Chapter 3

Menikah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita adalah impian semua orang. Itulah yang Nada juga harapkan. Namun, ia tak bisa mengelak dari takdir Allah yang telah ditetapkan untuknya meskipun kelihatannya ia seperti telah dijadikan "tumbal" oleh orang tuanya sendiri akibat kekonyolan salah satu putri mereka yang katanya selalu membanggakan itu.

Ia duduk bersila di lantai kamarnya yang dilapisi karpet bulu dan hamparan sajadah. Ia baru saja melaksanakan shalat isya setelah ia dan suaminya makan malam bersama. Helaan napas kasar keluar begitu saja dari mulutnya. Sudah sebulan menjalani status seorang istri dari Alfarezel Narendra, tetapi mereka masih merasa asing. Mereka hanya bertemu saat sarapan dan makan malam. Shalat wajib pun dilakukan sendiri-sendiri. Situasi yang sama ia rasakan saat berada di rumah orang tuanya. Namun, Alfa adalah orang yang tak melewatkan waktu untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Seumur hidup Nada, ia tak pernah melihat ayahnya dan kakak laki-lakinya ke masjid. Shalat jumat pun tak pernah. Ia begitu muak dengan keluarganya yang hidup jauh ajaran agama. Nada sendiri belajar agama dari guru mengajinya saat ia masih TK dan SD, itu pun ia lakukan secara diam-diam karena ia memang dilarang berinteraksi dengan mereka yang mabuk agama menurutnya. Ia izin pergi belajar kelompok dengan temannya setiap hari Senin sampai Jumat sebelum azan magrib. Dengan tas ransel berisi pakaian muslimah dan buku iqra', ia berjalan menuju masjid di luar kompleks perumahan tempat ia tinggal. Di sana, ia leluasa belajar dan bermain dengan teman sebayanya. Sesekali ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang Islam pada ustadzahnya.

Selanjutnya, Nada belajar shalat, membaca Al-Qur'an, dan berpuasa secara intensif dari lingkungan pesantren. Dari sana pula, ia belajar menutup aurat sesuai syariat Islam. Meskipun ia selalu diminta sang ibu untuk pulang ke rumah saat libur semester, ia tetap tidak mau. Ia memilih menetap di pesantren. Setelah enam tahun berlalu, ia pulang dan disambut tatapan rindu sang ibu dan tatapan sinis dari ayah dan kedua kakaknya.

"Jadi ini hasil dari enam tahun menjadi santri? Cih! Kau benar-benar seperti perempuan kampungan!" ucap Gunawan sinis saat ia baru saja sampai di rumahnya.

"Duh, masa adikku ini jadi kayak ibu-ibu gini, sih? Sayang lho rambut kamu ditutupi kain gitu. Entar nanti sulit dapat jodoh, lho!" celetuk Nadia.

Sementara Fandi hanya diam. Tatapannya begitu tajam pada adik bungsunya.

"Kak Fandi, masuk, yuk! Gak usah ladenin Nada! Dia itu udah kayak gadis primitif yang hidup di zaman batu!" celetuk Nadia kembali.

"Kelakuan primitif itu kayak Kak Nadia! Bukankah di zaman batu, manusia berpakaian seadanya karena tak ada bahan lain yang bisa dijadikan pakaian? Ya sama dengan yang Kak Nadia pake. Kurang bahan!" balas Nada dingin.

"Kau! Kau kurang ajar, ya! Dasar orang sok suci!" ujar Nadia kesal sambil berusaha menarik jilbab Nada.

"Nada! Kau baru kembali ke rumah ini, tapi kau sudah menyebabkan keributan!" seru Gunawan.

"Kak Nadia yang mulai, Papa!" bantah Nada.

"DIAM! CEPAT MASUK KE KAMARMU!" titah Gunawan berapi-api.

Nada menatap tajam Nadia, sedangkan Nadia tersenyum sinis.

Nada berjalan masuk dengan membawa dua tas besarnya menuju kamarnya.

Nada tersentak dari lamunan panjangnya saat mendengar ponselnya berdering. Dengan malas, ia berdiri dan meregangkan ototnya lalu mengambil ponselnya.

"Halo..."

"Ih, Nada! Elu nikah kagak undang gue, ya! Awas lu!" teriak seseorang dan itu membuat Nada sampai harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

"Elu udah gila, ya? Nelpon kagak ngucap salam dulu!" omel Nada.

