9. Later (b)

Seminggu melesat dengan cepat.

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Lisa membereskan peralatan tulisnya, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia mengambil smartphone di kolong meja, berniat menghubungi Pak Udin agar segera menjemputnya, tapi urung ketika ia mengingat sesuatu.

Lisa mendadak malas pulang ke rumah. Kedua orangtuanya pasti sedang sibuk sekarang. Apalagi jika bukan sibuk mengurusi 'hal itu'? Hal yang tidak ingin Lisa pikirkan sama sekali sekarang. Lagipula ayah bundanya memang menyuruh Lisa duduk manis saja. Segala sesuatu yang berkaitan tentang 'hal itu' akan dipersiapkan sendiri oleh mereka nantinya. Lisa sendiri tidak terlalu peduli akan bagaimana hasilnya.

Menghela napas panjang, Lisa menenggelamkan kepala ke lipatan tangan yang ia buat di atas meja. Sudahlah, pulang nanti tidak masalah. Ia bisa menghabiskan waktunya di perpusakaan sekolah sampai jam tiga, membaca buku disana. Lagipula ia perlu belajar extra untuk ujian pekan depan, mengulang-ulang materi sebelumnya.

"Ayo ikut, Sa." Baru merasa tenang sebentar, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di kursi sebelah Lisa.

Lisa mendesah sebal di dalam lipatan tangannya sendiri. Suara itu... Lisa sedang badmood karena Ares sekarang, tapi pemuda itu malah datang dan mengusiknya. Padahal Lisa berharap waktu sebelum hari esok nanti adalah waktu tanpa Ares. Sedikit waktu saja, tidak usah muluk-muluk. Tapi sekarang? Sirna sudah harapan Lisa. Mengapa pemuda Reigara tidak langsung pulang ke rumah saja sih? Menyebalkan!

Lisa menegakkan kepala, menatap malas pemuda yang duduk di sebelahnya. "Ngapain? Males," jawab Lisa sekenanya.

"Badmood nggak boleh dipelihara. Ayo jalan-jalan," ajak Ares.

Lisa menghela napas. Mau seseru apapun jalan-jalannya, jika itu masih bersama Ares, tetap saja Lisa akan badmood nantinya.

"Nggak, makasih," ujar Lisa, menolak ajakan Ares.

Ares terdiam, lalu menyeringai beberapa detik kemudian. Ia langsung mengambil tas di belakang Lisa, memeluknya di depan dada lalu melangkah keluar kelas. Jadi ada dua tas yang pemuda itu bawa. Satu tas milik Lisa yang diambil tanpa izin. Satu tas lagi miliknya yang ia sampirkan di pundak.

"Balikin tasku, Res!" Lisa berseru sebal.

Ares tetap melangkah santai, tidak peduli dengan seruan Lisa barusan. "Makanya ayo ikut," katanya tanpa menoleh.

Lisa memukul meja di depannya gemas. Dasar, Ares! Sudah pengganggu, pemaksa pula! Rasanya Lisa ingin sekali menjitak kepala pemuda itu berkali-kali, memberinya pelajaran. Lisa sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya setelah satu rumah dengan pemuda Reigara itu nanti. Menyedihkan sekali hidupnya...

Meskipun sebal, pada akhirnya Lisa tetap mengikuti langkah Ares keluar kelas, tidak tahu akan pergi kemana. Entahlah, Lisa juga tidak mengerti mengapa pemuda Reigara itu selalu menang atasnya.

***

"Bonekanya cute banget kan? Kayak aku." Ares menoleh ke arah Lisa, tersenyum sembari menunjuk boneka jerapah yang ia bawa di tangan. Lisa memberi ekspresi jijik mendengarnya. Kalimat pertama pemuda itu benar, tapi setelahnya tidak.

Beberapa detik kemudian Lisa mengernyitkan dahi, berhenti melangkah. "Kok lewat sini? Motormu kan di basement?" tanyanya.

Lisa memang persis berada di depan pintu sebuah mall sekarang. Ares mengajak Lira ke tempat ini hanya untuk menghabiskan waktu dua jam lamanya di game center---tempat favorit pemuda itu. Boneka jerapah tadi juga didapatkan setelah Ares memenangkan sebuah permainan disana. Lumayan menyenangkan sih. Tapi tetap saja, Lisa tidak langsung merasa senang setelah itu.

"Emang kita mau pulang?" Ares balik bertanya.

