5. Inverse Matrix

Pagi ini hujan membasahi bumi. Langit mendung. Matahari urung menampakkan diri. Lisa memandangi jendela mobil yang berembun. Ada titik-titik air hujan di luarnya. Rasanya seperti alam mengerti suasana apa yang mendukung perasaannya yang sedang berkabut ini.

Waktu menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Biasanya ia sudah sampai sekolah sekarang. Tapi entahlah, hari ini Lisa sedang malas. Sebenarnya semua sudah siap sejak sebelum jam enam tadi. Hanya tinggal memanggil Pak Udin supir di rumah Lisa untuk mengantarnya ke sekolah. Tapi ia malah tiduran di kamar malas sampai jam enam lebih. Mungkin ia akan lupa berangkat jika ayahnya tidak mengetuk pintu kamarnya tadi.

Ck! Ini semua gara-gara tadi malam. Moodnya masih saja buruk sampai sekarang.

"Sekolahmu baik kan, Sa? Nggak ada masalah?" Ayah Lisa di sebelah kanannya tiba-tiba bertanya, menatap ke arahnya sekilas, lalu balik menatap jalanan. Ayahnya memang yang mengantar Lisa ke sekolah pada akhirnya. Katanya sedang tidak sibuk. Akhir-akhir ini ayahnya memang jarang menghabiskan waktu bersamanya. Lisa maklum, ayahnya punya beberapa proyek besar yang menyibukkannya bulan ini.

"Baik kok, Yah. Nggak ada masalah." Lisa tersenyum tipis, menjawab pertanyaan ayahnya. Ia menyenderkan punggung ke belakang, menatap traffic light yang berubah warna menjadi merah. Ayahnya segera mengerem mobil.

"Kapan kamu UTS?" Kali ini ayahnya sempurna menoleh menatapnya.

Lisa tertegun sejenak, "Masih dua pekan lagi kok. Ayah tenang aja. Pernikahannya nggak akan ganggu UTS-ku," jawab Lisa.

Ayahnya menghela napas panjang, nampak merasa bersalah. Sebenarnya niat Lisa berucap biasa saja, tapi kedengarannya seperti menohok ayahnya sekali. Tapi sungguh, ia tidak berniat seperti itu. Lisa hanya berkata sesuai kenyataan. Pernikahannya akan diadakan seminggu lagi. Dan ia rasa itu tidak akan menganggu. Yang berubah antara Lisa dengan Ares hanyalah status. Keadaannya akan sama seperti biasa. Lisa tinggal di rumahnya sendiri, begitu juga dengan pemuda Reigara itu. Lebih simpelnya, orang-orang menyebut hal itu dengan 'nikah gantung'. Dan Lisa masih tidak menyangka akan melakukan hal gila itu. Jika dipikir-pikir, apa gunanya coba? Lebih baik tidak usah menikah saja!

Mobil yang dikendarai ayahnya kembali berjalan ketika traffic light berubah warna menjadi hijau. Hujan telah berhenti di luar sana. Lewat satu kelokan lagi Lisa akan sampai ke sekolahnya. Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Lisa segera bersalaman dengan ayahnya. Ia keluar dari mobil, melirik jam tangannya sekilas. Waktu menunjukkan pukul setengah enam kurang. Keadaan depan gerbang cukup sepi. Belum ada banyak murid yang berangkat.

"Lisa, sebentar." Baru dua langkah berjalan, tiba-tiba ayahnya keluar dari mobil, memanggil namanya.

"Ya?" Lisa berbalik, menghadap ayahnya yang berjarak satu setengah meter dari tempatnya berpijak. Matanya berkedip beberapa kali, menunggu ayahnya berbicara.

Ayah Lisa menghela napas pelan. "Maafin Ayah ya, Sa. Ayah tahu kamu pasti terpaksa terima perjodohan itu. Dan ayah baru sadar sekarang, ayah udah tukar kebahagiaan anak ayah sendiri dengan ikatan bisnis. Kamu pasti nggak bahagia kan, Sa? Tapi itu perjanjian yang harus ditepati. Ayah nggak bisa langgar perjanjian itu. Maaf... Ayah belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu."

