8. Later (a)

"Lisa sama Ares nggak papa satu rumah, Mas. Tapi harus dalam pengawasan kita."

Lisa berhenti melangkah ketika tidak sengaja mendengar ucapan bundanya di dalam kamar. Niatnya ia ingin mengambil buku-buku Vian yang tertinggal di atas meja teras tadi. Tapi urung, Lisa malah ganti halauan jadi menguping percakapan kedua orangtuanya.

"Mereka belum bisa tinggal berdua tanpa kita. Kalau nggak tinggal disini, mereka bisa tinggal di rumah papa Ares. Jangan tinggal satu rumah tanpa siapa-siapa," lanjut bundanya. Lisa yang sudah mendekat ke dinding kamar orangtuanya menelan ludah, menunggu jawaban ayahnya.

"Jadi itu yang Bunda takutin?" Ayahnya terkekeh di dalam sana. "Lisa Ares itu masih kecil. Kemarin denger sendiri kan mereka suka berantem di kelas? Nggak mungkin mereka saling suka. Kenapa Bunda bisa mikir sampai sejauh itu? Lagian bakal ada Bi Inah sama Pak Udin juga yang tinggal disana," jawab ayahnya.

"Mas, cinta itu datang karena terbiasa. Gimana kalau mereka..."

"Jadi saling cinta maksudnya? Ya bagus kan, Bun? Apa yang salah? Justru itu kan yang kita mau? Lisa bahagia sama orang yang dia cinta." Ayahnya menginterupsi.

"Tapi..."

"Anak kita itu masih polos, Bun. Jadi yang Bunda pikirin itu nggak mungkin terjadi. Jangan mikir aneh-aneh gitu deh." Lagi-lagi ayahnya menyela. Lisa menelan saliva. Dia tahu menuju ke arah mana pembicaraan kedua orangtuanya.

"Bunda tahu Lisa masih kecil, masih polos. Tapi Ares? Kita nggak tahu. Mas mau suatu hari Lisa pulang ke rumah sambil nangis-nangis bilang kalau dia hamil?"

Deg. Lisa melebarkan mata, kembali menelan saliva tapi kali ini dengan susah payah. Sial! Dia sungguh menyesal telah menguping pembicaraan orangtua. Lisa mengetuk kepalanya pelan, berusaha menghilangkan ucapan bundanya barusan dari ingatannya. Otak Lisa terkotori astaga!

Tawa renyah ayahnya terdengar beberapa detik kemudian.

"Kan, mas tuh nggak pernah serius kalau diajak bicara. Apa yang lucu coba?"

Meskipun tadi Lisa bilang menyesal, ia masih saja berdiam diri di depan kamar orangtuanya, menguping pembicaraan mereka. Serius, sebenarnya Lisa hanya ingin tahu apa keputusan terakhir yang diucapkan oleh ayahnya.

Ayahnya berhenti tertawa. "Udah dibilang Bunda itu mikirnya kejauhan. Santai dikit coba."

"Itu fakta anak jaman sekarang, Mas. Mereka itu semakin liar dan berani. Di luar sana, banyak anak SMA bahkan SMP yang hamil duluan. Mas mau Lisa kayak gitu?" ujar bundanya lagi.

"Kasusnya beda, Bun. Lisa sama Ares kan udah sah?"

"Ya terus?!" Bundanya berseru sebal di dalam sana. "Mas mau liat Lisa hamil terus nangis-nangis setelah itu?"

Lisa menahan napas. Bisa tidak sih kata hamil tidak diulang lagi? Ia memijit pelipisn lelah. Hanya mendengar percakapan orangtuanya saja membuat Lisa ikut pening.

Lagi-lagi tawa ayahnya yang terdengar beberapa detik kemudian. "Canda, Bun. Jangan marah-marah gitu deh. Kita semua pasti pengen Lisa bahagia."

Lisa menghela napas mendengarnya. Ia tidak tahu ayahnya bisa sebercanda itu. Bundanya yang diajak bicara saja sampai berseru sebal.

