BAB III (Hari Pertama di Kampus)

Aku berlari menuju lapangan, semua mahasiswa baru (maba) sudah berkumpul dan mengikuti upacara penyambutan. Terlihat kakak tingkat (kating) sedang berpidato di atas podium. Aku yang baru datang begitu linglung, tak tahu harus masuk ke kelompok yang mana.

“Hey, kamu!” Terdengar dari ujung lapangan teriak dengan lantang dan menunjuk diriku.

“Saya, kak?” tanyaku dengan tampang polos yang benar-benar tidak tahu apa-apa di sini.

“Iya, memang siapa lagi, hah?!” Ia menghampiriku sambil bertolak pinggang, juga tatapannya yang sinis. “Kamu maba, ‘kan? Kenapa jam segini baru datang?” lanjutnya.

“Anu, Kak. Maaf saya datang telat, tadi kesiangan.” Aku menundukkan kepala, karena malu di hari pertama sudah terlambat.

“Kesiangan katamu? Cepat sana berdiri di depan lapangan!” perintahnya dan aku pun langsung berlari ke tempat yang dituju.

Hari semakin siang, rasanya seperti dipanggang berdiri tepat di bawah sinar matahari. Aku jadi tontonan maba lain, benar-benar malu rasanya. Ini murni kesalahanku, susah bangun pagi. Tak ada yang dikenal di kampus ini, kecuali hanya Lani. Akan tetapi, sedari tadi Lani belum terlihat sama sekali.

Aku beruntung, kuliah di zaman sekarang yang sudah tak ada lagi sistem perploncoan dalam ospek. Zaman dahulu, sering kali terjadi hukuman yang berat, bullying, serta tindakan balas dendam antara senior dan junior. Namun, sekarang hanya hukuman ringan, mengikuti seminar, dan mewawancarai senior-senior mengenai tentang jurusan yang diambil.

“Andini!” panggil Lani dari arah belakang. “Lo ngapain di situ?” tanya Lani yang keheranan melihatku berdiri sendiri di pojokkan lapangan.

“Gue lagi dihukum, Lan, karena tadi telat datangnya,” bisikku kepada Lani, takut nanti senior mendengarnya.”

“Kok bisa telat?” Lani bertanya kembali, dia tak percaya aku bisa datang telat.

“Gue lupa pasang alarm. Lupa kalau udah sendiri dan gak ada mama yang bangunin gue,” jelasku seolah aku merasa bersalah kepada Lani, karena tak memberi kabar kalau aku terlambat.

“Kalau tau gitu, tadi gue mampir ke indekos buat bangunin, lo,” tutur Lani yang tak tahu jika aku bangun kesiangan.

“Besok-besok juga semoga enggak begini lagi, kok,” jawabku, berharap esok tak terulang untuk yang kedua kalinya.

Dari arah podium, kakak senior yang menghukumku, menghampiri kami. Dia seperti heran, karena aku berbicara dengan Lani. Sorot matanya begitu tajam, entah itu tatapan tak suka atau hanya biasa saja. Namun, melihat kedatangannya aku sudah merasa panas-dingin.

“Sampeyan kenal dheweke, Lan?” Senior itu berbicara dengan bahasa Jawa, yang sama sekali aku tak mengerti.

“Iya, dheweke sedulurku,” sahut Lani, yang kebetulan sedari kecil memang sudah tinggal di Yogyakarta, “nuwun sewu, yen ing dina kapisan dheweke kasep,” lanjut Lani.

“Ora apa-apa, Lan,” jawab kakak senior itu. Ia tersenyum kepada Lani, terlihat ada lesung pipinya, kakak senior itu begitu manis, apalagi style yang rapi dengan almamater serta kacamatanya begitu khas melekat pada dirinya.

Aku hanya terdiam saat Lani dan kakak senior itu berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa. Dikarenakan, aku terlahir di Jakarta, jadi tak mengerti sama sekali dengan bahasa daerah kampung mamaku ini.

Saat aku terpukau melihat kakak senior itu tersenyum, tiba-tiba Lani menyenggolku. Spontan aku teriak kesakitan di depan kakak senior itu. Rasanya malu, kepergok ketika diri ini mencuri pandang kepada sang senior.

“Kamu namanya, Andini, ‘kan? Perkenalkan aku Aldo. Sekarang kamu sudah boleh meninggalkan tempat ini dan mengikuti yang lain untuk mengelilingi kampus ini. Tugas pertama harus hafal dengan tata letak denah pada kampus ini.

“Iya, Kak. Aku Andini, siap kak. Kalau gitu aku permisi, terima kasih, Kak Aldo.”

