One Night Surprise
One Night Surprise
Author: Syska Nabila
Namaku, Air

Api menyusuri taman kota, sendirian, tak ada yang menemani. Kebetulan, bunga-bunga di taman itu tengah bermekaran. Langit di atas sana cerah, sinarnya menyiram wajah Api dengan lembut. Awannya menambah kesan pada atmosfer pagi itu. Burung berkicauan, udara segar, orang berlalu lalang, semuanya menjadi penghias kala itu. Semua orang yang berada di taman kota terlihat bahagia, menikmati liburan akhir pekan bersama keluarganya. Tidak semua orang terlihat bahagia. Adalah Api, perempuan sebatang kara yang mengharapkan laki-laki kaya raya. Bukan untuk dicintai seperti cinta biasa, namun Api menginginkan hartanya. Yap, untuk kebutuhan sehari-harinya, Api harus menjadi pekerja keras. Gaji dari kerja kerasnya itu tidak seberapa, jauh dari kata cukup.

 Sekarang zaman millenial, sah-sah saja jika kebutuhan Api tidak bisa dihitung oleh jari. Jangan sekali-kali menyalahkan kebutuhan perempuan itu banyak. Kebutuhan perempuan dengan laki-laki itu sama, tidak memberatkan kepada pihak siapa pun. Coba bayangkan, jika perempuan harus membeli paket make up seharga 400.000 se-bulan, bagaimana dengan kaum laki-laki dengan rokoknya 20.000 se-hari? Itu bahkan melebihi kebutuhan perempuan. Api tidak membutuhkan make up berlebihan, Api hanya ingin hidup mewah. Serba dilayani, menjadi seorang ratu di rumah megah bertingkat, itu saja. Api tidak butuh laki-laki seperti kalangan remaja perempuan lainnya, berpacaran, menikah, itu tidak perlu. Api hanya menginginkan uang.

Api menatap sekitar, bosan dengan hidupnya yang sebatang kara. Api lelah, dia ingin mencoba kehidupan baru. Setelah kedua orang tuanya dikebumikan, hidupnya berubah drastis. Dulu, Api adalah seorang putri serba dilayani oleh keluarganya. Lantas sekarang, dia lebih mirip menjadi pelayan tuan putri. Sungguh tragis jika dipikirkan. Apakah Api akan menemukan jalannya? Jalan untuk membawanya mengalami perubahan? Perubahan seperti apa? 

***

Api masih diam, duduk sendirian. Manik mata Api menyapu seluruh area taman. Saatnya pulang. Api sudah bosan mengunjungi taman ini setiap hari, taman ini selalu menjadi teman sepinya. Tidak ada yang berubah, tanaman hijau, bunga-bunga, rerumputan, semuanya sama setiap harinya. Sekali lagi, tempat ini adalah tempat dimana Api kehilangan semuanya, orang tuanya, hartanya, hanya kenangan menyakitkan yang Api miliki sekarang. Saat Api akan bangkit dari kursi, ada yang menahannya. Seorang laki-laki berpostur tinggi, badannya kekar, memakai pakaian serba hitam. Laki-laki ini lebih mirip dengan aktor laga.

"Hai, Nona. Sendiri saja?" Seorang laki-laki yang tak dikenal Api bertanya. Laki-laki itu tersenyum, seperti sudah mengenal Api, tetapi  Api tidak.

"Hai." Api hanya menjawab singkat.

"Pertanyaanku belum kamu jawab." 

"Kelihatannya?" Api berseru, melipatkan tangannya di depan dada.

"Yeah, kamu sendiri. Boleh aku temani?" Laki-laki itu terus memberikan pertanyaan pada Api.

"Terserah kamu. Tetapi, aku tidak mau."

"Kamu Api, bukan? Aku adalah Air." Laki-laki itu berkata, menerka-nerka reaksi Api.

"Bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu, dan mau apa kamu kesini?"

"Sudah kujelaskan tadi, namaku Air. Kedatangan aku kesini untuk menikahimu." Laki-laki yang tak dikenal Api, begitu beraninya mengatakan hal seperti itu. Api membatu, siapa laki-laki ini? 

Dilihat dari penampilannya, tentu saja laki-laki yang bernama Air ini orang kaya, miliarder. Api sangat bimbang, satu, karena Api sangat membutuhkan uang, dua, Api tidak mencintainya, setidaknya belum. 

