Share

4. Tentang Perasaan

Lino tanpa sengaja mendongakkan kepalanya. Kini, pandangannya langsung menangkap Amel yang tengah memandangi Lino. Sontak saja, terbitlah senyuman miring di wajahnya.

"Kenapa lo? Naksir?" tanya Lino dengan nada congkak.

Tentu saja, Amel langsung menolehkan pandangannya. Pada detik itu juga, Lino juga turut melepaskan helm tersebut dari kepala Amel.

"Sampai kapanpun, gue gak akan naksir sama lo!" seru Amel sembari menjulurkan lidahnya.

Amel pun bergegas melangkahkan kakinya menghampiri pegawai butik tersebut. Kemudian, ia mengikuti arahan dari sang pegawai butik.

Di sisi lain, Lino hanya menghela napasnya. Ia kemudian mengikuti langkah pegawai butik untuk menemukan baju untuk pengantin pria. uwuu dah siap nikah.

***

Sesaat kemudian, Lino sudah selesai berganti pakaian. Dengan balutan jas berwarna hitam dengan celana berwarna sama, ia kini mengarahkan dirinya untuk duduk di area sofa. Menunggu Amel yang sangat lama walau hanya berganti pakaian.

Sejenak, Lino mengeluarkan ponselnya. Jemarinya mulai aktif bergerak menaik-turunkan beranda sebuah sosial media. Sesekali, muncul beberapa video yang sukses membuat Lino terkekeh pelan.

Saat sedang asyik mengamati deretan foto yang masuk ke akun sosial medianya, tiba-tiba saja, suara deheman sukses memasuki indra pendengaran Lino. Detik itu juga, Lino langsung menolehkan pandangannya. Di sana, terdapat Amel yang telah mengenakan sebuah gaun putih yang cantik.

"Heh, gue cantik kan?" ucap Amel sembari menaik-turunkan kedua alisnya. Amel lantas berpose berputar, untuk menampilkan seluruh tubuhnya yang terbalut baju pengantin.

"Gak usah muter-muter, entar kesrimpet, jatuh, gaunnya robek, jahitnya lama!" sentak Lino.

"Ish, kenapa sih lo kayaknya alergi banget memuji gue! Kalau gue cantik, bilang aja cantik!" keluh Amel sembari menggembungkan pipinya.

"Gak usah manyun-manyun, tambah jelek. Dah sana ganti baju, toh gaunnya juga gak kekecilan kan?" ceplos Lino. Mendengar hal itu, Amel langsung menghela napasnya.

"Punya calon suami gini amat sih! Bisa gak, gue minta dijodohin sama cowok yang lebih so sweet dikit?!" keluh Amel sembari membalikkan badannya. 

Amel pun lantas melangkahkan kedua kakinya dengan penuh hentakan kekesalan. Baru beberapa langkah yang Amel ambil, tiba-tiba saja terdengar suara dari Lino.

"Cantik kok," sahut Lino. Detik itu juga, Amel langsung mengembangkan senyumannya.

Tanpa pikir panjang, Amel segera membalikkan badannya dengan dipenuhi senyuman di wajahnya.

"Tuh kan, gue bilang juga apa. Gue tuh can—"

"Yang cantik gaunnya, bukan elonya. Dah sana ganti, gue juga mau ganti!" ketus Lino sembari melangkahkan kaki meninggalkan Amel.

Diam-diam, Amel mengepalkan tangannya. Laki-laki itu memang tak henti-hentinya membuat darahnya naik. 

"Dari zaman sekolah dasar sampai sekarang, gak ada perubahan! Tetep aja nyebelin!" pekik Amel sembari menjejak-jejakkan kakinya kesal.

Tanpa pikir panjang, Amel langsung membalikkan badannya. Kemudian, bergegas melangkahkan kaki ke arah tempat berganti pakaian.

***

Tidak sampai sepuluh menit, Amel dan Lino sudah bertemu di area lobby butik. Di sana, Lino tampak mengeluarkan sebuah kartu untuk menyelesaikan pembayaran. Setelahnya, Lino mulai berjalan cepat menghampiri Amel.

"Mau makan gak?" tawar Lino. 

Awalnya Amel tertarik, tetapi ketika melihat ekspresi datar di wajah Lino, segeralah Amel mengurungkan niatnya.

"Gak usah," jawab Amel.

"Yakin gak laper?" ceplos Lino.

"Kalau gue beneran laper, udah dari tadi, elo yang gue makan. Udah rese, nyebelin, bikin naik darah mulu!" sentak Amel tiba-tiba. Langsung saja, terdengar decihan pelan dari bibir Lino.