Lisa melipat dahi. "Emang kita mau kemana lagi?"

"Jalan-jalanlah."

Lisa menatap lelah. Jika dijawab jalan-jalan, mereka berdua memang sudah jalan-jalan sejak tadi kali. Lagipula memangnya pemuda itu tidak risih pergi kemana-mana masih menggunakan seragam? Bawa tas pula. Lisa sendiri jadi merasa seperti siswa yang bolos tidak masuk sekolah karena belum berganti pakaian.

Ares tiba-tiba melambaikan tangan, menyapa seseorang yang berada di taman kota cukup jauh di depannya---mall yang Lisa datangi memang dekat dengan taman kota. Lisa pikir Ares baru saja melihat temannya. Tapi setelah mengikuti arah pandang pemuda itu, ternyata itu pak penjual es krim yang kemarin! Ya ampun, mereka berdua seperti orang yang sudah saling kenal sejak lama saja. Terlebih pak penjual es krim itu balas melambaikan tangan ke arah Ares yang berada di sebelahnya.

"Ayo beli es krim," ujar pemuda itu, menarik tangan Lisa agar mengikuti langkahnya. Lisa pasrah saja. Ia tidak akan nekat pulang jalan kaki ke rumah untuk kedua kalinya. Alasan pertama, tasnya terlalu berat. Kedua, Lisa sudah lelah.

"Wahh, ketemu lagi sama masnya. Jadwal mingguan, ya?" ujar pak penjual es krim itu setelah Lisa dan Ares mendekat.

Lisa mengernyitkan dahi, menatap tidak mengerti.

"Setelah ini pasti mau malam mingguan kan?"

Oke, Lisa paham sekarang.

Ares yang mendengarnya tersenyum, berkata, "Setelah ini kita langsung pulang kok, Pak. Lagi sibuk. Mau siap-siap buat acara pernikahan besok."

Lisa menoleh, menatap tajam Ares yang berdiri di sebelahnya. Tidak penting sekali sih! Apa faidahnya coba mengatakan hal itu pada pak penjual es krim? Dasar, penyebar aib!

Saking sebalnya, Lisa langsung menginjak kaki kanan Ares, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan namun tertawa senang seolah hal itu yang ia harapkan. Lisa menghembuskan napas. Kosakata 'Ares menyebalkan' selalu saja mengikuti jika pemuda itu berada di dekatnya.

"Siapa yang mau nikah?" Pak penjual es krim bertanya.

"Kitalah. Masa bapak?" Ares menjawab santai. Lisa menghela napas lelah. Bangga saja sana! Suaranya kurang keras! Lisa benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran pemuda di sebelahnya. Bisa tidak sih diam saja?

Pak penjual es krim yang mendengar hal itu melototkan mata kaget, menatap tidak percaya. "Kalian mau nikah? Besok?"

Ares hanya tersenyum. Lisa sendiri memutar bola mata jengah. Kenapa pak penjual es krim itu juga harus mempercayai ucapan Ares sih?

"Tapi kan kalian masih SMA?" Pria yang bekerja keliling menjual es krim menggunakan motor itu menatap seragam yang dikenakan Lisa dan Ares bergantian.

"Jangan bilang kalian..." Tiba-tiba pak es krim itu menatap horor ke arah Lisa.

Lisa mengernyitkan dahi, menatap tidak mengerti.

"Nggak kok, Pak. Bukan karena itu," ujar Ares, seperti tahu pemikiran yang sedang bersarang di kepala pak penjual es krim. "Kita dijodohin sama orangtua. Sejak sebelum lahir bahkan. Untung sewaktu lahir jenis kelaminnya beda," terang pemuda Reigara itu, tertawa.

Lisa melirik Ares di sebelahnya, menyipitkan mata. Pemuda itu mengarang cerita tidak, sih? Mengapa Lisa baru tahu jika mereka berdua sudah dijodohkan sejak sebelum lahir?

"Aduh, karena itu, ya? Maaf saya udah mikir aneh-aneh, Mas. Kelakuan anak jaman sekarang parah-parah soalnya. Saya jadi mikirnya kesitu. Tapi salah, ternyata mas mbanya dijodohin."