Lisa tersenyum, bergerak memeluk ayahnya. Mendengar permintaan maaf ayahnya sudah cukup membuatnya bahagia. Setidaknya ayahnya masih sama menyayanginya seperti dulu. Masih memikirkan kebahagiaannya, meskipun tidak merubah apapun. Lisa tahu, hidup tidak selalu berada di satu keadaan. Menyalahkan ayahnya bukanlah pilihan yang tepat. Menyalahkan takdirpun juga sama saja.

"Jangan bilang kayak gitu, Yah. Lisa bahagia kok kalau ayah bahagia," ujar Lisa, masih berada di posisi yang sama. Entah kapan terakhir kali ia memeluk seerat ini pria yang nyaris berusia setengah abad di depannya. Pria yang ia panggil dengan sebutan ayah. Pria yang membuatnya tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang jika berada di dekatnya.

"Ayah sendiri masih nggak ngerti kenapa kamu bisa terima perjodohan itu tanpa penolakan sekalipun. Anak lain di luar sana pasti udah marah-marah, bahkan kabur dari rumah karena nggak mau." Ayahnya menerangkan. Lisa merenggangkan pelukan, kembali tersenyum menatap pria di depannya.

"Ayah harusnya bersyukur punya anak yang nggak seribet anak-anak di luar sana. Lisa itu simpel," ucapnya. Ayah Lisa hanya tersenyum mendengar perkataannya.

"Yaudah. Lisa masuk dulu, Yah. Kayaknya hujan mau turun lagi." Lisa mendongakkan kepala, merasakan beberapa titik air mengenai wajahnya.

Ayahnya mengangguk, berkata seperti kebanyakan orangtua biasanya. "Belajar yang rajin ya, Sa. Jangan lupa makan siang tepat waktu," nasihat ayahnya. Lisa mengangguk, segera bersalaman dengan ayahnya untuk kedua kalinya.

"Assalamu'alaikum, Yah."

"Wa'alaikumussalam."

Hujan turun semakin deras. Lisa segera berbalik menuju sekolahnya, berlari kecil. Selama perjananan menuju kelas, ia tersenyum tipis. Percakapan dengan ayahnya tadi membuat beban di hatinya sedikit berkurang. Hanya sedikit, tapi mampu membuatnya kembali tersenyum. Seperti itulah kekuatan seorang orangtua; memberi rasa nyaman. Tak peduli hal apapun yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

***

"Dimas, kamu mau ke kantin?" Lisa menoleh ke samping, bertanya pada pemuda bernama lengkap Dimas Mahardika yang duduk tak jauh darinya.

Pemuda kurus tinggi itu menggeleng, "Nggak. Emang kenapa, Sa?"

"Boleh minta tolong jelasin ulang bab invers matriks barusan? Aku tadi nggak terlalu merhatiin Bu Rika, jadi kurang paham. Mau kan?" tanya Lisa.

Sebenarnya tempat duduk Lisa ada di barisan paling depan. Bahkan ia menyimak penjelasan Bu Rika di depannya dari awal sampai akhir. Tapi tetap saja, tidak ada pemahaman yang masuk ke otaknya. Rasanya seperti yang ia dengarkan sedari tadi lewat begitu saja di telinganya. Terlebih guru matematikanya itu hanya menjelaskan tanpa memberi latihan. Mungkin Lisa sedang tidak fokus dan terlalu memikirkan hal lain tadi. Biasanya ia tidak sebodoh ini dalam memahami dan meresapi Matematika. Yasudahlah, sepertinya Lisa memang butuh pencerahan. Lebih baik bertanya pada Dimas si juara kelas sekarang daripada kebingungan saat ujian nanti.

Dimas mengangguk. "Boleh. Kita kerjain PR yang tadi dikasih Bu Rika sekalian," katanya.

Lisa tersenyum, segera duduk di samping bangku Dimas yang berada di barisan kedua. itu anak baik. Supel dan tidak pelit ilmu. Jika ada seseorang yang bertanya pelajaran padanya, ia akan menjelaskannya dengan sabar sampai seseorang itu bisa. Pelajaran yang paling ia kuasai adalah Matematika, meskipun pelajaran-pelajaran lain dia sama menguasainya. Hal itu juga yang membuat pemuda itu selalu peringkat pertama dua semester berturut-turut. Rival ketat Lisa yang menduduki peringkat kedua di kelasnya. Tapi sungguh, butuh usaha extraordinary bagi Lisa untuk mengalahkan pemuda itu.

