Bab 7

Sudah dua minggu semenjak Evellyn sadar dari koma. Kini perusahaan akan diserahkan padanya lantaran sang ayah ingin istirahat dan menikmati waktu tua bersama istri tercinta. Namun, meskipun begitu, ia masih tetap memantau putrinya dalam memipin perusahaan. Walau bagaimana pun ia tidak bisa membiarkan perusahaan hancur di tangan yang tidak kompeten. Tapi ia sangat yakin dan percaya, hanya putrinya yang mampu mengurus perusahaan yang ia rintis dari nol. Saira menatap tajam sekumpulan keluarganya yang berada di ruang tamu. Ia berjalan ke sana dengan anggun, mereka menyadari kehadiran Saira dan menyapa gadis itu.

"Selamat pagi Kak Eve," sapa mereka  yang hanya dibalas tatapan tak acuh.

"Apa kalian tidak memilik pekerjaan selain menghabiskan waktu berkumpul?" sindir Saira sarkas.

Mereka tampak terdiam, lalu salah satu dari mereka menatap menantang ke arah Saira. "Apa pedulimu pada kami!"

Saira menatap tajam gadis yang tempo lalu menanyakan hal bodoh padanya. Sudut bibir Eve terangkat dan terlihat mengejek. "Sejak kapan aku peduli, tapi dengan kalian seperti ini bukankah menghabiskan uang keluargaku dengan cuma-cuma."

Tangan gadis itu mengepal marah mendengar ucapan Saira. Namun, belum sempat ia mengeluarkan sumpah serapahnya. Terlihat William menuruni tangga. Mereka menyapa William dengan sopan, termasuk gadis yang tadi bersikap kurang ajar padanya. Setelah menyapa keponakannya, ia menyapa Saira yang sedang duduk di sofa. 

"Halo sayang, sudah siap untuk hari esok?" tanya William tersenyum.

Gadis yang diketahui bernama Chloe mencuri dengar percakapan mereka. Kabar yang sangat mengejutkan untuknya harus segera disampaikan kepada ibunya. 

"Siap, kok Pa." 

"Kamu adalah anak kebanggaan Papa sayang, Papa tahu kalau kamu mampu membawa perusahaan lebih baik lagi ke depannya." 

"Makasih atas kepercayaan Papa."

Chloe segera pergi dari sana menuju kamar sang ibu. Ini adalah kabar paling buruk yang pernah ia dengar. Jika seperti ini, maka usaha mereka selama ini akan percuma karena tidak ada apa pun yang mereka dapatkan setelah semua ini.

"Ma, ini sangat gawat!" teriak Chloe dengan wajah khawatir. 

Tasma yang sedang membaca majalah pun dibuat kaget oleh kedatangan putrinya. Ia meletakkan majalah kepangkuannya lalu bertanya dengan tatapan penasaran. Jika wajah putrinya sangat cemas maka hal buruk sedang terjadi.

"Ada apa?" 

"Ma, Om William akan menyerahkan perusahaan kepada Eve besok." 

Mata Tasma terlihat membulat mendengar ucapan putrinya. Ia bangun dari sofa dan menghampiri Chloe dan meminta penjelasan yang lebih rinci.

"Kamu mendengar dari siapa?" tanya Tasma.

"Aku mendengarnya langsung, Ma. Tadi kami sedang berkumpul di ruang tamu. Tentu saja aku menguping." 

"Kalau apa yang kamu katakan memang benar, maka ini sebuah musibah untuk kita. Usaha yang selama ini kita lakukan akan sia-sia belaka." 

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ma?" tanya Chloe dengan wajah cemas.

"Tentu saja kita harus segera bertindak Chloe." 

Keduanya akan segera melaksanakan rencana untuk melengserkan posisi Eve sehingga gadis itu tidak akan pernah menempati posisi tertinggi di perusahaan William. 

--------

Hari ini Eve akan menemani Halena pergi menemui teman ibunya. Ia sudah siap dengan gaun merah yang terbungkus anggun dengan tubuhnya yang terlihat sangat seksi. Setiap mata yang menatap penampilan elegan, akan jatuh hati tanpa mereka sadari. Eve segera mendekati ibunya yang sudah menunggu di ruang tamu. Wanita itu tampak terpana saat melihat putrinya sangat cantik.

"Mama, ayo kita berangkat," ucap Saira pelan. 

