Bab 2 (Perpisahan Sementara)

Segala persiapan sudah selesai, hari ini aku akan pergi ke Yogyakarta untuk menjalani studiku. Restu dari kedua orang sudah didapatkan, tinggal memantapkan hati dan merelakan berpisah dengan Dio sementara waktu. Hati begitu risau, karena selama ini kami selalu bersama.


Aku sangat mencintai Dio. Pedih rasanya harus meninggalkannya di sini, tetapi hati ini percaya bahwa ia akan selalu setia kepadaku. Begitu pun aku juga akan menjaga hati. Menggapai sesuatu memang harus ada yang dikorbankan, walau sakit akan tetap coba dijalani. Mata ini menatap ke arah papan di mana foto-foto aku dan Dio terpajang di dalamnya, sementara momen itu tidak akan dilakukan sampai empat tahun ke depan.


Terlihat mobil berwarna biru tua memasuki halaman depan rumahku, itu adalah Dio yang akan mengantarkanku ke stasiun Jatinegara. Hari ini Dio begitu rapi dengan ciri khasnya yang selalu memakai polo shirt polos, celana chinos, serta sepatu sneakers-nya itu begitu tampan dan gagah. Mungkin ini adalah di mana nantinya suatu momen yang tak akan kulihat di Yogyakarta.


“Sudah siap semua?”


“Sudah, Mas. Yuk berangkat.”


“Aku bawa barang-barangmu ke mobil, ya.”


“Iya, Mas.”


Dio berjalan memunggungiku, rasanya berat sekali harus berpisah dengan kekasih hati. Namun, ini kulakukan demi impian dan cita-cita. Air mata mulai menetes, keraguan pun mulai datang menghampiri. Apakah benar ini adalah keputusan yang tepat? Apa pun nanti hasilnya, hanya Tuhan yang tahu. Manusia yang merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan garis takdir Manusia. Aku berharap dengan memulainya hubungan jarak jauh, semua akan baik-baik saja.


“Kok menangis, Sayang?”


“Aku sedih harus berpisah denganmu, Mas.”


“Aku juga begitu, tapi ini kan sudah impianmu. Jangan menangis, ya, nanti jika aku ada waktu pasti akan datang mengunjungi di sana.”


“Iya, Mas.”


Dio menenangkanku sambil mengusap rambutku dengan lembut. Lelaki baik dan perhatian, itulah Dio yang selalu tergambarkan dengan tingkah lakunya itu. Terkadang teman-temanku iri dengan perlakuan sang kekasih terhadapku, karena diri ini selalu dimanjakan layaknya seorang putri.


Sesampai stasiun, Dio memegang erat kedua tanganku. Terlihat jelas tatap matanya yang seolah berat merelakanku untuk pergi ke Yogyakarta. Lagi-lagi air mataku menetes, tak kuat menahan segala kerisauan di hati.


“Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, ya. Aku di sini akan selalu menunggu dan setia padamu.”


“Benar, ya, Mas. Jaga hatimu untukku, sebaliknya aku pun juga. Aku sangat mencintaimu, Mas.”


“Aku juga, Sayang.”


Aku mulai memasuki gerbong KRL, mencari tempat duduk sesuai di nomor yang ada pada karcis. Jadwal keberangkatan setengah jam lagi, sambil menunggu itu, aku membuka social media melihat foto-foto kebersamaan dengan Dio. Empat tahun sudah kami menjalani hubungan, tak pernah sekalipun berhubungan jarak jauh. Mungkin ini adalah awal ujian kami, apakah kesetiaan itu ada, saat jarak memisahkan.


Bunyi pertanda keberangkatan sudah diumumkan, perlahan kereta meninggalkan stasiun. Tak terasa bulir air mata mengalir membasahi pipi, perjalanan yang kutempuh pastinya akan lama. Aku yang gundah akan tentang Dio, berusaha menenangkan diri sambil mendengarkan lagu kesukaan kami.


***


Tak terasa sudah delapan jam perjalanan, stasiun terakhir sedikit lagi akan sampai. Di sini aku akan memulai kehidupan tanpa Dio, belajar mandiri tanpa dibantu oleh kedua orang tua. Walau berat, semua sudah aku siapkan matang-matang semuanya.


Dari stasiun ke indekos hanya membutuhkan 30 menit saja. Aku pun langsung merebahkan diri, karena perjalanan yang begitu melelahkan. Sebelumnya aku sudah meminta bantuan saudara Mama untuk mencarikanku indekos di sini, jadi setelah sampai sudah tak perlu mencari tempat tinggal sementara di Yogyakarta.


