6. Ours

Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Lisa menyenderkan punggung ke kursi di belakangnya, meregangkan otot di tubuh. Dia baru saja menyelesaikan PR 10 soal determinan dan invers matriks yang tadi diberikan oleh Bu Rika. Setidaknya tugasnya di rumah nanti sedikit berkurang. Pasalnya ada banyak PR menumpuk yang belum ia kerjakan. Alasannya? Hmm... Apalagi jika bukan karena masalah perjodohan. Satu-satunya hal yang akhir-akhir ini Lisa kambing hitamkan atas seluruh perilaku negatifnya.

Lisa menoleh ke samping, menatap Ares yang sedang serius mengerjakan soal. Ia pikir pemuda itu akan cepat jenuh ketika belajar. Tapi ternyata tidak, Ares nampak berusaha keras menyelesaikan soalnya. Sempat beberapa kali bertanya pada Dimas dan Lisa bagian yang belum ia pahami tadi.

Dimas sendiri pergi ke perpustakaan beberapa menit yang lalu. Bilang kelupaan jika akan meminjam sebuah buku disana. Jadi ia izin pergi sebentar. Lagipula Lisa sudah paham bab invers matriks yang diterangkan oleh Dimas tadi. Jadi jika Ares bertanya, Lisa bisa menjelaskannya.

"Selesai," kata pemuda di sebelah Lisa tiba-tiba, lalu menghempaskan tubuh ke kursi di belakangnya. Lisa mengernyitkan dahi, menatap Ares tidak percaya. Ia tidak menyangka pemuda itu bisa menyelesaikan PR-nya secepat itu. Bahkan kecepatan mengerjakannya nyaris menyaingi kecepatan Lisa.

"Beneran? Sini coba kukoreksi." Lisa mengambil buku tugas dari tangan Ares, segera mencocokkan jawabannya dengan jawaban pemuda itu. Tidak ada yang berbeda. Cara pencarian hasilnya pun nyaris sama seperti yang Dimas ajarkan pada pemuda itu tadi. Dan jika dilihat-lihat, tulisan Ares lumayan rapi jika dibandingkan dengan tulisan murid laki-laki pada umumnya.

"Nyelesain ini bisa cepet, tapi kenapa latihan-latihan yang dikasih Bu Rika sebelumnya nggak?" tanya Lisa. Ia tahu sebenarnya Ares itu pintar. Kekurangannya hanya malas mengasah otak saja. Tidak masalah jika malas tapi selalu mendapat nilai bagus. Lah Ares? Sudah malas, lama mengerjakan, nilainya juga tidak jauh seperti mic yang sedang dicoba. Kalau tidak satu, dua, ya tiga. Beruntungnya kemarin dia bisa naik ke kelas dua.

"Mungkin karena ngerjainnya berdua sama kamu," jawab Ares santai, tersenyum menatap Lisa. Lisa yang ditatap hanya menyeringai jijik. Apa hubungannya coba? Ares selalu saja tidak jelas ketika menjawab sesuatu.

"Mungkin karena itu juga kita disuruh nikah. Biar aku pinter."

"Ha?" Lisa menatap tidak mengerti, lagi-lagi dibuat bingung oleh ucapan pemuda Reigara di sebelahnya. Jika itu tujuannya, tentu saja Lisa lebih memilih membuat Ares pintar tanpa harus menikah dengannya, meskipun ia harus berjuang mati-matian nantinya. Lagipula pemuda itu pintar sekali, ya? Disaat Lisa berusaha melupakan sejenak tentang acara tadi malam dan segala pembahasannya, Ares malah dengan santai mengungkit hal itu kembali. Memangnya dia tidak merasa geli apa? Dasar, menyebalkan.

"Nanti kita pulang bareng kan?"

Lisa menoleh ke Ares, mengernyitkan dahi, menatap tidak mengerti. Itu sebuah pertanyaan, pernyataan, atau permintaan sih?

"Males. Buat apa? Nanti aku dijemput." Lisa menjawab apa adanya. Katanya, jika ayahnya tidak sibuk, ia akan menggantikan tugas Pak Udin untuk menjemputnya nanti siang. Lisa sendiri paham, ayahnya melakukan hal itu sebagai bentuk permintaan maaf padanya. Sama seperti yang dilakukan ayahnya tadi pagi. Atau jika tidak begitu, ayahnya memang berniat ingin menghabiskan banyak waktu dengan anak semata wayangnya, mengingat akhir-akhir ini ayah Lisa lebih sering berada di luar kota karena urusan pekerjaan. Di keluarga Lisa, sesibuk apapun pekerjaan orangtuanya, prioritas utama mereka tetap dirinya. Selalu begitu sejak ia kecil. 

"Mau pergi liat rumah kita," jawab Ares.

Lisa menyipitkan mata, lalu berekspresi jijik beberapa detik kemudian. "Ngimpi aja sana."

Ares terkekeh, menatap jenaka ke arah Lisa. "Iya, emang. Sekarang masih mimpi, tapi seminggu lagi jadi kenyataan. Kita bakal punya rumah sendiri," ujar pemuda itu, tersenyum lebar seolah itu kabar gembira. Lisa masih berekspresi jijik. Tentu saja tidak langsung percaya dengan ucapan Ares.

"Nggak mungkin. Kalaupun itu rumah kita, pasti dipakainya beberapa tahun kemudian, bukan sekarang," ujar Lisa. Ia langsung terdiam setelah berbicara, mencerna kalimatnya sendiri. Perkataannya barusan memaksa Lisa membayangkan hal-hal di masa depan. Apa ia dan Ares masih menikah? Apa ia akan tinggal serumah dengan pemuda Reigara itu? Apa ia dan Ares akan jadi suami-istri sungguhan? Lisa menelan saliva, berusaha membuang bermacam-macam pikiran tidak jelas yang berkecamuk di otaknya.

