanya retoris, nampak tidak merasa bersalah. Dia memang selalu seperti itu. Bahkan Lisa belum mendengar kata maaf terucap darinya setelah kejadian kunci gembok sepedanya yang masuk selokan. Dia itu sok dan menyebalkan sekali kan?

"Rumahmu yang ini?" Ares bertanya, menoleh ke rumah di sampingnya.

"Kepo." Lisa menjawab singkat. 

Sebenarnya rumahnya masih jauh. Sekitar tiga puluh meter lagi untuk sampai sana. Tapi mana mau Lisa menunjukkan rumahnya pada Ares? Yang ada pekerjaan mengganggu dan merusuhnya itu bisa melebar sampai ke rumah Lisa. Lebih baik mencegah sesuatu yang tidak baik sebelum sesuatu itu terjadi.

Hmm... semua orang tahu hal itu, Author.

Lisa sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana ngerinya jika suatu hari Ares menyebar satu klan cicak ke rumahnya lalu cicak itu menginvasi kamarnya. Bisa-bisa Lisa mati ketakutan saat itu juga. Bahkan suara cicak yang berdecak bahkan langsung terngiang di kepala Lisa hanya dengan memikirkannya. Sial! Kapan rasa takutnya akan hilang?

"Nanti malem ada acara?" Ares tiba-tiba bertanya.

Lisa menyipitkan mata, menatap pemuda di depannya penuh selidik. "Jam 8 malam nanti ada acara keluarga. Mungkin selesai jam sepuluh kalau nggak jam sebelas." Lisa teringat ada acara makan malam bersama keluarganya di rumah keluarga rekan ayahnya nanti. Disana Lisa akan bertemu dan berkenalan dengan calon tunangannya untuk pertama kali. Jadi... Lisa memang sedikit deg-degan sekarang. Itu wajar saja kan?

"Kenapa? Mau ngajak pergi? Sori, tapi males banget," lanjut Lisa.

Ares terkekeh, mengembangkan senyum. Pemuda itu melipat tangan di atas stang, menatap Lisa di depannya. "Sejak kapan bisa ke-PD-an? Nggak ada yang ngajak kamu jalan. Nanti malem aku juga ada acara."

"Ngapain nanya kalau gitu?" Lisa berdecak sebal, memutar bola mata jengah. "Sana pulang. Ngapain disini terus? Buang-buang waktu tahu nggak ngobrol sama kamu."

"Nunggu kamu masuk rumah," kata Ares.

"Nggak usah. Udah sana pulang!" Lisa mendorong stang sepeda Ares tidak sabaran, menyuruhnya segera pergi. Pasalnya ia sudah menahan BAK sejak tadi. Tapi pemuda di depannya malah seperti mengulur-ulur waktu agar ia tidak jua pulang ke rumah.

"Nggak bilang makasih?" ujarnya.

Lisa tesenyum miring, menggeleng. "Nggak, makasih."

"Jadi itu bilang makasih atau nggak?"

"BODOAMATLAH! BURUAN SANA PERGI!" Lisa berteriak kesal.

Ares tertawa, segera membelokkan stang untuk berbalik pulang. "Daahh, Sa..." katanya. Pemuda itu melambaikan tangan, lalu melayangkan flying kiss seperti biasa. Lisa hanya menyeringai jijik. Kebiasaan pemuda Reigara itu tidak pernah berubah. Apa ia selalu ber-flying kiss ria sebelum pergi meninggalkan seseorang?

"Hati-hati. Nanti di kamar ada cicak!"

Lisa melotot tajam. Ares sudah mengayuh sepedanya cepat menjauh darinya. Sekali-kali ia memang harus melempar Ares dengan sandal miliknya agar ia berhenti bermain-main dengannya jika masalahnya bersangkutan dengan cicak. Awas saja!

Setelah pemuda Reigara itu menghilang di kelokan jalan, Lisa segera melangkah cepat menuju rumahnya. Tidak lama, kurang lebih lima menit untuk sampai sana. Sampai rumahnya, suatu hal membuat Lisa terkejut. Ia melihat sepeda biru miliknya sudah ada di depan rumah. Ares memang mengatakan akan mengantarkan sepeda miliknya tadi. Tapi sejak kapan ia tahu rumahnya?

Ck! Berarti sedari tadi pemuda Reigara itu hanya sok-sokan tidak tahu rumahnya. Dasar, licik! Sepertinya Lisa memang harus berjaga-jaga jika pemuda itu benar-benar menyebar satu klan cicak ke rumahnya. Merepotkan!

Bersambung.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Naila Alifa
Pasti nich yg dijodohin dengan Lisa itu ares ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status