Aku pun berlari mengikuti maba yang lain. Agar tak tertinggal lagi seperti tadi pagi. Diri ini juga berusaha mengakrabkan diri dengan yang lain, memulai adaptasi dan mencari teman baru di sini. Universita UGM Yogyakarta ini begitu megah dan luas, berkeliling dari satu tempat ke yang lain, lumayan menguras tenaga juga.

Waktu istirahat telah tiba, aku mencari Lani, agar tak makan sendirian. Namun, sepertinya kampus ini terlalu luas, hingga sulit untuk menemukannya. Lagi-lagi diri ini kebingungan, aku memang tidak paham dengan tempat ini. Kebetulan, tempat ini memang pertama kali disinggahi, jadi aku hanya bisa berharap kepada Lani.

Teman-teman maba yang lain juga sudah berpencar, sebagian sudah aku kenal. Namun, mereka pergi entah ke mana. Aku tertinggal, mencari kantin sendirian. Pada akhirnya aku memilih makan mie ayam, kebetulan lebih dekat deretannya dari arah pintu masuk kantin.

Saat memeriksa ponsel, terdapat lima belas panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Dio. Astaga, aku lupa memberi kabar kepada Dio. Hari ini cukup melelahkan, tadi akibat terlambat dan jadwal yang padat, membuatku tak sempat melihat ponsel. Aku pun langsung menelepon balik Dio.

“Assalamualaikum, Mas. Maaf aku baru sempat mengabarkanmu hari ini.”

“Waalaikumsalam, iya enggak apa-apa, Sayang. Pasti hari ini sibuk banget ya?”

“Iya, Mas. Tadi juga sempat dihukum di depan lapangan, karena terlambat. Habis itu aku langsung ikut kegiatan keliling dan pengenalan kampus.”

“Ya ampun, Sayang. Besok kamu jangan sampai telat lagi, ya. Aku jadi khawatir.”

“Aku bisa jaga diri, Mas. Enggak perlu khawatir, mungkin kemarin aku hanya kelelahan saja, habis perjalanan panjang dari Jakarta ke Yogyakarta, jadi kesiangan.”

“Ya sudah kalau gitu. Kalau ada apa-apa kabari aku ya, Sayang.”

“Iya, Mas. Aku mau lanjut keliling kampus lagi, ya, Mas.”

“Nanti kalau sudah di indekos, telepon aku, ya.”

“Iya, Sayang.”

Setelah itu, aku langsung buru-buru menghabiskan mie ayamnya agar bisa lanjut keliling kampus.

Saat hendak ingin beranjak dari kursi, tak sengaja aku menabrak Aldo—kakak senior—yang menghukumku tadi pagi.

Aku secara tak langsung, langsung membereskan barang-barang yang dibawa Aldo. Ah, lagi-lagi aku membuat masalah dengannya. Rasanya malu sekali dan tak bisa menyembunyikan wajah ini di hadapannya. Aku hanya bisa menundukkan kepala, berusaha menghilangkan merah pada pipiku. Terlihat gayanya yang begitu cool, sepertinya ia lebih mempunyai daya tarik sendiri, ketimbang kakak senior yang lainnya.

Aku pun langsung meminta maaf kepada Aldo.

“Maaf, Kak. Aku tak sengaja.”

“Lain kali, lebih hati-hati kalau mau jalan. Barang orang lain jadi jatuh semua kan.”

“Sekali lagi, maaf ya, Kak.”

“Ya sudah, aku lagi buru-buru mau ke ruang BEM.”

Aldo langsung pergi meninggalkanku, diri ini hanya diam melihatnya. Tatapannya begitu sinis, seperti tak suka kepadaku. Entahlah bagaimana hari-hariku di kampus ke depannya nanti, rasanya akan sulit menjalani hari-hari di sini.

Aku kembali fokus untuk membuat denah kampus ini. Aku mencari teman-teman yang tadi sekelompok denganku. Mengapa bodoh sekali diri ini, lupa meminta nomor whatshapp mereka.

Hari sudah semakin sore, sepertinya kegiatan keliling kampus sudah selesai. Terlihat maba lain siap-siap untuk bergegas pulang. Hanya aku saja yang masih kebingungan, di mana kelompokku tadi. Aku bersandar di papan peta depan kampus, begitu lelahnya hari ini. Rasanya ingin meminta tolong Lani, tetapi hati tak enak, karena sudah sering merepotkan dirinya.

Catatan kaki:

Sampeyan kenal dheweke, Lan? = Kamu kenal dia, Lan?

Iya, dheweke sedulurku = Iya, dia sepupuku.

Ora apa-apa, Lan = Enggak apa-apa, Lan.

DMCA.com Protection Status