Share

7. Pesan Papa

Amel mengantarkan secangkir kopi ke ruang kerja ayahnya. Di sana, tampak seorang pria dengan kaca mata yang sedang fokus menatap laptop kerjanya.

"Papa kalau capek, mending istirahat dulu aja. Amel gak tega kalau sampai melihat Papa sakit hanya gara-gara terlalu sibuk bekerja," ucap Amel.

Pria berkaca mata itu tampak menghela napasnya. Beberapa helai rambut berwarna putih bahkan sudah terlihat mencolok di antara banyak rambut berwarna hitamnya. 

"Papa harus bekerja keras, Amel. Perusahaan kita nyaris saja gulung tikar. Papa lebih gak rela kalau melihat hidup kamu sengsara. Bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sungguh berharga, Amel," cetus Papa. Amel pun lantas memandang lekat laki-laki yang sukses menjadi cinta pertamanya itu.

"Dari kecil, Papa sudah bekerja keras untuk Amel, untuk menghidupi Amel, membahagiakan Amel juga. Apapun yang Amel minta, pasti Papa akan berusaha untuk menuruti permintaan Amel. Mungkin, ini saatnya bagi Amel untuk membalas kebaikan Papa," sahut Amel. 

"Kamu tinggal kuliah aja yang bener, membalas kebaikan Papa bisa nanti-nanti, Amel. Toh, Papa juga masih sehat, masih bisa meng-handle semuanya kok, jangan khawatir!" ucap Papa. 

Sejenak, Amel merasa kagum kepada laki-laki yang tengah duduk di hadapannya itu. Laki-laki itu selalu saja bisa membuatnya nyaman. Ia bahkan ragu, akankah ada laki-laki lain yang bisa membuatnya nyaman seperti ini?

"Pa, sebentar lagi, aku bersedia untuk menikah dengan Lino. Kata Mama, itu akan memperbaiki kondisi keuangan kita kan? Aku juga dengar, kalau keluarga Lino itu sangat kaya dan memiliki banyak relasi. Aku harap, dengan begitu, aku bisa meringankan beban Papa nantinya," ucap Amel sembari mengulas senyumnya. Pria di hadapannya lantas mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Jadi, kamu beneran mau menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh mama kamu itu?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya. 

"Iya, Pa," sahut Amel sembari menganggukkan kepalanya.

Pria itu berjalan mendekati Amel, kemudian menepuk bahu Amel menggunakan kedua tangannya. 

"Tatap mata Papa," pinta pria berkacamata itu.

Amel menuruti permintaan pria itu. Kedua matanya lantas menatap mata pria itu lekat-lekat. Entah mengapa, hati Amel tiba-tiba terasa seperti tersayat. Dalam tatapan pria itu, seolah ada luka yang sengaja ditutup rapat.

"Jika kamu tidak menyukainya, kamu boleh menolaknya, Amel. Bagi Papa, kebahagiaan putri semata wayang Papa, itu lebih penting. Papa janji, Papa akan berusaha lebih keras lagi supaya kondisi keuangan kita membaik sama seperti dulu lagi," ucap pria itu. 

Amel berusaha menahan air matanya sekuat tenaga. Dalam hatinya, ia sangat tidak terima jika harus menikah dengan orang semenyebalkan Lino. Namun, di sisi lain, ia pun tidak ingin membuat papanya harus bekerja lebih keras. Jujur saja, Amel lebih takut jika kondisi kesehatan ayahnya akan memburuk jika terlalu dipaksa untuk menjadi gila kerja. 

"Hahaha hanya menikah doang kok, Pa. Lagipula, Lino kan baik, ganteng, idola cewek-cewek di sekolah Amel. Harusnya Amel bersyukur kalau ada kesempatan buat menikah dengan dia, menjalin hubungan serius dengan dia. Apalagi, dengan menikah dengan Lino, itu akan bisa menjadi penyangga bisnis kita kan, Pa. Pasti keluarga Lino bakal bantu kita, supaya perusahaan keluarga kita tidak bangkrut," sahut Amel sembari menyunggingkan senyumnya. Lagi-lagi, tepukan tangan Papa sukses membuat Amel tersadar.

"Amel, menikah itu bukan hal yang bisa dibuat untuk bermain-main. Tidak seperti pacaran, yang kalau sudah bosan, bisa diakhiri dengan mudah. Dalam suatu pernikahan, tidak boleh ada kata bosan di dalamnya, sebab yang dijaga bukan lagi dua hati, tetapi hati dari dua keluarga, Amel," ucap Papa.

