Share

Sorrowful
Sorrowful
Author: Nameera

Awal Mula

Di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggir Kabupaten Bandung Barat. Rumah itu tampak sudah usang, hal ini terlihat dari cat rumah yang sudah mulai luntur. Langit rumah yang sudah mulai menganga terbuka, atap rumah pun sudah mulai bergeser sedikit sehingga membuat rumah itu dipastikan bocor saat hujan mulai turun. Di dalam rumah ini tinggal wanita cantik bersama anaknya yang tak kalah cantik. Wanita ini bernama Deswita, ia mempunyai bentuk muka oval, alis yang tebal, serta bibir tipis yang menggoda. Rambutnya yang pendek berwarna coklat tua bergelombang hingga ke pundaknya. Ia mempunyai anak perempuan yang cantik, anak itu bernama Riana. Riana saat ini berusia 21 tahun, bentuk mukanya oval, alis yang tebal, serta bibirnya yang tampak berisi dan berwarna kemerahan seperti buah plum. Rambut Riana berwarna hitam pekat menjuntai lurus hingga ke pinggangnya.

Riana tampak tengah duduk di dalam kamarnya, ia memang pemandangan yang ada di luar jendela teralis-nya. Hujan tampak turun membasahi bumi pada siang hari itu. Memang ia menyukai rintik hujan, baginya rintik hujan itu adalah berkah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang ada di Bumi. Tuhan memberikan hujan dengan tujuan agar tanah menjadi basah, air hujan terserap ke dalam tanah. Air dalam tanah sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi ini. Mulai dari tumbuhan, hewan, dan tentu saja manusia. Riana pun tersenyum bahagia melihat rintikan hujan itu.

Tak terasa, Riana pun menitikkan air mata di kala senyumnya yang mengembang itu. Ia juga sangat sedih dengan adanya hujan. Karena saat hujan itu, ia harus kehilangan papinya. Papi Riana harus meninggalkannya saat ia berusia 10 tahun. Ia kembali teringat saat kejadian mengerikan itu.

Flashback.

“Papi, Riana mau mandi hujan, apakah boleh?” tanya gadis berusia 10 tahun itu.

Papi Riana hanya tersenyum mendengar ucapan anak bungsunya itu. “Jangan dulu ya, Sayang. Hujannya ada petirnya, itu bahaya loh,” ucap Papi seraya mengelus rambut putrinya.

Riana segera mengerucutkan bibirnya, Papi hanya tertawa pelan melihat putrinya itu merajuk.

“Anak Papi ngambek, hm?” tanyanya.

“Enggak kok, Pi. Riana cuma kesal aja,” jawab gadis itu polos.

Papi tertawa mendengar jawaban Riana. Namun, tertawanya itu pun mulai berhenti saat ia melihat sesuatu di bawah rintik hujan itu.

“Riana, kamu tutup jendela kamar ini ya. Habis itu tidur, Papi ke luar dulu.”

"Riana gak mau, Papi. Papi jangan pergi dari sini," rengek Riana.

Papinya tersenyum lalu ia mengambil kalung yang saat ini melingkar di lehernya. Lalu papi memberikannya ke Riana.

"Kamu pakai kalung ini ya? Ini akan menjelaskan semuanya, Riana," pinta papi.

Riana mengernyitkan dahinya. Ia sangat tidak mengerti maksud dari papinya itu.

"Kalau ada sesuatu nantinya, kamu bisa gali sesuatu di bawah pohon yang ada di taman rumah kita," lanjutnya lagi.

"Memang ada apa di sana, Pi?" tanya Riana tak mengerti.

Papi hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya itu, "Nanti ketika besar kamu akan tahu itu semua."

Papi mengelus surai hitam anak gadisnya itu dengan penuh kasih sayang. Tampak kesedihan di sana, namun ia terus mencoba tersenyum. Ia tidak ingin anak gadisnya itu sedih.

Riana bingung dengan ucapan Papinya, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu menuruti perkataan Papinya itu. Papi tersenyum, lalu ia mengecup singkat kepala anak bungsunya itu. Tak lama kemudian, Papi Riana pun beranjak ke luar dari kamar Riana.

Riana hendak memejamkan kedua matanya, namun ia mendengar sesuatu yang sangat keras diikuti oleh teriakan laki-laki, terdengar seperti kesakitan.

BRAK.

“Tolooooonnggg!” jerit suara itu meminta tolong.