***

Taman kota lengang. Menyisakan suara bising dari keramaian pengunjung. Air menunggu jawaban dari Api, sedangkan Api menantikan percakapan ini berakhir. Mereka berdua duduk di salah satu kursi taman kota, berjauhan, duduk di kedua ujungnya.

"Bagaimana, kamu mau menjadi pendampingku?" Air membenarkan posisi duduknya.

"Apa yang akan aku dapatkan jika kamu menikahiku?" Api balas bertanya. Tentu saja Air bingung, terlihat sekali kebingungannya.

"Lho? Apa yang kamu maksud? Jelas kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan." Api mengerjap-ngerjapkan manik matanya. Sungguh, baru kali ini Air bertemu dengan perempuan seperti Api--meski Air sudah tau, namun sifatnya tidak.

"Benarkah? Jika demikian, aku bersedia." Api tersenyum sarkatis. Ini saatnya Api mewujudkan keinginannya untuk menjadi tuan putri kembali seperti sedia kala.

"Yeah, kapan resepsinya? Aku ingin secepatnya." Air sangat antusias saat mendengar jawaban dari Api.

Api mengangguk. Yeah, lebih cepat lebih baik

"Besok, bagaimana?" Air memandang hamparan rumput di taman kota, sekarang kelopak mata Air menatap Api lamat-lamat. Tatapan penuh harap.

"Apa? Besok? Apakah itu tidak terlalu cepat--"

"Lebih cepat lebih baik." Air memotong perkataan Api.

"Apakah kamu tahu, Api? Aku selalu menatapmu setiap hari di sana." Air menunjuk salah satu kursi taman kota, tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh meter dari kursi yang sekarang mereka tempati.

"Aku telah jatuh hati padamu dari jauh-jauh hari, Api. Hari ini aku memberanikan diri, mengajakmu menikah. Ternyata kamu menyetujuinya. Itu kabar baik sekali. Oh ya, kamu tidak perlu mencemaskan resepsi. Siang ini juga, para staf-ku akan menyiapkan resepsi pernikahan yang megah sekali. Kamu akan dijemput, dimana rumahmu?" Air menatap kembali Api, membuat kaget Api yang tengah melamun.

"Ah, rumahku. Aku tidak punya rumah. Aku hidup sebatang kara, dan maaf jika nanti aku merepotkanmu." Api membenamkan wajahnya, menahan bulir-bulir kecil berjatuhan.

"Tidak masalah. Hari ini kamu akan ikut bersamaku. Bagaimanapun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu. Tak ada yang bisa mengelak." Air tersenyum, begitupun Api. Detik itu, Api menemukan seseorang yang penting untuk kehidupannya sekarang, besok, dan selamanya.

"Ayo." Air mengulurkan tangannya, bangkit dari kursi taman. Api tidak langsung menggaet tangan Air. Bagaimana bisa, baru beberapa menit mereka berkenalan.

"Tidak apa-apa." Air menganggukan kepalanya, mengajak kembali pada Api.

Api balas mengulurkan tangannya, mengiyakan ajakan Air.

Mobil Air terparkir tidak jauh dari pintu utama taman kota. Mereka berdua sempat melihat-lihat sekeliling taman kota sebentar, sebelum sampai ke tempat parkir.

"Silakan, Nona." Air membuka pintu mobil, memperlakukan Api persis tuan putri.

"Terima kasih." Api duduk di bangku samping pengemudi, di samping Air. Disusul Air, sekarang mereka sudah berada di dalam mobil mewah pribadi milik Air.

"Ini kendaraan kamu?" Api yang sudah duduk manis di atas jok mobil Air, bertanya. 

"Yeah, ini kendaraan yang selalu aku bawa kemana pun, karena ini salah satu mobil yang aku suka." Air tersenyum, sesekali melihat wajah Api.

"Memang--kamu punya berapa kendaraan?" Api, sekali lagi dia bingung. Siapa laki-laki ini? 

"Aku mempunyai mobil pribadi sekitar 15 atau 20, persisnya aku tidak tahu. Mungkin hanya staf-ku yang tau persis semua properti milikku. Aku juga memiliki pesawat pribadi. Kalau tidak salah, lima-enam, aahh ... aku tidak tahu. Sepuluh kapal kontainer, dan beberapa properti lainnya. Hotel, apartemen, bank, mall, aku memilikinya di setiap kota." Air menghela nafas sebelum melanjutkannya.

"Kamu bisa tinggal dimana pun sesuka hatimu. Asal aku di sampingmu ... itu mudah, bukan?" 