"Ya biasa aja kali jawabnya, gue nanya malah dijawabnya ngegas!" protes Lino.

"Ah bodoamat, gue mau pulang!" seru Amel sembari bergegas meninggalkan Lino.

"Woy, helm lo ketinggalan tuh di sofa!" seru Lino ketika Amel mulai menjangkau pintu keluar.

Sontak saja, Lino memutar bola matanya malas ketika melihat Amel mengeloyor pergi begitu saja. Dengan cepat, Lino segera mengambil helm milik Amel dan mulai bergegas menghampiri Amel.

Waktu keluar dari butik, Lino segera disajikan dengan nuansa langit yang sudah mulai menggoreskan warna jingga. Seperti lukisan yang cantik, dengan perpaduan warna yang sangat pas, memberikan kesan indah pada alam semesta.

Langsung saja, Lino menyerahkan helm milik Amel, yang pemiliknya sudah asyik nangkring di atas motor sport merah milik Lino. Amel sepertinya masih kesal dengan perlakuan Lino tadi. Ia segera merebut helm miliknya itu dari tangan Lino, dan mulai memasangkannya di kepalanya.

"Heh, Mel, pernah gak lo jatuh cinta?" tanya Lino tiba-tiba. Amel pun segera melipat tangannya di depan dada.

"Kenapa lo tanya gitu? Mulai kepo?" sentak Amel. Langsung saja, Lino menghela napasnya.

"Kalau lo jatuh cinta sama orang itu, mending lo kejar. Biasanya, cowok akan lebih keberatan ketika cewek yang mengejarnya sudah berstatus janda. Kalaupun cowoknya menerima, susah buat meyakinkan keluarganya," cetus Lino.

"Ini kesempatan lo sebelum kita nikah. Gue gak mau, nantinya bakal jadi alasan buat menghalangi kisah cinta lo sama orang yang lo suka," imbuh Lino.

Jantung Amel langsung berdebar tidak karuan. Ia bahkan masih bingung, kepada siapa perasaannya akan tertuju. Pernah sih, Amel terpesona sama cowok pas masih SMA, tapi, apakah perasaan itu masih ada? Bahkan Amel pun tidak mengerti dan masih merasa bimbang.

"Kenapa lo tiba-tiba peduli dengan hidup gue? Kalau dibalik, kenapa lo gak ngejar Lina dan nikahin dia aja?" cibir Amel. Langsung saja, terdengar kekehan pelan dari bibir Lino.

"Lina? Hahaha, gue kan gak boleh nikah sama Lina. Bakalan ditentang sama nyokap dan bokap, jadi ya, cukup saling sayang aja," ceplos Lino. 

"Emangnya Lina kuliah di universitas mana? Setahu gue, di universitas kita, gak ada tuh yang namanya Lina?" tanya Amel. 

"Yang namanya Lina sih ada. Kalau Lina yang gue sayang, dia gak kuliah tuh, bahkan sekolah juga enggak. Kenapa? Kok tumben lo jadi kepo tentang gue, biasanya apapun tentang gue, pasti lo benci?!" Lino menaikkan sebelah alisnya.

"Emang, gue benci sama lo! Udah deh, cepetan pulang. Gue gak mau kalau sampai ada anak kampus yang lihat lo dan gue ada di parkiran butik! Citra cewek single yang susah buat didapetin, bisa rusak kalau mereka ngeliat gue sama elo di sini!" pekik Amel.

Tanpa berkata-kata, Lino segera menaiki motornya. Menghidupkan mesinnya dan mulai melajukan motornya hingga membelah jalan raya yang semakin ramai.

***

Lino melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang wanita yang saat ini tengah menyajikan senyum lebarnya.

"Ah, Mama! Ngagetin aja deh!" keluh Lino. Namun, Citra, Mama Lino itu segera terkekeh pelan.

"Gimana? Deg-degan gak?" tanya Citra dengan menaikkan sebelah alisnya. Seperti antusias mendengarkan jawaban dari Lino.

"Ya iyalah deg-degan, orang masih hidup kok!" sahut Lino.

"Aishh bukan itu, maksud Mama, di sinimu deg-degan gak?" tanya Citra lagi sembari menunjuk ke dada Lino.

"Maksud Mama?" tanya Lino bingung.

"Tentang perasaan kamu sama Amel," cetus Citra sembari mengangkat sebuah buku yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya.

"Mama! Kok buku diary-ku bisa sama Mamaaaa!" pekik Lino sembari berusaha merebut kembali sebuah benda berbentuk kotak tersebut.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status