"Setelah menikah, kamu tidak akan bisa sebebas sekarang. Setelah menikah, Lino akan memiliki hak untuk mengatur hidup kamu. Apa kamu siap? Dari kecil, Papa selalu berusaha memberikan kamu kebebasan, Papa takut, kamu akan sulit menerima itu semua, Amel. Semuanya akan menjadi sangat berbeda setelah kamu menikah," imbuh Papa. 

Untuk sekejap, Amel tidak bisa berkata-kata. Ucapan Papa ada benarnya. Selama ini, Amel selalu bebas melakukan hal apapun. Namun, Amel segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh membatalkan perjodohan ini begitu saja. Amel sudah telanjur menyetujuinya. Juga, demi Papa. Demi keberlangsungan hidup keluarganya juga.

"Amel paham, Pa. Papa tenang aja. Amel kan sekarang udah gedhe. Amel bisa memilih keputusan mana yang akan berdampak baik bagi Amel. Dan, inilah keputusan Amel. Amel mohon, hargai keputusan Amel ya, Pa," balas Amel sembari menggenggam kedua tangan pria itu.

"Kamu tahu? Patah hati terbesar bagi seorang ayah adalah ketika harus melepaskan putri yang sedari kecil dijaganya untuk dijaga oleh pria lain," bisik pria itu sembari memeluk tubuh Amel.

"Namun, Papa akan bahagia jika melihat kamu bahagia. Jadi, mohon tetap bahagia ya, Amel, demi Papa. Jika nantinya kamu tidak bahagia, langsung bilang ke Papa. Biar Papa yang akan mengurus semuanya, sebab kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab Papa," sambung pria itu dengan suara yang terdengar serak.

"Iya, Pa. Pasti Amel akan bahagia kok, kan ini keputusan Amel juga hehehe," sahut Amel.

"Emm, kopinya diminum dulu, Pa, takutnya keburu dingin. Kalau udah dingin kan, rasanya gak seenak kalau diminum pas lagi hangat," ujar Amel sembari bergerak melepas pelukannya. Pria itu sejenak menatap ke atas, sebelum akhirnya terkekeh pelan dan beralih menikmati kopi buatan Amel.

"Ya sudah, kalau begitu, Amel ke kamar dulu ya, Pa! Tugas kuliah Amel masih banyak yang harus dikerjain!" izin Amel. Pria itu mengangguk pelan.

"Ya. Semangat belajarnya," ucap pria itu. Amel seketika mengembangkan senyumnya.

"Makasih, Pa. Amel permisi dulu!" pamit Amel sembari melangkahkan kakinya ke arah pintu.

Amel diam-diam menyandarkan dirinya pada pintu yang telah tertutup rapat. Tiba-tiba saja, ia teringat akan ucapan papanya tadi. Sejenak, ia menjadi ragu. 

"Apa keputusan yang gue ambil sudah tepat?" pikir Amel.

"Namun, ini cara terbaik untuk bisa menyelamatkan perusahaan Papa. Gue gak tega kalau harus melihat Papa merasa bersalah ke gue dan Mama, kalau perusahaan benar-benar bangkrut. Gue juga gak mau, melihat Papa harus bekerja lebih keras hanya untuk membuat kondisi keuangan kembali stabil. Gue lebih takut, Papa akan jatuh sakit jika terlalu memaksakan diri," keluh Amel.

"Tapi, rasa sakit di hati gue, masih belum hilang. Jujur, gue masih benci banget sama Lino. Apa nanti, gue bisa hidup berdua dengan Lino? Setiap pagi, yang gue tatap adalah wajah Lino. Terus, apa kabar dengan hati gue nantinya?" Amel lantas memejamkan kedua matanya.

"Gak, gue gak boleh ragu! Setidaknya dengan menikah dengan Lino, gue gak harus tinggal di kolong jembatan atau emperan toko. Gue juga gak harus ngerasain ketika pagi-pagi buta diusir sama pemilik tokonya. Gue juga gak harus ngerasain, gimana sakitnya di drop out hanya gara-gara gak bisa bayar uang kuliah. Hah, Amel, semangat. Lo pasti bisa! Hidup itu memang harus penuh perjuangan, kalau gak berjuang, gak bisa hidup enak!" seru Amel menyemangati hatinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status