Api membatu, 'Ya tuhan, siapa laki-laki ini. Dia begitu kaya raya, dan, dia belum mempunyai istri? Perempuan mana yang tidak menginginkan suami seperti dia, bodoh sekali.' Yeah, itulah isi hati Api sekarang.

"Kenapa kamu diam saja?" Air sudah melajukan mobilnya sejak tadi, menyusuri jalanan Ibu Kota.

"Tidak apa-apa." Api membuyarkan lamunannya, menatap sejenak ke arah Air yang tengah mengemudi. Saat Api menatap Air lamat-lamat, di dalam hatinya berkata, 'Dia begitu tampan. Ah, tujuanku bukan untuk mencintai laki-laki ini. Tujuanku adalah mencintai hartanya.' 

"Kenapa menatapku seperti itu? Apakah aku terlalu tampan?" Air masih melajukan mobilnya, tidak mengurangi kecepatan. Api harus mengakui bahwa Air adalah laki-laki yang tampan.

Api menggeleng. Memutar bola matanya.

"Padahal aku mengharapkanmu mengatakan bahwa aku tampan." Air mendengus pelan, kelopak matanya fokus pada jalanan.

Api menarik nafas perlahan, "Kamu tampan."

"Ah, benarkah?" Air tersenyum, senyum yang tulus.

"Tadi kamu menyuruhku untuk mengatakan seperti itu, bukan? Aku katakan saja, seadanya." Api membenarkan posisi duduknya, menatap Air.

"Tidak apalah. Itu awalan yang bagus."

Api mendengus pelan, awalan apa maksudnya. Laki-laki ini begitu menyebalkan sekali.

"Aku ingin menanyakan satu hal padamu, Air."

"Sebentar, barusan kamu memanggilku? Itu luar biasa. Katakan saja, apa pertanyaanmu." Air selalu menggoda Api dalam setiap dialog yang mereka ciptakan. Jika Api tidak sabaran, mungkin detik itu juga ia turun dari mobil mewah milik Air.

"Jika ranting pohonku bersandar pada tembok lain (dalam artian selingkuh). Apa yang akan kamu lakukan?" Api mencoba menjebak Air dengan pertanyaan aneh.

"Aku akan diam."

"Kamu tidak akan memotong rantingku?"

Air menghentikan laju mobilnya, memarkirkan mobilnya asal di tengah jalan. 

"Sebaliknya, jika tembok itu sengaja mendekatimu se-inchi saja. Maka aku akan menjauhkan potnya dari tembok itu sepuluh meter. Satu lagi, jika kamu menjauhiku satu langkah, maka aku akan mendekatimu sepuluh langkah. Kamu mengerti, Api?"

Api menelan ludahnya. Tragis sekali laki-laki ini. Bukan main, ini adalah laki-laki bad boy sejati, bukan play boy kelas rendahan.

"Ah, maafkan aku, Nona Api. Aku tidak bermaksud memarahimu, aku tidak mau kehilanganmu. Itu saja." Air melajukan kembali mobilnya, melesat bersama puluhan mobil lainnya di jalanan kota.

"A--apakah kamu pernah mempunyai istri?" Api menggigit ujung bibirnya, bertanya kembali. Jika memang benar Air belum pernah menikah, maka tebakan Api benar. Jika Air pernah menikah, mengapa ia memilih Api? Jelas-jelas Api adalah perempuan sebatang kara.

"Tidak. Aku tidak pernah menikah. Aku tidak akan mengkhianati cintaku padamu, Api. Seburuk apapun kondisimu, sebaik apapun perempuan lain, aku akan tetap mencintaimu." Air memegang erat kemudi, membanting setir ke arah barat. Sekarang mereka memasuki perumahan elite milik Air. Air sedikit menarik pedal gas, mengurangi kecepatan.

"Selamat siang, Tuan." Saat Api dan Air turun dari mobil, salah satu satpam memberikan salam. Semua orang yang sedang beraktivitas di sana terhenti saat melihat Tuannya datang.

"Siang juga, Ednar." Air menganggukan kepalanya. Adalah Ednar salah satu orang terpenting bagi bisnis Air. Terlihat seperti satpam biasa yang jika ada orang mengacungkan pistol, satpam itu akan lari terbirit-birit. Namun Ednar adalah Ednar, ketua keamanan bisnis nomor satu di keluarga Air. Bisikan namanya di salah satu kantor atau tempat umum lainnya, maka semua orang akan lari terbirit-birit, mengunci pintu rumah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status