Baru saja memejamkan mata, ponselku berdering, dengan sigap diriku mengangkatnya, karena Dio yang menelepon.


“Assalamualaikum, Sayang. Sudah sampai?”


“Sudah, Mas. Ini aku sedang beristirahat. Kamu sedang apa?”


“Lagi telepon wanita cantik, nih.”


“Ish, apaan si, Mas?! Aku nanyanya serius tau.”


“Aku juga serius, ini kan aku sedang telepon kamu. Haha.”


“Ah, kamu bisa aja! Aku kan jadi malu.”


“Ya sudah, kamu istirahat aja dulu sana. Nanti aku telepon lagi, ingat, ya jangan sampai telat makan!"

“Siap, pak bos!”


Setelah mematikan tombol merah pada layar ponsel, aku langsung membuka galeri foto dan melihat foto-foto bersama Dio. Apakah hati ini sanggup, menjalani hari tanpa sang kekasih? Ah rasanya benar-benar tak karuan, seperti ada rasa sesal dengan keputusan ini. Namun, semua tetap harus kujalani, karena ini hanya sementara.


Untuk menghilangkan rasa gundah, aku mulai menyibukkan diri dengan merapikan barang-barang di indekos. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, mulai hari ini diriku akan menjalani hari jauh dari keluarga juga Dio.


Tok! Tok! Tok!


“Assalamualaikum,” salam seseorang dari luar kamar indekos.


“Wa ’alaikumsalam.” Aku pun langsung membuka pintu kamar dan dia adalah Lani, sepupuku yang tinggal di Yogyakarta. “Eh, Lani. Ayo masuk,” lanjutku.


“Ini gue bawa makanan untuk, lo, Din,” ucap Lani sambil memberi rantang yang dipegangnya kepadaku.”


“Duh, gak usah repot-repot, Lan! Gue nanti bisa beli kok,” ujarku yang tak enak kepada Lani, karena dialah yang telah mencarikanku indekos di sini.


“Enggak apa-apa, Din. Lo itu kan sepupu gue, sudah sepantasnya sesama saudara saling bantu. Lo disuruh tinggal di rumah gue malah lebih milih nge-kos,” tutur Lani, karena sebelumnya Lani dan bude memang mengajakku untuk tinggal bersama mereka selama aku kuliah di Yogyakarta. Namun, aku lebih memilih nge-kos, agar tak merepotkan mereka.


“Kalau gue nge-kos, kan bisa belajar mandiri, Lan,” cetusku kepada Lani.


“Ya sudah, gue pamit pulang dulu, ya.” Lani pun langsung pulang, jarak rumah dan indekos, tak terlalu jauh hanya beda gang saja.


Setelah Lani pulang, aku langsung menyantap makanan yang dibawa Lani. Kebetulan perut memang sudah lapar. Kalau sudah begini, rasanya rindu dengan masakan buatan Mama, baru sehari saja lagi-lagi teringat mereka yang di Jakarta. Sulit sekali rasanya, karena sedari kecil, aku tak pernah jauh dari orang tua serta Chika.


Malam semakin larut, sebelum tidur aku mengucapkan selamat tidur kepada Dio lewat aplikasi chatting berwarna hijau. Aku letakkan ponsel di atas nakas, lalu memejamkan mata yang sudah sangat lelah ini.


***


Ting! Ting! Ting!


Terdengar suara notifikasi dari ponselku, bunyinya tak berhenti-henti, sepertinya banyak pesan masuk. Saat kulihat, banyak sekali pesan dari Dio.


[P]


[P]


[P]


[Sayang, bangun! Kamu kan hari ini pertama kali masuk kuliah, jangan sampai telat!]


[Bangun dong! Pasti kamu lupa pasang alarm. Teleponku juga tak diangkat-angkat.]


[Sayang ....]


Pesan masuk beruntun dari Dio, dia sedari tadi berusaha untuk membangunkanku.


[Astaga, maaf sayang. Aku kesiangan, gimana ini?!] Aku membalasnya dengan emoticon menangis.


[Tuh kan, kamu gimana. Ini hari pertama lho, masa maba telat.]


[Ya sudah, aku mandi dulu, ya. Makasih ya, sayang, sudah berusaha banguni aku.]


Aku segera berbenah diri agar tak telat sampai kampus. Baru hari pertama saja, sudah kesiangan. Bisa-bisa kena marah senior di kampus nanti. Bodoh memang, kebiasaan burukku itu adalah bangun pagi. Kalau di rumah, pasti Mama sudah menciprati mukaku dengan air.


DMCA.com Protection Status