Sudahlah. Itu masih jauh di depan sana. Biarkan saja waktu yang menjawab. Lisa geli sendiri memikirkannya.

Ares tersenyum penuh arti. "Belum dikasih tahu, ya, Sa? Rencana diubah. Setelah ni-"

"Sssttt! Jangan keras-keras!" Lisa menaruh telunjuknya di depan bibir ketika suara Ares mulai mengencang. Rasanya Lisa ingin sekali menepuk bibir pemuda di sebelahnya agar peka terhadap situasi kondisi. Ini masih di kelas dan ada beberapa murid di dalamnya. Bisa tidak sih ia bersuara lebih pelan jika berbicara tentang pernikahan?

Lisa sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika teman sekelasnya tahu perihal perjodohan dirinya dengan Ares. Apalagi pernikahannya yang akan dilangsungkan sepekan lagi. Tamat sudah riwayat Lisa! Mau ditaruh mana wajahnya?

"Lisa Alisia si ketua kelas yang suka diganggu menikah muda dengan Ares Reigara si penganggu. Benci-benci jadi cinta!"

Ck! Headline laknat. Hanya dengan membayangkannya saja membuat Lisa sebal.

Ares yang tadi terinterupsi segera melanjutkan ucapannya, lebih mengecilkan suara. "Baru tadi pagi kesepakatannya diambil. Setelah nikah, kita disuruh tinggal bareng. Papa udah siapin tiga rumah di beda-beda lokasi, kita tinggal pilih mau tinggal dimana."

Lisa menyipitkan mata, menatap Ares penuh selidik. Dia tidak ingin mempercayai hal itu. TIDAK INGIN! Ayahnya juga sama sekali tidak memberitahu apapun padanya tadi pagi. Lagipula mengapa keputusannya mendadak sekali? Parahnya Lisa sama sekali tidak diajak berkompromi. Sudah bagus ia dan Ares tinggal terpisah, mengapa harus susah-susah disatu rumahkan?

Ck! Lira berniat tidak ingin mempercayainya tadi. Tetapi mengapa segala pemikiran yang keluar di otaknya malah terasa seperti ia mempercayai perkataan Ares?

"Nggak mungkin. Aku nggak percaya." Lisa berujar pada akhirnya.

"Nggak harus percaya sekarang. Kita liat rumahnya besok juga nggak papa." Ares mengeluarkan IPhone-nya dari saku celananya, membuka aplikasi chatting. "Gambarnya bakal kukirim lewat whatsapp. Kamu bisa liat model rumahnya dulu, Sa," lanjut pemuda Reigara itu.

Lisa mengernyitkan dahi. "Tahu nomerku dari mana?"

"Siapa sih yang nggak tau nomer ketua kelas?"

Lisa terdiam, menyadari pertanyaannya barusan memang tidak berfaidah. Nomernya itu penting, dibutuhkan beberapa teman sekelasnya untuk bertanya sesuatu berkaitan dengan pelajaran dan kegiatan sekolah. Jadi semua temannya pasti tahu. Yang jadi masalah, Lisa tidak pernah chatting apapun dengan Ares semester ini. Jadi ia merasa pemuda itu tidak pernah tahu nomernya. Terakhir Ares mengirim pesan saja tiga bulan yang lalu saat liburan kenaikan kelas. Lalu berakhir dengan Lisa yang memblock nomernya karena ia beberapa kali menspam foto cicak. Kurang kerjaan sekali bukan? Lisa sendiri tidak habis pikir mengapa Ares bisa sekonsisten itu menjahilinya. Salahnya juga sih tidak pernah bertindak tegas pada pemuda Reigara itu.

Beberapa detik kemudian, suara vibrasi singkat sebuah hp terdengar. Lisa melirik smartphone-nya yang berada di kolong meja tak jauh darinya, menelan saliva. Ares sungguhan mengirimkan foto rumah padanya? Astaga... Lisa harap itu hanya gambar yang diunduh asal dari google atau pinterest.

"Kamu tahu nggak agenda apa yang bakal aku lakuin setelah kita satu rumah?" Ares membalik tubuh, sempurna menghadap Lisa.

Lisa menoleh ke Ares, menjawab singkat, "Nggak peduli."

Ares terkekeh. "Tapi kamu harus peduli, Sa. Soalnya..." Pemuda Reigara itu mencondongkan wajahnya ke depan, tersenyum menatap Lisa seperti baru saja mendapat ide-ide jahat. Lisa mengkerutkan dahi, menunggu Ares melanjutkan bicaranya.

"Soalnya aku bakal pelihara cicak tujuh keluarga di rumah kita," ujarnya.

Lisa melotot tajam, langsung melayangkan tinju ke bahu Ares karena sebal. Pemuda itu mengaduh pelan, tertawa keras. Ia segera pergi kabur ke tempat duduknya sendiri. Lisa berniat melepas sepatunya dan melempar ke Ares, tapi urung ketika Bu Aya guru Bahasa Inggrisnya tiba-tiba sudah ada di depan pintu kelas dan mengucap salam. Padahal waktu masih kurang empat menit lagi sebelum istirahat selesai dan masuk ke pelajaran selanjutnya.

Melihatnya Lisa segera bergerak pulang ke tempat duduknya sendiri. Ia menghela napas, menahan sebal dalam hati. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar Ares berhenti menakut-nakutinya dengan kata cicak. Andai saja pemuda itu tahu betapa traumanya Lisa pada hewan itu...

Argh! Lisa itu payah! Dia sungguh benci ketakutan tidak wajar yang ia rasakan.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status