"Sayang, kamu sangat cantik, bahkan Mama sangat panglin melihatmu."

"Lain kali aku akan memakai bikini kalau kita tidak segera pergi."

Halena tampak tertawa kecil dan langsung menggandeng tangan putrinya menuji sebuah mobil yang sudah tersedia. Seorang sopir langsung membuka pintu mobil dan keduanya segera masuk. Mobil melaju perlahan menuju sebuah restoran terkenal, itu karena menunya sangat mahal dan berkelas. Mereka berdua sudah sampai di restoran tersebut. 

"Ayo sayang, teman Mama sudah menunggu di dalam." 

Saira mengikuti langkah ibunya dengan berjalan sejajar. Tampilannya yang sangat sempurna mencuri perhatian hampir seluruh penghuni restoran tersebut. Di tambah keluarga Halena termasuk keluarga terkaya di sana. Wajah mereka sering wara wiri di majalah bisnis. 

"Putri Mama menag snagat cantik, sampai-sampai mereka juga tidak bisa mengalihkan tatapan darimu." goda Halena sambil tersenyum.

Saira tidak menanggapi ucapan ibunya. Ia tetap berjalan di samping Halena sampai mereka sampai di meja yang dituju. 

"Sudah lama menunggu?" tanya Halena yang membuat temannya mengalihkan tatapan dari benda pipih yang sedang ia pegang. 

"Tidak, kami baru saja sampai," ucapnya tersenyum kemudian matanya beralih pada Saira.

"Siapa gadia cantik yang bersamamu ini?" tanya wanita bernama Moona dengan tatapan terpana.

"Dia putriku," ucap Halena senang.

"Tunggu, ini Evellyn?" tanya Moona dengan tatapan terkejut. Melihat anggukan sahabatnya, ia menjadi sangat bahagia mendemgarnya.

"Dia tumbuh sangat cantik, halo sayang." sapa Moona lembut.

"Halo Tante," ucap Saira singkat.

"Moona, apa kamu datang sendirian?" 

"Ah, tidak Halena, aku juga datang bersama putraku. Dia tadi permisi ke toilet."

Saira tampak curiga dengan pertemuan ibu bersama temannya. Namun, ia malas untuk melanjutkan pikiran negatifnya. Perlahan mulai terdengar ketukan sepatu pantofel mendekat ke arah mereka. Pria itu duduk tanpa melihat ke arah Saira yang sedang melihat ponselnya. Ia sedang memantau sesuatu dari sana.

"Kembali juga ini anak, Halena kenalin ini putraku. Namanya Asthon Romeo Dominic. Romeo ini teman Mama namanya Halena."

"Salam Halena," sapa Romeo ramah.

"Wah, kamu tampan sekali, setampan namamu."

Kemudian Romeo menatap kearah Saira yang tampak tidak terganggu dengan percakapan mereka. Romeo bisa menebak bahwa gadis itu sedang pura-pura tidak mengacuhkannya agar ia merasa tertarik. Tapi bagi Romeo metode itu tidak berpengaruh sama sekali padanya. Memangnya apa yang gadis itu harapkan darinya. Halena melihat tatapan Romeo dan ia pun berdehem kecil.

"Sayang, kamu tidak mau kenalan sama anak temennya Mama. Orangnya sangat tampan." bisik Halena pelan.

Saira mengalihkan tatapannya pada pria yang kini sedang menatapnya dingin. Saira menatap sekilas lalu kembali bergelut dengan ponselnya. Hal tersebut membuat Romeo merasa pesonanya sebagai seorang pria tampan sudah sirna. Setahunya, ia sangat digilai oleh kaum hawa. 

"Sayang, apa cuma segitu reaksimu."

"Lalu aku harus berjalan ke sana dan menciumnya?" bisik Saira pelan membuat Halena berhenti bicara.

"Halena, Eve mungkin masih malu, biarkan saja. Anak muda zaman sekarang memang tidak menyukai sekali pertemuan." Moona dan Halena tampak terkekeh pelan.

Romeo masih yakin, bahwa Saira ingin membuatnya penasaran. Ia pura-pura menolak pesonanya, pikir Romeo. Namun, kenyataannya adalah layar ponsel lebih membuat Saira tertarik dari pada wajah Romeo. 

"Ma, Eve harus pergi," ucap Eve tegas.