"Udah keburu kesel gue! Kok lu nikah dadakan sih? Jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa!" sambung Nada ketus.

"Elu gak tekdung duluan, kan? Elu kan panutan gue, masa lu udah rusak aja, sih?" ucap orang itu asal.

Nada memutar bola matanya lalu menghembuskan napas kasar.

"Gue kagak tekdung, Sarah! Eh, elu dapat kabar dari mana kalo gue udah nikah?"

"Gue tadi pagi ke apartemen lu, lu kagak ada. Gue akhirnya ke rumah orang tua lu, katanya lu udah nikah dan tinggal sama suami lu. Gue kan kesel!" gerutu Sarah.

"Gue emang masih di apartemen, kok, tapi di unitnya Kak Alfa," ucap Nada santai.

"Jadi, elu tinggal di apartemen suami lu yang masih satu gedung dengan apartemen elu?"

"That's right! Elu emang pinter banget, Sarah!" celetuk Nada.

"NADAAA!!! Kalo tahu gitu, mending gue telpon lo dari tadi!"

"Salah sendiri kenapa baru telpon gue sekarang!" sambung Nada santai sembari menahan tawa.

"Iya juga, sih. Hah, pokoknya elu berutang penjelasan sama gue!" jerit Sarah kesal.

"Iya, deh! Gue bakal ceritain semuanya dari A sampai Z, tapi jangan sekarang! Gue ngantuk. Gue ada kelas pagi sampai jam 3 sore. Gue jemput lu di kantor jam 4. Gimana?"

"Oke! Gue tunggu lu besok!"

"Insya Allah, Sarah. Ya udah, gue mau tidur!"

"Oke, Babe! Bye! Assalamu 'alaikum!"

"Wa 'alaikumussalam!" balas Nada.

Nada membuka mukenanya lalu menggunakan rangkaian skincare malamnya dan bersiap tidur.

***

"Kak, aku boleh izin, gak?" tanya Nada hati-hati.

Alfa yang sedang mengunyah pelan nasi goreng miliknya terkejut. Meskipun mereka masih kaku saat berinteraksi satu sama lain, Alfa patut mengacungi jempol sikap Nada yang tetap menghormatinya sebagai suami. Nada tak pernah meninggalkan rumah bila tak diizinkan olehnya.

"Mau ke mana?" tanya Alfa.

"Abis dari kampus, aku mau jalan sama Sarah."

"Sarah?"

"Dia teman kuliahku. Boleh, gak?"

"Boleh. Jangan pulang terlalu malam!"

"Insya Allah abis magrib aku pulang."

Alfa hanya menjawab dengan gumaman. Mereka kembali menikmati sarapan mereka dalam keheningan.

"Aku pergi dulu," ucap Alfa setelah mencuci piring dan gelas bekas makan dan minumnya.

Nada yang baru selesai sarapan langsung berdiri dan menyalami tangan suaminya.

"Hati-hati, Kak!"

"Hmm... Assalamu 'alaikum!"

"Wa 'alaikumussalam," balas Nada lirih.

Tak ingin membuang waktu, Nada segera masuk kembali untuk mencuci piring, sendok, dan gelas bekas makan dan minumnya lalu menyimpannya di rak piring setelah ia keringkan. Ia kembali masuk ke kamarnya dan merapikan sejenak penampilannya kembali sebelum berangkat ke kampus.

Nada mengendarai motor maticnya sehari-hari setiap ia keluar rumah. Bukan karena tak tahu menyetir, tetapi ia merasa belum butuh mobil. Sejak ia masuk pesantren, Gunawan tak pernah lagi memberikan fasilitas padanya. Motor miliknya pun hasil dari tabungan uang saku dari ibunya selama ia masih menjadi santri. Saat kedua kakaknya menikmati kemewahan yang orang tuanya berikan, justru Nada tumbuh menjadi pribadi yang pekerja keras dan hidup sederhana. Ia bangga menjadi dirinya sendiri dengan menikmati segala yang ia miliki dari usaha kerasnya. Tentu semua itu tak luput dari kasih sayang Allah padanya.

Nada yang baru saja masuk ke dalam gedung fakultas MIPA disambut senyum ramah oleh mahasiswa dan mahasiswi yang mengenalnya. Ia pun membalas dengan cara yang sama. Ia bergegas naik ke lantai tiga di mana para mahasiswa jurusan Kimia telah menunggunya di ruang kelas.