Riana segera duduk di atas ranjangnya. Ia merasa sangat takut, karena ia merasa mengenal suara itu. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya berdegup dengan cepat, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Ia baru saja akan membuka knop pintu kamarnya, namun ia terdengar amanat dari papinya .

"Kamu tidak boleh keluar dari kamar ini apapun yang terjadi ya, Riana."

Amanat itu yang terus terngiang dalam benak Riana kecil.

Flashback off.

“Papi, Riana kangen banget sama Papi,” lirih Riana. Ia pun menyeka air mata yang ada di pipinya.

Ia merasakan sesak di dadanya. Hingga saat ini ia tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Yang ia tahu adalah papinya hilang sejak terdengar jeritan terakhir kali itu.

Brak.

Pintu kamarnya dibuka dengan keras. Riana pun menoleh untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya.

“Heh! Malah enak-enakan duduk di sini!” bentak Deswita – Maminya.

Deswita menghampiri Riana, lalu ia pun segera menarik tangan gadis cantik itu.

“Sakit, Mi,” rintih Riana.

“Jangan sok manja kamu ya! Ayo ikut!” geram Deswita.

Deswita terus menarik tangan Riana, mereka pun sampai di depan kamar Deswita.

Brak.

Deswita membuka dengan kasar kamarnya. Ia pun menarik tangan Riana, kemudian mendorong Riana ke ranjang miliknya.

“Kamu duduk di situ!” perintah Deswita. Riana hanya dapat menganggukkan kepalanya.

Deswita membuka lemari pakaiannya yang ada di sudut ruang. Kamar Deswita bisa dikatakan paling besar di rumah itu. Kamar berukuran 4x4 meter itu berisi ranjang queen size di tengah ruang. Meja rias di samping tempat tidur, lalu lemari pakaian terbuat dari kayu jati di sudut ruang.

“Pake baju yang mana ya? Ck kayaknya harus beli baju baru nih! Masalahnya adalah ini yang pesan pria kaya raya!” gumam Deswita.

Kenapa Mami melakukan ini kepada Riana, Tuhan. Riana sudah lelah jadi wanita kotor terus.

“Nah, kamu pake baju ini!”

Riana melihat Deswita mengeluarkan sebuah dress seksi di sana. Dress itu berwarna hitam dengan  bagian dada berbulu. Dress ini sangat pendek dan tampak sangat ketat.

Pasti lekukan badan Riana akan terlihat jelas.

“Kamu mandi dulu sana! Rambut keras banget kayak sapu ijuk! Mandi yang bersih dan keramasan!” perintah Deswita.

Riana menganggukkan kepalanya, lalu ia pun beranjak ke kamar mandi dengan membawa dress yang sudah dipilihkan oleh Deswita tadi.

Beberapa menit kemudian, Riana sudah selesai mandi. Ia pun ke luar dari kamar mandi dengan memakai dress seksi itu.

Benar, ‘kan? Dress ini telalu ketat. Lekuk tubuh Riana terlalu kelihatan, Tuhan. Riana bukan perempuan seperti ini. Papi, maafkan Riana, Pi.

Deswita menatap puas ke arah Riana. “Seperti yang udah saya duga, pasti dress itu sangat cocok untuk kamu. Untung saja muka dan body kamu itu menunjang, jadi kamu bisa cari uang buat saya.”

Mami jahat banget sama Riana.

“Ayo buruan! Kita bisa telat ini!” perintah Deswita.

“Iya, Mami.”

****

Sesampainya di sebuah Hotel mewah di Kota. Riana melihat hotel itu sangat mewah, desain dari hotel itu tampak sangat elegan. Terlihat ada guci dan patung berwarna keemasan di tiap sudut ruang. Lampu gantung juga tampak seperti kumpulan berlian yang elegan menggantung di sana. Langit-langit lobi hotel berbentuk cembung dengan gambar awan di sana.

Ini pasti hotel mewah, dan Riana rasa orang ini pun pasti pria kaya. Biasanya hanya hotel biasa saja. Ya Tuhan, Riana merasa sangat jijik dengan pekerjaan ini.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah ruangan. Deswita mengetuk pintu kamar itu. Pintu pun terbuka, Riana melihat sosok pria di sana. Terlihat sosok pria di hadapanya. Riana memperkirakan usia pria itu di atas 20 tahun. Pria ini berkulit putih, dengan sorot mata yang tajam. rambutnya berwarna cokelat mahoni di sisir rapi. Raut wajahnya tegas, alis matanya pun tebal memberikan visual tegas pada dirinya.

Apakah dia?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status