"Bagian mana yang belum paham?" tanya Dimas di sebelah Lisa.

Lisa menunjuk poin pembahasan di bukunya. "Invers matriks yang berordo 2x2 udah paham. Cuma yang berordo 3x3 masih bingung. Cara nyari minor matriksnya gimana?"

"Oh, metode kofaktor, ya?" Dimas mengangguk mengerti, segera mengambil buku coret-coretan di depannya. Ia menulis satu contoh matriks, lalu menjelaskan bagian yang belum Lisa pahami.

Suasana kelas yang awalnya tenang-tenang saja berubah sedikit rusuh ketika seseorang masuk ke dalam kelas. Itu Ares dengan membawa beberapa makanan di tangan. Ia melirik sekilas ke arah Dimas dan Lisa yang sedang belajar, lalu duduk di kursinya yang berada di barisan paling belakang.

"Dim, hati-hati ada cicak jatuh."

"Cicak?!" Lisa melebarkan mata, langsung histeris. Ia reflek mundur ke belakang. Karena tidak seimbang, kursi yang ia duduki nyaris jatuh jika saja Dimas tidak segera menahannya. Lisa tidak mengerti mengapa ia bisa seheboh ini. Padahal Ares berucap sangat santai tadi. Seharusnya ia tahu pemuda Reigara itu hanya ingin mengerjainya. Ia sungguh sensitif dengan kata cicak.

"Kamu nggak papa, Sa?" Dimas bertanya memastikan.

Lisa tidak menjawab. Ia menoleh ke belakang, menatap tajam seseorang yang terkekeh cukup jauh darinya. Alih-alih berteriak marah, Lisa malah mendengus tidak peduli, mengabaikan Ares yang baru saja mengerjainya. 

"Tadi gimana?" Lisa berucap ke Dimas, mendekat ke arahnya. Ia sengaja memangkas jarak, menempelkan bahunya ke bahu pemuda itu. Jika niat pemuda Reigara tadi untuk menjauhkan Lisa dengan Dimas, kali ini Lisa juga berniat balas dendam dengan menambah kedekatan dengan pemuda di sebelahnya. Ia tidak akan sepasrah itu kali setelah dikerjai oleh Ares.

Beberapa detik kemudian, saat Dimas mulai menjelaskan bab invers matriks kembali, tiba-tiba Ares naik ke atas meja di belakang Lisa, lalu turun dan duduk menyempil di bangku di antara Dimas dengan dirinya. Lisa berdecak sebal, otomatis bergeser menjauh ketika Ares datang. Mengapa pemuda di sebelah Lisa bisa setengil ini? Bisa tidak Lisa dibiarkan hidup tenang beberapa hari saja? Kepalanya sendiri langsung pening ketika mengingat dirinya akan menikah dengan pemuda menyebalkan di sebelahnya. Mengapa cobaan hidup Lisa bisa seberat ini?

"Aku ikut belajar." Ares berucap, menaruh buku Matematika yang ia bawa di atas meja. Lisa menyipitkan mata. Jarang-jarang ia melihat Ares ingin belajar. Lisa lebih sering melihat pemuda itu membawa smartphone dan bermain game daripada membawa buku pelajaran, apalagi membacanya.

"Yaudah, kita coba kerjain PR bertiga," ujar Dimas pada akhirnya. Ia bangkit berdiri, membalik kursi di depannya dan menghadapkannya ke belakang. Pemuda itu segera duduk disana, membiarkan Ares menduduki kursinya. Tanpa basa basi ia segera memulai sesi pengajaran pada kedua anak didiknya. "Kalau ada yang belum paham bilang, kita pelajarin ulang," katanya.

Ares mengangguk di sebelah Lisa, memegang pena dan menatap buku di depannya. Lisa hanya pasrah saja diajari berdua bersama Ares.

Hmm... Lagipula Lisa ingin tahu seberapa tahan pemuda itu berkutat dengan pena dan angka.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status