Lisa tersenyum tipis mendengar ucapan penjual es krim di depannya, mengingat seminggu yang lalu pria itu memanggil dirinya dengan sebutan 'dek' dan bukan 'mba'. Lisa sendiri hanya diam saja sedari tadi, tidak ikut mengobrol. Ia malas membahas sesuatu apapun tentang perjodohan. Mendengar hal itu saja sudah cukup membuat moodnya jatuh. Ilfeel lebih tepatnya.

"Bapak sekeluarga boleh dateng kok ke resepsi saya," ujar Ares tiba-tiba. Lisa menoleh, menatap tak paham. Bukan apa-apa sebenarnya. Ia senang-senang saja jika pak penjual es krim itu diundang. Yang Lisa bingungkan adalah, disaat dirinya berusaha menyimpan rapat-rapatperihal pernikahannya dari orang lain, mengapa Ares malah menyebarkan hal itu dan mengundang orang-orang untuk datang ke resepsinya.

Ck! Lisa benar-benar tidak paham dengan Ares. Mengapa pemuda Reigara itu bisa se-excited itu?

"Beneran, Mas? Dimana resepsinya?" Pak penjual es krim itu nampak tertarik.

"Nggak jauh dari sini, Pak. Gedung depan balai kota tahu kan?"

"Ohh, yang cat putih, gede tinggi itu?"

Ares mengangguk, "Iya. Itu punya papa saya."

Lisa menghela napas lelah. Mengapa dua orang di depan Lisa malah membahas hal tidak penting? Padahal niatnya hanya ingin membeli es krim tadi.

"Saya kira perjodohan udah nggak ada di jaman sekarang. Tapi ternyata masih ada. Setahu saya, biasanya kayak gitu karena bisnis orangtua. Kalian juga gara-gara itu?" tanya pak penjual es krim.

Lisa tersenyum getir. Dadanya mendadak sesak. Rasanya seperti bisnis lebih penting daripada perasaan anak. Please... mengapa Lisa jadi terbawa perasaan seperti ini?

"Bukan karena bisnis juga sih, Pak. Orangtua kita punya perjanjian dulunya."

Untuk kesekian kalinya ucapan Ares membuat Lisa menoleh, menatap pemuda itu tidak mengerti. Bukan karena bisnis? Lalu karena apa?

Astaga... Jangan pernah meremehkan Ares. Pemuda itu selalu banyak langkah lebih maju daripada Lisa dalam hal informasi. Ia sepertinya tahu banyak hal yang tidak Lisa ketahui.

Saat Lisa ingin bertanya tentang ucapan Ares barusan, tiba-tiba hpnya berbunyi di dalam tas. Ada panggilan masuk. Lisa segera mundur menjauh, mengernyit ketika tahu Vian yang menelfonnya.

"Assalamu'alaikum, Yan." Lisa segera menjawab panggilan tersebut.

Beberapa detik kemudian, suara sambungan terputus terdengar. Lisa berdecak sebal. Jangan bilang Vian hanya mengerjainya. Ia segera duduk di bangku taman di dekatnya, membuka aplikasi chatting. Ada 4 pesan masuk dari Vian.

Vian

Kak Lisa dmn?

knp gk ada di rmh?

ada byk pr:333

oy cptn jwb.

Lisa menggelengkan kepala jenaka. Ia pikir ada sesuatu yang penting sampai harus menelpon. Ternyata hanya PR. Dasar, bocah.

Anda

setengah jam lagi pulang. Tunggu aja.

Vian

tp bntr lg mau ke rmh Kak Bayu.

Anda

yaudah, tinggal minta ajarin Kak Bayu lah.

Vian

mau main tpnya

mls bljr dsna.

bsk bs gk? Cmn bntr kok

Lisa terdiam cukup lama, merasa ada yang aneh dengan jawaban Vian. Menyadari sesuatu, ia langsung menelan saliva susah payah. Besok katanya? Astaga... Lisa lupa punya tetangga seperti Vian yang selalu datang ke rumahnya. Apa yang harus Lisa jawab jika Vian  bertanya mengapa ia tidak pernah ada di rumah setelah hari ini? Apa Lisa harus jujur?

Anda

besok ada acara, Yan. Sori nggak bisa.

Lisa memijit pelipis pelan setelah mengirimkan balasan pada Vian. Kepalanya mendadak pening. Ia perlu berpikir keras untuk mencari solusi hal ini.

Ck! Mengapa semua mendadak merepotkan?

Bersambung.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Vanessa Marcella
Mau nanya ini ceritanya belum tamat kan ya?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status