***

Nada membunyikan klakson motornya tepat di hadapan Sarah. Sarah yang memang membawa helm dari rumahnya segera naik di jok belakang motor Nada.

"Kita mau jalan ke mana, nih?" tanya Sarah.

"Di tempat biasa aja gimana?" tanya Nada balik.

"Oke, deh! Elu yang traktir, kan?" tanya Sarah sambil menaikturunkan kedua alisnya.

Nada mendengus.

"Oke! Itung-itung sebagai balasan karena gue gak sempat ngundang elu!"

"Yes! Let's go, Babe!" seru Sarah.

Nada hanya terkekeh sambil mengemudikan kembali motornya.

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah cafe.

Mereka masuk untuk mengambil tempat yang lebih privat agar tidak merasa terganggu dengan situasi yang mulai ramai, lalu mereka memesan makanan dan minuman favorit masing-masing.

"So, elu mau cerita dari mana?" tanya Sarah serius.

Nada menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

"Sebenarnya gue jadi pengantin penggantinya Kak Alfa," lirih Nada.

"What? Entar dulu, Alfa yang elu maksud ini Alfarezel Narendra?"

Nada mengangguk.

"Dia kan tunangan kakak lu? Kok... Kok bisa, sih?" tanya Sarah tak percaya.

Nada pun menceritakan semuanya, dari kaburnya Nadia hingga sebulan pernikahan dirinya dan Alfa.

"Jadi, elu masih perawan ting-ting, dong?" tanya Sarah menggoda.

Nada mencebik. Sahabatnya ini memang suka asal bicara. Untung saja mereka sedang berada di private room cafe.

"Ya elah, Neng Nada! Sayang banget sih udah nikah malah masih perawan. Padahal begituan itu enak, lho!" goda Sarah.

Nada menatap horor sahabat kurang ajarnya ini.

"Elu udah pernah begituan?" tanya Nada asal.

"Heh, Nada! Gue juga masih perawan ting-ting! Gue kan belum nikah, Nada!" gerutu Sarah.

Nada terkekeh lalu memakan roti bakar coklat keju yang sudah ia pesan.

"Jadi, sekarang apa rencana elu selanjutnya?" tanya Sarah serius.

Nada menggeleng. Ia putus asa saat ini.

"Gue sempat pengen nyerah aja, Sarah. Jujur, gue sama Kak Alfa seperti orang asing yang tinggal seatap. Gue juga belum kenal Kak Alfa lebih dekat. Gue... Gue juga ngerasa Kak Alfa masih belum bisa nerima gue sebagai istrinya. Dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue udah mulai suka sama dia. Meskipun kami tak sekamar, tapi Kak Alfa tetap kasih perhatian ke gue. Dia tetap nafkahin gue, bantu gue beres-beres rumah, dan dia selalu pulang tepat waktu setelah dia bekerja. Gue ngerasa ada yang benar-benar jagain gue, meskipun dia mungkin merasa gue ini adiknya," lirih Nada.

"Elu pengen cerai atau bertahan?" tanya Sarah kembali.

"Gue pengen bertahan, Sarah," jawab Nada mantap.

"Nah, kalo gitu, elu coba memulai obrolan. Cari waktu senggang di antara kalian untuk jalan berdua! Itu bisa jadi salah satu jalan supaya kalian tambah dekat." Sarah mencoba memberi saran.

"Hmm... Apa gak masalah gue yang inisiatif duluan?" tanya Nada ragu.

Sarah memutar bola matanya lalu menepuk jidatnya. Ia lupa kalo sahabatnya ini begitu polos dan tak pernah merasakan apa itu jatuh cinta.

"Gak masalah elu jadi agresif sedikit. Sama suami lu sendiri juga, bukan sama laki orang!" cibir Sarah.

"Oke, deh! Weekend nanti gue coba," putus Nada.

"Nah, gitu! Elu udah nikah, jangan polos-polos amatlah jadi cewek!"

Nada dan Sarah tergelak sambil menikmati menu yang ada di hadapan mereka. Sesekali mereka saling ejek seperti saat mareka sering bertemu dulu.

***

"Assalamu 'alaikum." ucap Nada saat memasuki apartemen.

"Wa 'alaikumussalam. Kamu baru pulang?" tanya Alfa sambil membiarkan Nada mencium punggung tangannya.

"Iya, Kak. Maaf," lirih Nada sambil menunduk. Alfa tersenyum.