"Kayak yang kita bahas di awal tadi, Lisa sama Ares coba tinggal satu rumah dulu. Sebulan kurang juga nggak papa. Baru setelah itu kita pikirin gimana selanjutnya. Kalau mereka emang belum bisa satu rumah, yaudah, mereka dipisah lagi. Kita tunggu sampai mereka dewasa dan siap," ujar ayahnya.

Lisa terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapan ayahnya barusan. Ia menelan ludah. Apa itu berarti keputusan awal ayahnya tidak berubah? Lisa dan Ares tetap satu rumah? Ck! Bagaimana bisa? Pupus sudah satu-satunya harapan Lisa.

"Yaudah, terserah Mas deh. Tapi kalau ada sesuatu terjadi sama Lisa nanti, Mas yang bakal Bunda salahin pertama kali." Bundanya berucap di balik dinding sana.

Sejurus kemudian, suara langkah bundanya terdengar mendekat ke arah pintu. Lisa melototkan mata kaget, segera berlari ke ruang keluarga yang dekat dengan kamar kedua orangtuanya. Sampai sana, Lisa langsung duduk di sofa, menghidupkan tv. Ia mengambil hp, sok-sokan membalasi pesan yang masuk, berusaha terlihat seperti sudah berada disana sejak lama. Lisa harap bundanya tidak tahu ia baru saja menguping pembicaraan mereka berdua di dalam kamar.

"Lisa, kamu nonton apa?" Bundanya tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Lisa, bertanya bingung.

Lisa mendongak, langsung berteriak histeris. Ia reflek membanting hp ke lantai, memeluk wanita yang ada di sampingnya. Bundanya yang tahu akan hal itu langsung memgambil remote, mengganti channel. Astaga... Sejak kapan TV di depan Lisa menampilkan gambar seekor cicak? Mengapa Lisa tidak menyadarinya? Apa ini hukuman karena telah menguping pembicaraan orangtua?

"Kok bisa gitu sih, Sa?" Bundanya memungut hp di lantai, menatap bingung ke arahnya.

"Nggak tahu, Bun. Tadi awalnya nggak ada itu." Lisa yang meringkuk di pojokan sofa menjawab. Ia memegangi dada, berusaha menormalkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Tentu saja Lisa bohong. Ia asal menghidupkan TV tadi, tidak tahu topik yang sedang dibahas di dalamnya sama sekali.

"Mau Bunda ambilin minum?"

Lisa menggeleng, menolak tawaran bundanya. "Nggak perlu, Bun. Aku nggak papa."

Kini bundanya yang gantian menghela napas, segera duduk di sebelah Lisa. "Makanya kalau main hp liat sekeliling juga. Jangan terlalu fokus gitu," ujar bundanya, mengembalikan hp yang sempat Lisa banting tadi.

Lisa hanya bisa menyengir samar di tempat.

"Oh iya, Sa. Bunda udah ngomong sama Ayah tentang tadi siang."

Lisa menelan ludah, terdiam, menoleh ke arah bundanya. Sesungguhnya ia sudah tahu apa yang akan bundanya katakan.

"Maaf bunda nggak bisa bantuin bujuk ayah." Bundanya menatap sedih ke arahnya. "Ayah bilang, kamu sama Ares coba tinggal satu rumah dulu. Sebulan aja, Sa. Kalau emang nggak bisa dan nggak betah, kalian berdua baru pisah tempat tinggal."

Lisa membuka mulut, ingin menolak keputusan ayahnya, tapi urung. Ia malah menghela napas panjang, berusaha menerima nasib.

Lisa itu penurut, jauh sekali dari kata membangkang. Sekali saja permintaannya ditolak, yasudah, untuk apa menolak lagi? Lagipula keputusan orangtua itu selalu yang terbaik, meskipun hal itu masih kabur di pandangannya.

Lisa hanya belum melihat saja letak terbaiknya sekarang. Tapi esok hari nanti, entah kapan, mungkin ia akan menyadarinya.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status