Halena menganguk, lalu Moona menyuruh Romeo untuk mengantarkan Saira ke manapun gadis itu mau. Awalnya Romeo menolak, tapi tatapan Mamanya yang tajam membuat ia mengalah dan menemani Saira ke mana pun gadis itu mau.

"Maaf, Tante tapi saya tidak perlu sopir, saya sudah ada sopir sendiri."

Mendengar ucapan Saira, Moona tertawa. 

"Kalau begitu ganti saja sopirnya sayang, jadikan Romeo sebagai sopirmu. Lagi pula dia sangat ahli," ucap Moona tertawa. 

Romeo sendiri sudah dibuat kesal oleh kelakuan mamanya. Jelas-jelas gadis itu tidak ingin bersamanya, lalu untuk apa dipaksa. Lagiananya juga tahu kalau dia tidak ingin dekat dengan wanita mana pun dan ia yakin kalau ini semua adalah rencana dari mamanya. 

"Ya sudah kalau begitu, saya pergi Ma, Tante." 

Saira berjalan terlebih dahulu tanpa mengajak Romeo. Karena ia tahu, pria itu tidak perlu diajak untuk segera bergerak. Sedangkan Romeo sangat kesal dengan tingkah Daira yang selalu bersikap jual mahal padanya. Lagi pula ia juga tidak akan pernah menyukai wanita seperti dirinya. Angkuh dan sombong hanya untuk membuatnya penasaran. Iayakin kalau Saira hanya mau memancingnya agar dia terus mengejar. Romeo audah hafal betul tabiat kaum wanita.

"Halena, seingatku dulu Eve sangat manis dan ceria," ucap Moona.

"Kamu benar Moona, tapi semenjak ia bangun dari komanya, sikapnya jadi berubah sangat dingin. Kamu tahu, bahkan orang di rumah tidak berani menyapanya."

Keduanya tampak memiliki pemikiran yang berbeda. Moona sangat menyukai gadia dingin karena mereka tidak suka basa basi.  Ini akan bagus untuk masa depan putranya. Gadis itu bisa menyingkirkan wanita mana pun jika dia berhasil menjadi menantunya. Ia hanya merasa kashan dengan Romeo yang selalu diganggu oleh teman kencan putranya. Rata-rata dari mereka tidak sopan dan tidak tahu diri juga.

"Tapi Moona, aku senang dia menjadi seperti ini. Aku yakin, insiden satu tahun yang lalu bukan sebuah kecelakaan. Ada orang yang menyebabkan ini semua."

"Ya kamu benar Halena, mungkin ini juga yang menjadi alasan Eve menjadi sangat dingin."

Halena menganguk pelan, lalu Moona teringat dengan ucapan Halena. "Tadi kamu bilang dia dingin sama semua orang di rumahmu kan, itu artinya pelakunya kungkinan adalah orang terdekatmu juga Halena." 

Halena tampak memikirkan ucapan Moona, temannya itu benar, bisa jadi pelakunya adalah orang di rumahnya. Ia harus membicarakan hal ini bersama suaminya. 

----------

Di mobil, keduanya tampak diam dan lagi-lagi Saira hanya fokus pada layar ponselnya. Romeo jadi bimbang apakah dia memang tampan atau sudah tidak tampan lagi.

"Kita mau kemana?" tanya Romeo datar.

"Ke hotel Azela," jawab Saira singkat.

"Untuk apa ke hotel itu?" tanya Romeo penasaran.

"Apa sekarang kau asistenku?" tanya Saira ketus. Ia tidak suka orang yang tidak dia kenal bertanya banyak tujuannya. 

Romeo mengeram marah mendengar ucapan ketus Saira. Tapi ia memendamnya dalam hati. Sungguh wanita ini adalah ciri-ciri yang paling akan dia hindari selamanya. Keketusan dan kedinginannya sungguh membuat Romeo kejang-kejang. Bagaimana bisa ada wanita seperti itu di sekitarnya. Mungkin dalam mimpi pun ia enggan bertemu dengannya.

Romeo terus menjalankan mobilnya menuju tempat yang dituju oleh gadis yang menurutnya sangat menyebalkan. Lagi pula untuk apa Mamanya menyuruh ia mengantar gadis ini. Tidak berprikeperiaan sedikit pun. Romeo menghentikan mobilnya tepat di depan hotel Azela yang menjulang tinggi dengan kokoh. Saira segera keluar tanpa mengucapkan terima kasih. Ia meninggalkan Romeo yang menatapnya tidak habis pikir.