"Gak apa-apa. Aku juga baru pulang, kok," jawab Alfa sambil melepas jas dan dasinya. Nada bergegas mengambil jas dan dasi itu lalu menaruhnya di keranjang pakaian kotor.

"Hmm... Nada!"

"Iya, Kak?"

"Kamu... Kamu gak usah masak, ya! Kita makan malam di luar. Gimana?"

Nada mengangguk sambil tersenyum.

"Mau mandi atau langsung berangkat, Kak?" tanya Nada.

"Kayaknya mandi dulu, deh. Gerah."

"Ya udah, aku juga mau mandi dulu."

"Mau mandi bareng?" tanya Alfa menggoda.

"GAK!!!" hardik Nada sembari menghentakkan kakinya menuju kamarnya.

Alfa tertawa terbahak-bahak melihat Nada kesal.

Lima belas menit kemudian, mereka sudah siap.

Nada keluar dari kamar dengan gamis biru tosca dan jilbab syar'i dengan warna yang sama serta polesan make up tipis, sedangkan Alfa memakai t-shirt biru tua dan celana selutut warna khaki.

"Nada, kamu udah siap?"

Nada mengangguk sambil tersenyum. Alfa meraih tangan kiri Nada untuk ia genggam.

"Ayo! Kita naik motor aja, ya! Supaya nanti bisa ngebut. Takutnya terlalu kemalaman," ujar Alfa sambil memegang kunci motor Nada dan tangan satunya mengunci apartemennya.

Nada mengangguk menyetujui.

Setelah sampai di basement apartemen, mereka berjalan di mana motor Nada terparkir. Alfa meraih helm Nada dan memakaikannya di kepala istrinya. Nada menahan napasnya sejenak saat ia ditatap begitu intens oleh suaminya. Tiba-tiba Alfa mengecup pipi kirinya.

"Aku baru sadar. Ternyata kamu secantik ini," lirih Alfa tepat di depan bibir Nada.

Nada mengerjap berkali-kali dan itu membuat Alfa semakin gemas padanya.

"Ayo, naik!"

Nada tersadar lalu duduk di jok belakang. Alfa mengambil kedua tangan Nada untuk dilingkarkan di perutnya.

"Kita akan ngebut, jadi pegang yang erat, ya!" titah Alfa lembut.

Alfa menyalakan mesin motor lalu melaju perlahan meninggalkan gedung apartemen.

Sepuluh menit kemudian, motor berhenti di sebuah restoran mewah. Nada turun lebih dulu sementara Alfa mencari tempat parkir yang kosong diikuti oleh Nada di belakangnya. Alfa dan Nada menyimpan helm mereka di spion motor.

"Gak salah, nih ngajak aku ke sini?" tanya Nada ragu.

Alfa tersenyum sembari mencubit hidungnya.

"Iya, dong! Aku udah reservasi tempat di private room, biar kita gak terganggu."

Mereka berjalan memasuki restoran dengan tangan saling bertaut. Selanjutnya mereka dituntun salah satu pramusaji menuju ruang privat yang telah Alfa pesan. Setelah mereka duduk, mereka memesan makanan masing-masing lalu membiarkan pramusaji itu pergi.

Nada merasa canggung saat tangannya masih digenggam oleh Alfa. Jantungnya berdebar kencang begitu Alfa menatapnya begitu intens.

"Nada, aku minta maaf," lirih Alfa.

"Minta maaf? Kak Alfa gak buat salah kok sama aku," jawab Nada pelan.

Alfa menggenggam kedua tangan Nada.

"Aku minta maaf karena sampai saat ini, aku masih belum bisa mencintaimu. Aku tahu, kita menjalani semua ini dengan rasa terpaksa. Tapi, bukan berarti aku masih mencintai Nadia. Jujur, sejak Nadia pergi, rasa cintaku untuknya sudah hilang berganti dengan rasa kecewa. Aku," Alfa menghela napas pelan. "Aku ingin membuka hatiku untukmu. Boleh?"

Nada membisu, tetapi ia tak menampik rasa bahagia yang tiba-tiba hadir. Alfa ingin membuka hati untuknya. Bukankah ini juga yang ia harapkan selama ini? Nada bersorak dalam hatinya. Perlahan, Allah membukakan jalan untuk kebahagiaannya.

Oh, Allah! Seperti inikah rasanya jatuh cinta?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status