"Aku tahu gadis itu sangat dingin, tapi aku baru tau, ternyata dia tidak tahu terima kasih juga!" dengkus Romeo dan langsung pergi dari sana.

Saira segera masuk ke dalam dan disambut oleh resepsionisnya. 

"Ada yang bisa saya bantu Nona."

"Saya ingin bertemu dengan Tuan William," ucapnya datar.

Resepsionis itu tampak melihat penampilan Saira dengan sedikit tatapan sinis. Ia mengira Saira adalah wanita simpanan sang pemimpin perusahaan. 

"Apa Anda sudah membuat janji?" tanyanya sesikit sinis.

"Tidak bisakah kau menjaga sopan santunmu saat menatap seseorang!" 

Saira menatap tajam resepsionis itu lalu melihat name tagnya. Setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya. Seseorang di sana segera mengangkat panggilannya.

"Papa, apa ada nama resepsionismu Leela?" 

"Ada sayang, dia bagian resepsionis, ada apa?" 

"Aku mau Papa memberinya pelajaran pelayanan prima supaya tahu cara memperlakukan tamu dengan baik." setelah itu ia mematikan panggilannya. 

Wanita yang bernama Leela sangat terkejut saat mengetahui bahwa ternyata gadis cantik yang berdiri di hadapannya adalah putri dari pemilik hotel terbaik di Autralia. Saira menatap gadis itu dengan dingin. 

"Jali ini kau kumaafkan, tapi jika lain kali kau melayani tamu seperti ini, namamu akan ku blacklist dan kau tahu apa artinya itu!" 

Selesai dengan kalimatnya ia segera pergi meninggalkan gadia itu tanpa mendengar jawabannya. Menurut Saira jawabannya tidaklah penting. Ia segera menaiki lift menuju lantai 35 tempat ayahnya berada.

Di sana ia langsung disambut oleh sekretaris dari Papanya. Sekretarisnya sangat sopan dalam bersikap dan berpakaian. Ia menyukai yang seperti ini.

"Silakan, Tuan sudah menunggu di dalam," ucapnya sambil membuka pintu ruangan.

"Terima kasih."

Saira segera masuk dan bertemu dengan ayahnya. Besok ia akan segera menggantikan posisi William di sana. Ia akan memimpin dalam waktu dekat. 

--------

Di belahan bumi lainnya. Setelah kepergian Saira, keluarganya tidak pernah lagi tertawa. Bahkan kondisi kesehatan Andri menurun. Hal tersebut membuat hubungan Izora dan Aksa semakin menjauh. Sebelum Saira meninggal mereka memutuskan akan menikah. Namun, semua kini hanya tinggal rencana. Baik Izora mau pun Aksa todak ada satu pun yang mau melanjutkannya. Luka yang ditinggalkan Saira masih membekas di hati mereka semua.

"Pa, ini sudah satu bulan setelah kepergian Saura, Mama kangen sama Saira Pa." 

"Ma, Papa juga sangat merindukan Saira," ucap Andri dan air mata selalu jatuh saat ia mengingat semuanya.

Satu hal yang selalu ia sesali dalam hidupnya. Ia bahkan berharap bisa mengulang waktu dan mengabulkan permintaan terakhirnya. Sairanya meminta dipeluk tapi dia mengabaikan. Memori menyakitkan yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.

"Mama, Saira akan sedih kalau melihat kalian seperti ini," ucap Izora sedih. 

Kedua orang tuanya sangat terpuruk semenjak satu bulan yang lalu. Siapa yang mengira, sebuah keegoan membawa mereka pada kehilangan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini. Bahkan Wisnu tidak pernah pulang ke rumahnya semenjak priatiwa itu. Kini hanya Izora yang mengambil andil semuanya.

Deringan ponsel membuyarkan lamunan Izora, ia mengambil ponselnya dan melihat nama pemanggil.

"Ada apa Sustri?" 

"Apa! Bagaimana bisa?" tanya Izore kaget.

"Oke, aku akan segera ke sana. Kamu urus dulu sampai saya datang ya Sus."

Izora buru-buru pergi setelah berpamitan. Kabar ini tidak boleh sampai diketahui oleh orang tuanya. Kondisi mereka bisa drop jika mengetahui masalah yang sedang mereka hadapi.

------

 


Comments (1)
goodnovel comment avatar
mssmarrygoldie
mang penyesalan selalu datang terlambat
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status